
Aku yang duduk bersila mulai membaca huruf dengan tenang satu persatu.Aku mengatur napas dan menenangkan jiwaku yang gemetaran.Ayahku yang khusuk mengajariku fokus menghadap ke I'ROQ.
Wajah polosnya terlihat tenang dari ekor mataku.Tatapannya tidak buyar kesana kemari.Tangannya yang kasar dibalut dengan kulit yang sudah terlihat sedikit menua memegang lembaran I'ROQ yang kubuka dengan lembut.
Di dalam pikiranku, aku terus berkata.Bahwa, aku harus bisa rileks agar aku tidak kelihatan gugup.Aku buka kedua bola mataku dengan lebar melihat huruf demi huruf berikutnya agar aku tidak terbata-bata. Kalau sampai gugup,pasti Ayahku akan tanda tanya besar. Ada apa denganku?Dia tidak akan melepaskan ku begitu saja dengan mudah.Dia pasti akan mencari tahu dari segala arah yang bisa dia temui.Kalau sampai dia menemukannya. Apalagi kejadian malam ini tentang perkataan Ibu sambungku dengan adikku pasti akan terjadi badai besar.
Ayahku,dia tidak akan bisa menerima siapapun yang berkata dengan sesuka hati terhadap adikku.Dia pasti akan memarahinya sehingga membuat seisi ruangan rumah kami penuh.Bukan hanya untuk yang lain untukku pun, demikian juga. Jika,aku membuat adikku menangis Ayahku pasti akan marah besar kepadaku.
Epilog
Aku yang pernah suatu hari berkata kepada adikku yang membuat dia menangis. Dia begitu marah besar kepadaku.Padahal, menurutku itu biasa saja. Kata-kata yang ku lontarkan terhadap adikku tidak begitu kasar. Akan tetapi, adikku yang begitu manja dan cengeng membuat situasi mencekam.
Ayahku yang mendengarnya begitu geram dan menggigit gerahamnya menahan amarah. Wajahnya mulai terlihat merah karena amarah. Aku yang berdiri di sudut pintu utama rumah kami.Tempat keluar masuk. Diam mematung dengan menutup mulutku rapat. Menatap kebawah sambil mencengkram kedua tanganku dengan gemetaran.
"Liyan, apa yang kau lakukan kepada adikmu?"Tanya ayahku yang murka denganku.
Mendengarnya, aku tidak sanggup mengeluarkan suara .
Mendengar Kata -kata ayahku sepertinya, dia mau menerkam ku. Aku hanya diam dan rasanya aku begitu sulit untuk membuka kedua bibirku bersuara.
Tapi Ayahku tak berhenti sampai disitu dia terus berkata dengan segala kata-kata yang ingin dia keluarkan dari mulutnya.
"Liyan."Wajah kesal dengan menarik napas panjang."Ini adikmu dia masih kecil. Dia belum tahu apa-apa.Kamu harus bisa menjaga sikapmu. Ucapan mu kepada dia". Dengan penuh penekanan."Ayah saja yang orang tuanya tidak pernah berkata yang bisa membuat dia menangis." Menatap adikku dengan lirih. "Karena kalau dia sudah menangis. Ayah yang paling sedih dan terpukul." Kata ayahku dengan lirih menatap dengan pandangan kosong.Wajah sedih ayahku terlihat mengingat sesuatu kenangan tentang almarhum ibuku. "Wajah adikmu mengingatkan Ayah sama Ibumu." Kata ayahku dengan lirih menatap adikku sambil berjongkok memeluk adikku yang manja.
Itulah sebabnya kami tidak diizinkan ayahku untuk membuat adikku menangis.
__ADS_1
Aku yang tiba-tiba mengingat tetang itu semua. Duduk bersila manis dihadapan I'ROQ ku menatap kedepan dengan sedikit menunduk. Mengingat kata-kata ayahku yang masih tersimpan di memori ingatanku.
Aku yang diam melihat ayahku dari ekor mataku masih duduk bersila di sampingku. Menunggu dengan sabar huruf-huruf yang akan ku baca dari mulut kecilku. Aku yang duduk membelakangi Adikku hanya mendengar gerakan tangannya diatas meja memainkan peralatan sekolahnya dari telingaku. Dan begitu juga dengan Ibu sambungku yang duduk di sudut pintu kamar. Berada di belakangku duduk tidak ada terdengar suara.Telinga kecilku tidak mendengar apapun sunyi seperti, tidak ada yang mendiami tempat itu.
"Liyan,ini apa bacaannya!" Ayahku menunjuk huruf setelah huruf Alif.
"Ba."Kataku dengan spontan. Kemudian Ayah ku melanjutkan dengan tunjukan berikutnya. Sampai ke huruf "Ya" dan selesai. Begitulah seterusnya sampai aku mengingat kajian ku dengan lancar dan fasih. Akan tetapi, terkadang aku masih sering juga lupa. Diantara,salah satu huruf yang masih aku sering lupa dan belum bisa mengingat. Bahkan, mengucapkannya dengan fasih. Diantara, huruf Hijaiyah yaitu,Tsa,sin dan syin.
