
Sontak aku terkejut mendengar. Perlahan aku pun memutar badan untuk menjauhi ucapan ibu sambungku yang menyesakkan dada.
Aku pun bergeser sedikit jauh dan kemudian berjalan membawa kotak bekas mainan yang kuambil dari lantai.
Aku letakkan kotak tersebut di sudut dinding kamar. Aku pun kemudian menatap nanar kotak mainan itu. Bisikkan suara pedas ibu sambungku masih terngiang di telingaku sampai detik ini dengan keadaan yang lesu aku menjatuhkan tubuh mungil ini di hadapan kotak mainan.
Aku ingin membuka mainanku tapi sayang, ayahku telah merubahnya seketika. "Liyan, hentikan bermainnya!" kata ayahku tegas. "Istirahat dulu!" pinta ayahku. "Nanti kau tidak konsentrasi mengaji," ucap ayahku berdiri.
Adikku yang menghampiriku tanpa sengaja. "Kak, kenapa Ayah sibuk-sibuk mengingatkan kita seolah-olah kita berkeliaran." Adikku menatapku dengan penuh tanda tanya.
Aku pun lalu mencerna kejadian tadi sebagai isyarat bahwa ayahku melarang tidak boleh bermain. Aku pikir ayahku bakalan berlapang dada mengizinkan kami bermain. Ternyata semua bohong. Semua tidak sesuai angan dan harapan.
"Baik Ayah," jawabku sambil menutup kembali kotak yang telah kubuka. Aku pun dengan rapat menutupnya dan mendorongnya hingga rapat ke dinding.
"Kak, Ayah tadi berdiri mau pergi kemana?" tanya adikku yang melirik ayahku berdiri meninggalkan bangku.
"Entah. Kakak tadi tidak bertanya." Aku melihat adikku. "Kenapa tidak kau tanya? Biar kau tahu, Ayah itu mau kemana?" Aku beranjak mengambil kain lap yang di lantai kemudian menaruhnya di dapur.
"Aku tidak berani bertanya pada Ayah." Adikku melirik ibu sambung kami yang berdiri menatap kami.
Aku yang ikut melihat yang dilihat adikku pun mendongak diam seakan aku mati kutu. Ibu sambungku rasanya seperti mendelik melihat kami berdua. "Dik, apa kau masih berani melihatnya?" tanyaku pada adikku ingin mengetahui, apakah pendapatku sama dengannya?
"Kak, aku tidak mengerti," jawab adikku. "Menurut Kakak, bagaimana?" Adikku berbisik mendekatiku sambil memutar pandangan bertanya padaku dan menaikkan alisnya.
"Kenapa kau bertanya kembali, huh?" Aku mendengus kesal memonyongkan sedikit bibir.
"Aku tidak bisa menebak, Kak," jawab adikku berdalih melindungi dirinya sendiri.
"Bohong," cetusku langsung.
"Kakak ini! Engga percayaan sekali," celetuk adikku kesal karena aku terlalu banyak menyelidiki.
Hm! Aku pun langsung mengeram menelan ludah kekesalan. "Ya sudahlah, Ana! Kalau kau memang tidak tahu tidak usah kita bertengkar lagi," ucapku mengakhiri secepatnya.
"Ya sudah! Tidak apa-apa. Aku juga malas kalau membahas tentang Ayah," rancau adikku melihat dan memutar-mutar kotak mainanku.
"Ana, tapi setidaknya kita harus tahu, Ayah mau kemana?" Aku langsung bangun dari duduk dan berjalan kencang menghampiri ayahku.
Langkah kaki kencang yang menginjak lantai pun terdengar ke telinga ketika menghampiri ayahku yang bersiap untuk ke sumur.
"Ayah, Ayah mau kemana?" tanyaku berdiri.
"Ayah mau ke sumur, Nak. Bersih-bersih. Sebentar lagi 'kan, Maghrib," ungkap ayahku meninggalkanku yang berdiri melihatnya.
"Kenapa kau tanya Ayahmu mau kemana, Liyan?" tanya ibu sambung kami.
"Tidak ada apa-apa, Bu," jawabku. "Aku cuman ingin tahu saja." Aku menatap ibu sambungku kemudian aku menunduk.
