Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Penyesalan


__ADS_3

Ayahku langsung merendahkan nada suaranya dan melihatku yang teronggok di sudut dinding. Betapa hatiku bersedih ketika mendengar suara ayahku yang meninggi.


Tanpa basa basi, ayahku mendekatiku sambil memelukku erat dengan kasih sayangnya dengan segera aku pun bangun meninggalkan tempat itu.


"Ayah, Liyan takut mendengar suara keras," ungkapku.


"Maaf 'kan Ayah ya, Nak. Ayah begitu mudah sekali mengeluarkan suara keras kalau lagi emosi," tutur ayahku.


"Lain kali, kau itu harus bisa merubahnya. 'Kan kasihan Anakmu, seperti orang yang ketakutan terduduk di sudut itu," sambung ibu sambung kami yang sibuk dengan sapuannya.


Ayahku begitu sedih melihat putri kesayangannya yang belum pernah merasakan kebahagiaan yang penuh. Tatapan ayahku terlihat begitu memilukan. Guratan kesedihan terlihat jelas bersama usianya yang sudah tidak muda lagi.


Pelukan hangatnya menentramkan jiwaku. Depresi ketakutanku pun berangsur menghilang kini. Sementara, adikku yang menjadi pusat kekesalan ayahku hanya melihat dalam kebisuan. Dia menggenggam erat uang yang tadi di buangnya ke lantai.


Tanpa setengah keceriaan dia belum juga memberanikan diri beranjak. Dia begitu sungkan mendekati ayahku saat ini, tidak seperti biasanya, dia yang selalu langsung merengek pada ayahku ketika ayahku menegurnya atau pun memarahinya.


"Ana!" panggil ayahku yang tidak kuasa melihat adikku menangis. "Kemari lah, Nak!" pinta ayahku memanggilnya.


Adikku pun langsung berjalan dengan wajah sedihnya yang masih di tekuk. Sementara, di dalam kesibukannya, ibu sambung kami menyempatkan diri mencoba mendekati adikku.


"Kau masih menangis?" tanya ibu sambungku melihat adikku sambil membungkukkan badannya setengah di udara.


Adikku diam, dia sama sekali tidak menggubris atau pun mengangkat kepalanya ke atas melihat yang menyapanya. Namun, adikku hanya menggeleng memberi jawaban, kalau dia tidak menangis lagi.


"Liyan, pergi bujuk adikmu!" pinta ayahku memohon kemurahan hatiku agar membuat adikku kembali tersenyum.


"Aku tidak berani Ayah," kataku berdiri mematung. "Hanya Ayah yang bisa mendiamkannya," sambungku.


"Kau itu harus belajar, Nak, untuk membujuknya. Jangan Ayah terus. Iya, kalau Ayah masih ada," cetus ayahku membuatku terdiam. "Kalau Ayah nanti sudah tidak ada, bagaimana?" lanjut ayahku.


Aku refleks teringat ke ibuku yang seperti di katakan ayahku. Sepintas anganku mengingatnya. Tidak bisa terbayangkan olehku jika sampai tiba saatnya ayahku pun pergi meninggalkan kami.


Segelintir kasih sayang pun akan hilang. Sekelumit suara ayahku tidak akan pernah lagi terdengar. Bayangannya pun dalam mendidik kami tidak lagi ada.


"Ayah, jangan bilang begitu, kalau Ayah nanti tidak ada, lantas kami nanti sama siapa ?" tanyaku memilukan.


Ayahku seketika terdiam mendengar pertanyaanku. Dia lalu menunduk, sepatah kata pun tidak lagi terdengar dengan jelas.


"Iya, Ayah salah bicara. Jangan di pikirin yang Ayah katakan tadi, Nak," ucap ayahku melupakan semua yang telah di bilangnya. "Sekarang panggil Adikmu! Bawa kemari." Ayahku kembali masuk.

__ADS_1


"Iya Ayah," balasku menghampiri adikku.


"Ana!" Aku langsung memanggilnya.


"Ha!" Adikku refleks terkejut wajahnya yang di tekuk langsung pucat.


"Ada apa Kak," jawab adikku dengan nada suara lirih.


"Kau di panggil Ayah," kataku menatap adikku dengan sedih.


"Engga mau." Adikku memutar badannya.


"Kenapa?" tanyaku pura -pura tidak tahu.


"Ayah 'kan tidak suka lagi melihatku. Padahal aku tidak membuat kesalahan," cetus adikku yang tidak mau mengakui kesalahannya.


"Sekarang kita mari menemui Ayah dulu," ajakku dengan lembut.


"Tidak! Aku tidak mau," sanggah adikku ngambek melepaskan genggamanku.


Serrr!


Perlahan aku pun menunduk dan memutar kepala melihat ayahku yang melihat sikap adikku juga. "Liyan, kemari lah, Nak!" seru ayahku yang telah berubah sedikit tidak menuntutku lagi mengenai sikap adikku yang cenderung lebih manja dan mau menang sendiri.


"Ayah. Ana kalau sudah ngambek itu bisa berhari-hari," ucapku mengingatkan ayahku tentang kebiasaan adikku.


