Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kami dan peraturan baru


__ADS_3

Adikku sedikit terkejut mendengar peraturan baru yang di keluarkan oleh ayah kami. Dia semakin melongo menatap lurus ke arah ujung kakiku.


Aku yang terpelongo juga bercampur terkejut menaikan pandangan ke arah bola mata adikku. Aku dan adikku pun bertemu pandang dengan gurat wajah shock mendengarnya. Tidak percaya! Itulah yang kami rasakan detik ini.


Aku dan adikku pun bergulat dengan segenap pertanyaan yang menyelubungi diri ini. Sesekali kami berdua refleks memutar tatapan ke arah ayah yang barusan mengatakan itu.


Ayah kami memang sangat keterlaluan dia dengan gamblang mengeluarkan peraturan sesuai kehendaknya. Tanpa berpikir panjang dia langsung mengetakan apa yang dia inginkan. Kami berdua pun semakin bingung, semakin lama ayah kami semakin memberi hukuman yang keras.


"Ayah, itu untuk Kakak saja, kan?" tanya adikku sedikit berjaga dari kemarahan ayah kami.


"Untuk mu juga!" balas ayah kami yang memberi peraturan baru dengan tegas.


Glek !


Ludah pun langsung melewati tenggorokan dengan kasar melihat gurat wajah adikku yang terkejut dan sedikit pucat.


"Untuk ku Ayah," katanya dengan kedua bola mata melebar mengulanginya kembali dengan gurat wajah tidak percaya.


"Jadi, kalau kalian bermain tidak pulang tepat waktu. Maka kalian tidur saja di luar," ucap ayahku dengan penuh penekanan.


Deg!


Aku kembali terpukul dengan pengungkapan ayah kami yang ringan itu keluar begitu saja sehingga membuat kami tidak punya pilihan lain selain berdiam diri di rumah.


"Ayah tidak apa-apa," balas adikku. "Pokoknya, sebelum makan siang kami sudah di rumah," katanya. Melirik ke arahku yang membuat aku dan adikku saling menatap.


"Tidak boleh sebelum makan siang," kata ayahku menegaskan.


Aku semakin lemas. Sekujur tubuh ini seperti tersiram air es.


"Jadi...?" tanya adikku dengan penasaran. Menatap ayahku.


"Sebelum Ayah pulang kerja," jawab ayahku membalas pertanyaan adikku. Memutar badan meninggalkan kami.


Seketika aku dan adikku melayangkan pandangan sambil menganga. Adikku mendengus kesal memutar kepala melihat lurus dengan gurat wajah sebal.


Aku yang pucat pun mendengarnya beranjak dan meninggalkan adikku. Aku menyeret kedua kaki ini dengan langkah sedikit tertatih-tatih mencari ibu sambung yang tadi memberiku izin untuk bermain.


Aku menelusuri seluruh ruangan rumah dan sekeliling halaman. Lutut yang masih terasa sakit berusaha kutahan untuk mencari ibu sambung yang selama ini menjadi ibu pengganti bagi kami.


Aku memutar bola mata melihat sekeliling dan juga melihat rumput yang telah bersih. Aku sangat terkejut rumput yang tadi setengah bersih kini sudah tidak ada lagi.


"Kau pergi lagi, ya?" tanyanya dari belakang melihat aku yang berdiri di luar. Aku langsung tersentak mendengar suara dan langkah kaki yang terdengar dari belakang menegurku.

__ADS_1


Spontan aku langsung memutar badan dan ingin tahu, siapa yang menegur dari arah belakang?


"Ibu," gumamku dengan gurat wajah senang bercampur tanya.


Dia dari jauh terlihat sangat bahagia. Aku yang berdiri di bawah pohon yang berlindung dari terik matahari yang bercampur dengan awan yang mulai menggelap, menatapnya dengan penuh tanda tanya.


Aku sangat terheran melihatnya seakan dia menyimpan sebuah rahasia.


"Liyan, kau baru pulang?" tanya ibu sambung tersenyum tanpa sebab. Memegang karung goni yang dia gunakan untuk membuang sampah.


Aku sontak terkejut mendengar pertanyaannya yang bercampur tawa yang tidak cocok menurutku.


"Iya, Bu," jawabku singkat. Berdiri di bawah pohon sambil menahan tungkai kaki yang sakit. Dengan baju terusan yang sedikit sobek dan belum aku ganti yang terbang terbawa arah angin.


"Kau bertemu dengan ayahmu?" tanyanya kembali ingin tahu. Seperti detektif.


"Iya," jawabku kembali singkat. Menatapnya dengan penuh tanda tanya. Berdiri dan berusaha dengan kuat menahan lutut yang terluka.


"Di mana Ayahmu sekarang ?" tanyanya dengan antusias ingin tahu. Berjalan dan menatapku lekat mengambil sapu lidi dan meletakan karung goni yang telah di gulung rapi di pinggir dinding rumah tepat dia jepitkan di dinding yang setengah renggang.