"Jadi, sekarang kau 'kan sudah tahu. Lalu... ." Ibu sambungku menatap kami dengan ekspresi wajah sedikit menantang dan menyuruh aku pergi. "Hm!" Dia mengeram seakan bertanya, apalagi yang kuinginkan berjalan maju dan mendelik.
Tatapan yang mematikan ini seakan memukul jalanku mundur refleks ke belakang. Sekujur tubuh ini rasanya terasa menciut. Mengecil bagaikan semut yang terjepit.
Serangan demi serangan yang mengelilingi seisi ruangan ini semakin membuat pandanganku gelap. Lemparan batu keras pun menghantam tubuh mungil yang lemah ini sehingga membuat bibirku yang pucat bergetir tak menentu. Sedekap kami ingin menggulung diri ini dari buaian kata-kata kasar.
Ibu sambungku yang berdiri. Masih saja memutar sorot matanya menatap diriku yang malang. Wajah pias dan wajah panikku pun bertemu pandang dengan maksud tujuan yang lain.
__ADS_1
Sementara adikku yang masih tersudut bergeming, menatap wajahku dan wajah ibu sambungku yang berbeda makna. Dirinya yang khawatir akan omelan terulang kembali menyerang memenuhi ruangan ini membuat adikku menutupi setengah wajahnya dengan jemarinya.
"Liyan, Ana jangan berdiri saja di situ! Pergi dari sana dan rapikan diri kalian sebelum Ayahmu kembali," pekiknya keras.
"I-iya Bu," jawabku sedikit terbata menunduk.
"Jangan iya, iya saja!" kata ibu sambungku pedas menatap aku dan adikku.
"Eem!" Aku pun langsung pergi meninggalkan tempatku.
Selangkah aku berjalan kembali mendekati kotak mainan. Aku pun mengambilnya sambil melirik ibu sambungku dari setengah tubuhku yang membungkuk di udara. Ibu sambung yang kulihat sambil mengambil kotak itu telah berputar membelakangi aku dan adikku.
Puk!
"Kak," panggil adikku memukul tanganku sedikit keras.
"Ya," sahutku spontan terkejut sambil melihat ke arah ibu sambungku yang melihat ke arahku juga. Seakan dia mencari-cari suara tepukan yang terdengar tadi. "Liyan, apa itu?" tanya ibu sambungku penasaran.
Aku yang terperanjat hanya diam dan menatap nanar dengan penuh tanda tanya. Aku pun kini berpikir sambil memegang kotak setelah aku mengetahui bahwa ibu sambungku begitu penasaran dengan suara yang sedikit keras terdengar tadi.
Aku lalu memutar pandangan melihat adikku. "Anaaa," teriakku pelan sambil menggigit kedua geraham.
"Kak, a-aku... ." Adikku terbata menatap ibu sambung kami sekilas.
"Aku apa?" tanyaku mendelik.
"Aku cuman mau mengambil ini!" kata adikku merampas kotak mainan dariku.
Kedua bola mataku seketika melebar menatap adikku yang ceroboh. "Untuk apa Ana?" tanyaku ingin tahu.
Aku yang terbodoh melihatnya, melebarkan kedua bola mata menatapnya. "Ana! Kau mau apa?" tanyaku mengikuti adikku langsung.
"Kakak lihat saja nanti," jawab adikku sambil tergopoh-gopoh membawa kotak mainan yang sedikit berat itu. "Kak, ini kok berat kali?" tanya adikku melihatku yang berjalan di sampingnya. "Apa sih isinya, Kak?" tanya adikku kembali penasaran. Dia pun terus membawanya diam-diam ke dalam kamar.
"Ana, kalau sampai Ibu tahu, bagaimana ?" tanyaku berbisik.
"Makanya, Kakak jangan berisik! Sstttt !" Adikku meletakkan kotak mainan itu dengan susah payah.
Baugh!
"Ala Kak," ucap adikku pelan sambil terkejut.
"Liyan, Anaaa," teriak ibu sambung kami. "Apa yang jatuh?" tanyanya berdiri secepat mungkin di dekat tirai kamar kami.
"Tidak ada, Bu," jawabku spontan dengan nada suara tenang.
"Lalu... yang tadi itu suara apa?" tanya ibu sambung kami menyelidiki.