Setelah aku selesai mengaji.Aku menggulung
tikar mengajiku meletakkannya dengan berdiri di balik pintu.Menyimpan rekal pada tempatnya dan menyusun I'ROQ di lemari.Jilbab yang ku pakai aku gantung di tempatnya dan kain yang kupakai untuk menutupi kaki kecilku. Aku lipat dan ku gantung ditempat gantungan kain. Begitulah kegiatan ku setelah aku selesai mengaji. Ayahku mengajariku untuk disiplin dan mandiri sebagai contoh untuk adikku.
Setelah aku selesai menyusun semua perlengkapan ku dengan rapi. Aku pun merapikan diri dan pakaianku terkhusus, rambutku yang agak berantakan karena jilbab yang ku pakai.
Setelah aku selesai dengan merapikan semuanya. Aku menghampiri lemari yang ada cermin nya. Berdiri di depan cermin lemari pakaian ku untuk melihat rambutku.
Sementara ibu sambungku tidak ada terlihat olehku dari cermin.Di depan cermin aku berdiri melihat ke arah belakangku.Tempat ibu sambungku duduk, terlihat sudah kosong.
Sementara Ayahku yang lagi sibuk kudengar di dapur.Dia belum mengingat ibu sambungku ada dimana.
Pikirannya belum tertuju kepada Ibu itu.Aku yang berdiri di depan cermin menatap tempat kosong di sudut pintu kamar.
Kemana Ibu itu, ya ? Kalau nanti ayahku memanggilnya tidak ada jawaban dari suaranya . Ayahku pasti marah besar. Aku yang khawatir masih terus berdiri di depan cermin menatap kebelakang dengan harapan ibu sambungku akan datang segera. Sebelum ayahku memanggil dan tahu kalau dia tidak ada.
Aku masih khawatir. Kenapa dia tidak belum terlihat, ya? Gumamku kecil memutar badanku membelakangi cermin melihat ke segala sudut ruangan.
__ADS_1
"Liyan!" Teriak Ayahku dengan pelan.
"Ia,Ayah." Menghampiri Ayahku dengan sigap.
"Ini!" Memberikan piring yang sudah terisi nasi dan lauk lengkap dengan sayur diatasnya."Ayah ambilkan juga nasi aku, ya!" Kata adikku dari kursi makan Ayahku dengan suara perintah yang lembut manja."Ia,nak." Kata Ayahku dengan lembut. Ayahku tidak pernah mempermasalahkan apapun tentang adikku.
Karena bagi ayahku adikku adalah yang paling utama setelah Ibuku meninggal.Tidak ada yang boleh memarahi dia. Membuat dia menangis apalagi melukai hatinya.Terkadang aku iri juga melihatnya. Kasih sayang Ayahku begitu besar kepada adikku dibandingkan denganku. Akan tetapi, apa yang bisa aku perbuat. Ayahku terus menuntut dan mengatakan kepadaku. Kalau, aku itu anak pertama harus banyak mengalah. Aku pun, dengan senang hati mengikuti kemauan ayahku"harus banyak mengalah"demi adikku yang masih kecil.
"Liyan, dimana Ibumu?"Tanya ayahku dengan datar. Aku pun diam mendengar apa yang baru di tanyakan Ayahku kepadaku. Dengan piring yang kupegang di tanganku dan langkah kaki yang ku ayunkan selangkah kedepan tiba-tiba terhenti.Wajahku pun berubah cemas.
"I,iii***."Aku belum sempat menjawab dengan jelas. Tiba-tiba terdengar suara sahutan ntah, dari mana. Aku tidak bisa melihatnya karena aku masih menundukkan kepalaku membelakangi Ayahku.
"Ia, aku disini."Berdiri menghampiri Ayahku.Dari telingaku aku mendengar suara langkah kakinya mendekati ayahku. Sepertinya dia datang dari pintu belakang.Pikirku!
Bagaimana dia bisa kesitu,ya? Dari mana jalannya? Aku yang masih terhenti dengan piring di tanganku bertanya-tanya di dalam pikiranku.
"Darimana saja kamu?"Tanya ayahku. Aku terus berjalan meninggalkan mereka yang masih bicara.
"Dari luar ." Ibu sambungku menatap Ayahku yang kulihat dari ekor mataku.
Aku yang duduk sambil menikmati dan mengunyah makanan. Melihat bayangan ayahku berjalan dengan membawa piring yang berisi nasi,lauk dan sayur diatasnya, menghampiri adikku."Terima kasih Ayah."Kata adikku dengan manja. Kudengar dari tempat dudukku sambil menyuapkan nasi kedalam mulutku.
"Ia,dimakan ya, nak!" Perintah Ayahku dengan lembut sambil mengusap kepala adikku dan berlalu meninggalkannya kembali ke dapur.
Dari dapur aku mendengar Ayah dan Ibu sambungku bercengkrama sambil tertawa duduk diatas lantai semen yang dingin.
__ADS_1
Bersambung.....