Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kecerdikan adikku


__ADS_3

"Kenapa kau meminta Kakak untuk menemanimu bermain?" tanyaku ingin tahu.


"Kerena aku engga ada teman bermain," jawab adikku tidak masuk akal.


"Tidak ada yang menemanimu bermain?!" Menyeringai. "Kau bohong! Kau 'kan pandai bersilat lidah. Alih -alih, kau mau menolong Kakak," Menatap adikku. "Tahu-tahunya, kau menjebak Kakak untuk menyelamatkan dirimu," Mengepal sebelah tangan dengan keras menahan kekecewaan.


"Kak! Adikmu ini, bukan menjebakmu," Menghela napas. "Aku cuman berniat untuk menyelamatkan Kakak dari amukan, Ayah," kata adikku membela diri. "Itu saja!" Melempar pandangan.


Sekali lagi, aku hanya bisa diam sambil menelan kekecewaan yang manis sehingga senyum pun terkulai. Kebiasaan terburuk dari adikku, semestinya tidak perlu aku jadikan permasalahan.


Aku kemudian duduk bersama adikku untuk menjelaskan semua yang menjadi gumpalan mengerikan di dalam pikiranku sehingga suasana menjadi kelam yang membuat langkahku sesak.


Suara guliran pun, dari mulut kecilku yang keluh menggelinding dengan lepas.


"Lalu apa, ha?!" Menatap adikku. "Kau itu sudah sering membuat Kakak, seperti orang yang melakukan kesalahan di hadapan Ayah," cecarku. Menggeleng kepala menahan kekecewaan.


Adikku diam semakin dalam dan membisu bersama kesunyian sambil menelan ludah bersalah.


"Kak!" panggil adikku dengan suara getir. "Ana minta maaf." Menundukan kepala seperti menahan malu.


"Sudahlah! Kau jangan seperti itu!" Mengelus pundak adikku. "Di sini tidak ada yang salah dan benar," balasku dengan lembut.


Hu hu hu!


Suara tangis adikku pecah seketika, seakan dia mengingat kesalahannya. Wajah polosnya yang manja dan ceria terlihat memerah, bahkan kedua bola mata yang bening pun, terlihat merah menutupi pandangan.


Sejenak rasa kesalku hilang melihat isak tangis adikku yang menelan ketenangan. Tangisannya kini menjadi kekalutan pada diriku sendiri.


"Tolong jangan menangis lagi, Kakak mohon!" Menatap adikku. "Nanti Ayah pasti mendengarnya," Menghela napas. "Kalau Ayah sampai mendengar! Yang kena hukum itu Kakak," keluhku. Menatap langit-langit kamar.


Adikku hanya diam melihatku dengan heran. Dia terus memandangiku, seperti orang bodoh. Sepertinya, adikku tidak mengerti dengan ke gelisahanku.


Aku yang bangun dari duduk berjalan ke sana kemari, seperti orang yang sedang mengukur jalan. Memutar kepala, mengintip keluar kamar, seperti seorang pencuri hanya untuk melihat Ayahku.


"Kak! Kenapa berjalan ke sana kemari?" tanya adikku ingin tahu.


"Ha!" ucapku menatap adikku, seperti orang bengong.


Aku kembali menarik napas untuk menetralkan semuanya. "Kakak, mau melihat, Ayah," kataku dengan ketus.


"Ayah?! Untuk apa, Kak?!" Menatapku dengan penuh tanda tanya. Sedikit heran.


"Siapa tahu, Ayah sudah pergi dari duduknya?!" Menggerakan sedikit kepala ke samping sambil melirik, sebagai isyarat menunjuk kursi ayahku.


"Untuk apa?" tanya adikku semakin penasaran. Mengangkat kembali kepalanya sedikit.


Melihat adikku yang polos membuatku semakin frustasi. "Untuk apa?!" kataku. Menyeringai. Mengulangi pertanyaan adikku sambil menahan kesal.


