Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Tantangan dan wajah licik


__ADS_3

"Ana tenang saja . Ayah pasti akan mengembalikannya," pintaku membujuk adikku dengan lemah lembut.


Adikku kembali melayangkan sorot mata sedihnya padaku. "Tapi Kak, Ayah sekarang sudah gak kayak, Ayah kita yang dulu," terang adikku, memutar badan menatap keluar jendela.


Aku menarik napas panjang bercampur sesal melihat anak Bp yang masih belum kusentuh. Anak Bp yang membuatku merasa bahagia karena bisa menghilangkan kesedihanku yang menumpuk.


"Ana, Kakak main Anak Bp," kataku. Duduk di atas lantai dan memutar kepala melihat adikku yang berdiri diam seperti patung sambil melihat ke luar jendela. Aku masih diam melihatnya yang masih membelakangiku. "Ana, kalau kau mau kita main ini saja dulu," saranku, melihat punggung adikku.


Di ikuti oleh sebelah tangan kanan mencari Lofya dan memegangnya. "Nanti kalau Ayah sudah bangun minta aja bonekamu," usulku. Menghela napas dan memutar dudukku kembali melihat anak Bp yang terpampang.


"Aku gak tau Kak. Ayah mau ngasihnya atau gak. Karena Ayah udah gak kayak dulu lagi," kata adikku kembali bercampur sesal. Berdiri terus menaikkan kepalanya melihat daun pohon jambu air.


Aku yang duduk di belakangnya melihat dia yang seakan mengadukan kesedihannya pada udara kosong dan angin yang berembus. "Coba Ayah seperti dulu. Aku pasti di sayang," tandasnya mengingat masa kecilnya yang jauh sudah berlalu.


Aku semakin ikut lirih mendengarnya. Ternyata, aku sudah jahat pada adikku sendiri sampai dia kehilangan boneka kesayangannya, pikirku. Memutar kepala dengan lesu bercampur sedih mengingat tentang diri adikku yang dulu.


"Ana, tapi 'kan, kau Anak kesayangan Ayah. Ayah pasti akan mengembalikan bonekamu," kataku kembali menyemangatinya.


"Engga, Kak," kata adikku langsung membantahnya.


"Kenapa ?" tanyaku sambil memegang Lofya, menatap adikku yang membelakangiku.


"Karena tadi Ayah aja yang melihat air mataku. Malah Ayah makin memarahiku, Kak," sesal adikku kecewa.


Deg!


Aku langsung terdiam membisu setelah mendengar tanggapan dari adikku. Lofya yang kupegang pun terlihat menggantung di udara tanpa berganti pakaian.


"Mungkin Ayah lupa," balasku langsung nyeleneh.


"Apa Kak!" Adikku langsung memutar badannya seketika terkejut mendengar ucapanku. Adikku sedikit berpikir. "Itu gak mungkin, Kak," bantahnya. "Mana mungkin Ayah lupa," sungutnya dengan kesal dengan wajah sedikit cemberut manja.


Sontak aku juga ikut terkejut hampir saja Lofya milikku terjatuh dari tanganku. "Ups!" kataku langsung menahan Lofya milikku refleks.


"Kak, pasti bonekaku di taruh Ayah di tempat yang kotor," keluh adikku dengan wajah sedih bercampur sesal. Berjalan menghampiriku yang duduk di atas lantai. "Kalau si Dottie kotor, kayak mana, Kak?" rengeknya bertanya, menjatuhkan tubuh kecilnya di atas lantai tepat duduk sejajar dengan ku.

__ADS_1


"Ayah gak akan menaruhnya di tempat yang kotor, Dik. Ayah 'kan sayang sama kita," balasku, melihat adikku yang duduk termangu.


Adikku langsung menatapku lirih. "Kak, itu 'kan cuma boneka. Mana mungkin Ayah sayang," katanya. "Sedangkan sama Anak Bp Kakak aja, Ayah gak sayang," ungkap adikku melirikku dengan sesal.


Glek!


Aku langsung menelan ludah terdiam seperti orang yang termangu. Aku langsung melayangkan kedua netraku menatap adikku yang duduk tepat disampingku.


"Anaaa," jeritku dengan sesal bercampur sedih setelah mengingat Anak Bp yang sampai sekarang teronggok di bawah kolong lemari.


Aku dan adikku masih bertemu tatap saling melihat satu sama lain dengan menorehkan rasa sedih di wajah masing -masing. Sontak aku langsung menjatuhkan kepala dengan lesu melihat Lofya yang tergantung setengah di udara dalam genggamanku.


