
"Habis sih, dia itu nyebelin tahu, engga!" gerutu Widia melihat Fikri berjalan keluar kelas bersama Rasyd dan Solihin.
"Widia lupakan saja! Fikri itu tidak pernah serius dengan apa yang diomonginnya." Aku menenangkan Widia.
"Tapi, aku kesal tahu engga! Dia selalu saja nyerocos kalau bicara," keluh Widia.
"Bagaimana kalau kita keluar," ajakku menenangkan Widia.
"Liyan, apa kau yakin? Hari ini kita akan aman." Menatapku sambil berjalan.
"Aman, kenapa?" tanyaku tidak mengerti.
Sementara di sudut yang lain. "Liyan, Widia, kalian mau kemana ?" teriak Septiani yang sedang melaksanakan tugas piketnya bertanya. "Tunggu aku sebentar, kenapa?" teriaknya kembali.
"Kami akan menunggumu di luar," jawabku berteriak.
"Terimakasih." Septiani langsung tersenyum bersama sapu yang dia pegang.
Seperti biasa, pagi hari seluruh anak- anak sibuk dengan tugasnya masing-masing yang telah di tentukan. Setiap hari pergantian piket terus berlangsung, begitulah kegiatan rutinitas yang kami lalui hari demi hari baik itu dilakukan di pagi hari, bahkan ada juga murid yang melakukannya setelah jam pulang sekolah khususnya, seperti menyapu ruangan kelas.
"Septiani, sapulah yang bersih! Agar kau tidak di marahi oleh Fikri," teriak Widia meledek Septiani sambil tersenyum meninggalkan kelas yang penuh dengan debu.
"Awas kau ya Widia," ancam Septiani yang lagi memegang sapu. Melihat meraka yang bertengkar seperti anak kecil aku menarik bibirku yang pucat menghilang bersama Widia.
"Widia kamu belum menjawab pertanyaanku. Aman kenapa?" Aku kembali bertanya.
"Dari cengkeraman Fikri," jawab Widia.
"Mudah-mudahan kita aman," balasku.
Sementara di luar kelas tepatnya di lapangan, anak-anak banyak terlihat bercanda dengan sesama mereka. Tubuhku yang lemah kini terlihat bersahabat setelah beberapa saat melemah. Dingin yang menyerang kini kembali netral. Suhu tubuh yang panas pun telah normal kembali. Netraku telah terbuka dengan lebar, seperti matahari yang bersinar.
Aku dan Widia terus berjalan mencari tempat yang nyaman bagi kami. Langkah pun terjadi semakin cepat, tanganku yang lemah tanpa kusadari masih memegang buku dengan erat.
"Widia, pagi seperti ini bawah pohon pasti terasa sedikit dingin," kataku melangkah bersamanya.
"Aku pikir begitu. Meskipun sedikit terasa dingin, tapi udaranya segar," sambut Widia.
"Ya kamu benar. Bawah pohon adalah tempat yang adem untuk menenangkan pikiran," ucapku terus berjalan dengan buku yang ada di tangan.
"Aku setuju!" sambung Widia.
Tidak berapa lama kakiku pun terhenti di bawah pohon yang menjadi persinggahan favorit kami yaitu, pohon bunga kertas yang rimbun. Bunganya yang begitu menarik mata ketika memandangnya. Bunga yang lebat dan berwarna warni. Bunga ini begitu menarik perhatian kami, terkhusus aku. Aku sangat suka melihat bunganya yang banyak, rimbun dengan warna yang terlihat seperti pelangi. Tidak jarang ketika aku sedih dan sakitku kembali menyerang aku mendamaikan diriku di bawahnya. Memang terdengar sedikit agak lucu, bunga yang tidak harum dan rantingnya di kelilingi oleh duri, tapi menjadi favorit bagiku selain bunganya yang indah, seperti pelangi. Ada satu teori yang menarik daya pikirku. Duri yang terdapat di sekeliling bunga yang indah penuh dengan warna yang bisa menenangkan hati ketika mata memandang dapat melindungi dirinya sendiri dari serangan tangan jahat yang ingin merusaknya.
Inilah yang membuatku begitu mengidolakannya karena tanpa sengaja ia memberiku sedikit sandaran hidup. Bunga yang terletak tidak jauh dari pintu kelas kami dan juga kantor.
__ADS_1
Kaki yang aku ayun pun berhenti. "Widia, kita sudah sampai," kataku tersenyum melihat bunga yang indah.
"Sekarang kita akan beristirahat di sini dulu, menunggu Septiani menyelesaikan tugas piketnya." Widia langsung menjatuhkan tubuhnya duduk di bawah pohon bunga.
"Tapi Widia...". Aku diam dan terkejut menatap bawah pohon yang aneh.
"Tapi..., apa Liyan?" Kedua bola mata Widia menatapku dengan heran.
