
"Kau mau makan?" tanya ibu sambungku kasar mendadak membuat aku terkejut.
Perut yang tadi lapar sekarang langsung kenyang karena terkejut mendengar omongannya yang kasar.
"Tidak." Menggeleng pelan. Menatap lurus bercampur gemetar.
"Kalau makan langsung cepat, kau!" kata ibu sambungku kasar dengan penuh penekanan.
Deg!
Glek!
Aku langsung lemas bercampur kaget mendengarnya sambil menelan ludah dengan kasar.
" Yang tau kalian cuma dua. Kalau tidak makan..., jajan," sentaknya pedas. Meninggi.
Nasi yang telah lama terletak tidak berani kami sentuh sedikit pun. Mulai dari tadi hingga saat ini kami menahan lapar. Ucapannya yang kasar itu dengan ringannya keluar.
"Tidak ada yang boleh makan selagi Ibu masih di sini!" katanya memberi peringatan keras. Berdiri tegak lurus.
"Iya, Bu," jawabku pelan. Melihat ke bawah.
Dia pun kemudian diam setelah mendengar jawabanku. Suaranya yang tadi menggelegar memenuhi ruangan kamar luluh seakan suaraku menyentuh hatinya. Dia pun diam cukup lama dan pergi.
Setelah dia pergi aku langsung lega. Mengurut dada lembut sambil menghela napas.
Piring yang berisi nasi pun segera aku makan dengan lahap terburu-buru hingga aku merasa kenyang. Sekejap tanganku terhenti ketika menyuapkan nasi yang terakhir. Aku langsung teringat kalau ibu sambung kami tadi tidak membawakan air minum.
Nasi yang sudah setengah di tenggorokan membuat aku sedikit tersedak. Tangan yang masih menggantung di antara bibir perlahan turun, di ikuti oleh lirikan mataku menatap adikku yang duduk bertekuk di belakang.
"Ana, makan nasinya!" kataku dengan nada suara getir.
Dia tetap diam. Aku kembali melihat nasi yang berada di genggaman. Perlahan aku mengayunkan tangan ingin meletakannya kembali di piring sambil menatapnya lirih. Aku berusaha menahannya dan segera mencari botol minum yang sering aku bawa ke sekolah. Aku pun langsung mengambilnya dari atas lantai yang berdekatan dengan sepatu yang tersandar di dinding.
🌵🌵🌵
Sekarang nasi putih yang di bawa ibu sambung kami berserta lauk pun sudah habis tanpa sisa. Lapar yang tadi terasa berat telah hilang.
"Liyan, kalian sudah makan?" tanya ayahku berdiri di balik tirai.
"Sudah, Yah," jawabku langsung.
"Adikmu apa dia sudah makan?" tanya ayahku membuka tirai.
Sontak aku langsung terkejut. "Ayah," gumamku pelan. Melirik nasi adikku yang masih belum tersentuh.
"Ayah kami barusan siap makan," jawabku panik menutupinya. Sedikit aku menggeser tubuh menutupi nasi yang terletak di dekatku.
Ayahku masih juga belum peka melihat sikapku yang gugup bercampur tenang. Dia pun mengayun langkah mendekati tempat tidur melihat adikku yang cemberut.
"Ana, besok Ayah akan cari uang yang banyak untuk jajanmu," kata ayahku membujuk adikku agar dia tidak berlarut-larut dalam rajukannya.
"Kalau besok Ayah dapat uangnya sudah banyak. Ayah pasti akan memberimu uang jajan sore," lanjutnya dengan lembut. Ayahku pun berdiri menatap adikku yang masih memalingkan pandangannya darinya dengan sedih. "Nak, Ayah juga sedih melihat kalian tidak jajan sore lagi," singgungnya.
"Ayah tidak mungkin..., tidak ada uang," ucap adikku menyangkalnya. "Ayah 'kan kerja, setiap hari," tandasnya masih melihat lurus ke depan.
Aku pun semakin lirih melihat ayah dan adikku.
"Nak, Ayah memang kerja. Tapi uangnya hanya cukup untuk makan dan bayar kontrakan," terang ayahku menjelaskan padanya.
"Ayah bohong. Masa Ayah tidak punya uang, seribu saja!" cetus adikku. "Aku bukan minta dua ribu," katanya. "Tapi cuma seribu saja. Itu pun tidak ada," sambungnya dengan penuh penekanan.