"Ini... ! Sapu dulu ini!" katanya memberi sapu lidi ke tanganku.


Aku pun langsung mengambil sapu lidi yang dia berikan padaku.


"Kau di marahi 'kan samanya?" tanya ibu sambungku ingin tahu. Berdiri dan menatap dari belakangku.


Deg!


Sapu pun langsung terhenti. Tungkai kaki pun diam dan berdiri tegak. Seketika aku gemetar setelah pendengaran ini mendengar kata-kata ibu sambung yang menyapa dengan garing.


"Iya Bu," jawabku pelan. Berdiri dan memegang tiang sapu yang membelakanginya.


"Tadi Ibu yang sudah mengatakan pada Ayahmu, kalau kau bermain," terangnya dengan santai. Perlahan aku memutar badan. "...tadi Ayahmu kembali. Dia memang tidak menanyamu," katanya menjelaskan. Menatapku yang berdiri hingga kami berdua bertemu pandang. Dia sepertinya sangat senang mengatakan itu, pikirku. Aku yang berdiri menahan tungkai kaki yang sakit begitu antusias ingin mendengarkannya lagi.


Karung goni yang sudah tidak bersamanya lagi. "Pasti Ayahmu memarahimu 'kan?" tanyanya semakin menyelidik.


Aku masih diam mematung dengan sapu lidi yang menyentuh tanah.


"Ibu sudah menduganya, kalau kau bakalan dimarahi," tandasnya.


Aku tetap diam mendengarkannya.


"Tapi Ibu lupa," balasnya dengan menyesal. "Setelah keceplosan baru Ibu ingat. Tapi Ibu tidak peduli yang dimarahinya 'kan, Anaknya," ucapnya dengan gamblang. Menghenyak hati ini. Aku langsung lemas seakan aku ingin terjerembab ke tanah.

__ADS_1


Hatiku semakin sedih. Jeritan semakin mengusik ketentraman.


"Terus Ayahmu bilang apa lagi? Pasti dia melarangmu untuk keluar, iya 'kan?" tanyanya kembali dengan antusias. Berdiri.


Aku sangat miris mendengar ibu yang menjadi ibu pengganti bagi kami tega mengatakan itu dengan mudahnya.


"Ha, Liyan? Ayahmu bilang apa?" desaknya kembali bertanya padaku.


Aku sedikit gugup ingin menjawabnya karena aku sendiri tidak sanggup untuk mengatakannya, apalagi mengingatnya. Tapi karena semua ini desakan darinya. Aku terpaksa mengatakan yang tidak mau aku terima sama sekali.


"Tidak boleh keluar lagi," jawabku. Melihat daun kering yang terletak di atas tanah.


"Lalu ?" tanyanya semakin ingin tahu.


"Kalau kami terlambat pulang. Kami tidur di luar," balasku.


"Ha?" Dia seolah terkejut seakan sorot matanya mengatakan kalau dia berpura terkejut. "Hahaha!" Dia pun tertawa. Seakan dia sedikit pun tidak menaruh simpati. "Kalau kau tidur di luar. Kau mau tidur di mana?" tanyanya dengan wajah seakan mengejek.


Aku tidak sanggup lagi untuk berucap. Sapu yang kupegang pun ingin segera kutaruh ke atas tanah dan pergi dari hadapan ibu yang menjadi sosok menakutkan hingga membuatku diam mematung.


"Itu untuk kalian berdua atau kau sendiri?" tanyanya kembali menyeringai. Menatapku dengan tatapan yang tajam dan tidak mau beralih dari hadapanku. Aku melihatnya sepertinya dia sedang bermain-main dengan boneka yang malang.


Keperihan semakin deras menyelubungi hati ini. Kata-katanya terus saja menyayat tanpa sebab.


"Liyan, kenapa kau diam saja?" tanyanya. "Pasti itu untuk dirimu sendiri 'kan?" Dia semakin mendekatkan tatapan di wajahku sehingga kedua bola mata kami bertemu tatap.


Aku teriris pilu rasanya. Air mata pun refleks terjatuh membasahi kedua pipi hingga menetes ke tanah. Suara tangis kecil ini pun, seakan tidak menjadi penggugah rasa belas kasihannya sedikit pun terhadap diriku yang malang.


"Liyan, jangan menangis! Nanti Ayahmu mendengarnya!" serunya. "Oooh! cik,cik,cik. Kemarilah Anak Ibu," ucapnya. Mengayunkan kedua tangan ke udara memelukku dengan pelukan eratnya yang meremukan tubuh mungil ini. "Kau jangan menangis lagi, ya sayang. Anak Ibu yang baik," lanjutnya dengan smrik.


Aku semakin gerah dan gelisah ingin keluar dari pelukannya yang melilit tubuh mungil ini semakin tenggelam dalam pelukan yang dalam.


"Liyan, apa kau saja yang di hukum?" tanyanya kembali yang masih memeluk.


"I-iya," jawabku lirih. Mengangguk dalam pelukannya yang membuat napas ini sulit untuk menghirup.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2