Aku semakin terdiam. Sementara adikku hanya melotot dengan gurat wajah yang cemas. Kotak yang tadi terjatuh di lantai. Perlahan dia dorong pelan ke bawah tempat tidur.
"Kenapa diam saja, Liyan?" tanya ibu sambungku masuk sambil melempar pandangan ke arah adikku.
Aku hanya diam saja dan menunduk. Adikku yang tadi cemas pun seakan mengikuti aku yang menunduk.
"Liyan, Anaaa!" panggil Ayahku berteriak. "Kalian dimana? Kenapa sunyi, Nak?" tanya ayahku dengan keras.
__ADS_1
Ibu sambungku pun langsung keluar meninggalkan kami setelah mendengar suara ayahku yang kecarian dengan kami.
"Anak-anakmu ada di kamar," jawab ibu sambungku.
"Ooh, yang di kamarnya orang itu!" kata ayahku dengan suara paraunya yang terdengar lelah.
Aku yang berdiri diam di sudut dinding kamar mendengarkan suara ayahku. "Ayah sudah kembali," kataku melihat adikku yang menjatuhkan tubuhnya.
"Iya, aku sudah mendengarnya, Kak," ucap adikku yang jahil.
Srrrkkk!
Adikku pun menyeret kotak mainan dari bawah tempat tidur. Aku semakin melongo melihat adikku. "Ana, kau mau apa dengan mainan itu?" tanyaku.
"Hihihi ! Kita akan bermain ini, Kak," cetus adikku tertawa geli.
Aku terbodoh menatapnya dan jengah. "Bermain Anak BP?!" tanyaku seakan tidak percaya.
"Iya," jawab adikku tenang.
"Aduuuh Anaaa!" teriakku tidak habis pikir pada adikku. Menepuk keningku pelan.
"Kenapa sih, Kak? Kakak seperti melihat yang aneh saja," ujar adikku sambil mengeluarkan mainan satu per satu dengan pelan.
"Ana!" teriakku berbisik pada adikku. "Bagaimana jika Ayah tiba-tiba masuk ke dalam kamar ini? Dan melihat kita bermain." Aku menatap adikku dengan kedua bola mata melebar.
"Ayah tidak akan masuk," jawab adikku santai. "Ayah kalau sudah mau Maghrib, pasti dia duduk dan berdzikir, Kak," sambung adikku semakin tenang.
Aku pun kembali memukul keningku pelan sambil menggeleng kecewa melihat adikku yang santai menyusun kotak -kotak kecil sebagai perlengkapan menyusun rumah anak BPnya.
"Kakak pasti akan dimarahi oleh Ayah." Aku memutar kepala melihat adikku yang tidak peduli dengan semuanya.
"Kak, Ayah tidak akan tahu kalau kita bermain di sini," kata adikku optimis. "Begitu juga dengan Ibu kesayangan Kakak itu! Ibu Kakak itu tidak akan tahu." Adikku sesekali melihatku. "Ayo duduklah, Kak! Kita bermain di sini!" ajak adikku sambil menepuk lantai pelan sebagai isyarat menyuruhku duduk di dekatnya.
Tanpa berpikir panjang aku pun duduk mengikuti adikku yang konyol itu. "Ana, ini sudah jam segini!" Apa kau takut seorang diri di sini?" tanyaku ingin beranjak.
"Tidak," jawab adikku sambil menarik lenganku dan menyuruhku duduk kembali. "Cepat, Kak!" tuntut adikku melotot.
Terpaksa aku pun refleks mengikutinya dan duduk di sampingnya. "Ana, mana Anak BPnya yang lain." Aku mencari-carinya. "Bajunya juga cuman ini. Kok sedikit kali?!" kataku menatap adikku sambil menghapal baju anak BPnya satu per satu.
"Aku cuman menemukan ini saja," jawab adikku.
"Masa. Itu tidak mungkin Ana!" selaku. "Bajunya sangat banyak dulu Kakak simpan," ucapku.
"Sebentar ya Kak. Aku cari dulu," pinta adikku meminta sedikit kesempatan mencarinya.
Aku pun memainkan anak BP yang selama ini tersimpan. Aku begitu bahagia sekali karena aku kembali bisa memainkan anak BP yang selama ini terlupakan olehku.
Wajahku yang tadi panik dan ketat kini telah ceria hadir memenuhi ruangan kamar kami yang sederhana.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...