Aku langsung menggeleng. Menghadapi kebodohannya yang membuatku semakin depresi.


"Kok untuk apa, Dek?" tanyaku. Menatap adikku kesal. "Ya, untuk melihat Ayah, la. Agar dia tidak memarahi kita," cetusku.


"Karena apa?" tanyanya dengan heran.


"Karena kau menangis," sambungku dengan kesal. "Kau 'kan tahu! Kalau kau menangis, Ayah bakalan marah pada Kakak," lanjutku. "Karena Ayah tadi berpesan kita jangan bertengkar."


"Tapi 'kan, kita tidak bertengkar, Kak," balas adikku dengan penuh keyakinan.


"Iya! Kakak tahu. Tapi, Ayah. Apakah dia tahu? Kalau kita tidak bertengkar?!" Mendengar suara tangismu itu. Membuat Ayah akan percaya, kalau kita bertengkar, bagaimana sih?!" gerutuku dengan kesal.


Adikku hening sejenak, mencerna yang kusampaikan. Dia menggangguk sambil membenarkan ucapanku.


"Kakak ada benarnya juga, sih," ujar adikku. "Kalau Ayah sampai tahu, pasti...." Menatapku. "... Kakak yang akan di marahi, iya 'kan," Menatap dengan kedua bola matanya. Sedikit sedih.


Tubuh lemahku semakin terkulai jatuh ke bawah melihat adikku yang begitu menggemaskan, sehingga membuatku ingin menyerah.


Adikku terlihat begitu lihai menguji kesabaran. Rasanya, dia sangat bahagia dan menatap mainan yang terbungkus di plastik dengan senyum licik.


Emosiku rasanya ingin tersulut melihat kesantaiannya sambil berdendang ria tanpa bersalah sedikit pun.


Memutar badan perlahan dan bertingkah, seolah-olah memegang mainan dan ingin keluar. Kedua bola matanya menatap plastik hitam yang kusut dengan gurat wajah yang terbaca, kalau dia ingin mengajakku bermain.


Mengangkat kepalanya sedikit sambil tersenyum manis padaku. "Kak! Jangan marah, ya," pintanya dengan wajah yang lembut. Tersenyum tiada henti.


Aku yang jengah. "Iya, emang kenapa?" tanyaku tidak senang. Memutar badan ingin merebahkan tubuh lemahku.


"Kita bermain, yuk ," ajak adikku pelan. Memegang palstik hitamnya.


"Jangan sekarang, Dek! Besok saja, ya," tolakku dengan lembut.


Adikku pun, mendengus dengan wajah murung. "Kalau begitu, ngapain aku di rumah?!" Menatap lirih tirai kamar.


"Istirahat," jawabku acuh.


Adikku semakin kesal dan kecewa. "Kakak aja la yang di rumah. Aku tidak mahu!" rengek adikku .


Hahaha! Aku tertawa melihat adikku yang aneh.


Aku duduk bersandar di dinding kamar. "Kenapa kau tidak mau?" tanyaku dengan tawa. "Ayah, sudah melaramgmu untuk tidak keluar," sindirku dengan renyah.


"Lalu, kenapa emang, kalau Ayah melarangku Kak," sungutnya. Berusaha memendam kekesalan.

__ADS_1


"Iya, tidak apa-apa!" sahutku. Menatap jemari yang kujentikan, seakan mengejek adikku. "Kalau kau mau keluar, silahkan saja! Tapi jangan salahkan Kakak, kalau kau nanti di marahi Ayah," balasku.


Adikku seketika diam dan berpikir. Menjatuhkan tubuhnya kembali dengan lemas. Seakan dia takut dengan ancaman yang ku keluarkan. Dia pun, bergeming dan menutup suara yang lama.


Aku yang duduk bersandar di dinding, menggeser kepalaku sedikit melihat wajah adikku yang murung.


"Kau begitu sedih. Sesekali, lihat lah keluar! Tatap pohon yang besar itu!" pintaku dengan lelucon yang konyol.


