Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Mengintip dari balik pintu


__ADS_3

"Sepertinya, kita di sini yang bermain kucing-kucingan. Bukannya, mereka yang di luar," kata Septiani, lalu pergi meninggalkanku sendiri.


"Jadi, sini bukuku," kataku mengulurkan tangan.


"Liyan, jangan tidur, ya, hahaha!" Septiani tertawa sekalian menyerahkan buku padaku. "Begitu kau nanti ketiduran, kau lupa kalau kita sudah pulang, hahaha!" Tawanya masih saja terlihat dengan ramah.


"Jangan khawatir! Aku tidak akan tidur, sampai pulang aku akan duduk dan menunggu kalian," sahutku berjalan duduk kembali.


"Yang benar ini, kau tidak tidur 'kan," kata Septiani kembali. "Liyan, jaga 'kan tasku, ya." Septiani kembali melihat dari balik pintu sambil menunjukkan sedikit kepala.


"Tasmu tidak akan hilang. Sekarang cepat pergi sana bermain kucing-kucingan," desakku sambil memeriksa gambaran yang tergambar tadi di dalam bukuku.


"Iyalah, aku juga malas di sini menemanimu," ledek Septiani bercanda dengan garing. "Daaa!" Sambil mengayun tangannya ke udara melangkah keluar.


Bibirku seketika tersimpul manis menatapnya yang tersenyum melangkah pergi meninggalkan aku sendiri.


"Daaa! Jangan mengeluh, ya!" balasku sambil melambaikan tangan juga. "Soalnya hari ini panas."


"Aku akan menjadi Anak yang baik hari ini dan akan mendengarkanmu," ucap Septiani sambil berlari kencang.


Aku pun berjalan melihatnya yang berlari keluar dengan senang. Dari balik pintu sekolah aku menatap Septiani. Aku berdiri dengan buku yang masih kupegang bersama kesendirian dan kelas yang sunyi aku menatap mereka yang berteriak karena gembiranya.


Bibir pucatku seketika tertarik melengkung terbawa arus mereka yang bahagia. Kaki lemah yang selama ini begitu membuat jalanku terseok-seok hingga ingin terjerembab ke lantai berdiri tanpa rasa sakit sedikit pun.


Kesendirian kembali menemaniku bersama benda yang mengisi ruangan kelas yang terpajang dengan rapi. Mereka seolah berdiri menatapku yang duduk di dalam kelas seorang diri.


Angin segar yang berhembus menyentuh wajahku yang pucat menembus balik pintu. Rambut pendekku yang sebahu serta juga poni yang berjejer rapi menutupi keningku terbang tak tentu arah. Begitu dingin terasa bagi tubuhku yang kurang sehat. Menggigil seperti, tersiram air yang begitu dingin.


Gemuruh tawa dari luar masih terdengar menggelegar ketika aku berjalan kembali kebangkuku.


"Liyan, kau tidak takut sendiri di kelas?" Terdengar suara memanggil namaku.


Aku segera menjawab sambil menaikkan kepalaku sedikit melihat yang memanggil namaku. "Tidak," jawabku melihat wajahnya.


"Sunyi tidak ada orang di dalam. Sebaiknya kau keluar saja! Lihat kami yang sedang berolahraga raga," seru Pudan.


"Tadi kata Pak Duan, aku duduk di dalam kelas." Aku menjelaskan sambil menatapnya.


"Diluar juga boleh. Duduk saja di sana sambil melihat kami. Ngapain kau sendiri di dalam kelas. Seram tahu!" desak Pudan sambil membawa botol minum dari mejanya.


"Iya, ya! Kau benar, tapi aku tidak berani. Aku takut sama Pak Duan," kataku sambil melirik bangku Fikri yang berada di belakangku.


"Bapak itu tidak galak kok, dia baik Liyan. Selama ini aku lihat dia begitu baik padamu." Pudan mengingatkan aku kembali.

__ADS_1


Akhirnya, memoriku kembali mengingat dan membenarkan yang di sampaikan oleh Pudan barusan. "Iya, kau benar," jawabku sambil mengingat-ingatnya. "Tapi, aku tetap takut, kalau Bapak itu marah, bagaimana ?" Aku kembali bertanya pada Pudan.


"Engga, Liyan. Bapak itu engga akan marah. Kau percayalah samaku." Pudan kembali melangkah setelah berhenti sejenak mengatakan itu padaku.


"Pudan!" Teriak suara memanggil namanya. "Heh!" Fikri menghela napas dalam. "Aku lelah mencari- carimu untuk bermain karena temanku hilang satu. Ternyata, kau di sini," celetuk Fikri. "Ngapain kau masuk kemari," lanjut Fikri ingin tahu. "Kau mau istirahat juga, ya?!"


"Aku cuman mengambil botol minumku," jawab Pudan sambil menunjukkannya pada Fikri. "Ngapain aku di dalam kelas, engga enak. Enakan di luar olahraga." Berjalan keluar memasuki lapangan olahraga kembali.


"Hei, tunggu! Main pergi aja. Bantu aku membawa ini," pinta Fikri sambil menggeser bangku.


"Itu!" Tunjuk Pudan. Untuk siapa?" tanyanya kembali sambil berjalan menghampiri Fikri.


