
"Iya Kak. Aku gak mau punya Kakak baru," rengek adikku memohon sambil menarik lenganku sebagai bentuk meminta maaf.
Aku jadi ikut sedih melihatnya. Tidak tega rasanya aku melihatnya yang memohon meminta belas kasihan. Sangat teriris dan pilu sekali aku melihat adikku yang masih kecil polos dan sering labil.
"Kak, aku gak jadi kok. Naik ke atas meja," ucap adikku, menatapku yang berdiri tegak di hadapannya. Suaranya yang meminta belas kasihan itu tidak mungkin aku sangkal hanya untuk membalaskan dendam.
"Ana," kataku mengatur emosi netral. "Kakak gak marah samamu, Dik. Karena Kakak 'kan sayang samamu," ucapku mengalah sambil tersenyum bahagia.
Seketika adikku senang. "Benar Kak," katanya dengan senang. "Kakak gak marah?" katanya bertanya lagi kepada ku.
"Eem," balasku langsung dengan mengerucutkan bibir imut. "Karena kita 'kan cuma berdua," cetusku. Memegang kedua pundaknya sambil menatapnya dengan hati yang senang.
Dia langsung memutar badan menyimpan sesuatu yang rahasia. "Kak, aku pikir Kakak marah," ucap adikku kepada ku mengulanginya kembali. "Kalau begitu aku bisa naik ke sini," lanjutnya, memegang meja.
"Ana!" panggilku berteriak. Menghampiri adikku dengan kesal. "Kau bilang tadi kau minta maaf. Tapi sekarang... ," jeritku menatapnya mendelik sambil menutup mulut dengan rapat menahan rasa kesal yang menganak.
Spontan dia terkejut dan pucat. Dirinya yang tadi terlihat senang memegang meja refleks memelas dan melepaskan meja seketika. "Kak, aku cuma lihat ajanya," dalihnya mengiba.
"Tapi, kenapa kakimu mau naik ke atas?" tanyaku yang sudah menangkap basah.
Sentilanku tidak lagi bisa membuka mulutnya untuk memberi alasan. Kaki yang tadi ingin naik sebelah langsung dia turunkan. Menyembunyikan dibalik kaki yang lain.
"Ana, apa kau pikir, Kakak tidak tau?" tanyaku menatap adikku sebal. Menahan emosi yang ingin meledak.
"Kak, aku tadi cuma mau tau aja," jawab adikku nyeleneh karena sudah ketahuan. Menarik bibir menutupi rasa malu.
"Tau apa? Di situ gak ada apa-apa!" bentakku bertanya.
Diam membisu sambil menutupi rasa malu. Itulah yang dialami adikku sampai saat ini. "Kakak, aku tadi lupa," ucap adikku yang tidak masuk akal.
"Lupa?" sambutku melayangkan pertanyaan terheran padanya. "Dik, Kakak tau, kau itu bukan lupa!" ucapku kembali mencuat. "Kau itu sengaja menjebak Kakak dengan pura-pura bertanya, iya 'kan?" tanyaku yang sembari sudah kesal melihatnya yang terlampau cerdik.
Memonyongkan bibirnya dengan manyun setelah mendengar omonganku. "Kak, aku pengen ngambil itu aja," dalih adikku kembali menunjuk cangkir ayah yang terletak di sudut meja. Tepat berdekatan dengan jendela.
Refleks aku melihat ke arah yang membuat adikku penasaran. "Itu 'kan jauh," cetusku, menatap wajah adikku yang tenang bercampur enjoy.
"Itu dekat Kak," balas adikku kembali yang tidak mau kalah dari ku.
"Kalau dekat ambil aja!" suruhku acuh, menantangnya yang tidak bisa dinasihati. " 'Kan kau bilang gak apa-apa," lanjutku.
__ADS_1
"Kakak gak marah, 'kan?" tanya adikku yang pandai dalam merayu agar aku iba dengannya.
"Iya," jawabku yang mudah merasa iba. Berdiri melihat pintu yang terkunci.
"Aku sayang Kakak," teriak adikku langsung dengan senang memelukku. "Kakak memang Kakak yang tebaik," lanjutnya memuji diriku yang mempunyai belas kasihan yang besar.
Segaris bibir dengan senang tersenyum merekah mendengar adikku yang pertama kali memujiku dengan omongannya yang selalu pandai mengambil hati.
