
"Gara-gara Kakak. Aku gak jadi bermain dengan Rahmadani," katanya dengan sorot mata yang tajam dan merah.
"Ana, ganti dulu pakaianmu. Baru bermain lagi," kataku dengan lembut.
"Kak, aku itu malas ganti baju. Kita 'kan sudah libur," terangnya.
"Iya, tapi nanti bajumu koyak," kataku menentang keinginan adikku yang bersikukuh mempertahankan seragam Pramukanya.
"Gak mungkin koyak, Kak. Aku bisa menjaganya," tandasnya dengan berat hati mengikuti aku pulang. "Kak...," panggilnya lalu kembali diam.
Aku menolehnya sekalian melanjutkan ayunan kaki. "Iya, Ana," sahutku.
"Kenapa Kakak menjemputku?" tanyanya tidak senang dengan gurat wajah seakan menantang.
Aku seketika diam. Aku kembali dilanda kebingungan tentang pertanyaan adikku. Aku menunduk sambil merapatkan kedua bibir yang terus berjalan melalui jalan dari setiap gang rumah hanya untuk mencarinya.
"Kenapa Kakak menjemputku? Kalau Kakak ingin pulang. Kakak pulang saja sendiri. Gak usah jemput-jemput aku, gak usah cari-cari aku. Aku tidak suka," katanya dengan gerutuan yang sangat membenci.
Aku semakin sedih karena pencarianku tidak ada apresiasi dari adikku sedikit pun. Bahkan dia dengan tenang mengatakan, kalau aku tidak perlu untuk mencarinya.
"Ngapain la aku di rumah, Kak? Mengawanimu, ha?" katanya pedas.
Langkah yang terus berjalan bercampur dengan kesedihan setelah kata-kata itu terlontar dengan lepas terseret dengan terseok-seok.
"Ana, Kakak hanya taku... ." Aku menganga menahan mulut terbuka di udara untuk menahan kata-kata yang ingin kusampaikan padanya.
"Hanya apa, ha? Hanya apa? Aku 'kan sudah bilang, aku tidak suka denganmu lagi," kata adikku kasar.
Aku terhenyak bercampur lelah karena terlalu sering mendengar itu. Kaki yang menginjak bumi pun tidak lagi terasa dengan jelas. Semua seakan semu di tengah perjalanan menuju rumah.
"Ana, tapi kau ganti baju dulu!" kataku kembali dengan sikap yang sabar dan mengalah.
" 'Kan sudah kubilang, aku tidak mau ganti baju," kata adikku dengan penuh penekanan. Berhenti dan menatapku dengan tatapan tajam bercampur sinis. Tatapan yang dilayangkannya itu sangat tajam memerah seperti bercampur dengan api. "Tidak usah lagi dekat -dekat denganku. Aku gak mau," kata adikku menandaskan. "Kalau Kakak, mau pulang, mau ganti baju, ya Kakak saja. Jangan ajak-ajak aku," bentaknya dengan keras.
Aku hanya bisa diam bercampur takut kalau adikku tiba-tiba melayangkan tangannya untuk ku. Aku rasanya semakin mengecil terlempar ke badan pohon yang besar yang menjadi tempat tubuh mungil ini bersandar dari hempasan perkataan kasar adikku.
"Gara-gara Kakak datang, aku jadi tidak berteman lagi dengan Rahmadani," katanya semakin kesal melihatku. "Lagian ngapain Kakak ke pintaran mencari dan menjemputku pulang," ucapnya.
__ADS_1
Aku semakin menyalahkan diri ini karena aku pandai-pandaian menjemputnya.
"Kakak itu sok baik," katanya melayangkan sorot mata yang sangat tajam. "Gak usah pura-pura baik samaku. Aku tidak suka," tukasnya.
Tubuh mungilku semakin terlempar ke badan pohon yang besar. Pohon ini terus menjepit tubuh mungil ini hingga aku tidak bisa meninggalkan adikku. Lidah semakin keluh dan wajah sangat pucat sekali mendengar jeritan adikku yang berusaha ditahannya.
"Ana, nanti Ayah marah," kataku dengan nada suara bergetir. Menatap wajah dan mata adikku yang memerah seperti api.
"Ayah itu tidak pernah marah samaku, Kak," tandasnya dengan yakin. " Selama ini aku bermain, aku gak pernah di suruh pulang sama kawanku," katanya dengan nada suaranya yang sangat geram melihatku yang sok baik.
