
"Buku gambarmu mana Liyan?" tanya Widia yang duduk di sampingku.
"Ini." Aku segera memutar duduk mengambil buku gambar di dalam tas. "Waaah! Widia, buku gambarmu cantiknya, kau belik di mana?" Lenganku langsung menyentuh buku gambar yang terletak dengan terpesona.
Widia tersenyum. "Buku gambar ini Ayahku yang membelinya, hehehe!" Widia tertawa kecil.
"Kalau Ayahku juga sama," ujarku. "Setiap aku mau membeli buku, Ayahku yang membelinya. Mana pernah aku yang membelinya. Kata Ayahku, kalau aku yang membelinya pasti jelek, katanya," ungkapku dengan senang.
"Iya Liyan. Ayahmu bilang begitu! Pantesan, kau tidak mau kadang kuajak membeli buku." Widia mengambil pensil dan mencoret buku gambarnya.
"Eem! Jadi, aku malu, kalau Ayahku bilang begitu padaku," kataku dengan datar.
"Hahaha! Ayahku engga pernah bilang begitu Liyan." Widia menatapku dengan datar. Sekilas dia pun kembali melihat meja yang sudah terletak buku gambar, penggaris dan beberapa peralatan lainnya.
Ukiran yang tergaris dengan rapi dan begitu indah telah terbentuk di atas kertas putih yang polos. Tidak sedikit pun terdengar suara berisik dari kami. Kami semua begitu serius dengan ide dan imajinasi masing-masing. Meja-meja pun semuanya di penuhi peralatan menggambar.
Masing-masing dari kami menuangkan imajinasinya sebaik mungkin. Terkhusus aku tidak mau kalah dari yang lain. Semua imajinasi yang tergambar di dalam pikiranku perlahan kutuang di atas kertas putih.
Pensil dan penggaris yang sangat membantu kini mulai memberikan titik terang. Bibir pucatku seketika melengkung dengan manis sehingga menutupi kelemahan dan ke pucatanku. Sakit yang menimpa pun tidak lagi terasa, telah hilang tanpa jejak entah kemana karena aku yang telah tenggelam dalam suasana desainan coretan yang aku buat.
"Liyan..., Liyan." Widia berulang kali memanggil namaku sampai dia memukul pundakku pelan hingga aku tersentak.
"Ha!" Aku langsung tersadar dari buaian anganku. "I-iya, ada apa?" tanyaku dengan pikiran kosong.
"Bagaimana gambarku, cantik, tidak?" tanya Widia menunjukkannya padaku.
"Wow, emm." Lengkungan manis pun tertarik dengan rapi. "Widia, kau pandai sekali." Aku menaikkan sambil mengayunnya di udara. Kedua mataku terpana tanpa kedipan sedetik pun.
"Eh! Widia, apa Ayahmu pandai melukis?" tanyaku ingin tahu lebih dalam.
"Mmm!" Widia meletakkan telunjuk di dagunya sambil berpikir untuk mengingatnya. "Aku tidak pernah bertanya," jawab Widia langsung.
Mendengar jawaban itu aku langsung mengerutkan bibirku yang pucat dan menutupnya dengan rapat. Wajah pucatku yang manis terlihat dengan sendu. Tangan kecil pun kembali melanjutkan ukiran berikutnya.
Melihat gambar Widia hatiku langsung mengecil. Rasa percaya diri yang tadi terbangun dengan optimis kini menjadi pesimis.
"Warnai gambar yang kau buat Widia," pintaku segera mendesaknya menetralkan hatiku.
"Apa gambar yang aku buat cantik?" tanya Widia ingin mendengar ulang jawabanku.
"Iya, gambarmu cantik," kataku dengan terus terang sambil melihat gambarku dengan berkecil hati.
Aku memang sadar, kalau kau kalah saing menggambar dari yang lain karena aku tidak bisa menggambar dan juga tidak pandai berimajinasi dengan indah. Tidak seperti mereka yang terlihat bagus, kalau di bandingkan gambar yang aku buat dengan mereka bagaikan langit dan bumi. Itulah salah satunya membaut aku menjauh dari mereka karena aku tidak lebih baik dari mereka.
Dari menggambar saja terlihat mereka begitu kompak dengan sesama yang pandai menggambar apalagi, tentang status ekonomi yang anak orang kaya, pastinya akan kompak dengan yang kaya juga itulah yang membuat aku minder dengan jelas.
"Cepat kumpulkan gambarmu!" desakku pada Widia.
__ADS_1
"Nanti saja. Kita ngumpulnya sama- sama saja, Liyan," balas Widia.
"Aku masih lama," ujarku.
"Coba aku lihat," pinta Widia melihatnya.
"Tapi itu sudah mau siap, 'kan?" tanya Widia melihat bukuku.
"Cat airku sudah mau habis," ungkapku dengan malu.
"Iya! Coba aku lihat." Widia pun mengambil satu cat airku dan mencoretkannya di gambar yang aku buat. "Liyan, apa tidak ada lagi yang lain?" Widia menatapku.
"Tidak," jawabku singkat.
