Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kedekatanku dengan Ibu sambungku


__ADS_3

"Liyan akan berusaha untuk sembuh," kataku dengan wajah menguatkan keyakinan.


"Ibu berharap, apa yang ada di dalam impianmu akan segera terkabul." Berjalan dengan sibuk.


"Impian?!" Aku bergumam pelan. "Impian apa, Bu?" tanyaku ingin tahu, apa yang sebenarnya di inginkan olehnya.


"Keinginanmu untuk sembuh." Menatapku dengan penuh harap.


Aku pun menarik bibir pucatku tersenyum. Mendengar yang di sampaikan oleh ibu sambungku yang menjadi penyemangat bagiku agar aku semakin kuat untuk sembuh.


"Liyan, kalau kau sembuh. Ibu rasa kau pasti bahagia?!" ujar ibu sambungku.


"Itu sudah pasti Bu! Liyan tidak akan pernah libur sekolah lagi," sambungku berharap penuh, kalau itu akan terkabul segera.


"Iya! Kau akan masuk sekolah seperti dulu setiap hari dan tidak akan ketinggalan pelajaran lagi," ujar ibu sambungku mengingat masaku yang dulu yang tidak pernah libur.


"Liyan, jadi ingat disaat hujan deras." Tersenyum menatap nanar. "Liyan selalu bertengkar dengan Ayah."


"Bertengkar kenapa? Apa Ayahmu tidak mengizinkanmu untuk sekolah?" tanya ibu sambungku menatap dengan penasaran.


"Iya, Bu. Ayah tidak mau, kalau Liyan sekolah di saat hujan, katanya nanti Liyan sakit, haha!" Tertawa kecil menatap nanar. "Padahal, kalau hujan pergi sekolah itu asyik." Melengkungkan kedua bibir pucatku dengan manis mengingat hujan deras yang mengguyur.


"Kamu suka hujan-hujanan?" tanya ibu sambungku.


"Iya Ibu. Aku suka bermain hujan, rasanya seru, apalagi ramai -ramai dengan teman-teman," ujarku. Kebahagiaan masa lalu masih menyelimutiku dengan ramah.


"Kalau boleh Ibu tahu! Sejak kapan kau tidak bermain hujan lagi?" tanya ibu sambungku. Berjalan menatapku sekilas dan duduk di kursi yang sering di duduki oleh ayahku.


"Sejak Ayah memarahiku, ketika aku pulang sekolah di saat hujan." Berjalan mengayunkan kedua kakiku yang lemah menghampiri ibu sambungku yang telah duduk. "Dari situ Liyan tidak pernah bermain hujan lagi."


"Apa Adikmu tidak mencoba untuk membantumu untuk bermain hujan?" tanya ibu sambungku ingin tahu.


Ha! Sontak aku sedikit terkejut tidak percaya dengan apa yang aku dengar.


"Tidak! Ana tidak pernah di kasih kesempatan oleh Ayah untuk mengajakku. Ana yang terlihat cerewet dan sedikit galak begitu takut dengan Ayah." Aku mengatakan dengan benar .


Ibu sambungku kemudian memutar kepala keluar, di mana adikku masih terlihat berdiri seorang diri. Aku pun mengikutinya dan memutar kepala melihat adikku.


"Adikmu begitu betah berdiri. Apa dia tidak ingin masuk?" Menatap ke atas langit. "Matahari sudah menghilang dan angin semakin dingin berhembus." Merasa khawatir.


Perhatian yang tidak biasanya kini dia berikan yang membuat aku dan adikku begitu heran. Hari ini tidak seperti biasa, ruangan yang selalu di penuhi nyanyian dari suara pekikan dan dentuman yang menghancurkan bagi yang tidak kuat mendengarnya.


Rasanya aku bagikan berjalan di dalam mimpi. Sesekali aku mencoba mengerjapkan kedua mataku yang redup untuk bangun.


Bahagia sudah pasti. Sedih apa lagi karena keduanya telah menghampiriku dengan cara berganti.


Mataku yang redup masih saja melihat adikku yang begitu sulit untuk di lunakan. "Aku akan memanggilnya masuk Bu." Aku langsung berjalan.


"Tidak usah. Nanti dia pasti akan masuk. Biarkan saja dia di luar dulu. Siapa tahu dia bisa sedikit membaik?!" kata ibu sambungku seakan dia telah mengetahui tentang adikku.

__ADS_1


Tungkai kakiku yang lemah terhenti seketika. Aku kemudian memutar badanku menolah ke arahnya. "Tapi, Bu...". Merasa bimbang dan ragu.


"Tapi apa? Kau takut akan di marahi oleh adikmu karena kau tidak memanggilnya." Menatapku dengan gurat wajah datar. "Kau jangan pernah takut dengan adikmu! Adikmu, rasa Ibu tidak akan memarahimu hanya gara-gara kau tidak memanggilnya."


