Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Dalam kelas


__ADS_3

Selepas kami berdiri di lapangan yang terik dan meninggalkannya. Kami pun memasuki ruangan kelas yang adem yang tadi terlihat sepi olehku seperti tak berpenghuni.


Kami pun seketika masuk melangkahkan kaki dengan perlahan ke dalam kelas dengan rasa kecemasan yang mendalam. Aku yang menjadi bullyan Ecy dan Tania begitu khawatir terhadap diriku sendiri. Kecemasan yang menghantui semakin memenuhi relung jiwa.


Tubuh mungil yang lemah semakin tersulut rasa takut. Tungkai kaki yang terkulai terlihat perlahan aku seret. Kedua bola mata yang redup melihat setiap sudut kelas dengan nanar.


"Widia! Ecy dan Tania tidak ada!" Ucapku pelan berjalan di samping bersama mereka.


"Ia, aku juga tidak melihat mereka." Sahut Widia. Melihat ke sana kemari memutar kepala.


Ruangan kelas yang cukup untuk mengumpulkan murid di dalam sebanyak 30 orang ini terlihat kosong. Hanya, ada beberapa murid yang duduk sambil bicara.


"Tapi aneh! Mereka berdua menghilang ke mana, ya? Aku takut kalau mereka pulang mengadukan sama Ayah mereka." Canda Septiani. Melihat meja Ecy dan Tania.


Hahaha! Tawa Rasyd dan Solihin.


Septiani masih memutar kepala dan badan. Melihat yang di penuhi dengan rasa penasaran yang mendalam.


Sementara aku masih tetap cemas. "Aku takut kalau mereka bersembunyi." Ucapku pelan dengan nada suara sedikit berat dan wajah khawatir. Sesekali aku meremas jemari dengan kuat.


"Widia, kau tidak melihat mereka, kan?" Tanyaku pelan.


Demi ketenangan jiwa. Aku harus bertanya kembali kepada Widia yang sebenarnya aku tahu Widia tidak bisa menjawab. Bahkan Widia tidak mengetahui Ecy dan Tania pergi ke mana?


"Liyan, kau tidak usah takut dengan mereka. Mereka tidak akan mengganggumu lagi." Balas Septiani. Melihatku seakan memberikan kebenaran atas apa yang di sampaikan olehnya.


"Ia Liyan, kau tenang saja! Kami ada di sini bersamamu." Ucap Rasyd.


Kami yang masih diam berdiri di tengah kelas dan di saksikan oleh papan tulis yang tergantung terlihat seperti orang yang sedang mengatur strategi untuk menyerang musuh. Diam, berbisik pelan sambil melihat dan berjaga-jaga agar tidak di ketahui oleh orang yang ingin mengincar kami. Seperti itulah kami saat ini!


Solihin yang terlihat datar dengan apa yang terjadi hanya mengangguk dan menyetujui apa yang kami sampaikan. Solihin memang anak yang datar dan terlihat begitu netral. Jiwa kenetralannya begitu membuat dia terlihat rileks. Dia memang mengikuti setiap keputusan kami 'sahabatnya' akan tetapi, jika keputusan kami bertentangan dengan cara pikirnya. Dia pasti akan menolak dan mencari solusi yang terbaik.


"Lalu, kita mau sampai kapan berdiri di sini?!" Tanya Solihin dengan wajah lelah yang melingkari kedua bola matanya. "Sebaiknya kita duduk saja!" Lanjutnya.


"Tapi, kita mau duduk di mana?!" Tanyaku dengan berpikir, sambil melihat meja dan bangku, di mana tempat yang paling enak untuk berkumpul walau hanya sekedar diskusi yang pendek.


"Di bangku..."Jawab Septiani sambil memutar kepala melihat tempat yang nyaman. "......bangkumu saja Solihin." Cetus Septiani. Menaikkan alis sambil menarik bibir.


"Apa?" Sontak Solihin membuka kedua bola mata dengan lebar sambil mengangkat kepala dengan tegak. "Tidak bisa, tidak bisa! Nanti kalau teman sebengkuku datang, bagaimana?" Keluh Solihin dengan mengeluarkan pernyataan yang membuat Septiani terlihat bingung.


"Emang kenapa Solihin?" Tanya Septiani dengan cemberut. Memalingkan wajah dan mendengus.


"Kalian itu jangan terus-terusan bertengkar aku lelah mendengarnya."Gerutuku dengan kesal.


