
Santapan makan siang pun telah selesai dihidangkan oleh ayahku. Aku dan adikku yang manja kini ber- segera mengambil piring untuk makan. Kami pun duduk rapi dilantai dengan bersila beserta gelas kecil yang unik yang dibelikan ayahku untuk kami. Ayahku juga duduk menikmati hidangan seperti kami. Duduk di tempat seorang ayah semestinya duduk yaitu, di kursinya yang terletak di ruang tamu dengan menu makanan yang ia masak tadi dengan piring khusus yang sering di gunakan ayahku beserta cangkir yang sedikit lebih besar dari cangkir kami yang memakai tutup.
Sementara, ibu sambung kami terlihat seorang diri masih berdiri di dapur. Ntah, apa yang dia tunggu. Dia masih terus saja berdiri tegak dengan tak bersuara sepatah kata pun. Pandangannya yang menatap nanar dengan kosong kini membuat aku yang melihat semakin bertanya didalam hati.
Dia yang tadi pergi keluar atas keinginannya sendiri kini terlihat seakan menyalahkan sesuatu dengan raut wajahnya yang tidak senang.
Aku melihat ayahku yang tidak mau memperhatikan wanita itu. Sedangkan, adikku yang duduk disamping ku dengan begitu lahap dia menghabiskan makanannya sehingga membuat dia sendawa.
Aku yang mengalihkan pandanganku kembali melihat nasi yang masih terlihat banyak menggunung di hadapanku.
" Ayah, Ana sudah Selesai," membawa piringnya dan menyerahkannya kepada ayahku.
Melihat piring kosong adikku ntah, kenapa? ayahku diam. Wajahnya terlihat seperti orang yang melupakan sesuatu. " Ana, cepat sekali kamu selesai makan?" Tanya ayahku seakan tidak percaya.
" Ana tidak cepat Ayah," dengan pelan. Tapi, hari ini, lebih cepat Ayah karena Ana kelaparan," dengan menunduk.
" Apa kamu baca doa tadi?" Tanya ayahku ingin tahu.
Spontan mata adikku mendelik dengan mengembangkan wajah polosnya. "Ayah," dengan wajah sedikit merasa bersalah. " Ana lupa!" Nada suara pelan dan sedikit ditahan sambil menyeringai.
" Nak, kalau sebelum makan baik itu makan nasi atau makan apapun jangan lupa baca doa, nak," dengan nada suara yang lembut. " Liyan, kamu juga, sudah baca doa?" Tanya ayahku kembali ingin tahu.
Spontan aku terperanjat dan gelagapan. Sejenak aku diam menatap nanar ayahku dengan sedikit gugup. " Ayah, sama," menyengir .
Seketika ayahku diam dan menyelesaikan makanya.
Adikku yang beranjak. " Ana, kamu jangan pergi dulu," pinta ayahku dengan memohon.
"Ia Ayah!" Kata adikku yang hari ini baik budi. Ia begitu menuruti permintaan ayahku untuk tidak pergi keluar dulu.
" Liyan, kamu sudah selesai?" Tanya ayahku yang tiba-tiba pandangannya melihat ku.
" Ia Ayah!" Melihat ayahku.
__ADS_1
Dengan terperanjat aku dan adikku mendengar ibu sambung kami menyahut dari dapur. " Anakmu itu mana pernah ingat membaca doa sebelum makan." Katanya dengan ketus sambil meneguk air minum.
Ayahku mendengarnya begitu kesal namun, ia mencoba menahan amarahnya dengan menutup rapat bibirnya.
Aku spontan melemparkan pandangan ku juga terhadap adikku. Adikku yang tadi terlihat gembira kini terlihat kesal sejak ibu sambung kami mengatakan itu.
Ayahku yang terlihat sudah bisa mencairkan suasana didalam hatinya. " Nak, lain kali setiap mau makan baca doa,ya!" Pinta ayahku kembali dengan gurat wajah yang penuh dengan permohonan.
" Ia, Ayah!" Jawab kami serentak dengan wajah yang di tekuk.