Aku semakin lirih mendengarnya, apalagi melihat raut wajah ayahku yang seketika murung bercampur sedih. Aku yang masih duduk pun memiringkan sedikit tubuh melirik adikku yang duduk di sudut tempat tidur, di ikuti oleh telingaku yang menajamkan pendengaran mendengarkan ayahku.
"Nak, Ayah tidak bohong. Uang Ayah sudah habis membayar kontrakan rumah, Nak," kata ayahku dengan lembut.
"Masa semua uang Ayah habis?!" kata adikku menggerutu mengerutkan keningnya. Tidak percaya.
Ayahku semakin di lema. Tatapannya yang sendu menatap adikku semakin mendalam.
"Nak!" panggil ayahku dengan lembut. "Kerja Ayah cuma pembawa becak dayung. Zaman sekarang. Tidak ada lagi yang mau naik becak dayung," kata ayahku menyayat hati.
Adikku semakin mengeram kesal setelah mendengar ayahku mengatakan itu. Aku juga menunduk melihat lantai yang bersedih mendengarnya.
Suara lirih ayahku dan tatapan pilunya mengingat keadaan keluarganya sudah menghancurkan ketegarannya kini.
"Padahal 'kan, masih ada juga yang naik becak Ayah," ucap adikku menandaskan. Tidak mau tahu.
Ayahku seakan berkaca-kaca. Dia menunduk dengan muka yang di tekuk. Bibir yang tadi berucap dengan lepas sedetik langsung terkunci.
__ADS_1
"... yang naik cuma satu -satu, Nak," jawab ayahku dengan nada suara lembut bercampur lirih.
Kesedihanku semakin besar rasanya. Aku seakan tidak sanggup lagi untuk mendengar selanjutnya. Tanganku pun semakin kuat mencengkram pinggiran tempat tidur.
"Ayah bohong. Ayah 'kan, suka bohong," tandas adikku.
"Ayah tidak pernah bohong, Nak." Ayahku menatap adikku langsung.
Adikku menyeringai tipis ketika aku melihatnya. Dia seakan tidak percaya yang dikatakan oleh ayahku. Pandangannya sekejap mata dia alihkan dari tatapan ayahku.
Ayahku langsung tercengang bercampur shock ketika putri kecilnya yang dulu di sayanginya sekarang telah berani membuang muka darinya. Dia seakan tidak percaya kalau hari ini dia mengalami mimpi buruk.
Aku yang dapat merasakan yang dirasakan ayah dan adikku semakin meresahkan jiwaku kini.
"Ana, tidak boleh kayak gitu pada Ayah," kataku membuka mulut. "Ayah 'kan, sudah janji, nanti mengasih uang jajanmu," paparku membujuknya agar dia mau meredakan kemarahannya.
"Ana, Ayah akan cari uang yang banyak supaya kalian berdua bisa jajan sore lagi," tandas ayahku lembut melunakan hatinya.
Ternyata kata -kata itu meredakan hatinya juga. Dia sudah mau menghilangkan muka masamnya secara berangsur. Dia juga sudah tidak mengetatkan raut wajahnya dan sorot matanya lagi. Sorot mata yang tajam dan memerah itu kini telah berangsur -angsur menghilang.
Semua tidak sulit terasa bagi ayahku. Itulah yang terlintas di dalam benakku. Kedua telinga dan mata sayu yang bening ini pun semakin puas mendengar dan melihatnya.
Aku semakin percaya pada ayahku kalau dia ayah yang hebat. Dia tidak pernah menyerah menghadapi adikku yang keras kepala. Ayahku adalah ayah yang sangat penyabar membujuk adikku. Dia tidak pernah berputus asa untuk meluluhkan hati adikku yang sulit.
"Ana... ," panggil ayahku dengan wajah bercampur lega. "...Ayah janji, Nak. Ayah akan bekerja keras mencari uang yang banyak agar kalian bisa jajan lagi," kata ayahku tersenyum tipis. "Jadi, sekarang makanlah, Nak!" kata ayahku melirik piring yang kusembunyikan.
Aku langsung tersentak dan menatap nanar kosong ke depan. Tubuh dan lengan yang menutupinya pun lekas bergeser. Aku seakan malu melihat lengan dan tubuh mungil yang menutupi piring berisi nasi.
Maksud hati agar ayahku tidak melihatnya. Tapi gagal dengan sendirinya. Ayahku ternyata lebih jeli dalam menatap sekelilingnya.
"Ayah pergi kerja dulu, ya! Ayah akan cari uang yang banyak untuk jajanmu," kata ayahku melihat adikku yang masih kusut. Dia pun berjalan keluar meninggalkan kami.
