Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Terjerembab ke tanah


__ADS_3

"Gak Kak. Aku gak mau. Kakak saja yang ngerjakan sendiri. Aku gak mau," tandasnya dengan nada suara menggema bercampur dengan udara kosong yang berembus. "Aku di hukum itu gara-gara Kakak. Jadi, Kakak saja yang ngerjakannya," ucapnya menghenyak hati ini. Sapu lidi yang aku pegang pun seakan ingin terlepas begitu saja.


Aku sangat sedih bercampur kecewa melihat omongan yang di lontarkan olehnya begitu saja. Aku semakin pilu dan air mata ingin segera menganak di pelupuk mata. Sapu lidi yang menyeret sampah aku tatap dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca.


Sungguh miris hati ini terasa. Adik yang aku sayangi selama ini ternyata menganggapku sebagai musuh. Aku semakin terhimpit dengan duka yang menimpa diri ini hingga aku begitu lesu menatap diriku sendiri di balik bayangan yang mengikuti.


Sekarang hanya bayangan yang tersisa untuk ku yang bakalan selalu setia menemani langkah ini hingga akhir hayat. Aku terus menerus bertanya di dalam hati. Sampai kapan ini akan berakhir?


Adikku masih saja bersikukuh mempertahankan keras hatinya dan merasa enggan untuk menoleh ke arahku sama sekali. Dia masih saja bersikeras dengan keinginan hatinya yang ambigu.


"Ana, kau harus ikut membersihkannya. Nanti kalau Ayah tau dia akan marah," ucapku sambil menyeret sampah.


"Kalau Kakak mau. Kakak saja yang ngerjakannya. Aku gak mau," cetusnya dengan gamblang. "Karena aku mau belajar menggambar. Supaya aku nanti jadi pelukis terkenal," katanya dengan nada suara yang lantang. Seakan-akan itu akan terjadi suatu saat nanti.


Sapu lidi yang kupegang langsung terhenti seketika dan menaikkan kepala menatap punggung adikku yang berdiri tegak lurus membelakangi aku.


"Aku gak mau menyapu, apalagi mencabut rumput. Aku mau menggambar wajah ibu dengan cantik. Biar dia senang nanti melihatnya," lanjut adikku.


Aku terus menatapnya dengan lirih. Refleks aku langsung teringat wajah ibu yang aku lihat di dalam selembar foto yang aku temui di dalam lemari ayahku kemarin. Wajah yang ada di dalam foto itu seakan-akan menari-nari di pelupuk mata ini dengan indah.


Wajah yang teduh dan penuh kasih sayang itu seakan memelukku dengan erat ketika aku menutup kedua bola mata. Aku merasa kalau dekapannya begitu kuat memelukku hingga aku seolah tidak pernah merasa kehilangan sosok seorang ibu.


Tubuh mungil yang lemah ini seakan terasa sudah sembuh ketika aku melihat wajah ibu yang aku rindukan. Aku sangat senang sekali berada di dalam khayalan yang bercampur dengan air mata itu. Apalagi di saat aku bersedih ketika aku kembali mengingat penyakit yang menyerang sekujur tubuh ini dengan senangnya ia merenggut kebahagiaan yang baru saja aku dapatkan.


"Sudah bersih halamannya?" tanya ibu sambung kami. Berdiri kembali di depan pintu.


Aku terkejut dan sontak melayangkan tatapan melihat ke arah sumber suara. "Ibu," gumamku pelan. Melangkah terus menyapu sampah.


"Ana, apa yang kau kerjakan di situ?" tanya ayahku dengan nada suara keras. Berdiri tepat di samping istrinya.


Aku semakin menyeret sapu lidi dengan kencang menghampiri adikku. "Ana, ayo sapu halaman ini. Kalau kau gak mau mencabut rumput," saranku berbisik di telinga adikku. "Kau gak dengar suara Ayah," kataku.


Adikku spontan menghentikan ranting kayu di atas tanah. Dia diam menutup bibirnya dengan rapat. Gambar yang telah terlihat di atas tanah kini membawaku terhanyut kembali mengingat ibuku.

__ADS_1


"Liyan, Ana!" Kenapa kalian bermain?" tanya ibu sambung kami yang belum juga mau diam.


"Jangan nanti Ayah tambah lagi hukumannya ,ya!" sambung ayahku mengikuti omongan ibu sambung kami.


Aku langsung menepis gurat wajah ibuku yang menggangu konsentrasiku untuk menyelesaikan hukuman ini. "Ana, ayo cepat! Ambil ini sapunya," seruku dengan terburu-buru.


