
Seketika aku begitu dilema dengan pertanyaan yang di ajukan Ecy dan Tania. Wajah yang sedikit tajam menatap mereka kini menjadi bingung.
"Liyan, bagaimana? apa kau tidak mau berteman dengan kami?" Tanya Ecy ingin tahu.
Ecy begitu berupaya agar aku menerima pertemanan darinya.
Semantara yang lain begitu tersentak mendengar apa yang di katakan oleh Ecy.
"Kau mau berteman dengan kami? Bagaimana mungkin?" Tanya Septiani. Menyimpan keraguan yang mendalam. "Apa kalian percaya dengan mereka? Aku takut kalau mereka cuman berbohong!" Lanjutnya. Memutar pandangan menatap kami dengan wajah penuh dengan tanda tanya.
"Septiani, kau jangan takut! Kalau kau tidak mau berteman dengan kami tidak apa-apa! Kami kan hanya ingin berteman dengan Liyan." Ucap Ecy dengan nada suara lembut. Berdiri menatapku.
Wajah Ecy terlihat seperti serius ingin melakukan itu dan bersungguh-sungguh untuk berteman, seakan dari wajahnya terlihat sedikit penyesalan atas sikap yang telah keterlaluan terhadapku.
"Liyan tidak akan berteman dengan mu!" Ucap Widia dengan ketus. "Karena aku yakin! Kau itu berbohong ingin berteman dengan kami." Lanjut Widia dengan ketus.
"Widia, kau yakin kalau mereka berbohong?" Tanyaku dengan menyelidik. Menatap Widia dengan khawatir.
Sebenarnya aku ingin sekali menerima pertemanan dari mereka. Akan tetapi, ketika aku mendengar apa yang di ucapakan oleh Widia, seketika aku merasa keraguan atas mereka begitu besar terlihat dari dalam diriku. Sehingga keraguan yang tercipta untuk mereka memaksa aku untuk berpikir.
Hatiku kini menjadi berat untuk menjawab mereka. Perasaanku hanya di penuhi tanda tanya untuk mereka.
"Rasyd! Kalau mereka ingin berteman dengan ku, tidak apa-apa?!" Ucapku. Menatap Rasyd dengan wajah menunggu jawaban dari Rasyd.
"Tapi Liyan! Nanti mereka mengejekmu lagi." Potong Widia. Menatap Ecy dan Tania.
"Ia! Aku tahu kalau mereka memang suka mengejekku. Tapi kan, mereka sudah minta maaf katanya!" Sahutku dengan tandas.
"Ya sudah Ecy! Kalau kalian ingin berteman dengan kami, tidak apa-apa! Tapi jangan ejek Liyan lagi, ya!" Pinta Rasyd. Memohon.
Seketika wajahku begitu gemilang melihat Ecy dan Tania ingin berteman dengan ku dan pasti mereka tidak akan mengejek diriku lagi. Itulah yang kini terbersit di benakku. Ejekan yang menjadi duri tajam yang menusuk hati selama ini akan segera berakhir, meskipun aku yakin itu pasti akan menancap diriku kembali yang kapan saja bisa menyerang dengan sesukanya. Ini tidak akan ada lagi aku dengar mulai hari ini dan seterusnya. Itulah yang kuharapkan!
Pertemuan kami pun begitu sempurna terlihat. Temanku yang tadi begitu membenci Ecy dan Tania, terkhusus Septiani kini sudah menghilangkan semuanya dengan seketika.
"Kalau begitu mulai hari ini kita jadi, berteman." Ucapku dengan wajah gemilang. Menatap Ecy dan yang lain.
"Ia! Liyan tapi aku masih tidak begitu suka dengan mereka." Bisik Widia di telingaku pelan. "Mereka sudah terlalu jahat dengan mu." Lanjutnya dengan wajah pilu.