Adikku yang tadi tidak mau makan kini telah mengambil nasi yang terletak di dekatku.
"Aku lapar," kata adikku seakan memberi tahuku. Membawa nasi ke pangkuannya. Melihatnya yang mulai selera makan aku langsung bergegas keluar mengambil minum.
"Ana, ini minummu!" kataku meletakannya di bawah tempat tidur tepat di atas lantai.
Dia masih saja diam dan tidak mau melihatku. Aku tetap sabar melihatnya. Mungkin adikku lagi berdamai dengan dirinya sendiri untuk menerima ayahku yang tadi menyayangi dan memelukku.
Perselisihan kecil pun telah berlalu. Semua kesalah pahaman perlahan mereda meski belum jelas. Sekarang waktunya aku dan adikku melakukan aktivitas seperti biasanya di sore hari. Senja pun telah berlalu. Malam pun telah tiba. Hujan yang tadi mengguyur dengan dinginnya telah kembali normal.
Aku dan adikku telah bersiap -siap untuk menyusun keperluan sekolah kami besok. Tas, pakaian dan buku pun telah siap kami susun ke dalam tas.
"Mana aku tau. Itu 'kan baju Kakak. Bukan bajuku," tandasnya dengan gamblang.
Aku langsung menutup mulut. Memegang baju sekolah yang masih basah tertimpa hujan tadi.
"Ana... ," panggilku terus berusaha. "...sepatu Kakak juga basah." Aku mengatakan selanjutnya. Siapa tahu adikku mau membantuku.
Dia masih tetap sama, diam menyusun perlengkapan sekolahnya yang belum siap.
"Ana, bagaimana kalau besok Ayah tau?" tanyaku kembali melihatnya yang masih diam.
Adikku yang membuka buku mengerjakan pekerjaan rumah terlihat sangat serius. "Kak, bilang saja terus terang pada Ayah," jawabnya sambil menulis.
"Kalau Ayah tau. Ayah pasti akan memarahi Kakak," kataku. Memegang baju dan melirik sepatuku yang tersandar di dinding.
"Kakak beruntung hari ini. Ayah tidak melihatnya," kata adikku. Masih fokus dengan tugasnya.
Aku kembali mencerna yang di bilang adikku. Seakan adikku telah merahasiakannya dari ayahku.
"Kalau Ayah tau. Pasti Kakak di marahi juga," lanjutnya. Menyimpan buku.
Baju yang kupegang seketika menggantung di udara. Aku masih belum percaya kalau adikku memikirkan itu.
"... asal Kakak tau, Ayah kalau sudah marah melihat Kakak bermain hujan... ." Adikku langsung menatap lirikan mataku yang meliriknya, tersenyum sinis diam. Seakan dia kembali membuka memori yang telah lalu berusaha mengingatkan aku.
Aku masih diam den mendengarkannya.
"... Kakak tidak ingat. Waktu Kakak tidak memberi tahu, kalau Kakak di lempar bola kasti," tandasnya. Tertawa mengejek.
Aku kembali mengingatnya. Tubuh mungilku langsung gemetar. Baju yang tadi mengayun refleks jatuh ke lantai.
Brak!
"Jadi, aku tidak bisa membantu, Kakak," ucap adikku menolak dengan langsung. "... karena aku belum suka melihat Kakak," katanya dengan pedih menyayat hati.
Seakan adikku masih dendam melihatku. Dia pun melirik tirai kamar sebagai isyarat kalau dia masih mengingatnya. Melihat ayahku yang menyayangiku tadi.
__ADS_1
Aku langsung tersambar petir di malam ini setelah melihatnya melirik tirai.
"Kakak kering 'kan saja baju Kakak... ," kata adikku. "...sama itu!" melirik sepatu hitam yang tersandar.
Hatiku semakin perih rasanya, aku seperti orang asing di sini. Perkataan adikku yang pedas dan tajam semakin mengirisku dengan puas.
"Ana... ," panggilku dengan lirih melihat adikku yang menarik selimut dan merapikan bantalannya untuk tidur.
Dia tetap cuek seakan tidak mendengar suaraku memanggilnya. Dia pun mengambil boneka kesayangannya dan memeluknya.
Setiap kali adikku bersedih dia selalu memeluk boneka itu. Katanya, hanya Boneka itulah teman ceritanya sehingga dia bergantung sekali dengan boneka itu.
