
"Jangan ngejek, ya Kak," jerit adikku. Mengisi langit-langit rumah kami.
Aku sangat senang melihatnya . "Jadi, sekarang sudah tau, 'kan," bisikku di telinganya sambil menaikkan alis. Menarik kedua bibir dengan lepas.
Adikku langsung mengerang melihat aku yang tersenyum lebar di tengah duka yang menimpanya.
"Makanya jangan coba-coba mencari simpati Ayah. Akhirnya, kita berdua kena hukum, 'kan, hihihi !" ucapku tertawa geli menyindirnya.
"Awas Kakak nanti ya. Kapan Ayah gak menghukum Kakak sendiri?" ancam adikku dengan sorot mata yang sinis.
"Kenapa kalian masih di kamar itu, ha? Kalian lagi di hukum 'kan?" tanya ibu sambung kami. Berdiri mengintip dari balik tirai dan sedikit membukanya pakai sebelah tangan kanannya.
Aku dan adikku langsung merapat berdiri sejajar bak seorang anak yang berbaris rapi seperti di sekolahan. Melihat wajah ibu sambung kami dan sesekali menjatuhkan pandangan melihat ke ujung tirai yang tergerai.
"Iya Bu. Kami akan keluar," jawabku dengan pelan tanpa di ikuti oleh adikku. Adikku memang tidak pernah menyukainya. Jadi, dia tidak perlu merasa harus menjawabnya.
Ibu sambungku itu merasa risih melihat adikku yang mengetatkan wajahnya ketika berdiri berhadapan dengannya. Dia pun dengan bergegas langsung memutar badan dan pergi meninggalkan kami setelah melayangkan pertanyaan kepada kami dan lekas melepaskan tirai yang dipegangnya.
Huh!
Dia mendengus kesal. Berlalu begitu saja tanpa berpamitan dengan kami. Aku semakin acuh melihat perbedaan yang mencolok di keluarga kami. Adikku tidak begitu menyukainya sementara dia terus menerus saja memberi wejangan seolah-olah menasihati adikku yang sudah jelas tidak pernah menyukainya.
Aku menghela napas bercampur pusing melihat ini. Baju yang dari semalam kami pakai tidur masih dengan setia menemani hingga saat ini.
Aku yang jengah memutar badan yang kurang sehat ini sambil menarik kedua bibir dengan cemberut. Seakan aku merasa ini semuanya seperti sandiwara.
"Kau gak ikut dengan Kakak ?" tanyaku. Menghentikan langkah dan memutar sedikit badan miring melirik adikku ke samping tepat berdiri dengan jarak yang sedikit jauh. Dia masih saja berdiam diri di belakangku. "Kau jangan gak keluar. Menyapu halaman. Nanti hukumanmu di tambah," kataku. Melirik ke samping sebagai isyarat mendekatkan kedua bibir ini ke telinga adikku.
Adikku langsung menghela napas kasar dengan keras sehingga terdengar seakan dia sedang kesal mendengar omonganku.
__ADS_1
"Iya, aku tau," balasnya. Mengikuti langkahku langsung dari belakang.
"Ana, kau lihat sapunya?" tanyaku. Berdiri didepan pintu sambil menahan tungkai kaki yang nyeri. Memutar sorot mata melihat sekeliling. Tubuh mungil yang panas tinggi bercampur kedinginan pun berusaha aku tahan sekuat mungkin.
"Mana aku tau Kak. Aku 'kan gak pernah menyapu," ucapnya dengan acuh.
Aku yang berdiri tepat disampingnya seketika memutar kepala ke arah samping melihatnya. Dia sangat mengetat sekali sehingga wajahnya yang polos tidak lagi terlihat seperti anak kecil yang manja.
"Ana, bantu Kakakmu membersihkan halaman," pinta ayahku berteriak dari dalam kamarnya.
"Jangan ada yang tinggal sedikit pun sampahnya!" sambung ibu sambung kami. Berdiri di depan pintu.
"Iya Bu," jawabku. Melihat ibu sambung kami yang berdiri di depan pintu. Sementara adikku sama sekali dengan acuh menanggapinya dan berlalu begitu saja tanpa sedikit pun melirik ibu sambung kami yang berdiri tepat di belakang kami berdua.