"Apa?!" Adikku spontan terperanjat. Memutar kepala sedikit melirikku dengan segala kebingungan dan mengikuti perintahku.


Perlahan dia pun, memutar kepala melihat pohon dengan wajah kebingungan. Dia menatap seperti orang aneh yang kurang jeli. Sesekali, dia memundurkan badan ke belakang sedikit.


Aku tersenyum geli melihatnya, setelah dia berhasil kubuat penasaran. Hatiku pun senang karena telah berhasil menelan semua yang menumpuk di dalam dada. Sakit yang berkubang cukup lama menelanku, kini lenyap tanpa jeritan sedikit pun.


Wajah adikku semakin pias bercampur heran. Ingin sekali rasanya dia marah. Tapi dia tidak tahu alasan yang kuat. Semakin lama dia penasaran dengan pohon yang dilihatnya. Dia pun memutar kepala spontan melihatku.


Kedua bola matanya begitu tajam. "Kak! Jangan buat aku semakin kesal, ya," teriaknya.


"Hei! Kau jangan marah -marah, Dek! Apalagi sampai berteriak. Bagaimana nanti kalau Ayah mendengarnya?!" kataku menatap adikku.


Adikku pun memutar kepala. "Kakak sekarang sudah tidak takut lagi emang sama, Ayah?!" Menatap lurus ke depan.


"Mmm!" Aku berpikir. "Sepertinya tidak," ucapku mematikan pikiran adikku.


Sontak dia terperanjat. "Kakak benar?! Sudah tidak takut lagi?!" Memutar kepala dengan wajah percaya dengan sedikit keraguan.


"Iya," jawabku dengan percaya diri.


Adikku kemudian memutar badan dengan tanda tanya. "Aku masih heran?! Kenapa Ayah bisa tidak memarahi Kakak?" tanya adikku semakin bingung.


"Entah!" Mengangkat kedua bahu dengan acuh. "Kakak tidak tahu. Mungkin Ayah sudah berubah?!" kataku dengan singkat.


Sorot mata adikku begitu tidak rela. Dia memutar kepala sambil cemberut, seakan dia tidak terima, kalau ayahku telah berbalik padaku.


"Berarti, Ayah sudah sayang pada Kakak, ya?!" tanya adikku dengan cemberut.


"Kenapa kau cemberut, kalau Ayah sayang pada Kakak?" tanyaku menatap punggung adikku.


"Tidak!" jawab adikku menutupi.


"Baguslah!" kataku dengan senang. "Kalau begitu, Ayah tidak memarahi Kakak lagi," sambungku dengan bahagia.


Wajah cemberut adikku semakin pias. Seolah dia tidak rela, kalau ayahku telah berdamai dengan ku. Dia semakin menggerutu sebal sambil meremas plastik yang dia genggam.


"Berarti, Ayah tidak mendengarkan aku lagi," keluhnya tidak semangat.


Hahaha! Tawaku seketika pecah memenuhi ruangan kamar melihat adikku yang sudah frustasi.


"Kenapa Kakak tertawa dengan terbahak?" tanya adikku semakin heran.


"Tidak! Tidak ada apa-apa," jawabku membuang pandangan dengan acuh.


"Berarti, Kakak menertawaiku, ya?!" tanya adikku ingin tahu kembali. Menatap lekat.


Aku kemudian menarik tubuh lemahku sambil menghembuskan napas dalam. Mengatur duduk dengan rapi dan menatap nanar lurus ke depan.


"Seandainya, saja seperti itu, Dek," cetusku. Mengkhayal.


"Maksud Kakak?!" tanya adikku semakin heran.


"Kalau Ayah benar, sayang sama Kakak," Menatap dengan sendu. "Pasti Kakak senang, Dek?!" ujarku pelan.


Adikku pun memutar badan bersandar di dekat jendela.


"Kak, semoga saja! Ayah berubah menjadi baik lagi pada Kakak," sambung adikku. Memberi semangat.