" Ayah tidak suka kalau kedua anak Ayah, tidak membaca doa ketika mau makan." Sorot mata ayahku begitu tajam menatap kami. " Nak, membaca doa sebelum makan itu adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah yang telah memberikan kita nikmat, Allah sudah mengasih kita rejeki berupa nasi, lauk seperti yang kita makan ini, nak. Doa sebelum makan juga dapat mencegah setan untuk bergabung makan bersama kita."
" Liyan, Ana!" Teriak ayahku dengan kecil.
Sontak aku dan adikku yang lagi asyik tertawa dengan membahas mainan lucu. Seketika kami pun berhenti diam melihat ayahku dengan begitu takut.
" Liyan, Ana! Jadi, kalian tidak mendengarkan yang barusan Ayah sampaikan." Ayahku mendelik.
Aku dan adikku saling melihat satu sama lain. Aku melihat adikku merasa gemetar Sama seperti yang aku rasakan terlihat seperti itu dari gurat wajahnya.
" Itulah anakmu di kasih tau tak mendengar." Pekik ibu sambung kami dari belakang dengan menarik sedikit bibirnya sinis.
Tubuhku yang masih bersemayam demam yang tinggi dan kedinginan yang masih membuatku menggigil yang berusaha aku tahan dan aku tutupi dari ayahku. Seketika, diam membeku seperti es.
Ayahku duduk di kursi tepat didepan ku memasang wajah memerah tersulut amarah yang ingin dia luapkan kepada ibu sambung kami atas ucapannya yang membuat ayahku tidak senang.
" Kak, Ayah bakalan marah, coba lihat wajahnya!" Adikku berbisik ditelingaku.
Aku seketika menjentik jemari adikku menyuruh dia diam. " Ia, kak," sambil menyentuh hidungnya.
Sebenarnya apa yang dibilang adikku tentang ayahku itu benar adanya. Apa yang dia baca dari raut wajah ayahku aku pun demikian juga.
" Dek, kau diam jangan ribut! Sst !" Memajukan sedikit bibirku dengan mendesis.
__ADS_1
Ayahku seketika melihat ke arah dapur dengan wajah yang tidak senang, aku melihatnya dari ekor mataku sambil menunduk.
" Kau itu jangan ikut campur!" Ayahku dengan kesal dan wajah yang memerah mengeluarkan api. " Ini, anakku!" Kembali menegaskan dengan protes yang keras.
" Huh! Mendengus kesal. " Setiap hari, hanya anakmu ajalah yang kau bangga -banggakan." Beranjak dari duduknya.
" Itu bukan urusanmu!" Ayahku menyusun piring makannya.
Ayahku pun beranjak pergi keluar. Aku dan adikku masih saling melihat satu sama lain dan saling menuduh.
" Kau, pulak dek, ntah apa ketawa-ketawa," dengan wajah kesal yang begitu ketat.
" Kakak juga tertawa, kan?" Kembali adikku melemparkan pertanyaan.
" Kau, kan yang ngajak untuk mendengarkan ceritamu," dengan protes.
" Ia, memang kenapa kakak mau," adikku kembali protes.
" Kau." Memukul tangan adikku pelan. " Kakak." Membalas pukulan yang sama dengan pelan juga. Kau, kakak, kau, kakak, sambil pukul memukul dengan pelan di iringi tawa yang begitu terlihat senang.
" Ha! Apalagi kalian disitu." Teguran ibu sambung kami dengan suara yang memekik telinga. " Nanti ada yang menangis." Katanya dengan tegas.
Kami pun diam menciut beradu pandang dengan wajah sedikit sedih.
" Kakak!" Suara manjanya memelukku seketika. " Dia memarahi kita." Adikku seakan tidak terima. ".Kak, kakak mau kemana?" Tanya adikku yang melihat aku beranjak.
" Kakak mau keluar melihat jambu." Menepis tangan adikku.
" Apa!" Adikku berdiri. " Dimana kak ada jambu?!" Tanya adikku ingin tahu.
" Itu!" Menunjuk pohon jambu yang berdiri tegak di halaman rumah kami.
"Mana kak?!" Berjalan mengikuti aku keluar.
__ADS_1
Wajah yang tidak penuh keyakinan adikku melihat jambu yang tergantung diatas pohon. Ia menatap jambu dengan melihat seperti menghitung dari bawah ke atas dan dari atas kebawah seperti itulah yang ia lakukan dengan serius.
Bersambung.....