
Aku semakin pilu memendam ini seorang diri. Sebenarnya aku ingin sekali mencari sosok yang bisa menjadi penenang dalam jiwa ini ketika aku sakit dan dimarahi. Tapi itu semuanya hanyalah mimpi yang bisa aku genggam dengan tangan kosong. Semua terasa semu yang bercampur dengan kesalahan.
Tatapan masih saja membawaku ingin melihat ke bawah diiringi oleh kebimbangan antara rasa takut dan adikku. Sekujur tubuh terasa dingin serta jemari tangan yang kecil semakin kuat mengepal rasa takut akan terkuaknya penyakit yang menyerang lagi.
Sementara lain halnya dengan adikku yang terus menerus saja mendesak agar aku segera mungkin menceritakannya kepada ayah kami. Itu tidaklah mudah bagiku, pikirku. Itu sangat sulit untuk aku lakukan.
Daun yang kuning yang diremas oleh tangan adikku tadi hingga hancur kini sudah semakin berserakan di telapak tangan sebelah kanannya.
"Kak, kalau Kakak sakit. Kakak bilang saja. Biar Ayah tau. Dan Kakak gak di marahi Ibu kesayangan Kakak itu," saran adikku. Melihat jemarinya yang tidak berhenti memutar meremuk daun.
Saran adikku tidaklah salah, pikirku. Aku harus mengatakan yang sebenarnya kepada ayahku. Akan tetapi, melihat kondisi tubuh yang membuatku semakin down tidaklah mudah bagiku untuk mengikuti saran darinya.
Jemariku semakin kuat aku remas di balik tubuh yang ingin terkulai layu. Tungkai kaki yang melemah semakin terasa ingin terjerembab ke tanah. Bola mata yang nanar kini bercampur air mata yang menganak di pelupuk mata. Mata yang berkaca-kaca pun seakan memberanikan untuk melihat adikku yang masih meremuk daun sampai saat ini.
"Ana, kau 'kan gak tau Kakak sakit atau gak?!" kataku mengulanginya kembali. Berdiri dan menatap jemari adikku yang masih meremuk daun dengan kuat.
Krak!
Bola mataku sontak melebar bercampur terkejut melihat adikku yang meremuk daun lalu menggenggamnya dengan kuat.
"Kak, Kakak pikir aku gak tau... kalau Kakak bohong?!" kata adikku mengulanginya kembali. "Aku tau Kak," tandasnya. Menaikkan kepala menatap ke arahku dengan muka yang mengetat. "Sama Ayah kita tidak boleh bohong, Kak. Kalau Ayah tau Kakak bohong. Bukan Ayah saja yang marah sama Kakak. Ibu kesayangan Kakak itu juga akan marah sama Kakak. Dia pasti akan bilang... Kakak yang menghabiskan uang," terangnya seakan membelaku.
Aku langsung menunduk dan menjerit di dalam hati. Kedua bola mata pun berkaca-kaca tiada henti meratapi separuh jiwaku yang menderita. Angin semakin berembus kencang menerpa kulit wajah yang pucat dan menarik ujung baju yang aku pakai bergerak tak tentu arah.
Serangan semakin hari semakin bertubi-tubi kudengar. Ia sepanjang waktu kuterima hingga segala keceriaan pun begitu enggan untuk bertahan lama.
"Kakak gak bohong," kataku dengan suara parau menutupi yang sebenarnya terjadi di dalam diriku. Meremas jemari menahan kepucatan yang menyelimuti sekeliling muka. "Kakak benar, kok. Kakak gak sakit," lanjutku mengulanginya kembali dengan suara yang berat bersama rasa takut yang berbisik di telinga.
__ADS_1
Adikku semakin pias. "Kak, kalau Kakak jujur. Kakak gak mungkin melihat tanah," timpal adikku bercampur emosi. "Hari ini Kakak sudah membuat aku di hukum. Besok Kakak mau membuat aku di hukum lagi. Kakak 'kan tau... Ayah sekarang gak sayang lagi samaku. Ayah itu sekarang sudah sayangnya sama Kakak. Makanya, aku setiap hari di hukum!" bentaknya. Melayangkan tatapan yang tajam yang penuh dengan kebencian melihat kedua bola mataku.
Deg!
