
Aku yang berjalan bersama Ibu sambungku. Sebelum menuju apotek. Kami menemui ayahku terlebih dahulu. Ayahku yang lagi terduduk kaku di kursi. Tempat para pasien menunggu! Terlihat duduk dengan rapi begitu banyak. Diam!
Aku yang berdiri tepat di pintu keluar yang mengikuti langkah ibu sambungku pun, aku hentikan seketika. Melihat ayahku. Duduk termangu dengan pandangan kosong.
Seakan ingin membuatku segera kembali kerumah. Rasa malas aku pun, mulai hadir menemaniku di rumah sakit. Aku pun, pergi menghampiri ayahku dan meninggalkan ibu sambungku yang berjalan menuju tempat pengambilan obat. Dengan langkah yang menyeret kakiku. Aku menghampiri ayahku. "Ayah! Ayo kita pulang!" Berdiri didepan ayahku yang lagi serius dengan pikiran kosongnya.
Dengan tersentak. Tiba-tiba, mendengar suaraku."Ha! Pulang? Apa sudah selesai,nak?"
Ayahku pun, menatapku dengan penuh tanda tanya.
"Ia,Ayah! Sudah siap! Kata dokternya!" Menatap ayahku dengan wajah yang sendu.
Ayahku pun berdiri dan menggenggam tanganku. Dengan sepatu yang sering dia pakai. Untuk membawa becak dayungnya. Dia pun, mengatur langkahnya dengan perlahan sambil menggiringku disampingnya. Kami berdua pun, berjalan dengan bergandengan tangan. Langkah kaki kecilku yang lemah pun, berjalan dengan penuh irama.
Ibu sambungku yang berjalan lebih dulu dari kami. Telah berdiri ditempat yang aku belum mengetahuinya. Dari jauh. Aku sambil berjalan melihat dia berbicara dengan menyerahkan selembar kertas yang diberikan dokter muda itu tadi, kepada kami. Suara batuk lelah ayahku pun, terdengar sesekali oleh telingaku.
Aku dan ayahku pun, berjalan. Mengikuti orang -orang yang banyak. Mereka juga, berjalan terus. Menuju ketempat ibu sambungku yang kini telah duduk menunggu antrian. Bersama dengan kerumunan orang yang duduk disitu juga.
Tidak berapa lama. Langkah kaki yang kami seret pun, sampai dan kini berhenti. Aku yang tadi berjalan bersama ayahku dengan orang-orang yang penuh sesak. Kini berdiri melihat disekeliling. Apakah? Ada kursi yang kosong diantara orang-orang yang ramai.
__ADS_1
Suasana pun, kini menjadi semakin pelik. Dimana? Banyak orang-orang yang begitu lelah menunggu. Ada yang berdiri sambil menggendong anaknya. Ada yang duduk dengan begitu rapat karena ukuran kursi yang sudah tidak mencukupi lagi. Ada yang berjongkok dan berdiri sambil melihat-lihat orang yang berjalan.
Sementara, ibu sambungku duduk di kursi yang paling tengah sambil melihat lurus kedepan apotek. Mendengarkan panggilan atas nama pasien yang tidak lain adalah diriku sendiri! Dia pun, begitu serius memasang pendengarannya.
Ayahku yang masih berdiri di sampingku. Dengan genggaman tangannya yang masih erat. Menggenggam tanganku. Kini menghembuskan napas kasar mengarah ke udara. Menatap nanar kedepan. Ke kerumunan orang-orang yang berobat kerumah sakit. Aku yang masih berdiri. Melihat kursi yang kosong. Tiba-tiba lengan dari arah yang berlawanan menarik tanganku. Sehingga membuat aku tersentak.
" Mari! Duduk disini! Kata ibu sambungku yang menarik tanganku. Aku yang spontan melihat kearahnya pun, berjalan mendekatinya dan melepaskan genggaman ayahku. Ayahku pun, seketika, pergi berjalan menuju keluar rumah sakit. Sambil melihatku sekilas.
Sementara, aku yang duduk bersama ibu sambungku. Masih tetap duduk menunggu. Tidak satupun, namaku terdengar dipanggil. Selama aku berada duduk bersama ibu sambungku. Aku melihat dari semenjak dia lebih dulu sampai. Dia pun belum mendengar namaku dipanggil.
Selama kami berdua menunggu. Hari pun, semakin menunjukkan siang. Begitu banyak, orang-orang yang gelisah. Begitu juga, dengan kami. Aku yang sakit. Kini harus ikut menunggu untuk mengambil obat.
