
"Apa Ayahmu sudah lama pulang?" Tanya ibu sambungku seketika beranjak dari depan pintu kamar.
"Ia." Kataku sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.
"Kamu mau ngapain?" Tanya ibu sambungku dengan penuh curiga.
" Lagi mau mengambil air minum." Kataku dengan tenang.
"Kemari,biar aku ambilkan!" Katanya sambil meraih gelas dari tanganku dan menarik lenganku sedikit ke pinggiran dinding."Untuk apa? Kamu mau makan?" Tanyanya sambil menyerahkan gelas yang berisi air minum.
" Sudah!" Jawabku dengan tegas. Sambil meraih gelas diberikannya kepadaku.
"Lalu, apa kamu belum minum?" Dia kembali mengajukan pertanyaan tentang air minum.
" Liyan mau minum obat,Ibu." Kataku sambil mengambil dari tangannya.
Aku pun meneguk air sambil menelan obat dengan susah payah dan butuh perjuangan. Setiap kali aku mau minum obat. Pasti aku menarik napas dulu memandangi obat yang akan aku telan dengan lekat. Seakan aku mengatakan obat ini begitu besar dan pasti pahit. Terkadang aku meminum obat sampai muntah dan segala makanan yang ada didalam perutku pasti keluar. Disaat aku mengingat itu aku pun tertawa geli.
"Bagaimana sudah selesai?" Tanya ibu sambungku berdiri di sampingku.
"Ia,Bu sudah!" Kataku sambil meletakkan gelas.
" Engga ada kamu buang, kan? Obatnya." Tanya ibu sambungku dengan menyelidik sambil menatapku dengan tajam.
"Engga Bu! Engga ada aku buang. Apalagi aku muntahkan." Aku menatap ibu sambungku dengan suara yang lembut.
" Baguslah kalau begitu. Berarti Ayahmu hari ini tidak akan marah kepada kamu." Kata ibu sambungku dengan datar.
Aku pun mendengarnya seketika diam.
"Liyan selepas ini kamu istirahat." Kata ibu sambungku dengan tegas dan pergi berlalu keluar dari pintu dapur.
Aku yang penasaran melihatnya dari tempat aku berdiri. Kedua mataku mengikuti langkahnya sampai ketempat tujuannya.
Aku pun mengayunkan kakiku yang masih terkulai lemah melihat ibu sambungku lagi apa.
Aku menyandarkan tubuh lemahku yang panasnya sudah berkurang ditepi pintu dapur kami. Seketika aku memperhatikan dia yang lagi sibuk dengan kebun kecilnya yang terletak disamping rumah kontrakan kami. Ibu sambungku begitu antusias membersihkan rerumputan kecil dari setiap pohon.
__ADS_1
Panas yang sedikit menghilang karena hampir tertutupi oleh senja. Begitu bersemangat dan tidak banyak bicara dia hanya fokus dengan rerumputan kecil yang menutupi sebagian tanah. Tanah merah yang lengket diinjak apabila basah kini terasa begitu keras sehingga ibu sambungku begitu sedikit kewalahan menarik rumputnya.
"Ayahku yang tadi sholat kini belum juga terlihat olehku keluar kamar. Sementara, adikku yang masih diluar dengan tenang tak ada kabar. Mengingat adikku membuat aku menghela napas.
"Liyan, ada apa kamu berdiri disitu?" Tanya ayahku yang berdiri dibelakangku.
Seketika aku terperanjat mendengar suara dari belakang aku. Aku pun memutarkan badanku seketika.
"Ayah!" Kataku dengan mengerjapkan kedua mataku.
Aku pun menghela napas.
"Dimana ibu kamu?" Tanya ayahku yang begitu khawatir terlihat dari gurat wajahnya.
" Itu!" Menunjuk keluar dari belakangku dengan mengayunkan telunjukku ke udara.
Ayahku yang berdiri didepan aku terlihat begitu penasaran terlihat dari gurat wajahnya mengikuti arah ayunan telunjukku.
Dengan begitu antusias ayahku pun melihat dari pintu keluar yang begitu luas. Aku yang berdiri tepat disampingnya memutarkan kembali badanku melihat ketempat yang dilihat oleh ayahku.
