Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Hatiku yang sakit


__ADS_3

"Ayo kita masuk!" Ibu sambungku berjalan masuk.


Aku pun segera beranjak dari dudukku yang membawa angan ku melayang -layang.


" Kamu tidak mandi?" Dengan memegang handuk menuju tempat mandian sederhana kami. " Kalau mau ikut, ayo! Biar sekalian kita mandi. Awas lo nanti Ayahmu pulang!" Memberi peringatan agar aku berhati-hati tentang Ayahku.


" Engga, Bu harinya dingin." Berjalan menuju kamarku.


" Ya, sudahlah!"


Langkah kakinya pun terdengar pelan menuju kamar mandi kami yang sederhana. Handuk yang di kalung kan nya dilehernya terlihat mengintip sedikit dari pintu.


Kepalaku yang aku putar, melihat dia meninggalkan pintu dapur. Seketika, aku putar kembali kedepan sambil berjalan menuju pintu kamar.


Aku berdiri didepan pintu kamar menatap lirih kamar yang menjadi teman hari-hari ku yang sakit. Serasa kamar ini hening sambil aku berjalan menatap lekat. Bagaikan orang tidak punya tanda - tanda akan kehidupan. Pahit getir sakit yang aku alami membuatku menjadi terbiasa akan itu. Keinginan yang ada didalam diriku hanya separuh jiwa.


Aku mengayunkan kedua kakiku dengan perlahan sambil melihat tas sekolahku yang tergantung. Pikiranku pun mulai tak terasa memecah konsentrasi yang penuh pengharapan. Menjalani serangkai ingatan akan bangku sekolahku yang telah lama aku tinggalkan.


Jum'at yang paling sering aku senangi bersama dengan semua anak-anak. Apalagi mengingat jam pulangnya, jauh lebih cepat dari biasa. Membuat aku merindukannya.


Aku yang telah berada di dalam kamar untuk mengganti pakaian ku tadi yang telah bau akibat keringat yang mengucur dari tubuh mungilku tadi. Kini aku menggantinya dengan pakaian yang baru aku ambil dari dalam lemari yang masih segar dan harum.


"Liyan, kau dimana?" Teriakan ibu sambungku terdengar dari balik dinding kamarku begitu panik. Langkah kakinya pun terdengar melangkah begitu cepat dengan hentakan yang kuat seperti orang yang mau berlari.


" Disini,Bu!" Sahutku dari dalam kamar sambil memakai pakaian.


" Dimana nya, kau?!" Dengan suara datar dia menghampiri kamarku sambil menyibak tirai kamarku dengan perlahan. Wajah setengah senjanya kini hadir dihadapan ku dengan wajahnya yang hangat. Kepanikan nya kini mulai berangsur hilang begitu dia melihat ku.


" Ngapain kau disini?!" Katanya ingin tahu berdiri dihadapan aku. Dia begitu lekat memperhatikan aku mulai dari kepala sampai kaki sampai berulang kali.

__ADS_1


Aku yang bingung tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi membuat ku seperti orang bodoh. Diam melongo tanpa pengetahuan.


Mataku yang menatapnya dengan tajam dan wajah yang penuh tanda tanya. Menatapnya tanpa berkedip dengan pakaian yang masih diam didalam genggaman ku. Seketika terhenti ingin kupakai.


"Liyan, kau ganti baju!" Ibu sambungku menatapku dengan tatapan penuh keheranan.


Aku hanya diam. Namun, pikiran ku terus berputar. " Ia,Bu." Jawabku dengan tandas.


" Kamu tidak mandi?!" Tanya nya kembali dengan mengerutkan keningnya.


" Aku kedinginan." Jawabku dengan pelan dan sedikit ketakutan.


" Kalau tidak bisa mandi air dingin, kan bisa pakai air hangat." Kata ibu sambungku yang tidak mau kalah dari ku walau hanya sekedar berdebat.


Aku pun diam seribu bahasa. Mataku menatap lurus kebawah sambil menundukkan kepalaku.


"Sebentar lagi Ayahmu pulang. Ini hari Jum'at." Menatapku dengan ketus tanpa memberi ku sedikit kelonggaran untuk bernapas.


