Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Aku terkejut


__ADS_3

Brak!


Tiba-tiba aku tersentak dan bangun dengan gelagapan.


"Ha!" Aku terkejut melihat tangan yang terlempar kuat menyentuh dinding kamar. Aku langsung membuka kedua mata dengan lebar melihat sekeliling kamar seperti orang asing.


Sontak aku yang tadi ingin menguap kini jadi terhenti seketika. Aku masih saja melongo bercampur kebingungan melihat tempat tidur yang berserakan. Aku perlahan menatapnya sambil duduk mengatur kesadaran yang belum sempurna.


Kha ! Kha! Kha!


Suara dengkuran terdengar dengan jelas di telingaku. Adikku masih saja terlelap. Aku langsung mengambil mainanku dan menyusunnya ke dekatku. Aku tidak sadar ternyata semalam aku tertidur. Aku terus mencari mainan yang masih belum ketemu.


Huhuhu !


Sontak aku menangis pelan karena melihat kepala anak Bpku putus.


"Kak, kakak kenapa ?" tanya adikku setengah sadar. Mengucek kedua matanya.


Aku yang duduk membelakanginya memutar duduk melihat adikku yang sudah duduk di belakangku.


"Huhuhu! Jeritku menangis. Ini, kepalanya putus," rintihku. Menunjukkannya pada adikku.


"Hahaha !" Adikku langsung tertawa bercampur dengan setengah kesadaran. "Kak, aku takut ia nanti jadi hantu, gentayangan," katanya dengan tawa geli . Menutup setengah wajahnya dengan selimut.


plak!


Aku langsung melemparkan bantal tepat ke arah adikku.


"Aaagh, sakit Kak," teriak adikku. Menepis bantal dan mengelus bahunya yang terkena lemparan bantal.


"Ana, kau gak kasihan melihatnya," kataku dengan nada suara bercampur tangis. Menunjukkannya pada adikku.


"Kenapa Kakak menangis? Itu 'kan cuma Anak Bp," tuturnya. Merapikan bantal sambil memeluk bonekanya.


"Kakak tau ini cuma Anak Bp. Tapi ini sangat cantiiiik," kataku dengan nada suara parau yang bercampur tangis dengan tungkai kaki yang terluka.


"Halah Kak. Nanti kalau kita sekolah. Kakak beli lagi," kata adikku. Menyeret tubuhnya membenahi bekas tempat tidurannya yang berantakan.


Aku langsung melihat mainanku dengan sedih dan kedua bola mata berkaca-kaca. Anak Bp yang mengayun di udara dalam genggamanku terus menerus aku tatap dengan lirih. Aku tidak menyangka kalau tadi malam adalah malam terakhirnya bermain dengan ku.


Tangisanku pun berangsur-angsur mereda. Namun, hatiku yang kecewa masih belum bisa hilang karena kecerobohan yang mengakibatkan kepala anak Bpku putus.


"Kak, jangan di tangisi. Nanti ia sedih," lanjut adikku berkata dari belakang.


"Jadi?" tanyaku dengan nada suara lirih.

__ADS_1


"Tapi di do'akan Kak. Biar arwahnya tenang di sana, hahaha !" ledek adikku kembali dengan puas tertawa.


Aku langsung geram mendengar ocehan adikku yang sengaja meledek. Dia semakin lama semakin puas meledek seakan dia mendapat sarapan pagi yang lebih enak dari nasi goreng dan telur dadar.


"Kak, kalau di sambung mana bisa. Mana ada kepala putus bisa disambung, ptfff," katanya menahan tawa. Melipat selimutnya yang selebar sprei.


Aku semakin pias bercampur gregetan melihat wajahnya yang senang menertawai.


"Ana, ini adalah orang -orangannya yang paling Kakak sukai," ucapku dengan wajah yang sembab. Huhuhu!


"Iiihh, Kakak. Sampai kayak gitu nangisnya," ejek adikku. Menyeringai. "Kaki Kakak sakit. Kakak gak nangisnya. Kenapa mesti ini yang putus kepalanya Kakak nangis? 'Kan cuma kertas," ungkap adikku. Menatap dengan sebelah mata. Merapikan bonekanya.


"Kalau Kakak menangisi lutut Kakak yang sakit . Kakak takut di marahi," jawabku. Mengurangi suara tangis semakin mengecil.


Adikku seketika diam dan melanjutkan beberes tempat tidurnya. "Kak, aku gak mendengar suara Ayah," kata adikku terheran. Mengalihkan topik pembicaraan.


Aku sontak menutup mulut dan menajamkan pendengaran untuk mendengarnya, entah mana tahu ada suara-suara kecil yang terdengar.


