Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Rumah sakit


__ADS_3

Suara berisik langkah kaki. Orang-orang yang lulu lalang untuk berobat bersilewaran kini terdengar disemua sudut ruangan.Aku melihat ruangan kosong tempat orang -orang menunggu antrian begitu padat dan sesak.


Aku melihat ada banyak orang tua yang sudah lanjut usia. Terlihat banyak menunggu antrian. Duduk ditempat yang sudah ditentukan.


Anak -anak yang usianya jauh diatas aku juga terlihat menunggu. Begitu juga dengan anak-anak yang sebaya dan seusia dengan aku. Pun, terlihat ada yang duduk dan berjalan bersama orang tua mereka.


Para pekerja yang memakai pakaian seragam putih lengkap dengan simbol di lengan tangannya. Pun, banyak sibuk berjalan di keramaian pasien dengan memegang beberapa buku-buku rekam medis pasien.


Aku telah sampai ketempat para pasien mengantri bersama ibu sambungku untuk mengambil kartu antrian. Kami pun duduk diantara orang-orang yang duduk. Sementara ayahku masih pergi untuk membawa berkas ketempatan foto copy. Dengan langkah yang terseok-seok dia mengayunkan kedua kakinya menuju tempat tujuannya.


Aku menatap orang yang begitu ramai dengan raut wajah yang ketakutan. Kedua tanganku kini sudah dingin terasa. Jantungku berdebar dengan kencang terasa begitu tidak beraturan. Sementara aku melihat ibu sambungku tertawa lepas dengan seseorang yang usianya tidak begitu jauh dari dia. Mereka sesekali, aku lihat


begitu serius saat berbicara. Sembari melihat kearah aku dan menunjuk ke diriku juga.


Antrian yang begitu banyak membuat orang yang terlihat begitu kesal. Ada yang berjalan kesana kemari dan ada yang melihat ke ponsel masing-masing. Ada juga, yang beranjak dan pergi duduk ditempat yang tidak ada kebisingan sedikitpun.


Diriku yang begitu lelah kini terlihat mulai terkulai. Giliran pemanggilan namaku begitu lama.


Sementara pinggangku sudah tidak sanggup lagi untuk duduk terlalu lama. Begitu terasa berat bagiku. Kaki yang menggantung begitu terasa berat juga untuk digerakkan. Rasanya semakin lama kakiku menggantung semakin penuh. Terasa seperti, ada sesuatu yang mengisi kedalam kakiku.


Para pekerja yang memakai pakaian seragam putih. Kini terlihat antusias mengambil berkas para pasien. Satu persatu dari mereka mengambil dari meja pendaftaran pasien baru. Secarik kertas pun mulai mereka tulis perlahan secara teratur.


Angin yang berhembus hari ini. Terasa begitu dingin mengenai tubuh kecilku.Panas tinggi yang menyerang tubuhku semakin membuatku begitu tidak nyaman.


Ayahku yang tadi pergi untuk memotocopy sebagian berkas persyaratan untuk berobatku kini telah tiba. Aura kelelahan begitu terlihat diwajahnya yang menua.

__ADS_1


"Liyan! Apakah mereka sudah memanggilmu,nak?" Ayahku mengambil alih untuk duduk di sampingku.


"Belum,Ayah!" Kataku dengan tubuh yang sudah terlihat lemas.


Selang tidak beberapa lama. Ayahku pun duduk didekatku. Saatnya, para penjaga ditempat pendaftaran pasien baru pun,memanggilku.


Ayahku yang mau maju untuk mengambil tiba-tiba langkahnya terhenti. Ibu sambungku kini lebih dulu maju. Untuk mengambil kartu nama pasien yang tidak lain didalamnya tertera namaku.


Dia pun, berjalan melewati orang yang sedang mengantri ada yang duduk maupun berdiri.


Aku melihat dari tempat dudukku. Mereka pun menyerahkan sepotong kartu berwarna putih. Beserta beberapa lembar kertas yang ditutupi oleh map yang berbentuk seperti sebuah buku.


Jantungku pun terasa semakin berdegup dengan kencang. Serasa darahku mau keluar dari dalam tubuhku. Tubuhku yang tadi terasa begitu panas. Kini seakan mati rasa. Aku tidak lagi merasakan panasnya tubuhku. Angin yang berhembus ke tubuhku tidak lagi terasa bagiku. Dinginnya begitu netral menusuk tubuhku.


