
Lama menunggu adikku yang semakin tergila-gila dengan permainannya.Kesal!
Ruam di wajahku semakin memerah.Rasa kesal yang ku tahan didalam hati seketika memuncak keluar dari dalam tubuhku.
Sementara,adikku yang kulihat begitu bahagia. Tertawa lega mendengar permainan mereka akan di tukar dengan permainan yang baru.
Menyebalkan sekali adikku hari ini! Semakin hari antusiasnya bermain semakin tinggi.Itu sangat mengganjal bagi diriku sendiri.
Alih-alih aku kadang teringat tentang perkataan ayahku yang sering dia lontarkan kepada ku. Bahwa, aku harus bisa mengendalikan adikku.
Kalau seperti ini keadaannya, bagaimana mungkin aku bisa mengendalikannya?
Sementara dia terlalu senang berada diluar rumah. Apalagi kalau sudah berkumpul dengan teman-temannya.
Terkadang aku berpikir,kapan adikku sekolah?
Ya,mungkin dengan dia sekolah mungkin akan mengurangi bermainnya.Pikirku.
Epilog
Lain lagi dengan Ayahku di rumah.Kalau aku pulang tanpa adikku. Pasti aku engga akan dikasih pintu oleh Ayahku.
Bagaimana ini? Sementara aku sudah jenuh terus bersama dia yang bermain.Menyerah!
Ya,mungkin kata-kata itu sekarang yang pantas disematkan untuk ku "menyerah".
Tiada hari tanpa berkutat dengan tingkah adikku yang manja dan bermain sesuka hatinya.
Aku yang duduk tidak jauh dari adikku dan temannya. Menatap mereka dengan kesal dan masam.
Adikku duduk sambil memainkan permainannya menatapku dengan wajah bersalah .
"Rahmadani."Adikku melihatku.
"Ia Ana,ada apa?"Rahmadani bertanya tanpa melihat adikku.
"Aku pulang ya! Kita bermain hari ini sampai disini saja dulu, ya! Kasihan kakakku sudah lelah." Menunjukku dengan melirikku.
"Apa? Kenapa cepat sekali Ana?"Rahmadani protes.
Adikku tidak sanggup mengatakan apapun.Diam, itulah jawaban yang tepat hari ini untuk Rahmadani.
"Ia sudahlah Ana,tapi besok kita bermain lagi kan?"Bertanya kembali.
"Ia,aku izin dulu sama ayahku."Suara lembut adikku pun tak ketinggalan.
Melihat adikku yang terlalu lama beranjak dan melepaskan mainannya membuat ku gelisah. Karena wajah Ayahku menari-nari di dihadapan ku.
"Ana,ayo kita cepat pulang sekarang,nanti Ayah marah sama kakak."Mendelik.
"Kakak tenang saja, Ayah engga bakalan marah karena kakak kan tahu. Kalau Ayah sudah melihat wajahku. Pasti Ayah tidak akan marah,tenang saja kak." Adikku yang gusar berusaha berpikir positif meyakinkan.
"Bagaimana mungkin Ayah tidak marah?" Pikirku dengan kesal.
__ADS_1
Ya, mungkin Ayahku tidak akan marah.Gerutuku.
Tapi itu tidak berlaku untukku. Itu hanya berlaku untuk adikku saja.Kataku dalam hati sambil menarik napas panjang.
"Ana,kalau Ayah tidak marah itu hanya untukmu! Apa selama ini kamu tidak tahu? Kalau ayah marah mana pernah sama kamu,yang ada sama kakak."Protes dengan kesal.
Adikku pun diam mendengar itu.Melihatku dia pun jengah.
"Ia sudahlah ayo kita pulang kak."Dia pun berjalan sementara aku mengikutinya dari belakang.
"kak, coba lihat itu!"Menunjuk ke tempat lain.
"Ha! Apa !Jadi maksudnya Ki***.Mendesah.
"Ia kak kita berhenti dulu sebentar."
"Berhenti dimana?"Tanyaku.
"Disini."Sambil berjalan mendekati yang dia lihat.
"Kak,kita berhenti disini dulu melihat mereka ya."Merayuku dengan wajah gemas.
Aku pun mulai luntur. Mendengar rayuan dia dengan suara merdunya yang lembut.Hatiku pun luluh seketika.
Adikku yang suka mempermainkan hal -hal yang serius mulai duduk dan bermain lagi ditempat yang lain.
Kesal ku pun keluar berurai. Menatapnya dengan mendelik.
Kegiatan baru ku pun dimulai lagi hari ini. Pikirku!