"Widia! Nanti kalau aku tidak menerima pertemanan mereka, aku takut kalau mereka akan mengejekku lagi." Ucapku dengan suara sedikit berat dan masih tersimpan ke khawatiran yang begitu dalam.
"Ecy, Tania kalian benarkan ingin berteman dengan ku?" Tanyaku kembali. Menatap mereka dengan harapan kalau mereka memang begitu bersungguh-sungguh untuk berteman. Menatap dengan penuh kepastian.
Tatapanku begitu dalam menatap mereka. Seakan aku masih menyimpan keraguan yang besar. Ecy terlihat begitu senang, sementara Tania terlihat gembira juga mengikuti reaksi yang di berikan Ecy atas penerimaan dariku.
"Baiklah! Kalau kalian benar ingin berteman, mulai hari ini kita akan jadi teman baik." Ucap Solihin.
"Liyan! Aku janji aku tidak akan mengejekmu lagi." Ungkap Ecy dengan gurat wajah yang menunjukan penyesalan. "Sebenarnya aku takut kalau Ibuku tahu...!" Seketika Ecy diam. "....aku mengejekmu. Aku takut di marahi Ibuku di rumah." Lanjutnya. Menatap dengan nanar dan menunduk sambil melihat jemari tangan yang ia mainkan perlahan. Seakan Ecy bersedih dengan tindakannya selama ini.
"Ecy! Ibumu tidak akan memarahimu karena aku tidak akan memberi tahu kepada Ibumu." Jawabku dengan datar.
"Yang benar Liyan!" Sambut Ecy dengan tersenyum. Ecy begitu menunjukan wajah gemilang sambil memberikan reaksi atas kebahagiaannya kini. Menghampiri dan menempelkan kedua lengannya di pundaknya. Berjalan menyelip dari bangku yang kami dempetkan yang telah di tarik oleh Widia sedikit keluar.
Senyum tulus pun begitu terlihat menyeruak dari wajah polosku yang pucat. Aku begitu ikut bahagia sama seperti apa yang di rasakan oleh Ecy.
"Oh, ia kalian sedang apa? Aku lupa ingin menanyakan ini dari tadi!" Tanya Ecy dengan penasaran. Menatap kami semua.
"Kami lagi mengerjakan puisi." Jawabku.
"Ia! Puisi kami sudah selesai." Sambung Widia.
"Kalau puisimu sudah selesai, belum?" Tanya Septiani. Memutar kepala menatap Ecy dan Tania.
"Kalau puisimu belum selesai! Cepat selesaikan!" Seru Solihin. Melihat buku sambil mengayunkan ke udara dengan senyum bahagia menunjukan kepada Rasyd. Seketika Rasyd pun tersenyum membalas senyum Solihin setelah melihat buku yang di perlihatkan Solihin kepadanya.
Di tengah perbincangan kami dengan Ecy. Rasyd terlihat diam memegang pensil dan menatap coretan dengan lekat. Ia terlihat begitu asyik dengan pensil yang sedang di jalankan olehnya di atas kertas.
"Rasyid, kau sedang apa?" Tanyaku.
Rasyd hanya diam dan terus asyik dengan coretannya.
"Apa kau masih menulis puisi?" Tanyaku kembali ingin tahu.
__ADS_1
"Ia Liyan! Aku lagi menulis puisi dan gambar yang keren." Jawab Rasyd dengan tegas. Menatap buku. Tertawa. Dari wajahnya terlihat Rasyd berbohong . Aku sudah bisa menebaknya dari tawanya.
"Mengapa Fikri belum kembali juga, ya?" Tanya Septiani. Menatap pintu kelas yang terbuka lebar.
"Kenapa kau menanya Fikri?" Jawabku dengan melemparkan kembali pertanyaan kepada Septiani. Menatap Septiani dan memutarkan kembali kepala melihat buku tulis.
"Septiani engga usah tanya Fikri! Yang ada nanti kalian bertengkar!" Ledek Solihin.
