Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Bermain sepeda


__ADS_3

Aku terus menatap adikku yang pergi bermain . Dia dengan santai berjalan seakan dia tidak pernah kesal.


"Liyan, kau kenapa berdiri di situ?" tanya ibu sambungku. Menatap dengan gurat wajah kasihan.


"Mmm." Aku sedikit gugup.


"Kalau kau takut sama Ayahmu. Bermainnya sebentar saja!" tandasnya.


Sebenarnya aku ingin. Akan tetapi, bukan hanya takut melihat ayahku tapi juga melihatnya yang tidak lain adalah ibu sambungku juga. Aku meremas kedua jemari dengan melayangkan tatapan penuh tanda tanya bercampur khawatir juga.


"Kenapa kau menatap Ibu seperti itu?" tanyanya dengan gurat wajah penuh tanda tanya.


"Tidak ada apa-apa, Bu," jawabku, di ikuti gelengan kepala.


"Tapi sepertinya, kau lagi berpikir. Pasti ada yang kau pikirkan?!" kata ibu sambungku sedikit bertanya-tanya. "Tapi itu hanya kau yang tau," lanjutnya. Memutar duduknya mencabut rumput kembali.


Diamku semakin berlanjut memikirkan apa yang aku cemaskan. Anak-anak yang bermain di ujung sana. Aku terus menatapnya dari halaman rumah kami tepat di mana tempat ibu sambungku mencabut rumput.


Mataku ikut terbawa arus suasana anak-anak yang gembira. Mereka sangat gembira karena telah bisa berkumpul bersama teman-temannya. Sorak gembira mereka sebagai anak-anak pun terdengar mengaum di udara dengan nyaring. Udara kosong yang bercampur dengan angin semakin mengayun suara mereka terbang ke sana kemari.


"Liyan, kau ingin bermain ?" tanya ibu sambungku.


Aku sontak terkejut langsung memalingkan pandangan ke arah ibu sambungku. Refleks wajah sumringah tadi pun langsung buyar.


"Liyan, kau masih di sini?" tanya ibu sambungku. Mendadak terkejut melihat ujung kakiku yang masih berdiri tegak.


"Mmm." Aku diam membisu sambil memikirkan ucapan ibu sambungku.


"Jangan berpikir. Kalau mau bermain. Bermain saja. Lagi pula Adikmu 'kan bermain," ucapnya.


Sebenarnya aku ingin sekali bergabung dengan mereka, jeritku di dalam hati. Tapi aku takut kalau ayahku kembali. Aku pasti akan di marahi, pikirku. Tapi aku sudah lama tidak bermain. Aku selalu bermain di dalam rumah, pikirku kembali.


Aku terus menatap mereka yang berlari ke sana kemari. Ada yang bermain kejar-kejaran, ada yang bermain kelereng, ada yang bermain mobil-mobil mainan, terkhusus untuk anak laki-laki. Ada juga yang main petak umpet, pikirku seketika aku melihatnya.


Sesekali aku melihat ibu sambungku juga dengan sekilas. Dia yang terkadang baik dan terkadang tidak membuat langkah semakin bimbang.


"Bermainlah bersama teman-temanmu! Ini lagi libur sekolah. Nanti kalau Ayahmu sudah kembali kau akan kesulitan untuk minta izin bermain," katanya mendesak aku agar mau sekali saja bermain.


"Bu, aku takut di marahi Ayah," kataku menunduk melihat tanah dan sedikit rumput yang telah bersih.


Ibu sambungku mendadak diam. Dia tidak lagi mau menolehku. Bahkan dia terus melanjutkan kerjaannya membersihkan rumput.


"Kau di suruh bermain tidak mau. Tapi tahan berlama-lama berdiri di sini," keluh ibu sambungku yang sebal.


Dia pun bangun dan mengambil karung goni untuk membuang sampah rumput.

__ADS_1


"Liyan, kalau tidak kau duduk saja di situ!" suruh ibu sambungku menunjuk bawah pohon jambu yang berbuah lebat.


"Tidak mau ,Bu," jawabku. Berdiri dan menyilangkan kedua tangan tepat di depanku.


"Kenapa? Tidak baik berdiri terus. Nanti kau lelah," katanya memberiku saran.


Ingin bercampur was-was, itu yang aku rasakan. Aku tetap saja sekilas melirik ke arah anak -anak yang bermain.


"Bu, aku pengen bermain," kataku kembali setelah aku melihat mereka terus menerus bermain dengan seru.


