
"Kak, ngapain di situ. Ayo kemari ," ajak adikku. Melambaikan tangannya ke udara sebagai isyarat memanggilku.
Aku langsung memutar kepala melihat ke arah adikku yang memanggil dari balik tirai kamar. "Iya," jawabku. Menyeret tungkai kaki yang sakit menghampiri adikku.
"Ibu kesayangan Kakak ' kan udah pergi. Jadi, ngapain lagi Kakak berdiri di situ," kata adikku.
Mengambil kotak P3K yang tiba-tiba terletak di sudut lantai kamar. "Sekarang obati kaki Kakak dulu biar cepat sembuh," ucapnya.
"Ana, Kapan kau ambil kotak ini?" tanyaku menyelidik. Duduk di atas tempat tidur dan menaikkan kedua kaki.
"Tadi, sewaktu Kakak makan di dapur," kata adikku. Melayangkan kotak P3K di hadapanku.
Aku pun langsung mengambilnya. "Lukanya sudah mau kering, kok," tuturku. Menutupi luka dengan tangan.
Adikku memonyongkan bibirnya sedikit ke depan sebagai isyarat kalau dia tidak percaya terhadap yang kubilang. "Kenapa Kakak tutupi?" tanyanya dengan penuh tanda tanya. Menaikkan alis.
"Biar jangan kena debu," balasku. Melihat tangan yang masih menutupi luka. Mengambil kotak P3K yang mengayun di udara tepat di hadapanku.
"Hahaha ! Kak, aku tau yang sebenarnya," sambung adikku. Melirikku dengan tatapan mata yang mengetahui yang sebenarnya.
"Sudah la Kak. Obati saja lukanya. Biar gak makin parah dan Kakak nanti bisa ikut masuk sekolah kelas baru," tutur adikku.
Aku sejenak diam memandangi kotak P3K yang kupegang.
"Jangan diliatin Kak. Di buka terus obati itu luka Kakak. Biar Kakak gak kena marahi terus," saran adikku.
"Tapi... ." Aku diam berpikir melihat kotak P3K yang disodorkan adikku kepada ku.
"Tapi apa Kak?" tanya adikku terheran.
"... ini perih," ucapku langsung. Menatapi kotak P3K terus menerus.
"Haduh Kak. Itu cuma sebentar," sambung adikku. Melihat kotak P3K yang aku pegang.
Mendengar saran dan nasihat adikku. Aku pun membuka kotak P3K itu langsung.
Tak!
Kotak itu pun terbuka dan mengeluarkan aroma yang khas yang dapat menjadi tetapi untuk luka.
Obat merah pun aku ambil dan kubuka lalu aku curahkan sedikit ke dalam luka yang belum kering.
__ADS_1
"Itu 'kan luka Kakak belum sembuh. Lukanya aja belum kering," kata adikku dengan sendu melihat luka yang melebar dan berair.
"Aaaagh! Huhuhuhu!" Aku pun mengembusnya seketika. Air mataku yang tadi terbendung dengan kuat kini langsung tercurah dengan deras.
Huhuhuhu ! Tangisanku yang tadi berusaha aku tahan pun pecah dengan lepas. Wajah ibu yang aku rindukan tiba-tiba hadir menari-nari di kedua mata. Aku pun menangis sejadi-jadinya dengan isak tangis setengah aku tahan.
Luka yang perih bercampur dengan panas dingin tubuh ini semakin menguras emisionalku hingga tangis pun semakin pecah dan air mata bercucuran membasahi kedua pipi. Kesedihan yang bercampur dengan teriakan ibu sambungku tadi semakin menjadikan kesedihanku semakin mendalam.
"Kak, jangan cengeng. Itu cuma luka dan juga perihnya 'kan cuma sebentar," tegur adikku dengan kesal dan bercampur sebal. Melihat tangisku seperti anak kecil. "Luka segitu aja nangis. Makanya kalau Kakak takut sama luka jangan bermain jauh-jauh," tandasnya dengan sebal. Melihatku yang menangis.
"Tapi lukanya perih, huhuhuhu!" kataku dengan nada suara parau yang bercampur dengan isak tangis.
"Hadeh!" keluh adikku menghembuskan napas pelan mengurut dada melihatku yang terlalu kelewatan. "Gitu aja, nangis. Dasar cengeng," gerutunya sebal.
Perlahan aku pun mengembus luka yang membuat aku berjalan tertatih-tatih. Aku terus menerus mengembusnya dengan menutup kedua mata membayangkan wajah ibuku yang penuh kasih sayang itu datang mengobati luka kakiku yang belum sembuh.
Perlahan aku merasa kalau ibuku hadir dan mengembus lukaku yang perih dan memelukku dengan erat. Perlahan tangisku pun mereda seketika.