Seketika aku menggangkat kepala dengan sekumpulan puisi yang terkulum di dalam mulut. Kedua bola mata menatap mereka dengan wajah yang khawatir.
"Sudah! Kalian jangan bertengkar! Nanti Bu Dona mendengar!" Ucapku dengan pelan. "Kalau Bu Dona mendengar, aku takut nanti kita semua kena hukum." Menatap mereka kesal. "Sebaiknya, kita baca kembali puisi kita. Kalau nanti kita di suruh ke depan untuk membacanya, kita sudah hapal." Lanjutku menjelaskan.
"Ia sudah!" Jawab Widia dan Rasyd.
"Ia! Selagi kita masih istirahat yang begitu panjang, aneh!" Keluh Solihin.
"Solihin, kenapa kau mengeluh? Kau tidak suka, ya kalau kita istirahat lama?! Padahal aku suka kalau istirahatnya lama-lama." Balas Septiani.
"Apalagi kalau langsung pulang ya, kan?!" Potong seseorang yang tiba-tiba membuat kami menaikan kepala menatapnya.
Seketika kami terperanjat melihat Fikri telah berdiri di antara kami. Rasanya aku ingin tertawa begitu juga dengan yang lain. Mereka begitu terlihat menahan wajah yang begitu menggelikan menatap Fikri.
Wajah pucatku yang polos begitu berat ingin aku netralkan. Aku begitu resah karena menahan tawa yang menggelitik hati.
Fikri terlihat begitu letih, wajahnya kini terlihat seperti orang yang habis melakukan kerja berat dengan penuh paksaan yang mengerikan. Sampai-sampai dia tidak bisa bersuara dengan lantang, seperti di saat memimpin barisan upacara dan apel pagi.
"Fikri, kau terlihat lelah." Ledek Rasyd dengan sindiran yang sedikit menggelitik. Menatap Fikri yang berdiri.
"Rasyd, kau sungguh keterlaluan! Kau tidak lihat apa! Di sana aku begitu kewalahan." Keluh Fikri. Menatap Rasyd dengan kesal.
"Emang kau kenapa di sana? Kau kan di sana cuman mengangkat bangku, kan?" Tanya Rasyd dengan jenaka. Menaikkan alis.
"Mengangkat bangku apa? Hah!" Jawab Fikri dengan memberikan pertanyaan kembali kepada Rasyd, seakan ia menginginkan Rasyd untuk menebak apa yang telah terjadi. Kesal mendorong bangku Rasyd untuk duduk.
"Tapi, bukankah tadi kami melihatmu mengangakat bangku?!" Sambungku. Menatap Fikri yang masih berselimut kekesalan.
Fikri hanya diam dan tidak memberikan reaksi apapun. Dia hanya menatap nanar sambil meregangkan otot-ototnya. Wajahnya kini terlihat begitu lesu. Rasanya begitu bersalah kami menertawakannya.
"Tidak banyakan Fikri!" Timpal Solihin. Menatap Fikri dengan wajah sedikit bersalah.
"Tidak! Tapi Bu Dona menyuruhku mengangkat pot bunga." Ucapnya dengan lirih. Menatap Solihin.
Seketika Rasyd refleks menarik bibirnya ingin tertawa seperti baru mendapat sebuah berita yang lucu.
"Kenapa kau ingin tertawa, ha?" Cetus Fikri dengan sebuah pertanyaan monohok untuk Rasyd. Menatap dengan wajah kesal bersama kesedihan.
Rasyd hanya bergeming menatap Fikri dengan menahan bibirnya ingin tersenyum. Ia pun seketika memutar wajah melempar pandangan ke arah Ecy dan Tania.
Aku, Widia dan Septiani hanya mendengar apa yang di keluhkan oleh Fikri. Kami bertiga bertemu pandang dengan penuh tanda tanya.
