Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Napasku sesak


__ADS_3

Aku dan adikku hanya diam saja setelah mendengar omongan ayahku yang sama cerewetnya seperti seorang perempuan. Kami berdua masing -masing menyelesaikan hukuman kami dengan lincah.


"Ayah, kalau sudah selesai. Aku boleh bermain ?" tanya adikku. Memutar badan menoleh ayah kami yang sedang berdiri di belakangnya, di ikuti oleh kedua tangannya memegang sapu lidi.


"Ana, apa kau tidak mengingat yang Ayah katakan tadi?" tanya ayahku dengan nada suara yang terdengar rendah seakan ayahku mengigit gerahamnya menahan kekesalan melihat adikku.


"Anakmu yang satu itu mungkin sudah lupa. Dia 'kan seperti itu! Selalu lupa," tandas ibu sambung kami. Memutar badannya langsung mengarah di mana tempat adikku menyapu.


Aku yang teronggok seorang diri bersama rumput hijau yang menjalar ke sembarang tempat membisu menyaksikan mereka yang dari tadi belum juga diam.


"Kalau kau lupa. Besok setiap apa yang di bilang oleh ayahmu, harus kau catat," lanjut ibu sambung kami dengan mengigit gerahamnya kuat. Sangat geram.


Aku langsung menaikkan kembali pandangan melihat adikku. Aku sangat tertekuk melihatnya yang diam membisu sambil menyeret sapuannya hingga bersih. Wajahnya begitu geram mendengar ibu sambung yang selalu menimpali dari belakang.


"Ana, yang benar nyapunya, Nak!" tegur ayahku. Melihat adikku yang sudah mulai bosan.


Perlahan aku kembali menjatuhkan tatapan melihat gunting yang aku gerakkan. Rumput yang aku potong pun perlahan semakin lama semakin menipis. Sebentar lagi rumput ini akan habis, pikirku. Menyeret dudukku untuk berpindah memotong rumput yang baru. Di samping itu aku juga harus menahan tubuh ini agar semakin kuat bertahan di tengah hukuman yang kami jalani.


"Ayah, aku sudah lelah," rengek adikku dengan suara manjanya. Mengiba pada ayahku yang ingin membalik meninggalkannya. "Ayah, aku haus," rengeknya kembali.


Aku sontak menatap adikku lagi. Dia terus saja berjuang hingga akhirnya, ayahku luluh dan kasihan padanya. "Liyan, kalau kau haus juga, istirahatlah! Setelah itu lanjutkan lagi tugas kalian," ucapnya. Memutar badan ingin meninggalkan kami.


"Ayah," panggilku yang penasaran melihat gerak geriknya.


"Ayah, mau kemana ?" sambung adikku bertanya. Menghentikan langkah ayahku.


"Ayah mau berangkat kerja," jawab ayahku langsung memutar badan. Melihat adikku dan melihatku.


"Haa!" Adikku mengacungkan telunjuk ke udara. "Ayah, kalau begitu kami selesai saja, ya?" pintanya dengan lembut memohon pada ayahku.


"Ayah, kalau aku akan meneruskannya karena rumputnya tinggal sedikit lagi," harapku dengan pelan. Berdiri langsung melihat ayah dan adikku.


"Ana, coba lihat Kakakmu! Dia saja melanjutkan hukumannya sampai selesai," kata ayahku. Memutar badan menoleh ke arah adikku yang berdiri jauh di belakangnya.


Adikku langsung mengerutkan keningnya. "Ayah, itu 'kan Kakak," cetusnya dengan sebal. "Ayah, kalau aku sampahnya masih banyak," katanya. Melihat tanah yang dia injak.

__ADS_1


Aku semakin memelas bercampur kedinginan yang menusuk kembali tubuh ini.


"Ayah, aku haus. Aku mau minum," keluhku dengan mengiba. Melihat ayah dan ibu sambung kami. Tidak lupa juga aku melihat adikku yang masih berharap kalau ayah kami tersayang akan membebaskannya dari hukuman.


Ibu sambung kami langsung melepaskan lipatan tangannya. "Minumlah Liyan! Setelah selesai minum. Bersihkan lagi ini!" katanya dengan penuh penekanan. Menunjuk tanah yang di tumbuhi rumput.


Aku pun dengan senang hati berlari dan meninggalkan gunting rumput di atas tanah.


"Ayah, aku minum dulu," kataku berlari dengan tungkai kaki yang masih nyeri.


