
Rasanya aku bagaikan baru menyelesaikan langkah yang di penuhi oleh rintangan yang berat. Lega serasa hati ini seakan aku baru terlepas dari ikatan yang membelenggu diriku dengan kuat.
Ibu yang telah meninggalkan aku selama ini serasa hadir di hadapan tersenyum menatapku dengan bahagia. Seolah aku lagi berdiri bersama dengannya.
"Liyan! Ibu tidak menyangka kalau kamu begitu pandai menulis puisi. "Ucap Bu Dona. Memutar badan menatapku yang masih berdiri.
"Terimakasih Bu." Jawabku. Menarik sedikit bibir.
"Kamu tidak salah nak selama ini kamu mendapat juara. Lanjut Bu Dona dengan bangga. "Bahkan dari gerakan, mimik wajah kamu begitu dalam menghayati puisimu. Menatap bukuku.
Seketika aku hanya diam menatap Bu Dona dengan senyum dan menunduk sesekali.
Sebenarnya aku sedih. Entah kenapa? Belakangan ini aku mengingat tentang Ibuku. Wajahnya seakan hadir di hadapan, meskipun aku tidak pernah mengenalnya. Ia bagaikan malaikat yang menjagaku saat ini. Menemani setiap langkah dari kegundahan, apalagi di saat-saat Ecy dan Tania membullyku.
Puisi yang aku baca serasa telah mewakili semua keluh kesah di dalam jiwa. Wajah pucat yang selama ini bersedih kini terlihat sumringah dengan tulus.
"Bu! Emang puisinya Liyan bagus?! Menurutku biasa saja, Bu." Ucap Tania dengan wajah yang menunjukan tidak senang. Wajah sinisnya begitu masam melirikku.
Mendengar suara dari Tania seketika Bu Dona mengangkat kepala melihat ke arah sumber suara yang begitu menggetarkan hati. Rasa sayatan tipis kini menggores di hatiku yang pilu.
"Tania! Jangan mengejek temanmu, ya! Kamu belum tentu baik dari dia." Pekik Bu Dona dengan tegas. Mendelik.
Sekatika Tania menunduk dan menutup mulut. Ia terlihat begitu malu dengan Bu Dona dan begitu kesal melihatku.
Huuuuh! Teriak seluruh murid terhadap Tania.
"Anak-anak sudah! Jangan ribut kerjakan kembali tugas kalian, cepat !" Perintah Bu Dona dengan suara keras. Menatap seluruh murid.
Seketika mereka terdiam menunduk menatap buku.
"Liyan, silahkan duduk !" Perintah Bu Dona dengan nada suara datar. "Ini puisi buatan kamu sendiri ?" Tanya Bu Dona ingin tahu. Melihat bukuku seakan Bu Dona sedang membaca puisiku, bait perbait dengan tatapan yang yang dalam.
"Ia Bu!" Jawabku dengan mengurungkan kaki untuk melangkah. Berdiri diam sejenak. "Saya sendiri yang mengarangnya ,Bu." Lanjutku.
"Saya tidak menyangka! Padahal kamu 'kan sudah lama tidak sekolah! Tapi kamu bisa menyelesaikan puisi..." Seketika Bu Dona diam sambil mengangguk pelan. "....di mana kamu menulisnya ?" Tanyanya dengan wajah penasaran seakan Bu Dona masih menaruh kecurigaan. "Kapan ini kamu tulis ?" Tanya Bu Dona menatap bukuku dengan isyarat menunjuk dengan kedua bola mata.
"Tadi Bu! Di kelas." Jawabku. Memutar pandangan melihat kebawah lalu kemudian kedua bola mataku mengarah ke Widia dan Fikri dengan wajah sedikit ketat, seperti orang yang terbelenggu.
Widia, Fikri dan aku pun bertemu pandang. Mereka begitu terlihat membeku dan diam seakan mereka ingin menarik bibir, meskipun dengan berat.
"Di kelas? Barusan." Sambung Bu Dona dengan terperanjat. Bu Dona begitu terperangah seakan ia tidak meyakini semua.
Tatapannya begitu dalam menatapku. Ia begitu kagum melihat dan mendengar apa yang barusan ia dengar.
Tampil di depan bersama tanya jawab yang di layangkan Bu Dona terhadapku, berasa aku duduk di kursi panas.
Di tengah kelas yang hening. Mengajak aku untuk tetap bertahan di hadapan Bu Dona yang masih ingin mencari tahu lebih dalam tentang diriku. Rasanya, tubuh lemahku ini ingin menyerah dan mundur. Namun, aku tidak bisa berbuat sesukaku. Semau berjalan sesuai kendali dari Bu Dona. Aku yang hanya seorang murid yang jarang masuk harus tetap bertahan. Apapun yang di tanya oleh Bu Dona dariku. Sekalipun pertanyaannya harus berlanjut sampai bel pulang.