"Fikri apa pot bunga pakai tanah?!" Tanya dengan berhati-hati. Menatap Fikri dengan sedikit takut. "Fikri, sebaiknya kau minum dulu!" Ucapku. Menatap Fikri. "Widia kamu kan punya minum, kan?" Tanyaku. Menatap Widia.
Fikri yang lelah begitu terlihat seperti orang yang sedang frustasi ia hanya diam mendengar apa yang aku bilang dan aku tanyakan. Ia begitu kusut seakan masalah besar baru menimpanya.
"Liyan! Puisi kalian sudah selesai?" Tanya Fikri ingin tahu kembali. Menatap kami dengan mengajukan pertanyaan yang lain. Mengalihkan topik pembicaraan.
"Ia Fikri! Puisi kami sudah selesai." Jawabku dengan tegas.
"Kau terlalu lama di luar!" Celetuk Rasyd dengan ketus.
"Rasyid! Engga ada yang lama, tahu! Aku tadi hampir saja mau kabur! Tapi..." Fikri terdiam seakan ia mengingat kejadian buruk yang menimpanya. "....ketahuan oleh Bu Dona." Menunduk dengan kecewa.
Hahahaha! Rasyd dan Solihin pun tertawa dengan menampakan gerahamnya.
Sontak Fikri begitu kesal mendengar tertawaan bahagia dari Rasyd dan Solihin. Wajah Fikri yang letih, menatap mereka dengan kekesalan. Rasyid dan Solihin terlihat seperti meledak yang berselimut dengan rasa bahagia.
"Fikri, baru pot bunga yang kamu angkat, sudah kalah!" Ledek Rasyd dengan tawa bahagia. Seakan ia meras tidak bersalah karena telah bisa melihat temannya terkena hukuman yang manis. "Fikri, itu belum seberat yang aku alami." Sambung Rasyd. "Kau ingat dulu, waktu aku di beri oleh Bu Dona hukuman, di saat aku terlambat masuk barisan apel pagi." Menatap Fikri dan meja. "Waktu itu aku di suruh membersihkan toilet sekolah ini! Coba kau bayangkan ada berapa toilet kita di sini!" Lanjutnya. "Kau masih mending mengangkat bangku dan pot bunga!"
Seketika Rasyd seperti tersayat sembilu yang tajam menusuk relung jiwa. Wajahnya begitu terlihat sedih seakan tidak ada harapan lagi untuk bahagia. Ia meratapi nasib yang telah menerima hukuman membersihkan toilet.
"Pasti begitu jorok!" Sambut Tania. Menyeringai.
__ADS_1
"Ia! Aku juga pernah melihat toilet yang jorok Tania." Sambung Ecy. "Begitu bauk,iiii!" Timpal Ecy dengan wajah jijik.
"Kenapa aku tidak tahu?" Sambungku dengan sebuah pertanyaan.
"Liyan, kau kemaren lagi sakit." Sambung Widia.
"Ya, sudah jangan sedih lagi! Sekarang kerjakan saja tugasmu Fikri." Seruku. Menatap
Fikri dengan sendu.
"Baiklah!" Fikri pun bergegas memutar badan sambil mengambil buku dari dalam tas.
Ia pun mengeluarkan pensil dan meletakan di atas meja beserta dengan buku. Ia terlihat begitu letih sampai napasnya begitu berat terasa.
Wajahnya yang polos kini terlihat di genangi oleh keringat yang membasahi kedua pipinya. Wajahnya begitu memerah karena menahan haus dan lelah.
"Selama ini! Aku belum pernah kerja keras seperti ini." Ucap Fikri. Seakan ia menyesali dirinya sendiri.
"Ia kan Rasyd!" Timpal Septiani dengan spontan. Menatap pensil barunya yang di ayunkan olehnya ke udara.
Seketika Fikri begitu sedikit memanas mendengar timpalan yang berupa sindiran secara tidak langsung dari Septiani.
Septiani yang menatap pensilnya dengan lekat. "Fikri aku tidak mengejekmu, ya! Kau jangan marah padaku." Ucap Septiani. Melirik Fikri dengan sedikit cemas.