"Itu 'kan Kak. Apa aku bilang. Itu cuma sebentar," terang adikku menjelaskan. "Kakak bandel sih. Di bilangin gak percaya," celetuknya dengan geram. Melihatku yang keras kepala.
"Ana, Kakak gak berani," keluhku kembali sambil menutup kedua mata.
"Eem," jawabku mengangguk.
Adikku semakin lama semakin diam. Aku tidak tahu sekarang dia lagi apa. Tapi yang jelas aku masih terlena dengan mata yang tertutup rapat membayangkan kalau ibuku datang mengobati lukaku.
Aku terus saja terbuai dengan objek yang aku lihat di dalam mata yang tertutup. Wajah teduh yang penuh kasih sayang itu seakan tersenyum menghapus dukaku. Wajahnya semakin lama semakin membuat aku tidak merasakan pedihnya luka yang membuat aku mengerang kesakitan.
"Liyan, kalian sudah makan?" tanya suara dari balik tirai.
Sontak aku langsung terkejut dan membuka kedua mata. "Ayah," gumamku pelan menatap lurus ke depan dengan kedua bola mata membelalak.
Sekilas aku melirik ke sudut tempat tidur. Aku juga semakin terkejut melihat adikku yang telah tidur dengan nyenyak.
"Iya Ayah," jawabku. Refleks memutar kepala tepat ke arah sumber suara ayahku sambil meminggirkan kotak P3K sedikit jauh dariku.
"Kalian sudah makan?" tanya ayahku. Melihat kami dari tirai yang sedikit terbuka.
"Sudah, Yah," jawabku langsung. Menutup luka lututku.
"Kau sakit?" tanya ayahku terheran. Melihat gelagatku yang gugup. Melayangkan sorot mata yang tajam seakan mengatakan kalau dia tidak percaya dengan yang aku katakan.
__ADS_1
"Gak Yah," jawabku. Menjatuhkan pandanganku ke bawah melihat sebelah kakiku yang sebelah terbujur.
Ayahku pun mengangguk mendengar jawabanku lalu dia pergi meninggalkan aku dan adikku yang tertidur pulas.
Huh! Aku menghembuskan napas dan mengurut dada dengan lega. Akhirnya, ayahku pergi juga, pikirku. Dia tidak tahu kalau aku sedang sakit. Aku menatap lurus ke dinding kamar dengan sendu.
Aku kembali teringat tubuh yang sudah mulai panas dingin. Suhu panas tubuhku pun semakin menjadi begitu juga dengan dingin yang masih menyelimuti diri ini. Aku semakin gusar membayangkannya, apalagi sampai ayahku tahu. Jika aku sakit maka dia pasti akan memarahiku. Aku pun semakin bergelut dengan kecemasan yang menganak di dalam diri ini.
"Liyan, siapa tadi yang mencuci piring ?" tanya ayahku. Berdiri di balik tirai kamar kami.
"Ayah kami tadi mau belajar mencuci piring," balasku menjawab pertanyaan ayahku. Menutupi yang sebenarnya terjadi kalau ibu sambungkulah yang menyuruh kami mencuci piring.
"Apa Ibumu tidak melarangnya?" tanya ayahku semakin menyelidiki.
"Ayah, Ibu gak tahu kalau kami mencuci piring," jawabku. Berjalan keluar Menghampiri ayahku.
Ayahku diam dan mengangguk lalu dia pergi meninggalkan aku seorang diri berdiri. "Mulai besok, kalau tidak Ayah suruh. Jangan coba-coba mencuci piring," tegur ayahku dengan keras. Berdiri tegak lurus di depan pintu dapur tepatnya menghadap keluar, di ikuti kepalanya menoleh kearah kanan melihatku.
"Iya, Yah," jawabku. Melihat ayahku lalu melihat ke sekeliling rumah dan tidak lagi melihat muka ibu sambung kami yang tadi memarahiku.
"Liyan, apa yang kau cari ?" tanya ayahku. Berdiri di depan pintu dapur. Berhenti melangkah setengah jalan.
"Tidak ada apa-apa, Yah," jawabku.
Aku dan ayahku pun masing -masing memutar badan dan berjalan ke arah tujuan kami masing-masing.
"Dengar Liyan. Nanti malam tidak ada lagi libur mengaji. Hanya karena kakimu yang sakit itu," katanya. Mengingatkan.
Kakiku sebelah kanan yang melangkah sontak terhenti dan membelakangi ayahku yang melangkah keluar pintu dapur. "Obati lukamu itu sampai sembuh. Ayah tidak mau tau," sambungnya.
.
.
.
Bersambung...
Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku ya ! 🙏🥰
__ADS_1