Tidak berapa lama aku mengecatnya tiba -tiba terhenti karena cat airku sudah habis total. Kesedihan kembali terjadi seluruh murid telah siap dengan tugasnya sementara, aku masih terlihat kebingungan dan sedih karena tidak ada yang bisa aku lakukan.
"Anak-anak! Nilai dari gambar kalian ini akan Ibu masukkan ke dalam buku nilai karena kita 'kan sebentar lagi mau ujian. Jadi, itu untuk tambahan nilai kalian nanti." Bu Damanik mengutarakan di tengah-tengah keheningan.
Raut kesedihan pun sontak terpancar dari mimik wajahku yang pucat. Bibirku tertutup rapat seketika. Lemas terasa seluruh tubuhku mendengar ungkapan dari Bu Damanik.
"Widia, apa harus dikumpul sekarang?" tanyaku.
"Iya Liyan. 'Kan Bu Damanik sudah bilang begitu. Kau engga dengar," sahut Fikri dari belakang.
Rasa malu pun semakin menjadi memenuhi wajah pucatku. "Aku dengar," jawabku menunduk kebawah menutupi gambarku yang setengah belum selesai.
"Aku takut, kalau aku salah dengar," jawabku menutupi malu yang menggerogoti sambil mendekatkan tubuh untuk menutupi gambar yang aku buat.
"Mari sini! Gambarmu aku kumpulkan," pinta Fikri berbaik hati.
"Jangan mau Liyan!" seru Widia berbicara pelan melarangku. Menatap Fikri dengan wajah curiga yang jenaka.
"Liyan jangan dengarkan dia," tukas Fikri. Bawa sini bukumu, biar aku kumpulkan." Fikri bangun dari duduknya.
"Jangan Liyan! Nanti saja ngumpulnya sama dengan ku." Widia menahan bukuku agar aku tidak menyerahkannya pada Fikri.
Kepalaku semakin pusing melihat mereka. "Aku mengumpulnya nanti kok," ungkapku.
"Ha!" Wajah Fikri dan Widia pun terperangah tidak percaya. "Belum siap?" tanya Fikri melongo menghentikan langkahnya.
"Iya! Cat air Liyan sudah habis sebagian," tutur Widia dengan wajah lirih.
"Punyamu 'kan ada. Kasih Kenapa Liyan sebentar?" pinta Fikri dengan pertanyaan yang harus di jawab Widia segera.
"Punyaku masih ada kok." Aku segera memberi tahu pada Fikri menenangkan suasana.
Hampir saja perdebatan kecil yang tiada bermakna terjadi. Segera aku mengatakan pada Fikri, kalau aku mempunyai cat air. Jemariku lalu mengambil dan mencoretkannya di gambar yang telah selesai aku buat meskipun, coretan itu tidak berbekas. Tangan ini tetap pandai menutupi semuanya. Ia terus mencoret mengikuti garis yang telah terbentuk.
__ADS_1
"Hantarkan saja punyamu duluan," pintaku menyuruh Fikri untuk maju.
"Punyamu?" tanya Widia.
"Punyaku nanti saja," jawabku melihat kembali cat air.
"Kita kumpulkan bersama aja, Liyan," ujar Widia meletakkan buku gambar yang tadi dipegangnya.
Widia pun membuka cat airnya lalu dia membantuku untuk mengecat gambar yang telah aku buat. Separuh dari gambarku akhirnya telah selesai.
"Akhirnya selesai juga," cetus Widia. "Punyamu sudah selesai?" Widia kembali bertanya.t
"Selesai?!" tanyaku sambil melihat Widia penuh tanda tanya. Aku pun melihat buku gambarku. "Masih banyak lagi," ucapku dengan jujur.
"Cepat. Sebentar lagi bel akan berbunyi," desak Widia membantuku.
Sementara dari depan kelas bu Damanik terlihat begitu memperhatikan kami. Tapi satu yang membuatku bertanya-tanya, kalau bu Damanik seperti ini dari tadi memperhatikan kami, kenapa dia tidak menegur kami? pikiranku berjalan mencari sedikit keganjilan.
Atau mungkin bu Damanik barusan ini saja menegakkan kepalanya melihat kami. Aku masih saja memikirkan itu sambil melanjutkan coretan untuk menyelesaikan gambarku. Suara langkah kaki asing pun terdengar dengan hentakan melewati meja kami.
Puk! Puk! Puk!
Suara itu terdengar bersahut -sahutan memenuhi lantai. Spontan aku memutar kepala dan meliriknya. Sementara, tanganku masih melanjutkan mengecat gambarku yang setengah lagi akan selesai.
"Mereka sudah mengumpulkannya," bisikku pelan.
"Makanya, cepat." Widia terus membantuku.
"Huh! Ini tadi karena cat airku sudah habis," gumamku melihat gambarku dengan lirih.
" Punyaku 'kan ada," cetus Widia. Kenapa tidak kau pakai dari tadi?" Widia terlihat kesal.
"Mana aku berani," kataku melihat Widia dari ekor mataku.
"Kita 'kan sudah lama berteman dan sudah seperti keluarga lagi," tutur Widia.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🤗🙏
❤️❤️❤️
Bersambung...
__ADS_1