
Aku pun begitu puas karena melihat pak Sukri telah diam menutup mulutnya. Buku beserta isi yang lainnya pun aku masukan kembali ke dalam tas dan mengancingnya.
"Saya sudah selesai, Pak," kataku bangun dan berdiri sambil menyandang tas.
"Hmm! Sekarang ambil keranjang sampah dan kutip semua sampah yang berserakan itu!" pinta pak Sukri.
Deg!
Glek!
Sorot mataku langsung melebar dengan detak jantung yang tidak beraturan. Menelan ludah dengan wajah yang pucat.
"Kenapa melihat saya ?" tanya pak Sukri menantang.
Refleks aku menjatuhkan pandangan lekas melihat tanah.
"Itu hukuman tambahan karena kamu tidak menyebutkan isi kota pensilmu," tandasnya dengan gamblang.
Huh!
Aku langsung menghela napas pelan bercampur lemas sambil mengurut dada melihat pak Sukri yang semakin senang bermain dengan ku. Pak Sukri memang benar- benar menguji kesabaran.
"Baik Pak," jawabku dengan berat hati.
Aku pun mengambil keranjang sampah yang terletak dekat pagar. Perlahan bercampur malas aku mengayun kaki dengan cara terpaksa berjalan membawa keranjang dan mengutip sampah yang berserakan sedikit akibat terembus angin.
Aku berjalan sambil melirik anak-anak yang mengisi barisan dengan rapi. Anak -anak terlihat berdiri di depan kelas mereka masing-masing dengan rapi.
Aku juga tidak lupa melirik barisan anak yang lain. Tepatnya barisan di mana adikku berada. Bola mata terus aku putar melihat sekeliling agar aku bisa menemukan adikku.
Selintas mata memandang, tiba-tiba terhenti tepat di tatapannya Fikri dan Widia.
Deg!
Aku semakin panik ketika mereka melihat aku yang tidak seperti biasanya. Lirikan mereka pun sesekali berputar naik turun melihat wajahku dan melihat tangan yang memegang keranjang.
Malu bercampur cemas inilah yang kurasakan saat ini, ketika terjebak di kedua mata sahabat yang melihatnya. Aku pun refleks memalingkan pandangan dari mereka lalu menunduk. Memutar badan berpura seakan mereka tidak mengetahuinya.
__ADS_1
Berjalan mendekati pohon yang paling banyak digugurin oleh daun-daun kuning dan hijau juga akibat kepakan sayap burung yang hinggap. Daun yang berserakan cukup banyak ini aku kutip sesuai perintah dari penjaga sekolah.
Aku pun menjatuhkan badan berjongkok di atas tanah sambil meletakan keranjang di sampingku lalu aku bergeser mengutipnya. Sehelai demi sehelai daun aku kutip lalu memasukannya ke dalam keranjang.
Keranjang hijau yang sedang, sekarang telah terisi oleh daun dan juga beberapa plastik jajan yang terselip di bawah pagar. Pagar sekolah yang bercat warna putih itu pun terlihat kotor sedikit karena sampah yang lengket karena tiupan angin.
Aku sangat serius mengutipnya sambil mendengarkan suara-suara teriakan keras dari pemimpin barisan. Suara keras itu seakan menajam melewati gendang telingaku.
"Liyan, sudah siap?" tanya pak Sukri. Berdiri tiba-tiba di sampingku.
"Sedikit lagi, pak," jawabku. Melirik ujung sepatunya.
"Bersihkan semuanya! Jangan ada yang ketinggalan satu daun pun, apalagi plastik," katanya menegaskan.
"Iya Pak," jawabku mengangguk bercampur rasa bersalah.
Aku sangat kesal sekaligus sebal hari ini karena ini adalah hari pertamaku masuk sekolah terlambat setelah sekian lama aku sekolah.
Sampah terus kukutip hingga satu pun tidak ada tertinggal. Hukuman ini adalah hukuman yang membuatku malu ketika aku bertemu pandang dengan Fikri dan Widia.
Sekilas mata memandang aku pun menemukan mereka berdua yang berbaris rapi di barisan pinggir sebelah kiri. Aku lekas menunduk menutupi wajah dengan ranting pohon yang sedikit menjulur ke bawah yang berdaun lebat. Perlahan demi perlahan aku bergeser menjauh dari penglihatan mereka.
"Liyan, kutip yang bersih!" teriak pak Sukri dari jauh.
