
Kalau aku terlihat lemah oleh ayahku. Aku pasti tidak akan boleh nanti, di kasih untuk masuk sekolah.
Segera aku masuk kamar setelah meletakkan obat yang aku pegang tadi. " Ayah, Liyan masuk kamar dulu." Pergi meninggalkan ayahku yang masih sibuk beberes pakaian.
" Ia, tapi ingat jangan tidur! Kau suka kali tidur Maghrib. Disitu azhan, di situ la, kau mau tidur." Kata ayahku dengan penegasan.
Setelah selesai mendengar kan, apa yang dibilang oleh ayahku. Aku langsung masuk kamar.
Begitu terperanjat aku melihat adikku berdiri di sudut lemari. Menutupi tubuhnya dengan kain. Sambil mengagetkan diriku.
Dar!
Hahaha! Tawanya pun, seketika pecah memenuhi langit-langit kamar kami. Wajahku yang pucat kini semakin pucat terlihat. Seketika tubuhku yang lemah membeku seperti es. Napasku yang tidak baik kini semakin sesak dan sedikit mau lepas. Hampir saja tubuh lemahku tidak jatuh terkulai kelantai.
Kedua tangan ku yang gemetar memegang dadaku. Seakan rasanya mau copot. Wajahku sudah pucat pasih. Sementara, adikku begitu ketawa dengan senang. Seakan, dia baru memenangkan sebuah adegan perlombaan lawakan. Tawa jenaka kini terlihat ketika dia menatap wajahku yang pucat.
" Kak, lucu kali wajah kakak." Hahaha! Ketawanya pun masih berlanjut. Sambil mengejek ku yang ketakutan dengan wajah tak merasa bersalah.
Seketika aku menarik bibirku dengan cemberut sekaligus kesal. Aku pun meraba -raba pipiku sendiri sambil merutuki kebodohan ku yang tidak berhati-hati.
" Kak, kakak engga nampak, aku disini?!" Tanya adikku yang ingin meyakinkan dirinya. Bahwa aku tidak melihatnya.
" Engga!" Kataku dengan tandas. Menatap adikku yang masih berdiri di sudut dengan kain yang dipakainya masih menutupi sebagian tubuhnya.
" Masa tidak nampak kakak. Begitu besar aku berdiri disini." Menatapku seakan dia tidak percaya dengan yang ku ucapakan. Dia pun, mengeram menaikan alisnya seakan aku berbohong.
" Ia, begitu gelap! Mana mungkin nampak." Dengan sedikit kesal. Aku masih melihat adikku yang belum melepas kainnya.
" Gelap!" Mendelik. Memutar bola matanya melihat sekeliling kamar dengan memastikan, apakah benar gelap?
Wajahnya seketika memelas sambil menghela napas. Seakan adikku ingin mengatakan dari mana kalau kakak tahu gelap. Padahal kan ada jendela, ya meskipun, setengah tiang.
Dari wajah adikku aku sudah bisa melihat. Kalau adikku tidak percaya dengan apa yang aku bilang. Terlihat dari gurat wajahnya yang penuh tanda tanya menatapku.
" Mana mungkin gelap." Kata adikku yang tidak setuju dengan apa yang aku katakan.
"Yang gelap itu kainmu, puas!" Dengan wajah kesal. Penuh penekanan.
" Jadi, kakak marah!" Dengan datar.
__ADS_1
" Tidak! Kakak engga marah." Kataku spontan.
Bagaimana mungkin aku bisa marah? Kalau aku marah sama adikku yang ada aku yang bakalan di marahi oleh ayahku karena telah memarahi anak kesayangannya.
Lagi - lagi aku harus mengeluarkan kesabaran ku yang luar biasa. Demi melindungi diriku sendiri. Tatapanku kepada adikku membuat dia menjadi tanda tanya.
" Kak, kakak marah, kan?!" Tanyanya kembali meyakinkan. Menghampiri ku dengan menyeret kain yang menutupi tubuhnya.
" Engga, dek!" Berusaha menetralkan raut wajah ku dan nada suaraku yang begitu sulit untuk aku menetralkan nya.
" Terus kakak kenapa? Kayak gitu!" Menunjuk sikapku terhadap nya.
Semakin lama aku semakin terlilit masalah yang membuatku menarik napas panjang. Refleks aku menarik bibirku dengan wajah yang masam. Aku hanya diam membisu seperti patung. Membeku seperti es sehingga membuat otakku tidak bisa untuk berpikir.
Belum lagi aku harus menata tubuhku yang lemah karena panas dingin yang menyerang tubuh mungilku semakin hari kadang semakin meningkat.
" Dek, memang gelap! Kalau disudut. Lagi pula kain mu pun warna hitam sudah lampunya engga hidup." Sedikit penuh penekanan. Menatap adikku dengan senyum manis yang terpaksa. Hari ini aku harus bisa bersandiwara untuk adikku yang manja.
" Untung aja kakak tidak pingsan, kak!" Kata adikku dengan mengecilkan nada suaranya.
