Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Celaan


__ADS_3

"Ana, tapi kaki Kakak sakit," rintihku menghenyak diri.


"Alah, itu palingan cuma bohong Kakak saja. Aku tau!" sambung adikku.


Aku terhenyak dan terdiam. Kotak P3K yang berada di genggaman adikku masih saja kutatap dengan nanar. Kotak itu begitu ingin sekali aku ambil dari tangannya tapi karena dia lebih kuat dari aku. Aku jadinya mengurungkan niat.


"Kak, kalau Kakak mau ini aku kasih Kakak harus janji samaku," pinta adikku dengan penuh penekanan.


Aku semakin menajamkan tatapanku yang bercampur dengan kecewa ini melihatnya. Dia begitu tiada henti terus menerus membuat diriku berada di dalam tekanannya. Diriku semakin sesak rasanya ingin bernapas. Entah kenapa adikku belakangan ini semakin menjadi bengis?


"Kalau Kakak gak janji. Kotak ini akan aku sembunyikan," tandas adikku tanpa hati nurani.


Aku semakin menguras energi untuk berpikir lebih keras lagi mencari jalan keluarnya.


"Kakak 'kan tau. Aku gak suka kalau aku dibantah," lanjut adikku seolah meniru gaya bicara ayahku. Melirik kotak dan sekilas menatapku dengan tajam. "Kakak 'kan tau. Aku itu Anak paling kecil. Dan Ayah 'kan sudah pernah bilang, kalau Kakak harus mengalah untuk ku," serangnya berlanjut membuatku semakin tidak bisa mengelak.


Tubuh mungil yang lemah dan mata yang sayu akibat sakitku semakin meredup menatapnya yang berkata tajam menyayat hati dan sering membuat aku menyeka air mata.


"Makanya aku gak suka, kalau Kakak mengobati kaki Kakak itu pakek ini," tandasnya tajam.


Tungkai kaki yang nyeri dan terseret dengan paksa, semakin kuat menopang tubuh mungil ini. Tubuh mungil yang tiba-tiba ingin terjerembab di lantai setelah mendengar omelan adikku ia semakin bertahan dengan kuat. Demi aku yang lemah agar tidak semakin parah.


"Ana, Kakak juga Anak paling besar. Kata Ayah kau harus mencontoh Kakak," sambungku membela diriku sendiri. "Ayah 'kan pernah bilang, kalau kau harus sopan sama Kakak," lanjutku dengan nada suara orang yang sedang sakit.


Adikku yang berdiri dengan tegak sambil memegang kotak P3K itu menatapku semakin tajam bercampur dengan raut muka yang sinis. Kotak itu masih terpampang jelas di depan kedua mata ini. Ia seakan ingin berpindah tangan beralih ke tanganku ketika aku dengan sekilas melihatnya.


Kami berdua memang seperti itu sering bertengkar dan berselisih paham. Belum lagi ayah dan ibu sambung kami yang mengunci kami di dalam rumah belakangan ini. Mereka berdua sangat takut kalau kami pergi keluyuran keluar rumah.


"Kalau Kakak mau sembuh, Kakak harus beli obat Kakak sendiri," kata adikku memberi saran aneh. Memeluk kotak P3K semakin erat.

__ADS_1


Napasku semakin sesak melihat adikku yang mendadak ambigu hari ini. Kotak obat P3K yang masih terpampang jelas semakin menarik minat ini untuk merampasnya dari tangan adikku.


"Ana, kalau Kakak sakit. Kau nanti gak bisa bermain," ucapku dengan nada suara yang menahan rasa sakit di tungkai kaki.


Adikku terlihat bingung dan bimbang ketika mendengarnya. Dia diam membisu, seperti patung dan menutup bibirnya yang kecil itu dengan rapat. Berulang kali dia menatap kotak P3K yang digenggamnya dan menaikkan kepala sedikit melirik lurus ke depan tepat ke arahku.


