Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Ibu tiriku Pingsan


__ADS_3

"Aku tidak mengerti melihat kakak itu."


"Kakak yang mana?"


"Yang itu,tu!"Menunjuk ke arah Ibu sambungku.


"Dia itu memang aneh. Setiap hari selalu bertengkar tidak dirumahnya, sama tetangga pun demikian,nanti pura-pura pingsan lagi,apa abang itu tidak makan hati, ya?"Tetangga yang lain.


"Ia kan, kalau aku sih ogah mau berdekatan dengan orang yang begituan, serbasalah! Pokoknya."Tetangga yang satunya lagi.


"Tapi kasian juga, melihat si Liyan."


"Kasihan kenapa?"


"Ia terkadang dia berantam dan pingsan. Pas si- Liyan bersamanya. Masih anak kecil soalnya!"


"Ia,ya."


Mereka pun, menatap muka satu sama lain. Sambil melihat ke arahku sesekali. Mendengarnya aku hanya diam.


Ayahku yang tidak ada di rumah. Pada saat kejadian dia pingsan semua pada kebingungan. Termasuk aku dan tetangga kami. Mereka tidak tahu ntah, mau berbuat apa. Sementara, menghadapi kejadian yang seperti, ini mereka tidak pernah bahkan baru kali ini mereka hadapi.


Aku yang masih kecil tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, aku hanya bisa melihat dia yang terbaring kaku dan tegang.Ya,karena sekujur tubuhnya tidak bergerak bahkan tangannya pun kalau di lipat tidak bisa.


"Aneh!"Kata tetangga.


"Ia, ya,tangannya aja tidak bisa di apa-apain keras banget seperti kayu."


Sementara, Ayahku yang bekerja menarik becak diluar sana. Dia tidak tahu ntah, apa yang terjadi dirumah.


Lain lagi dengan adikku yang sibuk bermain. Sebagai, rutinitasnya sehari-hari tidak mengetahui apa yang terjadi.


Kalau pun, dia tahu. Aku yakin, otomatis tetangga kami tidak akan membiarkan dia masuk.Karena dia masih terlalu kecil dariku.


"Si Ana mana?"


Tetangga yang berkata mengarah kepada aku.


"Main-main Bu."


"Biarkan saja dia bermain,tidak usah di panggil!"


"Eh, kamu tahu gak capek banget tadi mengangkat dia dari sana kemari,berat!"


"Namanya juga pingsan!"


"Tapi suaminya belum pulang, ya?"


"Bagaimana nanti kalau dia pulang dan melihat ini?"


"Pasti terkejut."


Merekapun menganggukkan kepala satu sama lain.


"Eh,kayak mana ini! Kita obati la."


"Diobati !"


Aku melihat begitu banyak orang yang berkumpul di rumah kami.Mereka masing-masing berkelompok dan berbicara satu sama lain.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


Terlihat salah seorang masuk ke dalam rumah ku dengan membawa orang pintar yang tidak lain,pastinya dukun! Aku melihat dari penampilannya.


Dia pun berjalan bersama dukun itu masuk kedalam rumah dan menghampiri Ibu sambungku yang sedang terbaring kaku.


"Mana suaminya?"


Tetangga kami pun, salah seorang menjawab pertanyaan sang dukun.


"Kerja."


"Engga bisa di panggil."


"Bagaimana mungkin bisa di panggil. Suaminya saja kerja membawa becak. Mau kemana kita mencarinya."Dengan ketus.


"Anaknya?"Dukun


"Ini anaknya ha!"Menunjuk ke arahku.


Mmm! Menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dia pun mulai melakukan aksinya sambil membaca mantra di mulutnya sambil komat kamit.


Di sepanjang hari aku yang berada sendiri dirumah ketakutan melihat kejadian yang ku hadapi. Namun, aku harus tetap bertahan. Sementara, Ayahku yang belum pulang dia tidak tahu apa-apa.


Lain lagi dengan adikku yang jauh permainannya. Dia tidak mengetahui kejadian hari ini. Seperti, apa diriku disini sendiri?


Menanti kedatangan salah seorang dari mereka menjadi temanku disini.Namun, aku tahu itu semua hanya harapan kosong ku saja.


Karena sepanjang waktu yang aku hadapi hanya, berteman dengan bayanganku saja.


"Dimana kau mendapatkan dukun itu?"


berdiri di pojok dinding kamar.


