
"Ana, tapi 'kan sendalnya bagus," kataku berbisik di telinga adikku. Berdiri menghampirinya.
"Tapi aku tidak mau sendal ini," pekik adikku di telingaku. "Aku mau sendal yang baru, Ayah," rengek adikku kembali. Menatap ayahku kemudian melihat sendal jepit yang teronggok di lantai.
"Ana, ini masih pagi jadi, jangan coba-coba merengek. Ayahmu sudah capek membagusinya. Malah kau bilang kayak gitu," ucap ibu sambungku dengan sebal. Menyisir kembali rambutnya.
"Ana, itu sendalmu masih bisa di pakai, Nak," balas ayahku dengan lembut.
"Ayah, nanti teman-temanku mengejekku kalau aku memakai sendal itu," rintih adikku.
"Temanmu gak akan tau. Itu cuma sendal bukan baju. Lagi pula mana mungkin temanmu melihat tapak sendalmu!" kata ibu sambungku dengan kekesalan.
Huhuhuhu! Adikku langsung menangis. "Ayah jahat. Ayah sudah pelit," rajuk adikku. Meninggalkan sendalnya. Berjalan keluar pintu melihat pohon jambu air.
"Liyan, pergi sana mandi," titah ibu sambungku.
"Baik Bu," jawabku meninggalkan adikku.
Aku pun mengambil peralatan mandi dan langsung berjalan dengan kencang sambil mendengar omongan ayahku dan memutar sedikit kepala melihat ayahku yang tertekuk.
"Ana, Ayah mau pergi kerja dulu. Simpan sendalmu itu dan hanya itu sendal baru untuk mu," timpal ayahku. Mengambil sepatunya.
🌵🌵🌵
Tidak berapa lama aku sudah selesai mandi. Aku kembali melihat adikku dan sendal jepit yang masih sama seperti tadi.
"Ana, simpan saja ini dulu," kataku dengan pelan. Mengambil sendal jepit yang terletak di atas lantai.
"Gak. Aku gak mau menyimpan itu," ucap adikku.
"Kenapa ?" tanyaku ingin tahu. "Tapi 'kan sendal ini bagus," balasku. Melihat -lihat sendal yang aku pegang.
"Ana, kau itu masih kecil. Tidak seharusnya kau berkata seperti itu pada Ayahmu. Dia itu orang tua kalian. Semenjak Ibu kalian meninggal dia yang bersusah payah mengurus kalian. Terutama dirimu. Masa iya. Anak yang paling dia sayangi tega menolak pemberiannya," tandas ibu sambung kami menasihati adikku. Mendadak baik.
"Kak, sendalnya buang saja!" seru adikku.
Sontak aku langsung menjatuhkan tangan terkulai lemas ke bawah, tepatnya tegak lurus di samping kanan sambil memegang sendal jepit. Sedih bercampur kecewa aku memutar badan melihat ke arah ayahku yang duduk masih memakai sepatu.
Raut wajah ayahku seketika sendu. Dia diam bercampur sedih dan kecewa melihat anaknya menolak sendal yang telah dia Perbaiki dengan susah payah.
"Ayah, kenapa Ayah lema sekali pakai sepatu?" tanyaku terheran.
"Iya, Nak. Adikmu terlalu rewel," jawab ayahku. "Liyan, sendalnya jangan di buang. Palingan nanti Adikmu mau juga memakai itu. Simpan saja!" saran ayahku. Bangun dan berdiri.
__ADS_1
Aku sedih melihat sendal jepit yang tidak di terima dengan ikhlas oleh adikku. "Baik Ayah," jawabku. Melihat adikku yang tetap cemberut dengan wajahnya yang mengetat berdiri membelakangi aku dan ayahku.
"Ana, pakai dulu sendal ini. Nanti kalau Ayah ada uang pasti akan Ayah belikkan," ucap ayahku dengan lembut mengelus kepala adikku. "Ayah pergi dulu. Kalau kau mau memakainya. Pakai saja! Tapi... ." Ayahku langsung diam menutup mulut rapat setelah ibu sambungku memotong pembicaraannya.
"...kalau kau tidak mau. Kau tidak usah memakai sendal itu keluar. Kaki ayam saja kau keluar. Biar luka kakimu! Biar tau rasa!" kata ibu sambungku dengan pedas. Memotong pembicaraan ayahku.
"Sudah berapa kali kubilang. Kalau aku lagi bicara pada Anakku. Atau pun memarahinya jangan pernah ikut campur," tegur ayahku. Berjongkok memutar sedikit kepala melirik ke arah ibu sambungku.
Aku semakin pusing melihat mereka yang terus menerus bertengkar.
"Liyan, ingat! Jangan buang sendal itu. Nanti adikmu tidak ada sendal untuk keluar bermain," terang ayahku.