Aku semakin yakin kalau dia mengetahui percakapan kami tadi diluar. Rasa khawatir dan panik pun semakin menghantuiku sehingga membuatku gelisah.


"Tidak, Bu." Aku sedikit merasa takut akan Ayahku, kalau adikku belum masuk juga di saat ayahku pulang aku bisa gawat.


"Sebentar lagi adikmu itu pasti akan masuk." Ibu sambungku masih terus melihatnya.


Spontan aku yang merasa gelisah memutar badan melihat kegiatan adikku di luar. Adikku begitu senang. Dia menggeser posisi dari tempat dia berdiri ke tempat lain tepat di bawah pohon jambu yang banyak daun berserakan karena tiupan angin senja yang dingin.


Adikku terlihat sibuk bermain dengan daun kering yang terletak di atas tanah. "Dek, kenapa kau tidak masuk?" tanyaku dengan heran sedikit berteriak.


"Sebentar lagi, Kak!" teriaknya sambil memutar kepala menjatuhkan tubuhnya berjongkok di atas tanah.


"Nanti Ayah marah, kalau kau tidak masuk." Berjalan kembali keluar meninggalkan ibu sambungku dan mendekati adikku yang sibuk sendiri.


"Ayah tidak akan marah, Kak." Mengangkat sedikit kepala melihatku.


"Jangan terlalu yakin dengan pendapatmu sendiri," cetusku.


"Aku tidak yakin dengan pasti, sih Kak." Adikku terus menyusun daun kering hingga berbentuk.


"Lagi buat apa?" tanyaku yang melihatnya begitu heran. Berdiri tegak di dekatnya.


"Buat rumah -ruamhan sama boneka kecil," jawabnya dengan tersenyum bahagia.


"Kenapa Kakak keluar?" tanya adikku yang menguasai bawah pohon sedari tadi.


"Kakak ingin mengajakmu masuk," jawabku.


"Kakak takut, kalau Ayah marah melihatku di sini." Adikku terus menyusun daun sesuai kehendaknya.


"Iya," jawabku spontan.


"Kakak engga perlu takut. Sudah, Kakak masuk saja kembali, sana!" desak adikku mengayunkan tangannya ke udara memberi isyarat mengusirku.


"Kita barengan saja masuknya," ajakku berusaha menghentikan adikku.


"Engga! Aku engga mau! Aku masih mau bermain," balasnya yang masih berkutat dengan keras kepalanya.


Kedua mataku yang redup masih melihat adikku dengan lekat. Dia begitu nyaman seakan dia berada di bawah naungan penyelamat.


"Sejak kapan dirimu tahu tentang mainan ini?" tanyaku dengan sorot mata mengagumi adikku.


"Barusan," jawabnya langsung mengagetkanku.


"Barusan!" Mengikuti adikku dengan tanganku yang lemah. "Kakak juga bisa." Melupakan sejenak penyakitku.

__ADS_1


"Liyan! Apa kalian berdua mau berlama-lama di luar?"teriak ibu sambung kami.


"Tidak Bu," jawabku.


Aku langsung melepaskan daun kering yang kupegang, mengibaskan kedua telapak tangan sambil berdiri.


"Dek, ayo kita masuk." Menarik lengan adikku dengan pelan.


"Iya, Kak tunggu sebentar!" Membuang daun yang dia pegang lalu bangun dan berdiri tegak dengan sebelah tangannya.


"Bersihkan pakaianmu! Nanti Ayah marah kalau kau terlihat kotor." Aku berputar membersihkan pakaian adikku.


"Pakaianku tidak terlalu kotor, Kak," bisiknya. "Aku 'kan cuman bermain daun."


"Iya, Kakak tahu, tapi tadi ada tanganmu yang kotor, kau ilapkan ke pakaianmu," kataku.


Adikku diam, kemudian mengingat. "Oh, iya Kak! Aku lupa kalau tadi ada daun yang basah karena tertimbun."


"Kakak melihatnya dari dalam rumah," kataku.


Tangan adikku pun langsung membantuku membersihkan pakaiannya.


"Oh, iya Kak. Ngapain Kakak tadi di dalam bersama Ibu Kakak." Menaikan kepala melihatku.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung...



Bagaimana jadinya, Jika sebuah dendam membawamu terjebak dalam sebuah pernikahan tanpa Cinta?


"Menikahlah denganku," Exel.


"Bagaimana kalau aku menolak?" Dara.


Mampukah Dara mempertahankan Rumah tangganya, dengan orang yang menikahinya hanya karena Dendam? Sedangkan dia sendiri tidak tahu apa penyebabnya,


Dan mampukah seorang Jelita yang notabenenya tomboy, membuat suaminya yang super dingin dan datar jatuh Cinta padanya?


"Kau harus menerima balasan atas Apa yang kau lakukan pada Amara."

__ADS_1


"Lakukan Apa yang ingin kau, lakukan Aku tidak peduli," Jelita.


__ADS_2