
Adikku langsung menunduk melihat jendela kayu. "Tapi 'kan kita punya Ayah, Kak," sambut adikku langsung.
"Iya, tapi 'kan Ayah kadang gak ada di rumah," terangku.
"Namanya Ayah lagi kerja Kak. Ayah 'kan lagi cari uang yang banyak untuk jajanku," ucap adikku.
Selama ayahku pergi kami hanya berdua di dalam rumah dan mengunci diri. Sesuai perintah sang ayah kami tidak berni membuka pintu walau hanya untuk mencari angin.
"Itu makanya, di rumah sangat sunyi. Dan kita juga berdua di dalam rumah udah lama," sesalku bersedih.
"Kak, jangan diingat nanti Ayah sedih ngingat kita," nasihat adikku. Sok dewasa.
Aku seketika tersenyum kagum mendengar adikku yang semakin hari semakin berlagak seperti orang dewasa.
"Iya, Kak. Tapi kita gak perlu takut, 'kan kita ada Ayah," ucap adikku. Berdiri melihat pohon bunga yang berjejer di samping dinding kamar.
"Itu kalau Ayah cepat pulang," kataku pada adikku, mengikutinya melihat pohon bunga.
Rumah idaman kami sering kali terlihat sunyi belakangan ini. Sampai-sampai kami berdua tidak bisa lagi melihat matahari pagi yang bersinar.
"Ayah pasti cepat pulang, Kak?! Mana mungkin Ayah meninggalkan kita berdua lama-lama di sini," ucap adikku, menatap nanar keluar jendela.
Aku seketika diam dan mendengarkan yang disampaikan oleh adikku. Dia belakangan ini sangat senang sekali menceritakan apa yang diinginkannya.
"Walaupun cepat, Dik! Tapi Ayah gak pernah secepat yang kita inginkan pulang," kataku, melihat dedaunan yang berterbangan terbawa angin.
Kedua sorot mata adikku yang imut itu menatapku dengan sedih. "Kak, tapi masih ada aku kok," ujar adikku, memelukku erat.
"Iya, Kakak tau. Kalau Kakak masih punya Adik Kakak yang ini," sambungku, menarik bibir tersimpul manis.
Aku dan adikku pun berpelukan saling memberi kasih sayang sebagai Kakak beradik.
"Kak," kata adikku melepaskan pelukannya dan menaikkan pandangan melihatku.
"Iya, Dik," ucapku, melihat adikku yang mendongak.
"Kak, kalau Ayah pulang. Apa nanti yang harus kita bilang sama Ayah?" tanya adikku kepada ku.
Kedua bibirku cemberut. "Kita mau bilang apa sama Ayah, Dik?" tanyaku ingin tahu.
"Baju itulah, Kak!" cetus adikku.
Ibu sambung langsung tiba-tiba terpampang jelas dihadapanku yang pergi membawa tas. Wajah sumringahnya yang tadi sangat bahagia ketika mengatakan bahwa dia ingin pergi itu belum jua luput dari ingatanku.
__ADS_1
"Kak," panggil adikku kembali.
"Iya," sahutku.
"Kakak lagi mikirin apa?" tanya adikku.
Aku langsung bingung ingin menjawab pertanyaan adikku. "Mmm, Kakak cuma teringat Ibu," jawabku pelan dan penuh hati-hati.
Wajah adikku langsung berubah tidak enak dan cemberut manja. "Aku pikir Kakak ingat Ayah," sesal adikku, melepaskan pelukannya. "Kak, Ibunya Kakak itu 'kan, udah jahat sama Kakak," singgung adikku kembali.
"Tapi 'kan itu cuma sebentar, Dik," balasku.
"Hahaha! Sebentar dari mana, Kak?" tanya adikku, menertawaiku. "Ibu kesayangannya Kakak itu kalau udah marah dia gak mau tau kita Anak kecil atau tidak!" tandas adikku.
Dari dulu hingga saat ini adikku masih tetap sama. Dia hanya mau mengakui kalau dia cuma punya satu orang tua yaitu, hanya seorang Ayah.
"Ana, tapi, Dik. Kalau orang jahat. Kita gak boleh jahat juga," kataku.
"Aku tau Kak. Tapi kalau kayak Ibu kesayangannya Kakak itu. Aku gak mau!" tolak adikku mentah-mentah. "Mending aku gak usah punya Ibu," lanjutnya.