Aku hanya diam menatap nanar bersama khayalan yang ambigu. Melihat kaki lemah yang kutekuk sambil mengayunkan kedua tangan mendekapnya.


"Kak! Jangan sedih!" tegur adikku pelan. Menyadarkanku. "Bagaimana kalau kita bermain saja?" ajaknya tersenyum melirik plastik.


Wajahku semakin kusut dan masam melihat adikku.


"Kakak malas bermain dengan mu!" tolakku. Menjatuhkan tubuh lemahku untuk tidur.


"Jadi, Kakak engga mau menemaniku?!" tanya adikku dengan sedih.


"Iya," jawabku.


"Ya sudah! Kalau begitu, aku bermain keluar," rintih adikku. Turun dari tempat tidur. "Ayah!" jerit adikku sedikit keras.


"Jangan!" bisikku menutup mulut adikku dengan tangan. "Kau ini! Apa-apaan,sih!" Gerutuku dengan kesal. "Ngapain kau menjerit memanggil Ayah," pekikku sebal. "Kau tahu! Kalau sampai Ayah dengar! Dan dia datang ke sini?!" Menatap adikku dengan kedua bola mata yang lebar.


"Emang kenapa? Kalau Ayah sampai datang?!" tanya adikku sedikit meninggi. "Aku mau bilang sama Ayah. Aku mau bermain keluar," lanjut adikku sedikit keras. Menarik tirai.


Sontak kepalaku terkulai menunduk dengan lemas. "Dek, kau tahu! Kalau Ayah sampai mengetahuinya, ha?!" Dengan nada suara sedikit di tekan. Membuang pandangan. Berdiri di samping adikku.


Tatapan adikku begitu memerah dan kesal. Wajahnya ingin sekali menelanku dan menggulungku sampai hancur.


"Emang, kenapa kalau Ayah tahu?!" pekik adikku melempar pertanyaan yang mengancam. Menatapku tajam.


Terpaksa aku berusaha menahan amarah dan menyunggingkan senyum. "Nanti, Ayah akan memarahi kita berdua," Melempar senyum. Menahan kesal. "Jadi, kau mau bermain, apa?" Menatap adikku sambil menahan sejuta kekesalan.

__ADS_1


Wajahnya langsung mencair, seperti es. "Bermain ini," Menggantungkan plastik ke udara sebagai isyarat menunjukan kepadaku.


Wajah piasku kini langsung berubah lesu. "Itu permainan apa?" Menatap plastik yang menggantung.


"Kakak mau tahu?!" tanya adikku menatapku dengan lekat.


"Iya," jawabku.


Adikku pun spontan menurunkan plastik yang digantungnya dan membukanya dengan cepat. "Ini Kak!" Menunjukan batu kecil sama bola kasti.


"Kau ini! Kenapa harus bermain itu?" tanyaku dengan kesal. "Permainanmu ada-ada saja," timpalku menggerutu.


Wajah adikku langsung menunduk sedih karena melihatku marah dan menolak permainannya. Dia langsung menggeser tubuhnya sedikit menjauh dariku sambil menggenggam plastik yang berada di pangkuannya.


Aku begitu terhenyak dan tersentuh melihatnya menyendiri dengan sedih.


Sorot mataku begitu perih. "Itu permainanmu?!" tanyaku penuh penekanan. "Itu bisa mengundang kemurkaan Ayah," ujarku dengan tegas. "Kalau bolamu itu menyentuh sudut rumah ini, semua bakalan bersuara." Menatap adikku dengan separuh jiwaku kesal.


Dia hanya diam, seolah dia tidak menerimanya , kemudian dia menatap lirih mainannya yang aku tolak.


"Kita 'kan bermainnya pelan," kata adikku dengan nada suara lirih. Sedikit mendongak.


"Pelan tidak pelan, Dek. Permainan itu berbahaya," tandasku.


"Berbahaya di mana Kak? Rasaku tidak berbahaya. Makanya, kita bermainnya pelan," timpal adikku menjelaskan.