Dari tempat yang tidak jauh ibu sambung kami menimpaliku dari belakang. "Biar 'kan saja! Lagian mau sampai kapan? Dia terus di bujuk. Sebentar lagi dia akan dewasa. Nah, kalau nanti dia tidak mempunyai orang-orang yang sayang samanya lagi. Siapa yang akan dia harapkan untuk memanjakannya?"


"Iya, kau benar," sambung ayahku. "Tapi, ini 'kan dia masih kecil. Masih SD lagi. Mana mungkin dia di tuntut untuk bisa semandiri itu," sangkal ayahku langsung.


"Cek, cek, cek! Aku tidak habis pikir denganmu." Ibu sambungku berdecak. "Kau bilang si Ana itu masih kecil dan tidak mungkin mandiri. Lalu bagaimana dengan Anakmu yang satu lagi si Liyan? Kulihat kau memaksa dia untuk mandiri, bahkan paksaanmu itu di luar nalar terkadang," lanjut ibu sambung kami protes.


"Jangan sama 'kan Ana dengan Liyan," bantah ayahku menguak. "Liyan dan Ana itu berbeda. Ana itu masih kecil, kalau Liyan, dia itu Anak pertama yang punya tanggung jawab yang besar terhadap adiknya dan keluarga ini," sungut ayahku yang terlalu menuntutku agar bisa mandiri selagi masih kecil.


"Apa bedanya Anak pertama dengan Anak kedua? Toh, mereka 'kan sama-sama masih kecil," ungkap ibu sambung kami melihat ke belakang bertanya.


Ayahku langsung melempar pandangannya keluar dan dia tidak lagi berkutik. Aku yang duduk di pangkuan ayahku kini menunduk diam menutup telinga. Suara- suara yang memenuhi pendengaranku mencakar- cakar aku yang masih kanak-kanak.


Huhuhuhu!

__ADS_1


Sementara, adikku menangis dengan sejadi-jadinya. Suara sedihnya terdengar sangat melelehkan jiwa ayahku. "Sedih rasanya Ayah mendengar tangisan adikmu," gumam ayahku pelan.


Sekedip aku mendongak melihat ayahku. "Kalau begitu Ayah bujuk saja Ana supaya dia diam, Yah," desakku yang tidak kuasa juga mendengar tangisan adikku.


Gurat wajah ayahku terlihat bimbang. "Biarkan saja! Nanti dia pasti diam sendiri?!" sahut ayahku menolak dengan tegas.


Aku lalu bergeming sambil mendengarkan tangisan adikku yang manja. Pintu kamar yang tergerai dengan rapi. Di balik itulah terdengar tangisan adikku yang sedih.


Kenapa tidak? tanyaku pada diriku sendiri. Adikku yang selama ini selalu di manja, bahkan ayahku setiap saat mendahulukan keinginannya duluan. Tiba-tiba, hari ini kejutan menimpanya dengan seonggok ocehan ayahku yang menusuk relung hatinya hingga melebarkan sayap kesedihan yang membuat aku terpaku menunduk.


Begitu besar sekali rasa sedih adikku hari ini. Aku pun bangun dari pangkuan ayahku menghampiri adikku yang seorang diri. "Dek, sudah! Jangan menangis lagi," kataku mengusap air mata adikku.


Huhuhu ! Tangisnya menjerit semakin sedih, segugukan pun terdengar memecah ruang kamar yang sunyi. Air mataku pun ikut terjatuh tanpa kusadari telah membasahi pipiku.


Bibirku begitu getir. "Dek, Ayah itu tidak memarahimu. Jadi kau tidak usah menangis. Ayah hanya menegurmu," bisikku di telinga adikku.


"Ayah tidak sayang lagi padaku, Kak," ucap adikku dengan mata berkaca-kaca. "Ayah tidak pernah memarahiku, tapi belakangan ini Ayah sudah sering memarahiku," lanjutnya dengan suara getir. "Kakak tahu... ?"


"Hm! Apa?" tanyaku yang duduk di samping adikku meliriknya.


"Kalau Ibu masih ada, pasti aku tidak akan di marahi?!" tutur adikku menahan tangis.


"... dan Kakak juga pasti tidak akan sakit?!" Adikku melihatku. "Dan pasti, sakit Kakak akan cepat sembuh?!" sambung adikku kembali menatap dengan kosong.


Lamunan pun menyelimutiku sepintas. Kata-kata adikku barusan menyentuh relung hatiku yang pilu. "Ibu," gumamku. Pikiranku pun sepintas teringat seakan aku melihat wajahnya yang seolah -olah pernah kulihat menari-nari di mataku yang sayu.


"Ibu. Kau mengingatnya?" tanyaku ingin tahu. "Bagaimana kalau Ayah tahu? Kau lagi menangisi Ibu?" Padahal Ayah sudah pernah bilang, kalau Ibu sekarang sudah ada di surga. Ibu sudah bahagia di sana. Dia tidak lagi mengingat kita, bahkan Ibu juga tidak mau melihat Kakak yang sedang sakit. Bagaimana kau bilang, kalau Ibu itu sayang pada kita?" Aku terus berbicara hingga adikku memutar badan menatapku. "Kau tahu? Kalau Ibu sayang pada kita, dia tidak akan meninggalkan kita," ucapku sedikit menyesali kepergian ibuku yang terlalu cepat.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung...

__ADS_1



__ADS_2