Melihat mereka yang semakin hari semakin menyenangi pertengkaran memaksaku harus menutup telinga dan melemparkan pandangan ke mana pun yang aku sukai.


Perdebatan kerena hal-hal kecil selalu terjadi di tengah persahabatan kami. Namun, yang anehnya tidak pernah membuat persahabatan kami retak. Sehebat apapun pertengahan dan perdebatan, kami tetap terlihat kompak. Bahkan kami saling menyadari kekurangan dan kesalahan diri masing-masing.


"Kalau begitu kita duduk di bangku kami saja." Ucapku melihat Widia yang berdiri tepat di hadapanku.


"Ia, Liyan benar! Duduk di bangku kami saja." Sambung Widia menyetujui keputusanku.


"Tapi..." Septiani menghentikan apa yang ingin ia sampaikan melihat ke bawah dengan wajah sendu. ".....meja aku jauh dari kalian. Jadi, nanti kalau Bu Dona masuk, aku pasti panik." Sambung Septiani dengan lirih.


Wajah polosnya yang jahil pun terlihat sendu dan tak bersemangat. Seketika aku pun jadi ikut terbawa arus kesedihannya.

__ADS_1


"Septiani yang sabar, ya!" Ledekku dengan mengelus pundak Septiani. Tertawa.


"Hei! Liyan kau sudah..." Seketika Solihin dan Rasyd terdiam melihatku dengan wajah seakan tidak percaya. ".....bisa tertawa lagi!" Sambil menatapku dengan lekat.


"Ia! Kami jadi senang Liyan." Teriak Widia dengan bahagia sambil melompat kecil dan menempelkan kedua lengannya di pundakku.


Wajahnya begitu senang terlihat.


Rasanya aku begitu bahagia, serasa diriku ini bagaikan di terbangkan ke atas langit yang indah, meskipun di selimuti dengan awan yang mendung yang di hiasi oleh pelangi yang di penuhi dengan warna. Awan yang mendung yang masih di naungi oleh matahari yang cerah.


Begitu tawa sumringah pun terlihat jelas tanpa satu serat benang kesedihan. Hari ini aku begitu merasa bahagia karena sedikit aku telah berhasil keluar dari belenggu yang mengekang meskipun aku tidak tahu akan bertahan berapa lama.


"Liyan, kami ikut senang melihatmu tersenyum." Sambut Septiani dengan mengayunkan kedua tangannya ke udara sambil memelukku dengan erat.


"Sepertinya, kita kedatangan teman baru." Ledek Rasyd dengan tertawa kecil.


Begitu besar rasanya kebahagiaanku hari ini. Dari setitik senyum yang aku tunjukan bisa membuat mereka begitu bahagia. Bagaikan orang yang mendapat suprise yang begitu berharga dan tak ternilai.


"Ayo, kita sekarang kita duduk di bangku! Aku sudah lelah berdiri seperti penjaga pintu." Ajakku menarik lengan Widia.


"Ayo, Liyan! Tapi nanti kalau mereka itu datang bagaimana?" Keluh Septiani dengan gelisah.


"Septiani, mereka tidak akan datang!" Timpal Widia. Berjalan. "Kalau mereka datang, mana mungkin mereka berani." Lanjut Widia.


"Ia, Widia benar dari mana mereka berani, apalagi kepadamu!" Ungkap Solihin. Berjalan mengikuti kami dari belakang.


"Septiani kan galak!" Sambut Rasyd. "Mana mungkin mereka berani." Menatap Septiani dengan wajah sedikit mengejek. "Aku saja takut !" Lanjut Rasyd dengan tertawa sambil menampakan gerahamnya.


Seketika aku memutar wajah pucatku melihat reaksi dari Septiani atas candaan yang di perlihatkan oleh Rasyd. Septiani terlihat begitu ketat dengan wajah yang memerah.


"Rasyd kau dengar, ya! Aku udah engga mau lagi berurusan dengan mu." Tandas Septiani.


"Widia, aku takut! Mereka pasti akan bertengkar." Ucapku dengan wajah khawatir. Memutar kepala melirik Rasyd yang diam membeku. Seakan wajah Rasyd yang terlihat ketat begitu menahan sedikit kekesalan memutar kepala melemparkan pandangan ke arah pintu.