Mungkin ini menjenuhkan untukku tapi tidak untuk temanku. Mereka begitu ingin aku berlama berdiri di depan.
"Bu Liyan! Masih lama berdiri di depan?" Tanya Solihin. Mengangkat tangan dengan sikap yang rileks.
Seketika Bu Dona tersentak, ia tidak percaya dengan Solihin yang begitu rileks menyela pembicaraannya. "Solihin diam di bangkumu! Jangan menyela pembicaraan saya dari bangkumu!" Seru Bu Dona dengan nada suara meninggi dengan penuh penekanan.
"Baik Bu! Maaf" Jawab Solihin. Merasa bersalah dan menunduk.
"Kenapa kamu begitu memperhatikan Liyan?" Tanya Bu Dona kembali. Menatap Solihin. "Apa yang mau kamu beri ?" Tanya Bu Dona.
Seketika Solihin memasang wajah memerah dan malu. Dia hanya diam menatap buku seakan ingin berteriak.
"Apa kamu ingin menuntun Liyan duduk ke bangkunya ?" Tanya Bu Dona. Menggelitik wajah ketatnya.
Solihin dan seluruh murid pun, terkhusus aku tersentak dengan refleks. Solihin mengangkat kepala dengan gurat wajah tidak percaya, setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh Bu Dona. Begitu juga dengan ku dan yang lain kami begitu terlihat seperti orang yang bengong, terkhusus untuk diriku sendiri.
Hahahaha ! Tawa Tania dan Ecy.
"Bu mungkin seperti itu! Liyan 'kan penyakitan! Mungkin Solihin takut kalau Liyan jatuh pingsan." Sambung Tania dengan ejekan. Menutup mulut dengan tangan dan wajah yang gemilang karena telah mengatakan itu terhadapku.
Seketika aku rasanya ingin terhempas. Tubuh lemah yang mencoba berdiri dengan kuat kini serasa tak berdaya bagaikan terkena lemparan batu yang keras.
Sementara Bu Dona begitu malu mendengar apa yang di bilang oleh Tania. "Tania! Mungkin Liyan memang masih dalam kondisi belum sehat. Tapi bukan berarti kita yang sehat mengatakan hal-hal yang membuat seseorang bisa sedih. Itu perbuatan tercela. Liyan memang sakit tapi dia masih bisa untuk sekolah dan menyelesaikan puisi dan juga tampil di depan dengan penampilan yang terbaik." Ucap Bu Dona dengan sebuah nasihat yang tegas. "Ingat nak, siapapun orangnya, mereka tidak ada yang ingin sakit. Benarkan Liyan? Apa kamu ingin sakit" Tanya Bu Dona. Memutar kepala menatapku sambil mendengar jawaban dari diriku sendiri. Apakah pertanyaan itu benar atau tidak?
"Ia Bu." Jawabku dengan menggelengkan kepala. "Liyan tidak ingin sakit, Bu." Lanjutku.
Seketika air mata menganak di pelupuk mata yang berusaha aku tahan untuk tidak jatuh membasahi lantai. Aku menunduk menahan bibir pucat ini untuk bergetar.
"Dengar! Jangan pernah kalian mengikuti apa yang di katakan oleh Tania barusan. Jangan ada dari kalian yang mengejek teman kalian yang sakit!" Balas Bu Dona dengan penuh penegasan. "Jika, sampai saya mendengarnya! Saya akan mengurangi nilai kalian!" Lanjut Bu Dona.
__ADS_1
Seluruh murid hanya terdiam mendengar nasihat dari Bu Dona. Mereka menunduk malu.
Hatiku yang terkena lemparan keras, refleks membawa kepala menunduk malu melihat diriku sendiri sambil menggigit bibir pucat dengan pelan.
"Liyan! Silahkan duduk, nak!" Ucap Bu Dona. "Apa kamu menangis?"Tanya Bu Dona dengan sendu.
"Tidak Bu." Jawabku mengangakat kepala.
Melihat Bu Dona yang memutar badan menghadap ke arahku. Membuat aku harus bisa menetralkan suasana hati yang sedih dengan pancaran sinar wajah yang gemilang.
"Baguslah! Temanmu mungkin belum begitu mengerti mana yang baik untuk di sampaikan ataupun tidak!" Sambung Bu Dona. Menarik Bibir dengan wajah yang terlihat begitu memberikan semangat untukku.
Seketika aku langsung memutar badan berjalan dengan mengayunkan kaki dengan perlahan menuju bangkuku. Wajah yang tadi di selimuti dengan rasa sendu menatap lurus ke bawah melihat kaki yang melangkah menginjak lantai.