Aku yang terdiam. Terpaku menatap ayah dan ibu sambungku yang berjalan lebih dulu. Kini, aku hanya bisa berbicara melalui gerakan tubuhku. Kalau, aku takut! Takut akan mengikuti langkah mereka dan masuk kedalam ruangan yang begitu menyeramkan bagiku.


"Liyan! Ada apa? Ayo cepat!" Ayahku terus mengayunkan tangannya ke udara. Pertanda isyarat memanggilku menghampirinya segera mungkin. Ibu sambungku yang tadi berjalan lebih dulu. Kini, terhenti karena melihat ayahku bersuara sedang memanggilku.


Dari tempatku yang masih diam mematung.Dia melihat ayahku dan aku. Seketika dia pun melangkahkan kakinya dan mengurungkan niatnya untuk berjalan lebih dulu menuju ruangan dokter. Dengan langkah yang perlahan namun, sedikit mengayunkan kaki dengan cepat. Dia pun menghampiriku.


"Liyan! Ada apa? Apa yang membuat kamu terhenti?" Dia berdiri di sampingku menatapku dengan menyelidik.


Seketika aku menundukkan pandanganku. Sambil menggelengkan kepalaku melihat kelantai. Melihat ibu sambungku yang melingkarkan tangannya ke pundakku.


Membawa kakiku melangkah mengikuti ayunan kakinya. Dan ayahku yang berdiri dengan tertib ditempatnya kini, perlahan melangkah mendekatiku. Ayahku mulai mengeluarkan senyum hangatnya. Sebagai simbol penyemangat untuk diriku. Agar aku tidak takut. Melihat senyum yang begitu tulus dari Ayahku. Seketika rasanya keberanian didalam diriku pun tumbuh.Meskipun, terkadang hilang begitu saja seketika.

__ADS_1


"Ayah,tapi aku takut!" Menatap ayahku yang berjalan di samapingku.


"Takut apa,nak?" Tanya ayahku menyelidik.


Sementara, Ibu sambungku yang berjalan juga di sampingku. Terlihat diam dan sesekali melemparkan senyum kearah aku. Tangan lembutnya masih saja melingkar di pundakku. Dia seakan tidak mau melepaskannya. Sesekali dia pun berkata." Ia , tidak ada yang perlu ditakuti,semua akan baik-baik saja." Mendengar itu pun, aku berusaha untuk membangun, apa? yang ada didalam pikiranku. Sambil berjalan menuju ruangan. Sedikit lagi perjalanan kami sampai keruangan dokter.


Melihat ruangan yang akan aku masuki. Aku pun, berusaha menutup mata. Tapi kali ini, menutup dengan mata yang masih terbuka. Seketika, langkah kami pun terhenti. Tepat didepan pintu ruangan.


"Tunggu! Sebentar ya,nak!" Ayahku pun masuk kedalam. Sambil menyerahkan berkas yang kami terima dari tempat pendaftaran pasien baru tadi. Kemudian, kami pun dipersilahkan kembali untuk duduk menunggu mengantri.


Aku dan Ibu sambungku pun memutar badan kebelakang. Dimana, terdapat tempat duduk. Untuk mengantri yang telah disediakan. Untuk pasien yang menunggu panggilan oleh dokter.


Aku memutar langkah kakiku untuk duduk. Sementara, Ayahku masih berbicara dengan seorang perawat begitu serius. Ayahku yang berada didalam sesekali melihat dan menunjuk kearah aku.


Ibu sambungku masih terus saja diam sedari tadi. Kini terlihat wajah ayahku begitu, kebingungan. Itu yang bisa aku baca! Bahwa, dia begitu dalam keadaan bingung dan gugup. Karena ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki kerumah sakit yang ramai dan penuh sesak ini.


Seketika, Ayahku pun berjalan keluar ruangan. Meninggalkan berkas yang dia pegang tadi. Aku yang duduk bersama ibu sambungku. Melihat ayahku berjalan dengan sedikit pandangan kosong. Aku melihat sesekali, dia menghela napas panjang sambil berjalan menghampiri kami.


"Ayah! Ayah kenapa?" Tanyaku kepada ayahku yang kini terlihat tidak tenang.


"Ayah kepikiran dengan adikmu! Kita sudah terlalu lama disini! Bagaimana? Dia nanti masuk kedalam rumah. Sementara rumah kita terkunci."


"Jangan khawatir, dia pasti menunggu kita pulang dirumah temannya. Kata ibu sambungku menenangkan ayahku yang gelisah.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2