"Sepertinya mencabut rumput Ayah." Kataku yang berdiri disamping ayahku.
Ayahku pun pergi menuju ibu sambungku yang berada di kebun dekat halaman rumah kami. Aku yang masih berdiri mengikuti ayahku sampai dia menghampiri ibu sambungku.
Seketika aku pun tertekun melihat mereka berdua bekerja membersihkan kebun itu. Mereka begitu serius aku lihat. Tak ada sedikitpun gurat wajah yang lelah tersirat dari wajah mereka.
Aku pun beranjak dari menuju pintu depan. Berdiri melihat adikku. Seketika, aku pun menatap keluar dengan pias. Sudah lama waktu berlalu namun,adikku pun tak terlihat jua.
Tubuh mungilku pun mulai merasa tidak enak Kembali. Panas tinggi yang tadi telah menurun kini mulai naik kembali. Tubuh mungilku yang tadi menggigil kini bertambah kembali. Obat yang aku minum pun kini sudah tidak bereaksi lagi.
Tubuhku pun mulai terasa seperti yang tadi yang aku alami. Kini mulai semakin remuk lagi terasa.
Halaman yang kini terlihat ramai dengan dedaunan kering. Aku tatap dengan lekat sambil melemparkan pikiranku mengingat akan adikku yang sampai saat ini belum juga terlihat.
Napasku pun kini mulai aku atur. Berdiri diam didepan pintu sambil memutarkan kedua bola mataku melihat sekeliling. Adik yang aku tunggu tak kunjung tiba sampai saat ini.
Hari semakin berlalu. Senja mulai menyapa kami dengan kehangatannya membelai suasana kami yang gelap.
__ADS_1
"Liyan! Kamu melihat apa?" Tanya ayahku berdiri dibelakang.
"Ayah! Kenapa adik belum pulang juga?" Aku masih menatap nanar ke halaman yang dipenuhi dengan dedaunan kering.
"Ayah tidak tahu! Tapi Ayah sudah mencari adikmu keliling kampung. Bahkan, Ayah sudah mendatangi beberapa guru adikmu. Mereka mengatakan kalau mereka tidak melihat adikmu." Kata ayahku dengan lirih dan raut wajah yang sedih.
" Tapi,Ayah inikan harinya sudah mau malam." Kataku dengan lirih juga sambil menatap kosong udara lepas.
Ayahku pun menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan kasar sambil menatap lirih lurus kedepan hamparan luas.
Aku pun menatap ayahku yang yang begitu khawatir akan kondisi adikku yang tidak ada kabar sampai hari ini.
"Bagaimana? Apa Ana sudah pulang?" Ibu sambungku yang berjalan menghampiri aku dan ayahku.
" Belum." Kata ayahku yang bersiap memakai pakaian rapi.
"Ayah,Ayah mau kemana?" Tanyaku yang begitu lekat melihat ayahku.
"Ayah mau mencari adikmu kembali." Seketika ayahku berjalan sambil menghela napas kasar.
Sementara, ibu sambungku yang berdiri menatap ayahku begitu terlihat wajah yang berat. Sesekali dia pun melihat keluar hamparan yang kosong berdecak sesekali.
"Mau dimana kamu akan mencarinya?" Tanya ibu sambungku dengan menyelidik.
"Ntahla, Yang jelas aku mencarinya hari ini.Akan aku coba!" Kata ayahku dengan sedikit penuh tanda tanya.
"Kalau begitu aku akan membantumu untuk mencarinya." Ibu sambungku bergerak mengambil sendal dan segera keluar bersama ayahku.
"Liyan kamu jaga rumah. Jangan pergi kemana-mana!" Kata ayahku dengan tegas.
"Ia,kamu kan lagi sakit. Nanti kamu semakin parah dan tidak bisa sekolah." Kata Ibu sambungku dengan tegas dengan mengayunkan kakinya.
"Ia." Aku pun berdiri diam menatap mereka yang terus berjalan meninggalkan aku sendiri.
Seketika mereka pun menghilang dari pandanganku dengan begitu cepat. Aku pun dengan jengah memutarkan badanku kebelakang melihat lantai yang aku jalani perlahan. Seakan aku menghitung langkahku sendiri. Berjalan menuju kursi untuk duduk kembali.
Bersambung....
__ADS_1