Semakin hari adikku semakin menjadi Anak yang sangat keras kepala dan tidak mau menerima saran atau nasihat siapa pun.
"Dik, kalau Ayah tau kau ngomong kayak gini. Ayah pasti akan memarahimu?!" terangku, melihat adikku yang masih berdiri melihat keluar.
"Biarin aja Kak! Yang penting Ayah sayang samaku," bantah adikku.
"Asal Kakak tau. Kemauanku cuma satu Kak," ucap adikku, melayangkan sorot mata melirikku yang berdiri bersamanya.
"Apa?" tanyaku ingin tahu.
"Bermain," jawab adikku singkat.
"Apa? Kau mau bermain?" tanyaku penasaran.
"Iya, kenapa Kakak melihat aku kayak gitu?" tanya adikku.
"Ana, jangan cari masalah! Nanti Ayah marah sama kita," kataku, menatap adikku yang mulai ingin bermain -main kembali.
"Kak, cuma sebentar saja! Lagian aku bermainnya cuma di halaman kita aja kok," bujuk adikku memohon.
Kepalaku pusing kalau sudah mendengar rengekan adikku. "Ana, kita gak boleh keluar, kata ayah." Aku semakin cemas dibuat rewelan adikku yang cerewet.
"Kak, Ayah 'kan belum pulang. Lagian Ayah pulang 'kan masih lama," sambut adikku dengan harapan yang besar.
__ADS_1
Tubuh mungilku yang lemah harus bisa kupaksa untuk menahan adikku agar tidak jadi, bermain keluar.
"Kak, cuma bermain di situ!" tutur adikku, menunjuk pohon bunga yang bersih.
"Ana, itu halaman udah bersih di sapu Ayah," paparku.
"Kak, tapi 'kan, nanti aku sapu kok," pinta adikku memohon izin agar aku membukakan pintu untuknya.
Masalahku semakin kacau dan kusut melihat rengekan adikku yang selalu bertahan dan bisa membuatku dilema.
"Ana, tetap tidak bisa. Kita udah dilarang Ayah supaya tidak boleh bermain keluar," tegurku keras.
"Kak, sebentar saja. Kalau di dalam rumah aku gak bisa ngapa-ngapain," rengek adikku, melihat anak-anak yang asyik bermain. "Hei, kalian mau bermain denganku gak?" tanya adikku berteriak.
"Mau Ana, tapi Ayahmu nanti marah," jawab salah satu dari mereka.
"Ayahku kerja kok," terang adikku, menekuk wajahnya yang manja.
"Iya, Ana. Memang Ayahmu kerja. Tapi nanti kalau Ayahmu udah balik. Ayahmu pasti nanti akan memarahimu," sambung salah satu dari mereka.
"Makanya bermainnya lain kali saja. Jangan sekarang! Kami gak berani mau bermain dengan mu," ucap mereka.
Spontan adikku semakin diam dan sedih mendengarnya. Wajah manjanya yang imut semakin cemberut bercampur sesal.
"Percuma aku ngajak kalian!" gerutu adikku sebal. "Kalian gak mau ngajak aku," gumam adikku.
Aku yang menyaksikan mereka dengan adikku hanya tertawa kecil di dalam hati. Dia memang sering kalau bermain kadang diajak dan kadang tidak.
"Ana, orang itu betul. Nanti Ayah marah," kataku pelan.
"Kakak memang selalu seperti itu! Kakak mana pernah mau membelaku, huh!" celetuk adikku kesal, memutar badan dan duduk di sudut tempat.
"Kenapa kau yang marah? 'Kan yang gak mau ngajakmu bermain 'kan orang itu!" ucapku melayangkan pertanyaan kepadanya.
Dia masih tetap diam duduk di atas lantai yang tersudut seorang diri. Muka sedihnya terlihat begitu memilukan dan penuh harap yang sangat dia gantungkan dapat bisa bermain dengan anak-anak yang lain.
"Ana, kita bermain di rumah saja!" bujuk pada adikku yang ngambek.
"Aku gak mau! Aku gak punya mainan, Kak," tutur adikku. "Kakak tau. Ayah menahan si Dottie-ku. Jadi, aku gak punya siapa-siapa lagi!" keluh adikku.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...