Bersamaan dengan Rasyd melemparkan kekesalannya, kami berjalan menghampiri bangku yang akan menjadi penyejuk kaki yang lemah.


Perlahan aku memaksa kakiku yang lemah untuk berjalan, meskipun masih dalam keadaan lemah terkulai. Bisikan hati yang terus menyuruhku untuk semangat menambah ketegaran teruntuk tubuh mungil yang lemah tak berdaya ini.


Mata redup pun melihat dengan terang meskipun kegelapan menghalangi pandangan dari setiap langkah yang aku arungi.


Jejak kaki yang lemah kini terlihat tersenyum karena melihat langkah yang terselimuti oleh kebahagiaan.


"Widia, kenapa Bu Dona menyuruh kita masuk? Padahal Anak-anak yang lain masih diluar bermain." Tanya Septiani. Berdiri di dekat meja dan memutar kepala ke arah pintu yang terbuka lebar dengan menatap ke luar. "Padahal aku masih pengen di luar. Kalau di dalam rasanya gerah." Gerutu Septiani dengan kekesalan yang membuat jiwanya tidak begitu bahagia.


"Bu Dona memang seperti itu! Dia sangat disiplin!" Sambungku dengan penuh penegasan. "Mana belum ada kita yang berani membantah! Setiap apa yang di perintahkan, pasti kita diam dan melaksanakan." Lanjutku kembali. Duduk di bangku.


"Liyan betul! Bu Dona itu guru yang paling disiplin, makanya murid yang lain begitu terdiam ketika mereka tahu, kalau wali kelas kita Bu Dona, mereka langsung terperanjat dan menyeringai mendengarnya seakan mereka mengatakan hati-hati yang sabar, ya." Balas Rasyd yang seakan mengetahui segalanya. Menarik bangku murid lain dari sebelah lorong barisan meja kami.


"Kita kan tidak akan lama di kelas tiga ini! Pasti kita akan naik kelas dan ganti wali kelas." Sambut Solihin dengan penuh keyakinan akan ucapan yang di sampaikan olehnya. Solihin begitu rileks duduk dan menatap kami.


"Tapi aku engga jadi masalah dengan Bu Dona. Apapun yang di katakan Bu Dona tetap aku dengarkan." Timpal Widia dengan dedikasih yang besar. Menatap kami sambil mengambil tempat minum yang sering ia bawa.


"Kalau aku sama juga dengan mu Widia. Bagiku Bu Dona baik juga! Karena selama aku sakit...." Aku menghentikan ucapanku menatap mereka sambil memikirkan apa selanjutnya yang ingin aku ucapakan. "....selama aku sakit Bu Dona engga pernah memarahiku. Meskipun aku tidak memberi izin kepadanya." Lanjutku dengan hati yang senang. Menatap mereka sambil memainkan buku tulis di atas meja.


"Liyan, engga mungkin!" Sangkal Septiani spontan. "Aku rasa Ayahmu sudah memberi tahu kepada Bu Dona kalau kau sakit." Sambung Septiani memberikan keyakinan penuh kepadaku.

__ADS_1


Seketika aku terdiam dan mencerna apa yang di sampaikan oleh Septiani. Kemungkinan besar Septiani benar kalau ayahku telah memberitahu kepada Bu Dona tentang keadaanku mengalami sakit yang tidak berkesudahan.


"Tapi, aku tidak tahu! Karena aku tidak berani bertanya kepada Ayahku." Ucapku dengan sedikit kecewa yang dalam karena telah memelihara kebodohan yang tidak pernah usai.


Kerap kali ketika aku berjumpa dengan ayahku di rumah, baik dia ketika pulang mencari nafkah ataupun tidak, aku tidak pernah menanyakan tentang hal ini kepadanya. Aku begitu takut menatapnya seakan aku berpikir kalau ia akan menelanku sampai habis.


"Kenapa kamu tidak berani Liyan?" Tanya Solihin ingin tahu. Menatapku dengan dalam menunggu jawaban dari lidahku yang keluh.


"Ayah Liyan kan galak!" Sambut Widia dengan spontan. Menatapku dengan lekat sambil meneguk air mineral. "Hehehe!" Nyengir dengan wajah yang terlihat begitu merasa bersalah karena telah mengatakan apa adanya sesuai dengan kenyataan yang ada. Widia pun melirikku dan membenamkan wajah di mulut tempat minum yang ia bawa.