Aku pun, seketika memikirkan dengan mempertimbangkan. Apa? Yang dibilang oleh ibu sambungku. Dia begitu perhatian dengan aku. Aku merasa bahwa, dia adalah ibu kandungku. Namun, ketika aku bangun dan menatap dunia nyata. Aku pun, tersadar kalau ibu kandungku telah tiada.
Aku yang duduk dengan badan yang lemah. Duduk sambil melihat orang -orang yang berjalan lulu lalang. Sambil mengayunkan kedua kakiku. Aku yang masih tetap duduk. Merasa tubuhku seakan baik-baik saja. Tersenyum sesekali! Melihat anak-anak yang lucu. Tawa mereka. Suara mereka ketika berbicara yang belum terlihat jelas. Jadi, terlihat begitu unik!
Mataku pun, kini aku buka dengan lebar. Sehingga, kedua bola mataku yang seakan terlihat seperti mendelik. Rambutku yang bulat sebahu. Membuat aku harus mengaturnya dengan jemariku sesekali. Angin yang berhembus masuk menyelip dengan rapi. Menerpa wajahku yang membuat rambutku berserakan tak tentu arah.
Orang yang bersilewaran semakin memadati ruang sakit. Sesak rasanya. Tidak pernah sunyi. Bahkan,semakin lama semakin penuh. Sehingga membuat kursi dan koridor jalan begitu padat. Ada yang berjalan menyelip dari tubuh orang -orang yang berkumpul. Menutupi sebagian jalan.
__ADS_1
Semakin lama. Aku pun, semakin lelah dan ingin rasanya aku tidur. Mataku yang terasa kian, melemah. Sontak seketika, aku terperanjat dan membuka kedua mataku dengan cepat. Aku langsung mengarahkan pandanganku kedepan. Tepat ke ruangan tempat pengambilan obat yang tidak lain adalah apotek! Aku pun, menatap lurus seorang wanita yang sedang membelakangi ku. Berdiri menutupi kaca kecil yang terbuka didepan apotek itu.
Dia begitu, serius berbicara. Dengan pikiranku yang terhanyut. Aku tidak memperhatikan di sampingku. Apakah? Ibu sambungku masih duduk di sampingku ataukah tidak.
Wanita itu pun memutar badannya. Menghadap ke arahku. Seketika, aku pun melihatnya juga.Ternyata, ibu sambungku yang tidak jelas terlihat olehku karena rambutnya yang tergerai panjang melebihi sedikit bahunya menutupi wajahnya. Sehingga aku tidak dapat mengenalinya. Dia pun, berjalan perlahan menuju ke arahku. "Ayo,kita pulang!" Sambil meraih tanganku. Menggenggam tangannya.
Kami berjalan meninggalkan apotek tersebut. Melangkah terus keluar dari pintu gerbang rumah sakit. Dari area rumah sakit. Diluar pagar. Aku melihat ayahku teronggok dibawah pohon. Duduk diatas becaknya seorang diri. Perlahan kami berjalan menghampirinya.
Tidak berapa lama. Kami pun, sampai dihadapan ayahku. Ayahku yang sontak terkejut langsung terperanjat. "Kalian! Ayah pikir! Ntah, siapa? Yang datang." Kata ayahku, sambil beranjak dari duduknya.
"Bagaimana? Apa kata dokter?" Ayahku melihat ibu sambungku dan langsung mengalihkan pandangannya seketika.
"Ia! Dokter bilang tidak terlalu mengkhawatirkan. Semua baik-baik saja!" Tapi,nanti kalau, belum ada perkembangan. Baru dilakukan kembali pemeriksaan selanjutnya." Kata, ibu sambungku dengan santai. Sambil duduk.
Sementara, aku yang duduk disampingnya. Bersebelahan dengan ayahku. Hanya, diam dan mendengarkan mereka saja. Sesekali, aku melemparkan pandanganku kearah mereka.
Ayahku pun, kini sudah mengayuh becaknya dengan begitu perlahan. Ayahku yang berada di sebelahku begitu, terengah-engah. Mengayuh becak dengan dua penumpang yang duduk yaitu,aku dan ibu sambungku. Ibu sambungku yang tubuhnya jauh lebih besar dari aku dan ayahku. Membuat ayahku terasa begitu berat mengayuhnya. Dia pun, dengan sekuat tenaga berusaha menahan lelah . Dengan kedua mata yang terlihat lelah. Dia berusaha melihat jalan yang bergeming.
Banyak para pengendara yang melintas! Dan tak jarang juga, banyak pengendara yang ugal-ugalan. Sehingga membuat ayahku semakin berhati-hati.
__ADS_1
Bersambung.....