"Pelan tidak pelan, Dek! Itu sama saja," tandasku. Menekankan.


"Kita susun batunnya di tengah -tenga,Kak," saran adikku. Sok pintar. "Kemudian bolanya kita lempar," lanjut adikku tersenyum. Sok imut.


Aku pun menghela napas menyerah dan pasrah atas keinginan adikku yang penuh penekanan terhadap diriku.


"Bagaimana Kakak harus menjelaskannya padamu?" Menyerah. "Kau itu terlalu keras, tidak pernah mendengar, apa yang Kakak ucapkan?!" Menghela dengan pasrah.


Adikku rasanya semakin terpukul. Dia seperti menutup telinga dengan rapat dan menggeleng memberi jawaban tidak terima atas penolakanku.


"Itu tidak akan terjadi, Kak," rengek adikku. Menatap sambil menahan tangisnya.


Aku jadinya semakin tidak bisa berdalih. Rengekan itu semakin menggulungku. Keningku yang pusing semakin berkerut. Jemari tangan yang lemah pun, mengambil bola dengan gemetar.


Kedua bola mata yang redup dan letih kini melihat bola dengan terpaksa.


"Baiklah," jawabku dengan nada suara berat. Menatap bola kasti dan adikku.


Melihat keputusanku yang tidak tepat kini membuat jantungku deg-degan dan mau lepas.


Sementara di sisi adikku yang lain, dia begitu senang sambil menghapus air mata dan menatapku hingga menarik bibir dengan lebar.


"Benar, Kak?!" tanya adikku dengan riang.


"Iya, jawabku.


Wajah murung adikku yang mendung hingga menurunkan air mata tanpa di undang kini terlihat cerah, bagaikan sinar mentari yang menguatkan senyum.


"Kita akan bermain dengan pelan- pelan dan hati-hati!" pintaku dengan penuh penekanan yang tegas. Menahan tubuh lemahku agar tetap bisa berdiri dengan kuat. "Tapi, ada satu lagi. Kau jangan berteriak dan tertawa kencang!" lanjutku sambil menahan tubuhku yang mulai kedinginan.


"Bagaimana itu, Kak?" tanya adikku dengan bingung. Menatap bola dengan penuh tanda tanya.


"Kenapa bertanya begitu?" tanyaku menyelidik. Memegang bola kasti. "Seakan kau tidak mengerti?!" Menatap adikku.


"Aku mengerti, Kak! Tapi ada satu yang membuatku tidak bisa melakukannya," kata adikku dengan lesu.


"Apa?" tanyaku ingin tahu. Berdiri menatap adikku yang bingung. "Kalau begitu kita tidak usah main, ini!" rajukku sambil menyerahkan bola ke tangan adikku.


"Iya, Kak! Aku akan berusaha untuk tidak berteriak," balas adikku. Menatap dengan sedikit kecewa.


"Kalau begitu letakan batunya di situ dan susunlah sesuai ke inginanmu," pintaku dengan kekesalan sedikit. Memasang wajah sedikit masam.


"Baiklah Kak," jawab adikku dengan riang.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung....



Selena Young adalah seorang Queen of gambler dia adalah putri dari Erick Young seorang Legend of gambler. Tidak ada yang mengetahui jika Selena adalah queen of gambler. Seminggu sebelum pertandingan judi se-Asia. Selena beserta teman-temannya menuju Dubai untuk merayakan ulang tahun salah satu teman Selena. Seorang teman yang menyukai Selena memberi Selena obat perangsang membuat Selena menghabiskan malam bersama pria asing.


Segerombolan pria mencoba membunuh Selena saat pertandingan judi se-Asia di sebuah kapal pesiar. Selena jatuh ke laut dan diselamatkan nelayan. Selena mengalami amnesia dan mendapati dirinya hamil.


Sanggupkah Selena menjalani hidup menjadi single mom?


Akankah Selena bertemu kembali dengan pria yang menanamkan benihnya?

__ADS_1


__ADS_2