"Mungkin Ayah sudah pergi," kataku. Langsung melompat dari tempat tidur. " 'Kan benar, Dik. Ayah dan Ibu udah pergi," kataku dengan nada suara lesu. "Aagh!" erangku menahan lututku yang sakit. Membungkukkan setengah badan meraba lututku yang nyeri.


"Jadi, kita di kunci Kak," sambung adikku langsung berteriak melompat dari tempat tidur juga.


Aku dan adikku pun seketika menjatuhkan tubuh ini dengan lemas ke bawah. "Kak, aku gak mau di kurung di rumah," rengek adikku. Memegang bonekanya.


"Kenapa aku yang salah? Kakak juga, kenapa lama bangun?" balas adikku dengan kesal. Bertanya kepada ku.


"Ya jelas Kakak lama bangun," jawabku dengan seenaknya.


"Kenapa kayak gitu?" tanya adikku bercampur sebal.


"Ya karena Kakak semalam tidurnya lama," jawabku langsung menurunkan nada suaraku menjadi pelan. Memutar badan ke samping kiri dan melayangkan pandangan melihat ke arah yang lain.


"Naaah, itu 'kan. Kakak ternyata semalam lama tidur. Hmmm!"kata adikku mengeram sambil mengangguk. Melayangkan telunjuknya tepat ke arah mukaku.


"Habis, semalam Kakak mainnya lagi asyik," balasku dengan nada suara pelan yang bercampur sedikit merasa bersalah. Di ikuti oleh kedua tanganku memegang badan anak Bp di sebelah kanan dan kepalanya di tangan sebelah kiri.


Jeglek! Daun jendela pun terhempas dengan keras.


"Kak, Kakak ngapain buka jendela?" tanya adikku."Mau kabur, ya!" tuduhnya.


"Gak," jawabku singkat. Melompat dari atas meja.


"Aku pikir mau kabur. Kak! Kakak jangan coba-coba kabur, ya! Nanti aku yang di marahi Ayah karena gak bisa jaga Kakak," cetus adikku. Memeluk bonekanya dengan erat.


Aku pun duduk melamun di atas lantai. Memandangi anak Bpku yang terputus kepalanya. "Kenapa kau bisa putus?" tanyaku bergumam sedih. Melihat kepala dan badan yang terpisah dalam genggamanku.

__ADS_1


Hahaha ! Adikku terus tertawa mendengar gumamanku yang lucu.


Oee! Oee! Oee!


Aku sontak terkejut memutar kepala melihat ke arah adikku dengan menahan sedih dan tertawa lebar.


Hahaha ! Aku tertawa terpingkal-pingkal melihat adikku yang memberi botol dod pada bonekanya yang jelek itu.


"Kau dapat susu dari mana? Hahaha !" tanyaku tertawa.


Adikku langsung melayangkan sorot mata kesal. "Jangan mengejek ya Kak," ucapnya. Memasukkan botol dod kedalam mulut bonekanya. "Ini aku dapat dari lemari makan," sambung adikku.


Refleks aku langsung memutar kepala melihat lemari makan yang kecil yang berdekatan dengan rak piring.


Aku terus menatap adikku yang konyol. "Boneka itu 'kan gak bisa membuka mulutnya," kataku. Menggeser tubuh duduk tepat di dekat adikku. Melihat dia dengan terharu yang begitu sabar memberikan susu ke dalam mulut bonekanya.


Hahaha ! Aku kembali tertawa. "Ana, dia kayak mana bisa minum. Kompengnya 'kan masih ada di mulutnya," ungkapku. Menatap adikku dengan tajam bercampur lucu.


"Kalau kompengnya di cabut. Nanti ia nangis Kak," sahutnya dengan nada suara mengiba. "Dan dia pasti gak mau diam," ungkapnya.


Aku lalu memutar badan merasa jengah melihat adikku yang membuat kepalaku pusing. Di ikuti oleh kedua tanganku yang masih memegang anak Bp yang sudah terputus.


Aku sangat gelisah melihat rumah yang gelap akibat pintu tertutup rapat. Kejahilan adikku masih saja terjadi dengan suara tangisan bonekanya.


"Kenapa kau cabut pasang kompengnya Ana?" tanyaku melihat adikku yang kurang kerjaan.


"Masa dia diam aja. gak nangis-nangis Kak," jawab adikku dengan konyol.


Huh!


Aku langsung menarik napas tidak habis pikir mendengar jawaban adikku sambil menempelkan telapak tangan di kening. Melihat adikku yang tingkahnya begitu konyol.


"Ana, sekonyol-konyolnya kau. Tidak mesti seperti itu," paparku. Membuang muka dari hadapan adikku dengan lekas.


.


.


.


Bersambung...


Teman-teman mampir ke novel teman aku ya ! 🙏🥰


__ADS_1


__ADS_2