Semakin aku mengikuti dia semakin aku lelah.Gurat wajahku pun, semakin merona di karenakan panas cuaca yang menimpa wajahku.
"Kak Liyan."Teriak Andrini berlari mendekatiku.
"Ia dek,ada apa?"Tanyaku memalingkan wajah ku dari adikku.
"Kakak mau kemana?"Tanya Andrini antusias.
"Menemani adik kakak bermain."Jawabku tegas. Memutar kepalaku ke adikku.
"Bermain kak?"Tanyanya butuh kepastian.
Apa ayah kakak nanti tidak marah? Kan kakak tidak di izinkan ayah Kakak keluar rumah berlama-lama."Andrini.
"Ia dek,tapi kakak bisa berbuat apa?!"Menyerah mengangkat bahu.
"Tapi kak,inikan sudah mau sore hari, kak?"Andrini semakin menunjukkan wajah kasihan.
Aku yang duduk hanya melihat adikku bermain dan tidak menghiraukan belas kasihan dari Andrini.
"Sudahlah dek,pergilah pulang nanti kamu di marahi lagi sama Ayah dan ibumu."Jawabku dengan ketus.
Dia pun. "Ya,sudahlah kak aku pulang dulu".Berbalik meninggalkan ku.
__ADS_1
Sementara, aku masih tetap bertahan menemani adikku bermain.
Hahaha!
"Kak,main karet gelangnya seru.Siapa yang jaga,siapa yang jaga."Berlari-lari memutari teman-temannya yang jaga.
"Dia,dia yang jaga!" Tunjuk salah seorang temannya kepada yang lain.
"Ana!" Teriakku dengan tatapan yang tajam.
"Ia,kak sebentar lagi, ya!" Melompat-lompat dengan tinggi.
"Huh!"Mendengus kesal.
Aku tidak bisa memaksa terlalu keras karena kalau adikku di kerasin yang ada malah aku yang kena imbasnya.
Permainan pun terus berlanjut. Tawa pun terus keluar memenuhi udara yang membuat polusi berteriak.
Aku yang jadi penonton. Ikut dalam episode permainan mereka selanjutnya.Menanti saat-saat siapa yang akan menyerah duluan sehingga mengakhiri semua permainan ini.Pikirku!
Adikku malah tak sedikit pun menoleh kearah ku. Apalagi menghampiriku walau, hanya sekedar menanyakan, apakah aku mau ikut bermain ataukah tidak?
Diam dan tertawa itulah yang kulihat.Angin semakin dingin dan waktu pun terus berjalan. Jam sudah menunjukkan jadwal pulang namun kaki tak kunjung melangkah.
Rasa bosan dan jenuh telah menyelimuti diriku yang menunggu.Wajah Ayahku yang menanti kami telah menari-nari di hadapanku.
Namun, senyum adikku membakar semuanya dengan hangus.
Mengingat wajah Ayahku menari-nari dan melihat senyum adikku.Menimbulkan sebuah pertanyaan dalam pikiranku.
Apakah aku yang akan dimarahi ataukah adikku? Kata-kata itu terus terngiang -ngiang dipikiran ku. Yang terus memacuku untuk memecahkan pertanyaan itu.Baik itu terjawab ketika aku pulang membawa adikku atau kah tidak? Sama sekali masih terlihat buram.
"Kak,sebentar lagi kita pulang ya."Suara adikku membuyarkan semua ingatanku tentang Ayahku.
Mendengar itu aku hanya tersenyum.
"Ia kak, kakak tenang saja. Ayah pasti tidak akan marah sama kakak. Biar aku nanti yang bicara sama Ayah."Dari jauh adikku mengatakan kepada ku.Dengan lompatannya yang terus meninggi, tak sekali pun dia kulihat kalah.
Lagi-lagi dia terus bicara sambil tertawa puas menikmati permainannya.
Aku pun ikut hanyut dalam tawa adikku dan permainannya. Pandai sekali dia bermain ini.Gumamku.
.
.
.
Terkadang aku jenuh dan mau menyerah. Mengatakan pada Ayahku bahwa aku tidak mau memikul semua ini.
Tapi lagi-lagi Ayahku mengatakan. Aku tidak boleh kalah sebelum berperang. Yang tak lain dari kata-katanya sendiri. Secara tidak langsung menunjukku untuk memegang semua hal-hal di pundakku. Yang membuat diriku memegang sebuah tuntutan.
Ayahku sering mengatakan untukku. Kau itu anak pertama.
__ADS_1
Kendali tentang adikmu berada di tangan mu sebagai anak pertama.
Bersambung......