"Kalau kau besar nanti, kau harus menjadi Anak yang seperti ini, ya!" kata ibu sambung kami. Menatapku. Seakan dia sedang menyindir adikku yang berlalu membelakanginya begitu saja.
Aku semakin melongo melihat perseteruan mereka. Ibu sambung dan adikku terlihat seperti orang yang sedang perang dingin.
"Ambil itu sapunya. Jangan kau lewati saja!" seru ibu sambung kami. Melayangkan sorot matanya yang tajam itu ke arah kaki adikku yang melangkah. Namun, sayang adikku sama sekali tidak menghiraukannya, bahkan melihat sapu yang bersandar di dinding pun sama sekali dia tidak mau.
Aku semakin terkesan melihatnya yang sudah mulai berani sekarang. Aku merasa sedang tidur di tempat yang dingin sambil menatap adikku yang acuh di tengah-tengah suhu tubuhku yang mulai menggigil.
"Liyan, kau sapu itu semua dan cabuti juga rumput-rumputnya sampai bersih," suruh ibu sambungku dengan nada suara datar bercampur kesal melihat adikku yang nyelonong begitu saja berjalan tanpa menoleh ke arahnya sedikit pun.
Aku pun langsung pergi meninggalkannya seorang diri berdiri di depan pintu. "Ana, apa yang kau lakukan?" tanyaku. Berdiri menghampiri adikku.
Huhuhu!
"Kau menangis, ya?" tanyaku melihat adikku yang mencoret -coret tanah dengan ranting kayu. "Kau menggambar apa?" tanyaku kembali. Melihat tanah yang sudah tercoret oleh sebuah gambar wajah. "Itu ga... ." Aku langsung mengurungkan niat untuk bertanya pada adikku karena mendengar teriakkan ibu sambung yang memanggilku.
__ADS_1
"Liyan!" teriaknya memanggil dari depan pintu.
"Iya Bu," jawabku langsung berlari mengambil sapu lidi yang bersandar di dinding.
"Sapu semuanya sampai bersih dan kau Ana, cabut rumput itu! Jangan banyak tingkahmu di situ! Apa yang kau tulis-tulis di tanah itu, ha?" pekiknya dengan nada suara yang menggema di udara yang kosong.
Aku terus melanjutkan sapuanku sehingga aku tiba di samping adikku. Berdiri dengan tubuh yang mulai ingin terkulai. "Ana, sapu saja ini, halamannya. Biar Kakak yang mencabut rumputnya," saranku dengan lembut berbisik di telinga adikku. Menyodorkan sapu lidi di hadapannya.
Aku yang semakin tidak kuat berdiri menahan tubuh ini terus saja memaksa tungkai kaki ini dengan kuat untuk tetap bisa berdiri dengan kokoh meski dalam kondisi yang sudah tidak fit.
Adikku terus saja mengabaikan aku. Dia terus menerus menulis tanah. Aku dengan lekat terus memperhatikannya. Sapuan yang tidak beraturan itu pun membuat aku semakin kena pekikkan dari ibu sambung yang terus saja memantau kami dari jauh.
"Liyan, kenapa sapuanmu itu tidak bersih?!" teriaknya bertanya.
"Iya Bu. Akan aku bersihkan," jawabku dengan sedikit keras. Berlari kembali mengulangi sapuanku dari awal.
"Apa kerja Adikmu itu, ha?" tanya ibu sambungku penasaran.
"Aku gak tau Bu," jawabku. Memegang sapu lidi sambil menyeret sampah. Menjatuhkan pandangan bercampur wajah yang sedang menyembunyikan sesuatu.
Tatapanku terus saja melihat punggung adikku yang berdiri membelakangiku. Sekian lama dia berdiri dia sama sekali tidak menoleh sedikit pun. Walau hanya sekedar menyeringai menatapku.
Aku terus saja berharap itu terjadi. Berharap adikku akan menolehku, walau hanya sesaat. Namun, sayang harapan itu tidak terjawab. Aku sama sekali tidak mendapat jawaban apa pun dari harapan itu. Aku sangat kecewa bercampur sedih sambil melihat sapu yang menyeret sampah.
"Ana, kalau kau gak mau mencabut rumput. Kau sapu saja ini," pintaku dengan nada suara rendah membujuk adikku dari jarak sedikit jauh dari belakangnya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...