"Siapa yang melakukan ini?" Mataku terus melihat. "Menaruh batu agar kita bisa duduk."
"Masa iya Liyan. Ada yang menaruh batu di sini?!" Widia memutar duduknya dan memperhatikannya. "Aku tidak memperhatikannya dari tadi."
"Pasti ada orang yang baik hati menaruh ini di sini. Mungkin dia sering melihat kita sering duduk di sini sehingga dia menaruh batu sebanyak ini," lanjutku.
"Dia kasihan kali sama kita. Kita 'kan sering duduk di sini membaca buku." Widia membuka buku yang aku bawa. "Ayo Liyan, duduklah!"
"Baiklah." Aku pun duduk sambil menghitung jumlah batu yang tersusun rapi. "Widia batunya ada enam."
"Apa?" Widia menolehku seketika. "Kamu hitung?" tanya Widia.
"Iya. Aku penasaran. Jadi, aku hitung deh!" Melirik Widia sambil menghitung kembali didalam hati.
"Liyan, mungkin itu ketepatan saja. Sudah jangan dipikirkan sekarang lihat ini!" Widia menunjuk buku.
"Lanjutan puisi semalam," jawab Widia dengan singkat.
"Oh ya!" sambungku.
"Iya," Widia menatapku memasang wajah memelas.
Kami berdua lalu membaca buku yang hari ini akan jadi bahan presentasi kepada bu Dona. Pelajaran yang menyenangkan ini memaksa aku dan Widia harus bersungguh-sungguh memahaminya.
"Widia, pelajarannya begitu menyenangkan," kataku melihat buku.
"Iya, aku sangat suka," ucap Widia dengan nada suara sedikit berat.
Aku melihatnya. "Kenapa suaramu agak berat mengatakannya?" Aku kembali membaca buku di halaman berikutnya.
"Tidak," jawab Widia menyembunyikannya. "Liyan, apa kita hari ini akan belajar ini lagi?"
"Bukannya kau tadi yang mengatakan demikian. Kalau pelajarannya ini?!" Sambungku berpura-pura tidak mengetahuinya.
"Setahu aku ini. Kamu benar Liyan, membaca halaman yang ini." Widia semakin kacau.
"Nah! Mari kita baca!" seruku.
__ADS_1
"Aku tidak terlalu suka membaca. Emang aku seperti mu, kemana-mana selalu membawa buku. Entah itu kertas selembar yang kamu bawa atau kau dapatkan, bahkan pikiranmu saja, seperti lembaran buku." Widia rasanya semakin merintih dengan paksaanku.
"Widia, membaca itu adalah jendela dunia. Kenapa kau tidak suka membaca?" tanyaku menyelidik.
"Aku bosan aja. Sudah bibirku lelah membaca, pikiranku pun harus bekerja untuk mengingatnya." Menatap dengan mengadukan masalahnya. "Jadi, aku dua kali lelah." Murung.
"Pftt." Aku refleks menahan tawaku mendengar kelucuan dari sahabatku. "Widia! Jadi, kau sampai kapan tidak mau membaca?" tanyaku. Bukankah mengaji juga membaca?!"
"Mengaji?" Widia memutar kepala refleks.
"Eemm!" Aku mengangguk dengan wajah menggemaskan.
"Kalau mengaji aku suka, karena setelah kita baca, kita tidak berpikir sampai harus memeras otak. Tidak seperti ini, sudah kita baca, kita jelaskan. Lalu kita di tanya kembali, yang membuatku lemas ketakutan sampai tanganku kedinginan dan kakiku gemetar, Liyan."
"Pada saat kapan?" tanyaku semakin penasaran.
"Pada saat kau tidak sekolah. Belum lagi Fikri yang harus menuntut, agar aku bisa dan tidak boleh jadi orang bodoh katanya, kalau tampil di depan, di saat di tanya." Raut wajahnya begitu sedih mengingat masa lalunya yang kelam.
"Hahahaha!" Tawa renyahku pun terdengar sehingga bunga pun jatuh. "Hanya itu saja! Kamu gemetar." Bibirku yang pucat tertarik dengan simpul kembali.
"Liyan sudah! Jangan tertawa lagi. Kau sama dengan Fikri, suka memojokanku." Wajah cemberutnya kembali tersungging.
"Jangan sama 'kan aku dengan Fikri. Kami itu berbeda, dia laki-laki dan aku perempuan,"
"Iya tapi ',kan bisa bersatu," cetusnnya.
"Bersatu untuk apa?" tanyaku dengan polos.
"Untuk mengejar cita-cita," jawab Widia tertawa melihatku yang pucat.
"Kenapa harus bersamanya? Samamu juga bisa?!" ungkapku.
"Tapi 'kan cuman kalian berdua yang pintar," kata Widia memujiku.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung...
__ADS_1