Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Tiba di pasar malam


__ADS_3

"Jadi, kalau aku boleh tau. Malam ini kita mau berangkat kemana ?" tanya ibu sambungku. Berdiri.


Ayahku seakan berpikir setelah dia mendengar pertanyaan oleh istrinya itu. Kedua bola matanya, di ikuti oleh tangan sebelah kanan dan kirinya mendekap kami dengan erat.


"Kalau Abang tidak menjawab berarti kau masih ragu dengan keputusanmu," ucapnya dengan tenang. Memutar kembali badannya dan mengunci lemarinya.


Bagaimana kalau nanti malam kita pergi ke pasar malam juga," tandas ayahku. Melirik ke arah istrinya.


"Pasar malam Ayah?" tanya kami penasaran.


"Pasar malam itu apa, Yah?" tanya adikku ingin tahu. Menaikkan kepala setengah miring melihat ayahku. Duduk di pangkuannya.


"Pasar malam itu tempatnya permainan Anak- anak," jawab ayahku dengan senang. Menatap aku dan adikku yang masih di pangkunya.


Ibu sambung kami semakin mengerang kesal dan menarik napas panjang. "Jadi, Malam ini kita pasti berangkat?!" tandasnya. Melirik Ayahku.


"Iya," jawab ayahku.


"Kalau kalian mau pergi. Makan dulu!" pintanya pelan dengan nada suara menahan kesal.


Ibu sambung kami pun dan ayahku bergegas ke dapur menyiapkan makanan.


"Sekarang kita makan dulu. Sebelum kita berangkat," ucap ayahku meletakkan piring.


"Iya Ayah," jawab kami. Duduk manis bersila di atas tikar.


"Makannya jangan lama-lama. Nanti kemalaman," ucap ibu sambung kami.


"Nanti kalau kemalaman kita bisa kena hujan," sambung ayahku. Meletakkan teko dan gelas.


"Ayah," tapi ini 'kan gak hujan," kataku. Melirik ke arah pintu melihat ke luar.


"Ayah, kenapa gelasnya cuma tiga?" tanya adikku. Mengalihkan perhatian ayahku dari aku.


"Ana, gelasmu yang itu! Gelas Ayah yang ini!" ungkap ayahku. Mengambil gelas dari atas mejanya.


"Sudah, sudah, sudah. Jangan cerita lagi. Habiskan nasi kalian!" seru ibu sambung kami yang melahap makanannya sampai habis.


Setelahnya aku dan adikku menyantap makanan dengan lahap. Makanan yang enak ini kami habiskan tanpa sisa sedikit pun.


"Masakan Ayah enak," kataku dengan lembut. Meneguk minum yang terletak di dekatku.

__ADS_1


"Iya. Ayah juga heran dari tadi Ayah lihatin kalian terus," balas ayahku. Menatap kami berdua dengan terharu menikmati makanan yang sangat sederhana dan apa adanya. Meletakkan gelas.


"Bukan juga itu. Kalian pasti kelaparan, ya 'kan?" timpal ibu sambung kami. Melirik ke arah kami berdua dan bertanya. Menatap kami yang makan seperti Anak yang tidak pernah makan.


Aku dan adikku menunduk saling bertemu pandang. "Iya Bu," jawabku. Menunduk malu seolah aku lagi tertangkap basah olehnya.


Ayahku pun terlihat sangat terburu-buru menyusun piring-piring yang sudah tidak berisi lagi. Dia sangat sibuk membersihkan semuanya. Sementara ibu sambung yang masih menanyakan keyakinan kami untuk jadi pergi atau tidak terlihat masih meneguk air minum yang telah dia tuangkan kembali ke dalam gelasnya.


"Kalian lupa kalau malam ini kalian harus mengaji dulu," ucap ibu sambung kami di tengah-tengah dia yang sedang meneguk air minumnya.


"Oh-ho!" Aku terkejut dan menempelkan jemari ke dahi. "Iya," ucapku. Berhenti dan memutar badan melihat ayahku yang lagi mengurus dapur.


"Aku gak mau ngaji," tolak adikku dengan gumaman kecilnya.


Aku yang mendengarnya langsung melayangkan pandangan ke arahnya.


"Iya, 'kan Ayah. Kami mengaji dulu 'kan? Baru pergi?" kataku bertanya. Menyinggung adikku secara langsung.


"Iya, Nak. Untung saja kau ingatkan Liyan," balas ayahku bersyukur. "Alhamdulillah, ternyata Anak Ayah ini sudah besar dan sudah berani mengingatkan Ayahnya kalau lupa," ucapnya dengan nada suara dan wajah yang bahagia.


"Tapi Ayah gak memarahi kami 'kan, Yah?" sambung adikku bertanya. Seakan dia mengingat kebiasaan ayahku yang selalu menyediakan benda untuk menggertak kami ketika kami mengaji tidak fokus. Memegang dan bermain dengan bonekanya serta berdiri di depan pintu.