"Kak, apa Kakak mau di sini saja?" tanya adikku lagi ingin tahu, menatapku dengan lekat.
"Engga!" jawabku. "Kakak mau ke kamar, main anak Bp." Berdiri menatap pintu kamar.
"Aku malas. Aku mau di sini aja," ujar adikku dengan suara manja.
"Ya udah! Tapi jangan nakal, ya!" tegurku memberinya nasihat. "Jangan naik ke atas meja. Nanti mejanya rusak," kataku mengingatkan dia yang suka melanggar janji.
"Kak, aku gak akan naik. Buktinya, sekarang aku masih di sini," kata adikku yang pandai mengambil simpatiku.
"Kalau kayak gitu Kakak ngambil mainan Kakak dulu," kataku, berjalan meninggalkan adikku sendiri.
"Kak, mainnya di kamar aja. Gak usah di sini. Karena aku mau ikut masuk. Biar kita bisa main Anak Bp bersama," sambung adikku dari belakang.
"Kak, Kakak saja dulu. Aku belum mau," balas adikku dengan nada suara malas. Berdiri menatapku yang keluar mengambil kotak bekas korek api yang kusimpan beberapa hari yang lalu.
"Kau mau naik ke atas meja?" tanyaku curiga menatap adikku.
"Engga, Kak! Aku cuma mau lihat kupu-kupu saja. 'Kan semalam aku lihat ada kupu-kupu masuk," jawab adikku enteng yang membuatku berpikir kembali.
"Kapan?" tanyaku ingin tahu.
"Semalam," jawab adikku membelakangiku.
Selepas tangan yang sudah memegang kotak rokok terletak lemas disamping kanan. "Kupu-kupu warna apa?" tanyaku yang sangat suka dengan kupu-kupu.
"Warna biru," jawab adikku tanpa berpikir, menoleh sekilas ke arahku yang berdiri tepat di belakangnya.
"Itu cantik, Dik. Kakak udah lama gak lihat kupu- kupu warna biru," ungkapku merasakan kesenangan, seperti yang di rasakan oleh adikku.
"Kakak mau lihat?" tanya adikku memutar badan. Memegang baju yang dari semalam dia pakai.
__ADS_1
"Iya," jawabku singkat.
"Sebentar ya Kak," pinta adikku padaku dengan lembut. "Aku lihat dulu di situ!" katanya dengan gurat wajah meyakinkan. "Kak, itu!" teriak adikku menunjuk keluar jendela.
"Ana, kau lihat?" tanyaku yang terus mencari kupu yang terbang.
"Iya, Kak. Itu!" serunya berlari mengejar kupu-kupu.
Brak!
Baugh !
Sontak aku langsung terkejut dan terdiam. Kaki yang tadi lincah berlari kini terhenti sangat cepat. Lemas sekujur tubuh mungil melihat meja yang sudah reot.
"Ana!" jeritku panik memanggil adikku yang mengikutiku dari belakang. Wajahku begitu pucat melihat meja makan yang sudah tidak berguna.
"Kenapa Kak?" tanya adikku shock. Berlari maju ke depan.
"Mejanya!" teriakku panik bercampur gemetar. Menatap meja tanpa berkedip.
Panik dan cemas menyelubungi diri ini seketika. Tubuh mungil yang tadi normal begitu melihat meja ia lalu berkeringat bercampur khawatir.
"Ayah pasti marah?!" sesalku melihat kecerobohanku. Menaikkan kepala yang bercampur pucat menatap adikku yang melongo melihat meja.
"Aku juga takut, kalau Ayah marah hari ini," timpal adikku yang ikut gemetar. Terus menatap meja yang reot. "Kak, kalau Ayah nanya kita bilang apa?" lanjutnya bertanya panik.
Kaki yang terasa dingin dan lemas menatap nanar meja yang telah rusak. "Kakak gak tau," jawabku penuh sesal.
Kami berdua yang selalu membuat ulah bertemu tatap bercampur bingung. "Ana, kalau Ayah tau mejanya rusak gara-gara mengejar kupu-kupu. Bisa gawat, Dik. Kita bakalan dihukum," kataku dengan lirih bercampur cemas.
"Iya Kak. Kita pasti di titipkan Ayah di rumah kerabatnya?!" balas adikku mendelik.
"Gak mau!" teriakku keras mengingat rumah kerabat yang jahat.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...