Jantungku langsung berhenti. Kepalaku seperti terlempar batu yang cukup besar sehingga membuat aku tidak bisa berucap atau pun bergerak.
Tungkai kakiku yang masih nyeri terasa seperti terlilit tali dengan kuat. Air es yang deras seakan menyiram wajah ini sehingga aku refleks menutup kedua bola mata dengan kuat membayangkan wajah ayahku yang senja berbalut kerutan yang sudah mulai menebal menari-nari di hadapanku.
Huhuhuhu!
Isak tangis semakin terdengar keluar dari dalam hati yang merintih. Pertahananku semakin goyah sebab aku harus memilih antara rasa takut dan adikku lagi. Ini tidaklah mudah untuk anak kecil seusiaku. Aku sangat dilema mendengar lemparan demi lemparan semakin menyiksa diri ini.
"Kak, kalau Kakak gak jahat. Kakak harus membilangnya pada Ayah," singgung adikku.
"Tapi, yaaa, kalau Kakak memang jahat. Ya, terserah Kakak saja," tandasnya. Memasang muka bengis.
Desakkan adikku semakin menggulung derita ini hingga ke ubun-ubun. Suara Isak tangis yang tertahan pun semakin menyesakkan dada. Kepalan tangan semakin kuat aku remas. Tubuh ini sekuat mungkin kupaksa untuk berdiri kokoh di tengah tubuh yang hampir saja terjerembab.
"Ana, Kakak takut," ucapku . Membuka kedua bola mata melihatnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mana aku tau. Kakak takut atau gak," sambung adikku dengan acuh. Merapikan pakaiannya yang terbawa oleh angin. "Biar Kakak tau. Aku juga takut sama Ayah. Makanya aku diam saja... ." tandasnya menggantung ucapannya. Memutar badan membuang remukan daun yang telah menjadi bubur.
Sedih, sendiri dan khawatir itulah yang menghantui hari ini. Aku hanya bisa mendengarkan ocehan adikku yang cerewet bertubi-tubi menyerang pendengaran. Dia semakin senang sekali terlihat jika sudah berbicara mengenai aku dan sakitku.
Entah apa yang sebenarnya dia irikan dariku. Aku sama sekali bingung. Semakin hari dia semakin membenciku, bahkan dia tidak mau menjadi teman berbagiku saat ini.
Bibir terus saja bergetir mengeluarkan isak tangis yang terpendam sebagai isyarat kalau aku membutuhkan pertolongan saat ini.
__ADS_1
Hix! Hix! Hix!
Isak tangis terus saja keluar bersama air mata yang mengalir deras di kedua pipi.
"Kalau Ayah pulang aku akan bilang..., kalau Kakak itu sakit!" cetus adikku.
"Heiii, siapa yang sakit, ha?" tanya ibu sambung kami dari dalam berteriak hingga suaranya terdengar sampai keluar.
Deg!
Aku lekas diam. Menahan isak tangis yang menggulung batin ini. Aku langsung menutup mulut dengan kuat dan berhenti menangisi diri yang malang ini.
"Liyan, siapa yang sakit?" tanya ibu sambungku dari belakang.
Aku tetap diam menutup bibir ini serapat mungkin sambil melayangkan sorot mata menatap adikku yang terlihat samar -samar olehku akibat air mata yang menggenang di kedua netra.
"Kenapa kalian tidak ada satu pun yang menjawab?" tanyanya semakin meninggi.
Aku sangat panik sementara adikku terlihat tenang memutar badannya membelakangiku. Berkali-kali ibu sambung kami bertanya dia sama sekali tidak pernah menggubrisnya.
"Aku heran melihat kalian berdua. Kenapa saat di tanya semua tutup mulut. Tadi waktu Ibu gak di sini..., kalian ribut bercerita di luar ini. Entah apa yang kalian bicarakan. Ibu pun gak tau," pekiknya dengan kekesalan yang penuh. "Kau juga Liyan. Kau sudah mulai mengikuti Adikmu yang tidak menghormati orang tua, ha?" serangnya dengan bertubi-tubi pertanyaan.
Siraman es semakin deras tercurah menyiram tubuh mungil yang lemah ini. Wajah ayahku semakin terpampang jelas menari-nari di udara yang kosong menyapa wajahku yang pucat.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...