"Fikri sudah! Jangan dengarkan Septiani! Kerjakan saja tugasmu!" Seruku melihat Fikri dan Septiani.
"Ia benar Fikri! Apa yang di bilang oleh Liyan." Sambung Septiani.
"Benar Fikri kerjakan saja tugasmu! Nanti kalau Bu Dona melihatmu. Tugasmu belum selesai, takutnya nanti Bu Dona menghukummu lagi." Ucap Rasyd.
"Rasyid benar Fikri! Apa kau mau di hukum oleh Bu Dona." Balas Solihin.
Kini Fikri pun memutar pandangan. Menunduk dan melihat buku yang ada di hadapannya.
"Liyan! Begitulah mereka kalau sudah bertemu pasti sering bertengkar, melelahkan." Ucap Solihin.
Melihat mereka yang bercanda dan bertengkar dengan perdebatan kecil dan bisa kembali mencair menjadi suasana baru membuat wajah polosku tertegun melihatnya.
Senyum di balik wajah pucat yang melemah kini terlihat gemilang. Sepertinya aku merasa bahagia melihat kami telah bersatu kembali. Di mana Ecy dan Tania telah mengulurkan tangan untuk bersahabat dengan kami. Meskipun kami belum mengetahui dengan pasti, apakah mereka benar-benar serius atau hanya sekedar bersandiwara? Aku masih belum bisa menebaknya.
Namun, mereka begitu terlihat merasa bersalah. Terutama wajah Ecy yang polos. Ia begitu merasa menyesal telah melakukan tindakan yang tidak senonoh terhadapku.
Ecy begitu ingin berdamai terhadapku dan juga terhadap teman-temanku. Namun, sangat di sayangkan, penolakan sedikit terlihat dari Septiani. Septiani belum sepenuhnya bisa memaafkan mereka atas apa yang telah mereka lakukan terhadapku.
Septiani masih menyimpan kekesalan yang mendalam terhadap mereka berdua. Selama aku dalam bullyan hanya Septiani yang berani melawan, bahkan berdiri dengan galak di depan mereka.
Tapi saat ini, aku melihat Septiani sudah melupakan semua. Setelah aku menyuruh Fikri untuk menyelesaikan puisinya, aku melihat ia begitu gemilang.
"Akhirnya, puisiku sudah selesai!" Ucap Fikri. Menatap buku yang di coret olehnya dengan pensil. Seketika wajahnya telah melepaskan beban yang menggunung begitu tinggi.
"Waaah! Temanku begitu hebat!" Puji Rasyd dengan tawa jenaka. "Kau memang tidak salah Fikri jadi ketua kelas." Lanjut Rasyd sambil menepuk pundak Fikri dengan memperlihatkan wajah kebanggaan. "Hari ini aku begitu kagum dengan mu, kawan!" Sambung Rasyd berbicara bak seorang anak yang dewasa.
"Rasyd! Aku tahu, kau ini bukan memujiku! Tapi kau mengejekku ya, kan?" Sambut Fikri. Menatap Rasyd dengan memasang wajah penuh curiga. Seakan Fikri melihat niat terselubung dari wajah Rasyd. "Aku tahu niatmu apa?!" Sambung Fikri sambil mengayunkan tangan ke udara mengarah ke wajah Rasyd. Tersenyum jenaka.
"Fikri! Kau salah! Aku tidak memikirkan sesuatu tentang mu." Sambut Rasyd dengan wajah datarnya. Menurunkan telunjuk Fikri perlahan. "Jangan serius kawan!"
"Mana Fikri puisimu? Boleh kami melihatnya?" Tanyaku memotong perbincangan kecil antara Fikri dan Rasyd.
.
.
.
Teman-teman terimakasih telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰
❤️❤️❤️
Bersambung....
dulu,ya!" Seru Ecy. Memutar badan berjalan.
__ADS_1