"Ana, kau sudah pakai sepatu?" tanya ayahku berdalih dari pertanyaan adikku. Dengan nada suara dan wajah sekan ayahku terheran. Melihat kedua kaki adikku mengenakan sepatu dan kaos kaki.


"Ana, bawa kemari I'qro' mu. Tunggu apa lagi!" seru ayahku dengan tegas.


"Iya Ayah," jawab adikku pelan. Melepas sepatunya.


Sementara ibu sambung kami pun mengambil tempat yang kosong untuk dia sholat sedangkan adikku yang berjalan melayangkan sorotan matanya melihat ibu sambung kami yang mendadak membuat dia bengong terheran.


"Sholat?" gumamnya kecil bertanya heran pada dirinya sendiri melihat ibu pengganti kami tiba-tiba memakai mukena.


Adikku seperti orang bodoh melihatnya sama juga dengan diriku. Aku jadi, heran melihatnya.


"Ana jangan melamun!" teriak ayahku menegurnya.


Adikku pun duduk berbarengan malam ini dengan ku. Kami berdua mengaji dengan kajian masing -masing. Suara lantunan huruf-huruf hijaiyah pun terdengar keluar seperti mana biasanya.


"Baik, Nak. Malam ini sudah bagus semua hurufnya dan besok Kakakmu akan naik kajiannya ke Al Qur'an," ucap ayahku senang.


"Alhamdulillah," sambung ibu pengganti kami yang sudah selesai dan melipat mukenanya. "Malam ini kita bisa pergi," tandasnya. Berjalan menyimpan mukena.

__ADS_1


"Ayah, baju aku ganti, ya!" kata adikku. Berlari mengambil baju baru.


Ayahku hanya tersenyum melihat adikku yang bahagia. "Liyan, kau tidak ganti baju juga?" tanyanya.


"Tidak, Yah," jawabku dengan senang karena aku hari ini bisa memakai baju kesayanganku. yaitu baju kembang berwarna merah di padu dengan renda bordir yang cantik berwarna hitam dengan sekelopak berbentuk mawar di kedua lengannya.


"Sekarang kita berangkat. Ayo, tunggu apa lagi!" kata ibu sambung. Berdiri dengan pakaian dress-nya yang cantik dan rambutnya yang tergerai setengah bahu.


Aku dan adikku pun dengan senang menggandeng tangan ayahku yang sudah kasar dan sedikit berkerut.


Kami berempat berjalan menuju tempat becak ayahku di simpan.


"Ayah, pasar malamnya, enak tidak permainannya ?" tanyaku ingin tahu. Menggenggam tangan sebelah kanan ayahku.


"Enak, Nak," jawab ayahku. Berjalan lurus melihat jalan yang di lewati.


"Seru tidak, Yah?" tanya adikku lagi dengan wajah manjanya. Menggenggam tangan sebelah kiri ayahku.


"Iya, Nak," jawab ayahku langsung.


"Nanti pasti kalian senang di sana," ucap ibu sambung kami yang berjalan di sebelah kanan ayahku tepat di sampingku. "Di sana, adu kuda, ada kereta api, ada mandi bola dan masih banyak lagi," lanjutnya dengan senang hati menceritakannya kepada kami.


Aku sangat senang malam ini begitu banyak terlihat keceriaan dan kebahagiaan serta kehangatan yang terjalin setelah sekian lama menghilang.


Wajah ketat ayahku yang lelah setiap hari terlihat kini begitu bahagia sekali. Ibu sambung yang selama ini begitu julit terhadap kami. Malam ini begitu baik sehingga aku seakan tidak pernah merasakan kalau ibu pengganti kami ini sudah julit terhadapku. Lain lagi dengan adikku yang belakangan ini telah membenciku. Nah, malam ini seakan aku tidak pernah merasakan kebenciannya itu. Bahkan aku tidak tahu kalau hubungan aku dan dia telah retak.


"Ayah, coba lihat! Waaah, permainannya banyak," teriakku dengan senang. Memutar tubuh mungil ini melihat sekeliling.


"Iya, Ayah itu ada kuda," kata adikku dengan senang menunjuk ke arah kuda yang berputar.


"Ayah, aku mau naik itu," kata adikku. Menunjuk baling-baling.


"Ayah juga suka naik itu, Nak," balas ayahku dengan nada suara senang. "Itu adalah permainan yang Ayah sukai dari kecil," lanjut ayahku sumringah.


"Liyan, kenapa kau diam saja? Kau sakit ?" tanya ibu sambungku. Menegurku dari belakang.


"Tidak, Bu," jawabku pelan. Lalu membisu lagi melihat baling-baling yang tinggi.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2