"Ana, Ayah pasti marah?!" kataku kembali dengan nada suara penuh ketakutan ketika aku melihat gelagat adikku ketika marah.
Adikku pun melayangkan sorot mata yang mengerikan ketika mendengar aku yang mengucapkan itu kembali padanya. Dia sangat membenciku. Dia seakan tidak suka mendengarnya.
"Jangan bawa-bawa Ayah, Kak. Kalau Kakak mau pulang sendiri. Kakak pulang saja," katanya memutar badan membelakangiku.
"Kakak tidak bawa-bawa Ayah, Dik," kataku.
"Lalu apa?" tanya adikku dengan penuh penekan. Mendelik.
Aku langsung menunduk. Aku tidak tahu lagi apa yang akan meredakan kejadian ini. Bola mata terus saja berputar dengan lincah melirik tanah berputar tidak menentu sembari bercampur dengan otak yang berputar juga mencari penyelesai perkelahian ini.
Belum pernah adikku melayangkan kata-kata pedas dan sorot mata yang tajam. Sorot mata yang terlihat sangat mematikan.
"Aku benar-benar gak suka melihat Kakak. Kakak selalu mengurusiku. Macam Kakak saja orang tuaku," katanya dengan gelagat anak-anaknya itu. "Mulai sekarang jangan lagi urus-urus aku. Urus saja diri Kakak sendiri," ucapnya dengan wajah yang masam. Berputar dan mengayunkan kedua kakinya berjalan menuju rumah.
Aku yang terdiam mematung bersandar di badan pohon melihat adikku yang berjalan dengan kekesalannya.
"Ana, suaramu keras sekali," ucapku pelan. Namun, aku yakin ucapanku itu terdengar ke telinga adikku.
Dia langsung menoleh tepat ke arahku. Aku yang tidak berapa lama selesai mengucapkannya melihat adikku yang melihatku juga.
"Jangan coba-coba bersuara di belakang, ya!" katanya dengan nada suara datar seakan dia mengecamku.
Aku kembali mengatur langkah kaki ini pelan. Menatapnya dari belakang seakan meresapi yang baru dikatakannya.
"Kakak itu tidak usah lagi ikut campur!" kata adikku dengan penuh penekanan. Seakan dia memberiku ultimatum yang keras.
__ADS_1
Aku spontan menatap arah jalan yang lurus. Jalan yang sudah setengah panjang kami lalui.
"Ibu kesayanganmu itu Kak, sudah melihat ke sini," kata adikku dengan tidak senang. "Pasti dia itu marah. Dari matanya saja sudah ketahuan," katanya.
Aku tetap diam dan tetap berjalan di belakangnya.
"Sok menjadi Ibu untuk ku, tidak malu!" katanya dengan penuh kebencian. "Jangan lagi cari aku Kak," terangnya. "Habis ganti baju. Aku mau main-main lagi," katanya terus di dalam perjalanan.
"Ibu tidak akan memarahimu," kataku berusaha untuk meredakan kemarahan dan kebenciannya.
"Yang benar aja," sambungnya memelankan sedikit suaranya. Melihat ibu sambung kami yang menatap sambil membersihkan rumput.
"Liyan, di mana dapatmu dia?" tanya ibu sambungku setelah melirik adikku yang duluan masuk.
"Di tempat Rahmadani, Bu," jawabku. Melirik adikku dan pintu rumah yang terbuka lebar yang dilalui adikku tadi.
"Jadi, gak bermain lagi kalian ?" tanyanya kembali dengan gurat wajah yang datar.
"Belum tau Bu," jawabku meliriknya.
"Sudah Kak," kata adikku. Pergi dengan pakaian yang sering dia pakai untuk bermain.
"Kau mau kemana?" tanya ibu sambungku pada adikku.
Adikku menghentikan langkah kakinya sebelah kiri yang akan mengayun ke depan.
Dia tidak menjawab sedangkan ibu sambungku terus menerus menatap kakinya yang setengah menggantung.
"Kalau kau lama pulang. Jangan pergi bermain!" tandas ibu sambungku.
Aku yang berdiri mematung. Diam melihat adik dan ibu sambungku. Panik bercampur khawatir pun semakin menyelubungi diri ini.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...