Di tengah aku berjalan, Bu Dona kembali memanggil murid berikutnya yang akan tampil. Dari belakang aku mendengar Bu Dona memanggil Tania. Seketika aku terperanjat dan menghentikan langkah mengangkat sedikit kepala melihat Tania dengan lirikan yang kecil. Aku merasa, bahwa Tania tidak tahu kalau aku meliriknya.
Ia terlihat begitu gugup dan gelisah. Aku melihat dari gurat wajahnya yang kacau kalau ia belum selesai.
"Bu saya belum selesai." Ucap Tania dari bangku. "Bu! Yang lain saja kenapa, Bu?" Pinta Tania dengan mengajukan pertanyaan terhadapku Bu Dona. Memohon, secara tidak langsung Tania memberikan perintah agar Bu Dona memanggil yang lain.
"Apa kamu belum selesai?" Tanya Bu Dona. Menatap Tania.
"Ia Bu." jawab Tania spontan. "Saya baru sedikit Bu." Keluh Tania dengan lirih.
Bu Dona begitu terlihat sedikit bingung dengan wajah yang di penuhi dengan tanda tanya. "Saya lihat kamu dari berbicara." Balas Bu Dona dengan sedikit tidak percaya kalau Tania belum selesai. Bu Dona pun menghela napas seakan ia kecewa terhadap Tania. "Baiklah." Ucap Bu Dona dengan nada suara datar.
Widia pun menggeser sedikit posisi duduknya agar aku bisa masuk. "Liyan! Selamat, akhirnya kamu sudah selesai dengan puisi." Ucap Widia. Menatap meja dengan sendu. Widia terlihat tidak begitu semangat dan di selimuti ketakutan sehingga membuat ia merasa tidak tertarik.
"Ia Widia! Aku jadinya tidak memikirkan tentang puisi lagi, sudah kelar." Jawabku dengan rileks.
Sepertinya Widia begitu kesal dengan jawaban dariku, mungkin ia berpikir kalau aku secara tidak langsung menyindir.
"Widia, kamu kenapa?" Tanyaku ingin tahu. Menatap Widia.
Sementara Bu Dona dari depan sedang memanggil beberapa murid untuk tampil namun, lagi-lagi mereka mengatakan kalau mereka belum selesai.
"Bu! Kami belum selesai, Bu. Masih banyak lagi, Bu." Keluh mereka dengan rintihan yang menyesakan jiwa.
"Kalian ini pasti bermain, 'kan? Mengerjakannya?" Tanya Bu Dona. Jangan sampai saya berdiri dan berjalan ke meja kalian masing-masing, ya!" Pekik Bu Dona dengan sedikit keras penuh penekanan. Memainkan pena di atas meja.
Seketika aku dan Widia pun diam mendengar suara Bu Dona.
"Tidak Liyan!" Keluh Widia. "Aku masih takut. Aku tidak seberani dirimu." Rintihnya. Menatap dengan sendu.
"Kalau begitu selanjutnya..." Bu Dona memutar kepala ke arah barisan meja kami.
Seketika aku dan Widia pun diam menutup mulut.
"....kamu Fikri!" Seru Bu Dona. Menatap dengan penuh keseriusan.
Huh! Widia terlihat menghapus dada dengan refleks. Ia langsung menghembuskan napas seakan memberi isyarat sebagai kebebasan. Wajahnya seketika terlihat seperti terlepas dari sebuah belenggu yang kuat mengekang.
"Baik Bu." Jawab Fikri dengan nada suara berat. Bangun dari bangku sambil menarik buku yang terletak di atas meja sambil melirikku, lalu kemudian memutar kembali kepala.
Fikri pun terlihat berjalan dengan langkah gontai, seakan ia begitu malas untuk menginjak kaki ke lantai.
Bersama puisi, ia tampil ke depan setelah aku. Ia pun memberikan buku kepada Bu Dona.
"Ini Bu." Ucapnya sambil menyerahkan buku.
"Apa puisimu bagus?" Tanya Bu Dona dengan sedikit candaan terhadap Fikri.
"Bu! Puisinya pasti bagus sekali itu, Bu! Hahaha!" Rasyd terlihat bahagia dan tersenyum melemparkan candaan yang membuat menggelitik dirinya sendiri hingga tertawa kecil. Kemudian ia menunduk dengan rasa sedikit bersalah yang tidak ingin ia akui sebenarnya.
"Rasyd! Kenapa kamu berani bersuara dari belakang? Siapa yang menyuruhmu? Jangan salah 'kan saya, kalau kau ulangi lagi akan saya beri hukuman." Pekik Bu Dona. "Jangan ada yang bermain-main, ya! Selagi saya masih mengajar. Tandasnya. " Fikri, cepat lanjutkan!" Perintah Bu Dona dengan tegas. Menatap buku Fikri.
"Baik Bu." Jawab Fikri dengan suara sedikit berat dan pelan.