"Untuk Bapak itu," sambung Fikri. "Angkat ini, ya!" perintah Fikri pada Pudan.


"Engga bisa aku membawanya," sela Pudan.


"Kenapa ? Ini 'kan cuman kursi, tidak berat," kata Fikri menegaskannya. "Kau takut badanmu kurus." Fikri menatap tubuh Pudan dari kepala sampai kaki.


"Takut kurus pula. Siapa yang takut kurus?" sungut Pudan memberi pertanyaan menantang pada Fikri.


"Ya sudah kalau begitu ayo cepat, bawa!" Fikri mendorong sedikit bangku pada Pudan.


"Masalahnya, botol minumku bagaimana?" Pudan bertanya kembali dengan bingung.


"Letakkan dulu di sini. Baru nanti ambil lagi," ucap Fikri dengan seenaknya.


"Membawa bangku satu lagi," cetus Fikri sambil mengangkatnya keluar.


"Untuk siapa ?" tanya Pudan berteriak.


"Untuk si Nina," jawabnya membalas teriakan Pudan.


"Giliran si Nina, dia yang ngangkat," gerutu Pudan dengan kesal. "Iya 'kan Liyan." Pudan kembali menoleh ke araku.


Aku hanya tersenyum menarik bibir pucatku hingga melengkung dengan manis. Perdebatan kecil antara mereka berdua telah berakhir. Kini saatnya aku kembali sendiri lagi. Duduk di bangku bersama tas, buku dan beberapa yang terlihat di dalam kelas.


Anganku kembali melayang mengingat bola kasti yang jahat. Bola yang mengenai tubuh mungilku sehingga aku menangis dan mengerang kesakitan. Rasa panas akibat lemparan itu masih membekas di dadaku.


Lenganku yang lembut tanpa tersadar olehku kembali mengelusnya untuk menghilangkan bekasnya. Sementara tangan kananku yang satunya lagi memegang pensil sambil menulis lingkaran untuk yang kesekian kalinya.


"Liyan, bel sudah berbunyi kau tidak istirahat?" tanya Widia mengingatkanku yang sering memberiku perhatian.


"Aku 'kan dari tadi sudah istirahat," jawabku sambil melihat pensil yang terus membuat lingkaran mirip seperti bola kasti.

__ADS_1


"Itu 'kan berbeda Liyan," kata Widia menegaskan sambil berjalan menemuiku.


"Berbeda?" tanyaku sedikit penuh tanda tanya. "Masa berbeda?! 'Kan sama-sama tidak belajar." Aku menatap Widia yang diselimuti lelah.


"Itu 'kan bukan di jam istirahat jadi, berbeda. Ayolah kita keluar duduk di kantin," desak Widia mengajakku.


"Malas. Aku mau duduk di sini aja," tolakku dengan lembut.


"Di sini! Aduh, Liyan! Ngapain di dalam kelas sendiri. Enakkan di luar ramai-ramai." Widia kembali mendesakku dengan segala rayuannya.


"Kakiku lemas Widia," ucapku memberi alasan.


"Engga, kau pasti bohong?!" Widia menatapku dengan lekat.


"Dari mana kau tahu kalau aku bohong," jawabku sambil menunduk melihat kertas yang kucoret.


"Itu, buktinya," balas Widia seakan menjebakku.


"Mana? tanyaku dengan berpura-pura. "Aku tidak melihatnya," lanjutku sambil mencari sesuatu.


"Itu!" Widia terus ngotot seolah dia memaksaku untuk melihat apa yang dilihatnya. "Mana mungkin kau tahu. Kau 'kan tidak melihatnya. Yang kau lihat cuman itu saja." Widia kembali mengoceh dengan kesal.


"Aku memang tidak tahu. Kenapa kau terdengar marah?" tanyaku sama sekali tidak menghiraukannya.


"Kepalamu," cetus Widia. Langkah kakinya semakin kencang terdengar mendekatiku.


"Ha!" Aku langsung mengangkat kepala melihatnya dengan terperanjat. "Emang kepalaku kenapa ?" tanyaku melongo.


"Menunduk," jawab Widia menegaskan. "Setiap kali aku bertanya kau selalu menunduk."


Seketika kepalaku berpaling perlahan darinya. Kedua bola mataku seakan membenarkan penuturan Widia akan kepalaku yang sering terlihat menunduk ketika menjawab pertanyaannya.


"Mungkin kau salah lihat." Aku kembali menyangkal kebenaran. "Setiap hari aku 'kan seperti ini. Apalagi di saat aku menulis, ya pasti kepalaku menunduk."


"Mmm..., aku rasa aku tidak salah. Kau benar kalau kau menunduk pasti melihat tulisanmu. Tapi yang jadi masalah kau pasti bisa menjawab pertanyaanku sekali saja tidak menundukkan kepalamu. Aku memang benar 'kan?" tanya Widia memberiku pertanyaan. "Ini tidak. Setiap kali kau menjawab pertanyaan terkadang kau menunduk." Widia seakan tidak mau kalah dengan ku. Aku jadinya, seperti terkepung oleh musuh yang ingin menghabisiku sekarang.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🙏

__ADS_1


❤️❤️❤️


Bersambung...


__ADS_2