Aku masih tetap berdiri menelan pil pahit melihat adikku yang telah berubah. Baju yang teronggok di lantai pun segera mungkin kuambil dengan mengayunkan setengah tubuh mungil ini di udara dan tangan sebelah kanan mengambilnya, sementara tangan sebelah kiri lurus ke samping tanpa memegang apa pun , di ikuti oleh mata melirik sepatu hitam yang tersandar lembab juga dan menatapnya lirih bercampur takut.
"Ayahku pasti akan marah, jika tau sepatuku basah," gumamku pelan berbisik pada lantai.
"Hai...peri kecil temani aku, ya...malam ini! Aku sangat sayang samamu, muach," kata adikku dengan nada suara yang lembut bercampur manja bercerita pada boneka yang di peluknya.
Terdengar oleh telingaku yang masih membungkuk mengambil baju. Aku pun lekas bangun mengambil baju dan melihat ke arah adikku.
Tidak di sangka ternyata, adikku memeluk erat boneka kesayangannya. Boneka yang lucu bercampur seram itu pun menemani matanya yang ingin terpejam. Boneka berambut keriting itu dengan kompeng yang menutup mulutnya terlihat melotot. Kompeng yang menutup mulutnya itu ingin sekali aku mencabutnya agar boneka itu berteriak menangis mirip, seperti anak bayi.
"Boneka yang jelek," gumamku sebal. "...kau selalu ada di tempat tidur," teriakku pelan mendengus kesal.
Adikku langsung membuka matanya dengan lebar seakan dia mendengar yang kukatakan. Aku sontak terkejut dan langsung mundur.
Kaki sebelah kanan yang ingin naik ke atas tempat tidur refleks langsung turun.
"Kakak ngapain?" tanya adikku langsung. Melihatku di tengah lampu yang setengah terang.
Aku tergugup meremas baju yang kupegang. Aku pikir adikku tidak mengetahuinya.
"Kakak mau membuang Bonekaku, ya?" tanyanya dengan gamblang.
"Engga," jawabku sedikit panik.
"Lalu, Kakak mau ngapain?" tanya adikku seakan menantang.
"Kakak mau tidur," jawabku berdalih. Memutar badan bercampur pucat.
"Awas aja! Kalau sampai bonekaku di buang, ya!" katanya memekik tanpa terdengar keluar. Menahan nada suaranya.
"Iya," jawabku membelakangi adikku dengan nada suara getir bercampur gugup.
"Kalau sampai bonekaku hilang. Pasti Kakak yang membuangnya," kata adikku dengan gamblang menuduhku.
"I-iya," jawabku terbata meski sedikit tidak terdengar jelas.
Baju dan tas yang tadi telah tersusun rapi. Perlengkapan pun tidak ada lagi tertinggal aku pun menaruhnya dengan rapi.
"Kakak pikir, aku tidak tau. Kakak mau membuang ini 'kan?!" katanya mendelik. Menunjuk boneka yang dia ayunkan di udara.
Aku langsung terjepit. Aku tidak tahu entah mau mencari alasan apa lagi. Aku yang sendiri di kepung oleh pertanyaan dari adikku sangat kebingungan.
"Aku lihat. Kakak mau mengambil ini, 'kan?" Adikku bangun dan duduk. "Apa Kakak punya uang. Untuk mengganti yang baru?" tanyanya menandaskan.
Aku semakin pucat seakan aku terkepung . Bola mata melebar mendengar omelan adikku yang tiada henti.
"Kakak pasti iri, ya. Karena kakak gak punya mainan," tandasnya menyindir dengan tuduhan.
Aku tetap diam dan menggantungkan seragamku yang lembab di tengah tudingan adikku. Sepatu hitam yang lembab pun kemudian aku ambil dan meletakannya di atas lantai. Aku pun menjatuhkan tubuh mungil di tengah ocehan adikku lagi.
"Percuma aku punya Kakak..., kalau jahat dan iri," pekik adikku di malam yang hampir larut dengan nada suara yang pelan agar tidak terdengar keluar oleh ayah dan ibu sambungku.
Malam yang sunyi aku di dalam kamar bersama adikku di terangi oleh lampu yang bermuatan Watt rendah. Aku masih mengilap sepatu dengan kain perca yang menjadi keset kaki kami.
Aku semakin sabar mengilapnya agar besok aku sekolah tidak memakai sepatu yang setengah basah.
"Awas aja ya, Kak! Kalau aku besok bangun bonekanya tidak ada," sergah adikku mengancam dengan kata-katanya.
Telinga ini semakin tajam mendengarnya dan tangan ini pun semakin lembut mengilap sepatu.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Teman-teman silakan mampir ke novel teman aku, ya ! 🙏