"Ana, kau tidak minum seperti Kakakmu?" tanya ayahku dengan lembut. Menatapnya .


Untuk saat ini adikku pun tidak lagi aku dengar jawabannya. Aku sudah masuk ke dalam rumah yang dapat membuat tubuh mungil yang lemah ini kembali terasa sejuk dan adem.


"Huuuuu!" kataku dengan lega karena aku tidak lagi merasakan panasnya matahari meski hanya untuk sementara.


Srrrrr!


Air minum pun aku tuang kedalam gelas yang terletak di atas meja ayahku. Tubuh yang setengah sehat ini pun semakin aku jaga agar ayahku tidak mengetahuinya untuk saat ini.


Air minum pun mengalir dengan lembut membasahi tenggorokan ini dengan alirannya yang menyegarkan.


"Aaaaagh!" kataku dengan lega. Tubuh mungil yang mulai melemah kembali seperti yang dulu kini telah terasa normal meski hanya dalam beberapa saat.


"Liyaaan!" teriak ibu sambung kami dari luar dengan keras memasuki ruangan yang setengah terbuka bercampur dengan rumah yang setengah kosong yang nyaring menggema di telinga.


Aku terburu-buru meletakkan gelas di atas meja. "Iya Bu," jawabku langsung berlari.


"Kenapa kau lama kali? Kau mau kayak adikmu yang lupa dengan hukumannya !" terang ibu sambungku.


"Ayah, sebentar saja, Aku bermain. aku sudah lama gak bermain. Aku rindu sama mereka," rengek adikku terus membujuk ayahku dengan gurat wajah yang memohon dengan tulus.


"Ana, kau tau tidak. Kalau Ayah bilang tidak. Tetap tidak!" tandas ayahku.


Aku langsung tersenyum tipis melihat adikku yang mencoba menyelamatkan dirinya sendiri. Dia pikir ayahku akan mencabut hukumannya. Namun, sayang dia salah. Ayahku malah akan memberi hukuman yang lain lagi jika dia berulah.

__ADS_1


"Liyan, bersihkan itu!" kata ayahku dengan tegas. Mengayunkan telunjuknya setengah di udara. Menunjuk rumput yang belum selesai.


"Iya, Ayah," balasku berjalan kencang. Menghampiri rumput yang masih tersisa.


"Dan kau Ana. Cepat sapu ini! Ini sebagai hukuman untukmu karena telah membuat keributan," kata ayahku. Pergi berlalu meninggalkan adikku. "Dan satu lagi!" kata ayahku. Memutar badan. "Tidak ada lagi kesempatan untuk kalian bermain mulai dari sekarang sampai seterusnya. Sebelum Ayah memberi izin," tandasnya. Menghentikan langkahnya. Melihat ke arah adikku yang keras kepala.


"Ayah tapi 'kan, bukan aku yang salah," sela adikku. Tidak rela.


Aku langsung membelalak membuka bola mata melebar. Aku shock berat setelah ayahku mengeluarkan ultimatum itu. Aku semakin terhenyak dan napasku terasa sesak.


"Mulai hari ini. Kalian berdua tidak lagi boleh bermain jauh-jauh. Selain Ayah kalian memberi izin," sambung istrinya itu mengulanginya kembali kepada kami.


Aku yang berdiri dua langkah keluar pintu mendadak terhenti setelah mendengar ucapan ayahku yang tidak memberi kami peluang untuk bebas.


"Jangan di langgar ya, Nak," pinta ayahku dengan lemah lembut pada adikku.


Huh!


Adikku membuang mukanya langsung dari ayahku melihat ke samping kiri. Dia semakin geregetan mendengar ayahku yang semakin hari semakin keterlaluan menurutnya.


"Ayah," rengek adikku kembali.


"Ana," kata ayahku. Menganyunkan telunjuknya ke udara sebagai isyarat penekanan untuk adikku kalau dia tidak boleh di bantah.


Aku semakin berkeringat dingin. Tubuhku yang panas bercampur kedinginan kini seakan ingin terjerembab ke tanah.


"Liyan apalagi, lanjutkan itu!" perintah ayahku. Menunjuk rumput yang masih menempel di atas tanah.


Sementara ibu sambung kami terlihat sedikit menarik bibirnya tipis bercampur hati yang yang tidak baik. Bibir yang tertarik dengan tipis itu seakan merasa senang dengan hukuman keras yang diberikan oleh ayahku.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2