"Aku tetap gak mau," pekik adikku dengan keras. Menempelkan kotak P3K semakin erat di tubuhnya. "Kakak beli obat yang lain aja," suruh adikku dengan seenaknya. "Ini obat Ayah. Ayah yang membelinya pakek uang Ayah," ungkap adikku yang cerewet.


Ungkapan itu membuatku semakin jengah dan miris. Lucu bercampur sebal itulah yang menganak di dalam diri ini sekarang. Tingkah adikku terkadang benar dan terkadang salah.


Huh!


Napas dengan kasar aku hembuskan sambil menatap langit-langit ruangan. Tubuh mungil yang lemah saat berhadapan dengan adikku semakin gemetar bercampur panik.


"Ana, Ayah 'kan Ayah Kakak juga," ucapku. Berdiri tegak lurus di depan adikku sambil meletakkan kedua tangan di samping tubuh mungil yang lemah.


Raut muka adikku semakin pias. "Siapa bilang ? Ayah bukan Ayahnya Kakak," sungut adikku melayangkan sorot mata yang tajam bercampur wajah yang ketat. "Aku cuma bilang, obat... Ayah yang membelinya," lanjutnya. Memeluk kotak P3K itu dengan kuat.


"Kalau Ayah yang membelinya, berarti Kakak boleh memakainya," kataku. Memutar kepala kembali melihat tegak lurus tepat ke arah adikku dan kotak P3K yang terpampang dihadapanku.


"Engga. Kakak gak boleh memakai ini. Nanti ini cepat abis," timpal adikku dengan nada suara dan raut wajah yang cemberut manja.


"Kalau habis ya di beli lagi. Ayah 'kan kerja!" terangku dengan suara yang rendah. Bergeser sedikit menjauh darinya.


Bangku yang dia duduki tadi kini hening menyaksikan kami berdua yang bersiteru. Meja yang berdiri kokoh menyanggah gelas yang terletak di atasnya membisu dan diam mematung.


"Enak aja Kakak ngomong gitu," balas adikku. "Kalau abis, ya pakek uang Kakak lah belinya. Masa pakek uang Ayah," cetusnya dengan terang menghardikku.


"Uang Kakak 'kan gak ada," balasku kembali.

__ADS_1


"Ya udah! Kalau gitu kaki Kakak, gak usah diobati," tandas adikku seenaknya. Menatap kotak P3K yang berada di genggamannya.


Huhuhu!


Mulutku kembali terbuka lebar dan mengeluarkan air mata membasahi kedua pipi. Tungkai kaki bercampur tubuh mungil yang lemah ini pun ingin terjerembab ke lantai setelah aku melihat wajah adikku yang ingin seakan menekanku.


"Nangis lagi," gumam adikku. "Dasar cengeng. Makanya Ayah mengunci Kakak di sini," sindirnya dengan sinis.


"Ayah 'kan Ayah Kakak juga," singgungku kembali dengan suara bercampur isak tangis. Menatap lirih lantai sambil tersengal.


"Ayahku juga kok," sambut adikku tidak mau kalah.


Air mataku semakin berderai membasahi pipi demi menahan kata-kata adikku yang mencela. Lantai yang aku injak pun terasa basah akibat terkena tetesan air mata. Baju yang aku pakai juga basah terkena rembesan air mata yang tercurah dan tertumpah habis.


"Ayah 'kan Ayah Kakak juga," ucapku kembali mengulanginya sambil menghapus air mata dengan baju yang kupakai.


Adikku hanya diam dan membisu tidak sepatah kata pun keluar ketika dia melihat air mataku berderai. Tubuh mungilku pun sangat sedih ketika aku melirik lututku yang terluka.


"Kalau kaki Kakak gak sembuh. Kakak juga gak akan sekolah," ungkapku dengan lirih bercampur suara tangis tersengal.


"Mana ku tau," gumam adikku pelan.


Huhuhuhu !


Tangisku kembali pecah di saat kedua sorot mata ini melirik lutut yang terluka. Henyakan kata-kata semakin pelik menimpa tubuh mungil yang lemah.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2