Baju yang ku pegang masih terlihat menempel di tanganku. Sedikitpun ibu sambungku tidak memberi ruang untuk ku menjelaskan secara detail, kenapa aku tidak mandi?


Dia masih saja bersikukuh menyerang ku pakai kata-katanya. " Liyan, kalau Ayahmu sudah marah dia pasti akan terus ngedumel. Tahan berjam-jam. Telinga awak yang mendengar nya pun makin panas." Dengan suara yang penuh penekanan.


Aku hanya bisa diam berdiri seperti patung yang tidak berguna. Mendengarkan kata demi kata yang dia ucapkan kepada aku. Mulai dari nasihat, arahan, dan bahkan tak jarang juga omelan nya yang tiada henti menghardik ku.


Mulai dari mandi sampai sekolahku yang semakin hari semakin membuatku jengah. Tak jarang aku memasang wajah yang di tekuk.


" Kamu dengar kan, Liyan!" Kata ibu sambungku kembali mengingat kan aku.


" Ia, Bu aku dengar." Kataku dengan suara datar.

__ADS_1


"Kalau kau dengar! Seharusnya kau mandi dari tadi, ku suruh. Ini engga, kau diam aja, di suruh mandi, malas!" Katanya dengan amarah dan wajah pias.


Pagi menjelang siang ini. Dia begitu tersulut emosi yang menggebu. Wajah piasnya kini terlihat jelas menatapku dengan tatapannya yang tajam.


Nyali ku pun menciut seketika. Butiran kristal kini membendung bola mataku yang kecil. Aku yang sakit tak berdaya membuat ku begitu sedih. Tatapan ku kini terasa buram akibat air mata yang menganak di pelupuk mataku.


Tenggorokanku kini terasa sakit menahan tangis yang ingin pecah. Dadaku rasanya sesak jantungku pun rasanya berdetak tidak karuan. Suara lirihku rasanya ingin keluar berteriak.


" Liyan, kau itu sekarang sakit atau tidak?! Aku jadi bingung melihatmu. Terkadang kau sakit tidur dikamar. Terkadang kau pergi keluyuran. Ntah kemana? Aku pun tidak tahu. Kalau ditanya kau bilang lah mencari adikmu. Ngapain pula kau cari adikmu. Dia kan sudah besar. Sudah tahu pulang sendiri. Engga mesti lah dia kau cari-cari." Kata-katanya terus menghardik ku dengan mengintimidasi ku sampai aku tidak bisa bersuara.


Melihat aku yang terpojok. Aku pun semakin lemah. Baju yang aku genggam tadi, kini aku lepas dengan tidak sadar.


" Kau kenapa? Menangis!" Tanya ibu sambungku dengan merasa khawatir dan bersalah. " Tapi aku heran melihat mu, dikit-dikit kau menangis. Murah kali kau, ku lihat menangis. Cengeng kali kau! Engga di apa-apain langsung menangis. Memang betul kata Ayahmu itu, kau anaknya payah, tukang menangis kau. Heh!" Mendengus kesal.


Tangis ku pun pecah seketika. Butiran kristal yang tadi masih bisa aku tahan kini melimpah seketika bagaikan air yang di curahkan ke bumi.


"Itu lah kau kan! Bukannya di apa-apain sudah menangis kau. Memang betul lah kau!" Dengan wajah kesalnya.


Saat ini ibu sambungku masih betah berdiri di kamarku. Dia tidak mau beranjak setelah membuat ku menangis.


" Itu, bentar lagi Ayahmu pulang. Ngaduh kau nanti!" Sambil menunjuk jam yang tergantung dengan mengintip dari balik tirai kamarku.


Aku yang segugukan hanya diam dengan napas yang terengah. Air mata masih terburai dengan bebas.


" Jangan lupa mengadu kau nanti! Sama seperti adikmu itu. Kau kan, kakaknya pasti samanya Kalian itu. Apa lah bedanya, kakak adik satu perut sama satu Ayah." Katanya dengan sinis menatapku.


Hatiku begitu sakit. Ingin rasanya aku berlari jauh. Menghilang dari hadapannya sebentar saja. Tubuhku pun kini bergetar akibat tangis ku yang begitu memecah kesunyian. Tiada lagi bagiku dirumah ini! Itulah yang tertuang di benakku saat ini.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2