" 'Kan tadi Ibu sudah bilang, kalau mau bermain, Bermainlah! Tapi kau masih tetap berdiri di sini," sesal ibu sambungku yang melihatku ragu.


"Ibu, kalau begitu aku bermain, ya!" bujukku dengan lembut mengatakannya kembali.


"Iya, pergilah ! Tapi ingat! Jangan sampai terjatuh," katanya memberi peringatan keras. "Kalau kau sampai terjatuh Liyan. Ayahmu pasti akan marah," kata ibu sambungku berteriak memberitahuku melihat aku yang telah berlari.


"Iya, Bu," jawabku dari jauh berteriak. Berlari mengejar mereka yang bermain.


Ibu sambungku telah aku tinggalkan seorang diri bersama kesibukannya.


"Liyan," panggil mereka yang lebih jauh di atasku usianya. "Kau bermain," kata mereka terperangah bercampur heran melihatku.


"Iya, jawabku dengan gelagat ke kanak-kanakanku .


Hari ini kebebasan itu aku dapatkan meski dari sebelah pihak yaitu, ibu sambungku. Aku sangat bahagia karena dia telah mau memberiku izin untuk bermain selagi kami libur sekolah.


"Liyan, kami kurang satu orang lagi," katanya menghampiriku.


"Untuk apa?" tanyaku dengan nada suara seperti seorang yang terbebas dari kurungan.


"Bermain sepeda," kata mereka. Melirik sepeda yang teronggok diam di belakang mereka.


Sedikit ragu aku menatap sepeda yang teronggok. Aku kembali berkaca pada diri ini kalau aku tidak pernah naik sepeda.


"Aku tidak bisa," jawabku.


"Kenapa?" tanyanya.


"Iya, aku tidak punya sepeda," jawabku pelan bercampur sedih.


"Liyan, makanya kau harus ikut. Sekalian kau belajar," kata Widia tiba-tiba berdiri di sampingku.


Aku sontak terkejut dan memutar seluruh badan melihat ke arah sumber suara.


"Aku tidak berani. Nanti aku jatuh," paparku pelan menolaknya. Menatap Widia yang memegang kedua pundakku.

__ADS_1


"Liyan, kami juga tidak pandai. Tapi kami tidak takut jatuh," katanya seolah dia memberi saran berupa semangat.


"Tapi... ." Aku diam membisu dalam waktu yang tidak terlalu lama menatap sepeda.


"Tapi apa Liyan? Kenapa kau ragu? Kalau kau mau. Ayo naik!" pinta Widia mendesak agar aku termakan bujuk rayunya.


Aku masih tetap diam melihat sepeda yang diam berdiri. "Kalau aku jatuh aku takut," kataku menatap sepeda yang seakan menantang.


"Liyan, kau tidak akan di lepas sendiri," jawab salah seorang dari mereka. "Percayalah Liyan, kau tidak akan jatuh!" kata mereka juga.


Aku semakin kuat ingin ikut mencobanya.


"Liyan, sepeda ini beroda empat. Kau tidak akan terjatuh," ucap Widia berjalan mengambil sepeda yang tersandar di pohon.


Sepeda beroda empat itu pun, akhirnya, di taruh Widia tepat di dekatku.


"Widia, aku datang," teriak salah seorang anak yang sebaya dengan ku.


"Hei Septiani, kau datang juga?" kata Widia berlari mengejarnya.


Deg!


Jantungku sontak terhenti. Sekujur tubuh ini terasa lemas dan dingin. Wajah yang tadi terlihat normal kini telah menjadi pucat.


"Septiani," gumamku pelan terkejut. Berdiri dengan tegak dan tidak bisa berucap. Kedua kaki pun tertanam rasanya di dalam tanah yang aku injak.


"Septiani, kau sama siapa ke sini?" tanya Widia sambil menarik lengan Septiani. Di ikuti olehku yang terus melirik dan mendengarnya.


"Aku kemari di antar oleh Ibuku," jawabnya yang tidak menoleh ke arahku sama sekali.


Aku semakin keringat dingin. Septiani yang sudah tidak menyukaiku lagi, sekarang dia ikut bergabung dengan kami.


"Kalian bermain apa?" tanya Septiani yang masih melirik Widia.


"Kami mau bermain sepeda," jawab Widia. Berhenti tepat di samping sepeda tepat di dekatku.


"Waaaah, sepedanya bagus," ucap Septiani dengan gurat wajah berbinar.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2