"Gak, aku gak mau menyapu," sentak adikku. Memutar badan dan berjalan mengambil bangku kecil yang terletak tepat di sudut dinding yang tertutupi oleh pot-pot bunga yang tertata rapi.


Plak !


Adikku pun langsung menjatuhkan bangku dengan hati yang menggerutu kesal.


"Ana, jangan memasang muka masam," tegur ayahku. Berdiri memperhatikan kami satu per satu.


Adikku langsung memutar duduknya membelakangi ayahku. Sementara aku terus saja menyapu halaman yang setengah luas yang melelahkan tubuh mungil ini secara spontan.


"Liyan, kenapa kau berhenti ?" tanya ibu sambung kami dengan nada suara terheran bercampur dengan marah.


"Aku... ." Aku diam sejenak menetralkan napasku yang sudah mulai melemah. "...aku mau menyapunya, Bu," jawabku langsung berdalih. Menyeret sapu kembali sambil memaksa tubuh ini tetap bertahan.


"Iya Ayah," jawabku.


"Ayah, aku sudah siap," jerit adikku dari jauh kepada ayahku yang terdengar dengan kuat dari belakangku.


Spontan aku langsung memutar badan. Melongo melihat adikku yang dengan gamblangnya mengatakan itu kepada ayah kami. Tubuh mungil yang kurang sehat ini pun sangat terkejut dan mencoba dengan sekuat mungkin mecoba bertahan di tengah tungkai kaki yang terluka.


"Ayah, rumputnya pendek. Jadi, tanganku sakit, Yah mencabutnya," keluh adikku dengan mengiba.


" 'Kan ada pisau, ada gunting," sambut ibu sambung kami. " Itu hanya alasanmu saja. Supaya kau tidak mencabut rumput itu!" tandasnya dengan sinis menatap adikku.


Aku yang masih menyapu sampah sesekali melirik mereka berdua yang dari dulu hingga saat ini masih seperti itu.


"Dengar, ya Ana. Jangan coba-coba untuk meninggalkan rumput itu! Dan berdiri di situ lagi!" pekik ibu sambung kami yang berkutat dengan emosi jiwanya. Menunjuk bawah pohon jambu yang tergambar wajah ibu tercinta kami.

__ADS_1


Tubuh mungil yang panas tinggi dan kedinginan ini masih saja menyeret sampah sampai ke tempat sampah yang terletak sedikit jauh di atas tanah tepat di dekat pohon jambu air yang berbuah banyak.


Baugh!


Jambu pun tiba-tiba jatuh dari atas. Tepat tidak jauh dari kepalaku. "Aagh!" Aku langsung terkejut dan refleks menjauh dari bawah pohon.


"Kau juga Liyan, ngapain harus berdiri di situ lama-lama," tegur ibu sambung kami dengan keras.


Aku langsung diam menjatuhkan pandangan ke bawah seakan aku tersipu malu.


"Kak, Kalau engga, aku saja yang nyapu halaman," kata adikku dari jauh. Bangun dan berdiri menghampiriku. "Kakak membersihkan rumput saja," pintanya. Menyodorkan gunting rumput dan mengambil paksa sapu yang kupegang.


"Ana, gak usah," kataku dengan tatapan yang mulai berkunang-kunang. Memegang erat sapu lidi yang ditarik adikku.


"Kak, lepaskan," jerit adikku menepis tanganku dengan kuat.


Baugh!


"Aaagh!" Aku menjerit kesakitan sambil mengelus punggungku.


"Ana, kenapa kau dorong Kakakmu?" tanya ayahku berteriak.


"Ayah, aku gak sengaja. Kakak yang jatuh sendiri," jawabnya dengan nada suara pelan bercampur sedikit merasa bersalah. Memegang gagang sapu dengan tatapan nanar.


"Ada-ada saja kau Ana! Kalau Kakakmu sampai sakit, bagaimana ? Kau punya uang mengobatkannya, ha?" tanya ibu sambung kami dengan penuh kekesalan. Seakan dia ingin sekali menghampiri adikku. Namun, dengan berat hati dia mencegahnya karena ayahku sedang duduk di bangku tepat di dekatnya dan sambil melihat kami berdua.


Aku yang terduduk di atas tanah. Mendengarnya semakin jengah karena terus mendengar mereka berdua yang bersitegang setiap hari.


"Ana, kenapa kau mendorong Kakak kuat?" tanyaku dengan nada suara lirih. Menatap adikku yang sinis melirikku.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2