Dia pun naik ketempat tidur dengan menyeret kembali kain yang membalut tubuh kecilnya.
Dengan wajah yang ketat dengan menyatukan alisku. Aku menghampiri adikku. " Kak!" Melepaskan kain. " Aku mau main ini." Mengambil gambaran.
" Main sama siapa?" Tanya ku ingin tahu.
Wajahnya yang terlihat senyum -senyum membuatku semakin penasaran. Terlihat senyumnya seperti senyum yang menyembunyikan sesuatu.
" Main sama kakak!" Nyengir.
Ha! Mendelik dan terperanjat.
" Ia, sama kakak. Biar kakak cepat sekolah." Membagi gambaran.
Begitu antusias adikku membagi gambaran dengan ku. Dia begitu adil dalam membaginya.
" Sudah kak!" Bersiap mengayunkan tangannya ke udara dengan meletakkan gambaran di tangannya.
Aku pun melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh adikku. Kami berdua pun bermain dengan tawa dan marah. Sesekali pertengkaran dan perdebatan terjadi di tengah-tengah permainan kami. Adikku yang tidak mau kalah pun membuatku kesal sampai ke ubun-ubun.
__ADS_1
" Aku menang!" Teriak adikku sesekali dengan riang. " Sini kak, sini." Bermain kembali. " Hore aku menang lagi." Mengambil gambaran dari tanganku. Semakin lama gambaran ku semakin menipis. Heran aku! Aku pun kembali menyerahkan gambaranku atas kemenangannya. " Dek, kenapa kau menang-menang terus." Memberikan gambaran kembali atas kekalahan ku. " Horee!" Mari kak, mari kak." Mengambil secepat kilat dari tanganku. Aneh kenapa dia menang-menang terus! Memberikan gambaran kembali. " Kak, emat kakak, engga jago, ya!" Hahaha! Tawanya yang seakan mengejekku dengan wajah yang menyimpan misteri.
" Lagi kak!" Mengayunkan tangannya ke udara.
" Udah la dek, kakak engga mau lagi!" Menarik gambaranku yang terlihat menipis. " Kakak, takut kalah, ya!" Dengan tawanya yang begitu lucu melihatku. Huh! Aku mendengus kesal.
" Itu! Aku kasih lima untuk kakak. Kita main lagi ,ya!" Menatapku dengan senyum-senyum rahasia. " Engga! Tukar dulu emat mu." Menatap adikku tajam. Hari ini sepertinya ada yang mencurigakan. Seketika adikku terdiam. Wajahnya seperti orang kebingungan yang takut.
" Kenapa lihat-lihat kayak gitu?!" Kataku sebagai komplain atas diriku sendiri untuk adikku yang mencurigakan.
Kedua matanya pun terlihat begitu gugup. Reaksinya semakin tak menentu. " Sudahlah, kak! Kalau kita mau berhenti, berhenti saja." Katanya dengan tiba-tiba mengalah. " Hari ini aku mengalah sama kakak." Sambil menyusun gambarannya. Menyerah.
" Kenapa kau yang menyerah?" Sedikit penasaran. Sambil menarik gambaran yang dia gunakan tadi. " Jangan!" Menarik dengan cepat.
" Ini ematku, kak. Engga, boleh di pegang- pegang." Sedikit kesal.
" Masa engga boleh di pegang. Cuman lihat saja! Bukan di ambil." Diriku yang tidak terima.
" Sini !" Secepat kilat adikku mengambilnya. "Jangan!" Menolak tanganku. " Sini!" Beranjak dari dudukku. " Engga, engga boleh!" Mendekapnya dengan erat. " Ayo, sini! Kakak pengen lihat!" Menarik lengan adikku.
Seketika aku tersungkur kebelakang. Aku pun kalah. Sejenak aku duduk dan terdiam. Menatap adikku dengan lekat. Pikiranku ku pun bekerja mencari celah, kapan? Adikku akan lengah. Mataku menatapnya dengan begitu lekat tidak boleh melamun sedetikpun.
Tiba-tiba, Ha! Dapat !" Teriak ku dengan gembira. " Kak, sini!" Teriak adikku. Menarik lenganku. Aku mengambil gambarannya dan mengayunkan nya ke udara. Melihatnya dengan bolak -balik sambil mengangkat tubuh ku sedikit.
Melihat itu, seketika wajah ku pias. Ternyata! Huh! Mendengus kesal.
Plak!
Membuang gambarannya ke tempat tidur tepat didepan adikku.
" Ternyata kau curang!" Sorot mata yang tajam. " Emat mu ternyata, timbal balik sama gambarnya. Pantesan kau menang terus." Gerutu dengan kesal.
Hahaha! Tertawa dengan bahagia.
Seketika adikku terdiam karena melihatku yang tidak respect dengan tawanya. Wajahnya berubah merasa bersalah karena telah menipu aku.
" Kak maaf, ya!" Tersenyum.
Bersambung....
__ADS_1