"Ana, kau benar," balasku sesal bercampur sedih. "Kau sangat sulit untuk mendapatkan bonekamu kembali," kataku dengan sedih seketika aku mengingat nasib anak Bp milikku yang dulu. Duduk di atas lantai kamar berdua dengan adikku.


Adikku kembali cemberut bercampur sedih setelah mendengarnya. Dia pun menunduk lesu melihat jemarinya dan memainkannya untuk menghilangkan setengah kesedihannya.


Raut muka yang sedih itu semakin menutupi ruangan kamar kami. Aku dan adikku pun kini merasa sedih bersama-sama. Anak Bp yang terlihat dengan jelas dihadapanku dan masih bisa kumainkan sekarang seakan menjadi belenggu bagi diriku sendiri akan hukuman ayahku kembali yang secara tiba-tiba datang tanpa meminta izin.


"Lofya," gumamku pelan bercampur panik dan berpikir kalau nasibnya akan sama seperti boneka adikku si Dottie dan anak Bp milikku yang dulu si cleren dan ini entah apa lagi yang akan terjadi ke depannya dengan si Lofya.


"Ana, Kakak takut kalau nasib di Lofya akan sama kayak mereka," singgungku mengadu pada adikku.


"Ptfff!" Adikku langsung menarik bibirnya menahan tawa melihat raut mukaku yang panik tanpa alasan.


"Ana, kenapa kau kayak gitu ?" tanyaku ngambek, menggeser tubuh mungil yang lemah ini sedikit menjauh dari adikku sambil memegang Lofya milikku dengan erat.


"Makanya, Kakak jangan jahat," celetuk adikku dengan senang menjahiliku. "Kalau Kakak jahat, pasti si Lofya Kakak langsung kena tahan, hahaha!" ledek adikku dengan riang.


"Jadi, kau senang si Dottie-mu di tahan?" tanyaku ingin tahu.


Adikku seketika diam menaikkan sedikit kepala sambil berpikir. "Engga," jawabnya langsung.


"Lalu, kenapa kau mengejek Kakak?" tanyaku sedikit merajuk, melihat adikku yang sudah senyum-senyum nakal.


"Kalau aku..., pasti bisa mencari di Dottie-ku, di mana?!" kata adikku dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


"Palingan di baut Ayah di atas lemari," cetusku dengan gamblang.


"Mungkin saja, Kak," sambung adikku. Melirikku dengan lirikkan mata yang terlihat sedang menantang.


"Coba saja ambil! Kalau kau berani," tantangku dengan angkuh. Memainkan Lofya milikku sesuai keinginanku.


"Ya udah. Nanti Kakak lihat. Pasti bonekaku akan balik samaku," tantang adikku dengan yakin, mengacungkan telunjuknya ke udara sebagai isyarat kalau dia akan mendapatkannya.


"Ya udah, coba buktikan!" tantangku kembali dengan gurat wajah memaksa adikku untuk membuktikan omongannya bisa atau tidak.


"Kakak lihat aja nanti," kata adikku kembali dengan sebuah ancaman.


Glek!


Aku langsung menelan ludah kasar dan menghentikan permainan Lofya milikku sejenak. Memutar tubuh mungil yang lemah serta tungkai kaki yang masih nyeri ini miring, menatap adikku yang duduk dengan gurat wajah yang melayangkan tantangan yang serius.


"Ana, kalau Ayah tahu. Kau pasti di hukum lagi," kataku dengan penuh keyakinan.


Adikku langsung menoleh ke arahku dengan wajah yang membuatku semakin takut. Wajah adikku begitu sangat percaya diri dan terlihat begitu berani menantang dan berhadapan dengan ayah yang paling kami sayangi.


"Ana, kau harus hati-hati. Itu Ayah buka kawanmu!" bisikku pelan di telinganya. "Kalau sampai ayah tau, kau bisa di hukum," tandasku khawatir.


"Et, tunggu dulu!" kata adikku dengan wajah senyum liciknya. "Kalau aku di hukum, pasti Kakak kena, hehehe!" katanya langsung mengancamku. Nyegir.


"Kenapa bisa?" tanyaku ingin tahu.


"Karena Kakak 'kan paling besar. Jadi, harus bisa jadi contoh, hehehe!" lanjutnya dengan senyum nakalnya.


"Anaaa!" teriakku melempar adikku dengan pakaian anak Bp milikku yang banyak terletak di atas lantai.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2