Aku yang memegang sendal. "Baik, Yah," sahutku. "Ayah, tapi aku boleh juga keluar 'kan?" tanyaku dengan pelan bercampur sedikit takut.
"Mau kemana?" tanya ayahku.
"Bermain, Yah," jawabku. Menunduk bercampur harap-harap cemas.
"Baru lagi kalian semalam jalan-jalan. Ini mau keluar lagi," keluh ibu sambung kami. "Tidak boleh! Kalian hari ini di rumah saja," pintanya dengan tegas.
"Liyan, kakimu 'kan masih sakit?!" kata ayahku. Memutar sorot mata menatapku yang berdiri di belakangnya.
"Sudah kau obati belum kakimu?" tanya ibu sambungku. Berdiri memutar badan melihatku.
"Belum," jawabku pelan. Menggeleng.
Aku semakin pilu menunduk dengan lesu. Melihat ibu sambung yang membentak dari lirikan mata.
"Hm! Ayah tidak habis pikir melihat kalian berdua sekarang. Semakin besar kalian semakin berulah," rintih ayahku. "Dan kau Liyan sudah tau kakimu sakit. Masih juga mau keluar. Seharusnya kau obati kakimu bukan malah memilih untuk bermain keluar ikut-ikutan dengan Adikmu," ucapnya.
"Entahlah! Adikmu yang mau keluar, kau pula yang mau ikuti. Dia berbeda darimu. Dia sehat. Tidak mudah sakit dan juga tidak cengeng!" tukasnya.
Huhuhu!
Air mataku pun keluar membasahi pipi. Butiran kristal pun jatuh menyentuh pipiku.
"Ayah, tapi aku pengen bermain," pintaku dengan nada suara parau bercampur dengan tangis.
"Aku tidak mau kalau Kakak ikut bermain samaku," timpal adikku langsung menolaknya.
Aku langsung diam menahan tangis. Seketika aku terkejut bercampur kecewa mendengar adikku yang menolak secara mentah.
"Kalau nanti Kakak bermain samaku. Aku tidak jadi bermain. Ayah 'kan menyuruhku untuk menjaga Kakak, apalagi itu!" kata adikku dengan menunjuk luka kaki yang masih terlihat di lutut. "Aku gak mau menjaganya. Apalagi Kakak terlalu cengeng," cetusnya.
__ADS_1
Aku semakin sedih. Aku tidak lagi bisa membuka kedua bola mata untuk menatap lebar. Penolakan adikku yang sekan jijik bermain dengan ku. Semakin membuatku pilu.
"Liyan, jadi kau tidak boleh bermain keluar. Dan kau juga Ana, kau pun sama. Tidak boleh bermain keluar!" ucap ibu sambungku dengan penuh penekanan.
Ayahku langsung bersuara. "Hm, Ayah pergi dulu, ya! Ana, jaga Kakakmu. Dan kau Liyan jangan pernah keluar rumah bermain," titahnya.
"Iya Ayah," jawabku pelan. Melihat lurus lantai.
Menahan sedih yang ingin mengeluarkan air mata.
"Ayah, berarti aku boleh keluar 'kan?" tanya adikku membujuk ayahku.
Aku begitu terpojok oleh keadaan ini. Aku yang berdiri melihat adikku dan sesekali menjatuhkan tatapan melihat lutut yang luka.
Sungguh miris hidupku, pikirku. Melihat lutut yang belum sembuh.
"Ayaaaah!" panggil adikku berteriak. Aku boleh bermain 'kan Yah?" tanyanya berteriak. "Kenapa Ayah tidak menjawabnya ?" keluhnya merajuk.
"Itu tandanya Ayahmu tidak mengasih kalian berdua keluar rumah," ungkap ibu sambung kami yang telah rapi ingin pergi.
Aku yang penasaran ingin tahu. "Bu, Ibu mau kemana ?" tanyaku. Melihat ibu sambung kami yang sama sibuknya dari tadi seperti ayahku.
"Bukan urusan kalian. Yang harus kalian urus cuma satu, cuci piring!" cetusnya dengan tegas. Memakai lipstik dengan tebal di depan cermin.
Aku dan adikku seketika bertemu pandang.
"Ana, ini sendalmu," kataku. Menyerahkan sendal.
Adikku masih diam melihat sendal yang mengayun di udara.
"Ana, ambillah. Sendalmu sudah bagus," kataku kembali.
Adikku masih diam. Dia sekan berat untuk mengambil sendal yang aku sodorkan.
"Ana, itu sendalmu. Jangan kau buang nanti kau gak punya sendal lagi," tandas ibu sambung kami. Berdandan yang rapi.
Sedikit aku memutar sorot mata melihat ibu sambung kami yang semakin hari semakin aneh.
"Kakak saja yang makai sendal itu. Aku gak mau," tolak adikku.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...