Sontak aku terkejut melihatnya langsung. "Iya Pak," sahutku dari bawah pohon, mengutip daun dan sampah permen dengan sebelah tangan kanan, di ikuti oleh tangan sebelah kiri memegang keranjang sambil melirik pak Sukri yang berjaga di depan pagar.
Bapak ini tidak bosan-bosannya menegur dan mengingatkan berulang kali tentang sampah. Sampah yang tidak terlalu banyak pun membuat tubuh mungilku lelah juga.
Aku sangat miris melihat diriku hari ini. Aku pun bangun meninggalkan bawah pohon dan membuang sampah ke tempatnya. Lelah bercampur sebal pun sudah menguras tenaga dan pikiran. Sampah yang membuat jemari kotor tidak terlihat lagi di atas tanah. Bawah pohon pun sudah bersih.
"Sampahnya tidak ada tertinggal di keranjang 'kan?" tanya pak Sukri lagi dari jauh. Melayangkan sorot mata yang tajam.
"Tidak, Pak," jawabku meletakan keranjang sampah di tempat yang tadi yaitu, di pagar sekolah tepat di pos security pak Sukri.
" Sekarang saya boleh masuk barisan, Pak?" tanyaku dengan permintaan penuh harap.
"Belum bisa. Kau 'kan terlambat. Jadi, sesuai aturan kau harus berdiri di belakang barisan temanmu dan buat barisan baru," cetus pak Sukri dengan penuh penekanan memberitahu.
__ADS_1
Aku kembali lemas bercampur kecewa. Kening lalu berkerut ketat mendengarnya dan melihat barisan temanku dan tempatku yang harus berdiri di belakang mereka di barisan baru.
Pak Sukri memang menyebalkan hari ini. Dia terlalu mengikuti yang di perintahkan oleh aturan sekolah ini. Aku sangat benci melihatnya yang menghukumku berdasarkan peraturan dari sekolah.
Peraturan baru yang membuat aku malu dan asing karena berdiri sendiri di barisan sendiri. Aku pun mengayunkan kaki mendengarkan ucapan pak Sukri. Barisan yang akan kubuat ini akan mengabadikan namaku sebagai anak yang tidak baik. Itu terus saja berputar di pikiranku. Di dalam barisan yang aku bentuk saat ini.
Malu bercampur sesal pun aku menegakan kaki dengan lurus karena jika aku tidak melakukannya mungkin pak Sukri akan menghukumku lagi. Perlahan lirikan kuputar melihat pak Sukri yang berdiri di dekat pagar tepat jauh di belakang. Telinga pun dengan tajam mendengar tawa Tania dan Ecy. Tawa yang seakan penuh ejekan dan hinaan itu mengaung di udara bercampur angin yang berembus.
Sedikit demi sedikit aku mengalihkan pandangan dari pak Sukri melihat Tania dan Ecy setelah tawa mereka menembus gendang telinga.
Aku semakin pucat bercampur khawatir setelah melihat yang sebenarnya. Mereka berdua sangat senang menghina dan mencelaku, tatapan yang lekat menatap mereka sekan mengatakan itu dengan benar. Sesuai kenyataan selama ini itu memeng kualami. Jadi, aku dengan gamblang bisa langsung menembaknya.
Hari ini adalah awal aku mengikuti pelajaran setelah hujan yang kutempuh kemaren setelah pulang sekolah.
Perjalanan yang mengunjungi rumah Pudan masih membekas di ingatanku. Di mana itu adalah awal aku mendapat kebencian dari adikku.
"Barisan di bubarkan!" teriak Fikri yang selaku pemimpin barisan kami hari ini. Dia juga pun telah melihatku juga berjongkok dengan keranjang sampah. Berjalan ke sana kemari menyeret keranjang mengutip sampah.
"Liyan, kau kenapa berbaris di situ?" tanya Rasyd tercengang.
"Aku tidak tau harus baris di mana?" kataku menatap Rasyd bertanya. Menyembunyikan darinya.
Widia refleks memutar kepala setelah mendengar suaraku. "Liyan, 'kan terlambat," ucap Widia spontan.
Aku langsung menganga mendengarnya. Aku tidak terpikir kalau Widia semudah itu mengatakannya. Aku pun langsung melebarkan bola mata melihat mereka sekaligus. Rasyd sama seperti aku. Dia mendadak tercengang bercampur tidak percaya. Sementara Tania dan Ecy selekas mungkin memutar lirikan ke arahku.
Aku langsung pucat bercampur shock ketika kedua bola kata kami bertemu pandang.
"Mereka pasti akan mengejekku," gumamku pelan berbisik pada udara kosong.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1