Ehm! Fikri pun berdehem dengan gayanya yang sok, cool.
Seolah-olah ia terlihat seperti orang yang sedang mengatur nada suara dengan netral.
"Bu! Tapi saya belum hapal semua, Bu." Ucap Fikri kembali dengan sedikit di selimuti ketakutan. Melempar pandangan ke arah yang lain.
Dari bangku aku begitu tergelitik melihat tingkah Fikri yang serasa aneh hari ini. Aku dan Widia pun begitu takjub menatapnya seakan kami sedang menonton pertunjukan sircuss .
Bibir pucatku seketika tertarik dengan refleks. Wajah yang tadi di selimuti duka oleh ucapan Tania kini gemilang kembali.
__ADS_1
"Fikri apa lagi, baca!" Seru Bu Dona. "Jangan buat tingkahmu di sini! Tidak laku sama saya, saya hanya ingin mendengar puisimu bukan melihat tingkahmu, ayo cepat!" Pinta Bu Dona. Mengayunkan tangan dengan kecil ke udara sebagai isyarat memaksa Fikri.
Kami begitu tertawa kecil melihat Fikri yang terlihat mati gaya di depan Bu Dona.
Dengan rasa percaya diri yang besar, Fikri pun mulai membaca puisi yang telah ia tulis dengan perlahan.
Petualang
Petualang kau adalah inspiratif
Dari setiap perjalanan kau memberi wawasan
Menatap sisi lain dunia
Membuat jejak di segala penjuru
Kau mengispirasi generasi muda
Keluar dan menjelajah dunia dengan berani
Kau memberikan kisah dari setiap perjalanan
Kau memberi motivasi dalam setiap perjalanan
Kau memberi kejutan kadang manis dan kadang pahit
Kau memberi kadang kalah dan kadang menang
Kadang kau memberi masa depan dengan jiwa yang besar
Tapi bagi petualang sejati semua memberi hikmah
Bibir pucatku seketika tertarik dengan lebar, seakan aku tidak pernah merasakan kepahitan hidup.
"Sudah Bu." Ucap Fikri. Berdiri menatap Bu Dona dengan kebanggaan tersendiri.
"Itu puisimu?" Tanya Bu Dona.
"Ia Bu." Jawab Fikri dengan wajah yang di selimuti rasa curiga atas pertanyaan Bu Dona.
Fikri terdiam menatap sorot mata Bu Dona yang begitu dalam, menatap dirinya dari kepala sampai kaki dan dari kaki sampai kepala. Ia begitu terlihat penasaran akan dirinya sendiri, apakah ia telah melakukan kesalahan ataukah tidak?
"Liyan! Coba kau lihat Bu Dona menatap Fikri." Ucap Widia. Menepuk pundakku pelan.
"Ia Widia. Sepertinya Fikri ketakutan." Sambungku.
Aku dan Widia pun menatap Fikri dengan rasa begitu khawatir.
"Fikri puisi ini cocok untukmu." Ucap Bu Dona. "Yang tertuang di dalam puisi ini sama seperti dirimu, ya 'kan?" Tanya Bu Dona dengan penuh penekanan. "Kau memang tidak salah menulis puisi sesuai dengan karaktermu!" Canda Bu Dona tegas. "Suka berpetualang. Dari keseluruhan murid saya, kaulah yang paling sering berpetualang di luar kelas." Lanjutnya dengan gurat menyimpan tawa lucu.
Hahahaha! Seketika tawa pun pecah dari Rasyd setelah ia mendengar penyampaian Bu Dona tentang Fikri.
"Ia Bu. Benar." Sambung Rasyd dari belakang.
Seketika aku terdiam seperti orang bodoh begitu juga dengan Widia. Kami tidak pernah membayangkan itu akan terjadi. Sementara
Septiani dan Solihin terlihat bersikap lain mereka terlihat membantu Rasyd dalam meledek Fikri.
Fikri yang masih di depan terlihat rileks dan tenang karena ia tidak pernah menganggap semua jadi masalah besar yang menimpanya.
Teruntuk Bu Dona, ia juga sering terlihat melakukan candaan terhadap Fikri. Fikri dan Bu Dona juga sering terlihat bersama karena Fikri adalah ketua kelas.
"Ya sudah Fikri, silahkan duduk!" Perintah Bu Dona. Memutar kepala melihat buku Fikri dengan lekat.
"Terimakasih Bu." Jawab Fikri. Berjalan.
Fikri pun melangkah dengan mengayunkan kaki duduk di bangkunya. Wajahnya terlihat begitu rileks.
.
.
.
Terimakasih teruntuk teman-teman yang telah memberi like, komentar dan favoritnya.🥰🤗🙏
❤️❤️❤️
__ADS_1
Bersambung.....