"Darimana kau tahu? Padahal sudah lama kami di sini,kami tidak pernah tahu."


"Ia mana mungkin kita tahu. Kita kan tidak pernah menghadapi yang seperti ini!"


"Kalau abang itu pulang. Pasti dia terkejut."


"Jelaslah! Apalagi,dilihatnya ada rame-rame,pastilah terkejut."


Tetangga kami pun silih berganti membicarakan Ibu sambungku yang terletak tidak berdaya.


"Apa ini yang di buat-buatnya? Biar ribut kita semua disini,getar -getir."


"Ntahla, aku pun bingung."Kata yang satu.


Dukun itu pun reaksinya semakin lama semakin ngeri kulihat. Seluruh tubuhnya bergerak-gerak gemetaran dengan kedua tangannya diatas dengan mulut komat-kamit tidak karu-karuan. Ntah, kemana arah duduknya bergeser kesana kemari.Hahaha aku lucu melihatnya.


Hari yang sudah hampir mau Dzuhur. Orang-orang pun pada bertanya-tanya apa yang terjadi. Kenapa tidak sadar-sadar?


Sudah hampir setengah hari bahkan, sang dukun pun kulihat hampir menyerah.


"Bagaimana pak? bisa?"


Dukun itu pun menghela napas panjang dengan keringat yang bercucuran di pelipisnya yang menetes sampai ke pipinya. Membasahi seluruh wajahnya sehingga tertutup air.


Baju yang tadinya kering kini basah seperti baru di cuci.


"Ia, bagaimana ini?"

__ADS_1


"Ini tadi gara-gara apa, makanya seperti ini?"


Meraka yang berdiri berkerumun di depan pintu


mulai tuding-tudingan satu sama lain.


"Ada apa ini?"


Terdengar suara seseorang di balik kerumunan.


Mendengar suara itu sontak merekapun terkejut dan melihat kearah belakang mereka.


Ayahku!


Mereka pun terdiam saling menatap satu sama lain. Wajah yang satupun terlihat pucat dan memberi isyarat bahwa dia yang bersalah. Tingkah lakunya pun, tidak karu-karuan seakan dia yang membuat masalah ini.


"Ada apa ini!"Ayahku


Ayahku langsung menerobos kerumunan orang yang mengelilingi rumah kami.


Dia pun, masuk kedalam dengan memegang belanjaan yang didalam plastik. Melihat Ibu sambungku yang terbaring dia pun lemas tak berdaya.


Ayahku melihat seseorang yang berjalan kesana kemari mengelilingi ibu sambungku. Berputar -putar seperti, Sya'i yang mengelilingi kakbah.


Ayahku pun, diam melihat kejadian ini. Di tatapnya lekat wajah Ibu sambungku dan berjalan mundur kebelakang dengan tergopoh-gopoh.


Tuk!


Terduduk di kursi dengan belanjaan yang masih di pegang.Tubuhnya yang kurus lemas seketika dan tidak berdaya karena melihat istri yang dinikahinya ternyata, mudah sekali pingsan.


Mulut dia pun, terkatub tanpa suara. Wajah lelahnya masih bersinar terlihat.Bola matanya terus berjalan. Mengikuti orang-orang yang bergerak mendekati Ibu sambungku. Bekerja bagaimana caranya? Agar ibu sambungku cepat sadar."


"Kenapa ini bisa terjadi?"


Ayahku melirik ke sebelah kanannya. Menunggu jawaban dari yang dia ajak bicara.


"Begini bang,tadi kan ibu ini keluar. Jadi, dia bicara ntah, sama siapa tadi?" Berusaha untuk menyembunyikan lawan Ibu sambungku bertengkar.


"Ha, terus!"


Ayahku terus memandang ke ibu sambungku.


"Itulah bang,kami lihat tiba-tiba pingsan."


Dari luar sudut pintu seorang wanita sebaya Ibu sambungku menjawab.


"Pertama kami mendengar ada suara hempasan seperti, barang yang jatuh,keras!"


"Yang paling ku takutkan anak-anakku ininya.


Apa jadinya, kalau mereka melihat ini?!"Ayahku.


Ayahku menatapku dengan lirih.


"Liyan, adikmu di mana?"


Aku hanya, menggelengkan kepalaku sebagai jawabanku untuk Ayahku.


Ayahku pun, menghela napas panjang karena melihat gelengan kepalaku.


Dia pun, seketika beranjak dari kursi menghampiri Ibu sambungku.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2