Wajah dari Solihin, Septiani dan Rasyd pun terlihat seakan tidak percaya dengan apa yang di sampaikan oleh Widia. Mereka melebarkan kedua bola mata. "Widia benar Liyan?" Tanya Solihin menunggu klarifikasi dari bibir yang pucat ini.


Mendengar dan melihat mereka yang begitu menatapku. Membaut aku di landa kebingungan dengan pertanyaan dan jawaban apa yang akan aku berikan.


Rasanya, lagi-lagi aku di hadapkan oleh dua pilihan ayah dan temanku. Kalau aku tetap bersikeras diam mereka pasti akan terus mendesakku. Kalau aku membenarkan apa yang di sampaikan oleh Widia, aku takut kalau mereka nanti tidak mau berteman denganku.


Kalau aku tidak mengatakannya, aku takut kalau mereka nanti tiba-tiba datang ke rumahku dan bertemu dengan ayahku. Aku takut mereka akan gemetar menatap ayahku yang tajam menatap mereka. Lalu, aku harus bagaimana? Oh! Hatiku mampukah kau menjawab pertanyaan mereka? Pertanyaan ini terus menghantuiku mengikuti langkahku menjadi bayangan hitam dalam setiap napasku.


Entah apa yang ingin aku berikan atas pertanyaan mereka. Lagi-lagi aku diam membeku seperti tersiram air es yang sangat dingin.


Tubuh lemah semakin tak bisa menarik dan menghembuskan napas. Kini mulai terasa sesak dan ingin berhenti. Mata redupku pun kini tak bisa lagi menatap dunia dengan sempurna.


"Liyan, kenapa kamu diam saja?" Tanya Rasyd yang membuat aku tersentak bersama Widia yang tiba-tiba menepuk bahuku pelan. Puk!


"Liyan, kamu melamun, ya! Ingat tentang Ayahmu!" Canda Septiani dengan wajah jenaka. "Jangan di ingat Liyan. Nanti kau tidak semangat belajar." Lanjut Septiani dengan candaan yang penuh sambil menarik bibirnya dengan jenaka kembali.


"Aku tidak mengingat Ayahku!" Jawabku dengan menutupi yang ada di dalam pikiranku. "Ayahku sedikit...!" Aku menghentikan seketika menatap Widia seakan meminta pertolongan darurat darinya.


Seketika Widia menatapku dengan menahan sedikit tawa karena telah berhasil menjebakku dengan ucapannya yang begitu konyol menurutnya.


Sebenarnya aku ingin sekali menangis di hadapan Widia yang telah memberi jebakan untukku. Jebakan Widia bagaikan jebakan Batman yang telah siap melempar dan menggulungku dengan perlahan.


"Ayahku sedikit.....apa Liyan?" Sambung Solihin. Menatap dengan beribu tanda tanya yang membelenggu di dalam benaknya.


"Ayahku sangat ketat menjagaku. Makanya dia sering memarahiku." Jawabku dengan pelan. Menunduk dan menahan rasa malu.


Ooh! Hahahaha! Tawa Solihin begitu keras memenuhi langit-langit kelas seakan dia baru mendengar lawakan yang begitu menyenangkan. "Jadi, kau di jaga terlalu ketat, begitu!" Tandas Solihin. Menggeleng.


" Berarti Liyan, kau anaknya suka keluyuran!" Timpal Rasyd. Meledek.


Refleks aku memutar sedikit kepala melihat Widia dan kami pun bertemu pandang dalam kebisuan seakan kami mengingat kejadian yang kemaren tentang Nisa. Sorot mataku begitu dalam menunjukan kepada Widia.


Setelah menemukan jawaban dari dalam diri kami masing-masing, kami memutar kepala. Widia terlihat menatap meja dengan menarik sedikit bibirnya dengan tipis yang tidak bisa di ketahui oleh siapapun. Sementara aku menunduk dengan segala kebenaran yang ada dan sedikit menatap diri ini sesekali. Aku melirik Widia dengan senyuman tipisnya yang hanya aku bisa membacanya.


"Widia, kau senang ya melihat aku bingung." Bisikku di telinga Widia. Menggeser sedikit bangkuku.


"Liyan, aku tidak bermaksud seperti itu." Ucap Widia pelan. "Maaf kan aku!" Pintanya memohon.


.


.


.


Teman-teman terimakasih telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏

__ADS_1


❤️❤️❤️


Bersambung....


__ADS_2