Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Nasihat


__ADS_3

Setelah Septiani selesai, maka penampilan baru berikutnya, akan berdiri di depan kelas yang di anggap sebagai panggung panas oleh kami yang merasa gemetar.


Selesai sudah pertarungan kami mendengarkan Septiani. Sekarang menunggu untuk yang berikutnya, siapa yang akan mengisi depan kelas? Apakah ada dari kami yang lebih baik dari diriku dan Septiani? Hahaha! Tawa kecil mengisi relung hatiku yang dalam.


Sikap, siap sedia dari Bu Dona menunjukan ke siapan untuk yang lain. "Siapa yang mau tampil berikutnya, tanpa di sebut namanya? Silahkan tampil sekarang!" ucap Bu Dona dengan pertanyaan yang meminta. Menatap keseluruhan murid.


Seluruh ruangan kelas hening. Tidak satu pun, dari mereka bersuara, hanya tatapan mata yang berbicara saat ini. Sorot mata yang berjalan, seperti mengeluarkan sebuah huruf yang bisa di satukan menjadi sebuah kata.


Ada keinginan untuk tampil seketika, ada juga yang mengurungkan secara mendadak. Solihin, anaknya yang paling tidak sabaran menunggu terlalu lama, meluruskan tubuh sedikit maju merapat ke meja dan mengangkat tangan. "Saya, Bu," jawabnya dengan lantang. Menatap wajah Bu Dona yang selalu terlihat serius.


"Baiklah! Silahkan!" sambut Bu Dona. Memutar Sorot mata menatap Solihin.


Bu Dona pun, kemudian menunduk kembali, melihat buku yang ia letakan di hadapannya. Menulis sambil menunggu Solihin beranjak. Wajah seriusnya terlihat seperti berpikir, seolah ia melihat masalah yang kusut di dalam buku dan Solihin pun berjalan dengan sedikit kencang, membawa buku yang ia pegang dengan kedua tangan, mengayun ke udara sambil terbuka.


"Ini, Bu," ucap Solihin. Menyerahkan buku kepada Bu Dona.


Melihat buku yang setengah mengayun di udara, Bu Dona pun, menghentikan tulisannya seketika. Ia pun, meletakan pena di atas buku dan memutar kepala sedikit ke samping, sambil mengambil buku yang di serahkan oleh Solihin.


"Baca!" perintah Bu Dona dengan wajah datar. Menarik bibir dengan melengkung sedikit.


"Baik, Bu," jawab Solihin. Memutar badan berdiri tegak seperti yang lain. Ia pun mulai mengatur keseluruhan dari gestur dan mimik wajahnya hingga terlihat sempurna.


Bu Dona pun, seketika meluruskan kembali duduknya seperti sediakala, sambil memegang buku Solihin dan membacanya, seperti yang ia lakukan sebelumnya terhadap murid yang lain. Dengan kedua telinga yang masih sempurna, Bu Dona memasang pendengaran dengan jeli.


Solihin pun, memulai debutnya di depan kelas. Menakjubkan ia tidak kalah saing dengan Fikri dan Rasyd. Ia begitu mahir dalam mengatur semua gerakan dan mimik wajah serta suara. Getaran pita suara yang serak basah menambah manis, seorang Solihin yang tampil di depan. Wajah tawa yang gemilang membuat, ia menjadi idola Bu Dona.


Kami begitu tertegun melihat penampilan Solihin yang tidak seperti biasa. Rasa kekaguman hari ini, begitu berlimpah di berikan kepada Solihin.


Percaya diri begitu kuat terlihat menemaninya. Tidak ada gemetar sedikit pun yang berikan, ia begitu rileks.


Tawa


Kau mengisi hari-hariku


Kau ciptakan kebahagiaan


Mengisi hati yang resah


Melengkung di atas bibir yang tipis


Kau memecah sepi diri


Mengisi sepi malam yang sunyi


Seindah pelangi membawa teduh


Menyapa dengan hangat


Menghilangkan lara


Memecah sepi diri


Membungkam senyap jiwa


Membuat hati berbunga-bunga


Malam yang merindukan pagi


Memeluk fajar yang terletak


Yang menaklukan hening


Dan menghapus luka


Bu Dona begitu terlihat mengangguk beberapakali, mendengar Solihin. Seakan ia memberikan rasa kagum yang besar terhadap Solihin. Beberapa kali, Bu Dona melirik Solihin yang tampil. Seakan Bu Dona mengatakan ternyata, 'Anak ini bagus juga', itulah yang terlihat dari tatapan Bu Dona.


Decak kagum pun, dari seluruh murid tidak kalah saing dengan Bu Dona . Mereka begitu antusias melihat dan mendengar Solihin, yang tidak seperti Solihin yang biasanya, julid dan rempong. Begitu juga dengan aku. Aku tidak menyangka, kalau temanku Solihin bisa seperti ini membaut semua orang terpukau, terkhusus bagiku.


Sesekali, aku memecah kesunyian menatap Widia. "Widia, Solihin bagus juga ya! Penampilannya," bisikku di telinga Widia. Menatap lurus ke depan.


"Ia Liyan! Solihin! Kalau dia mau, dia pasti bisa," sambung Widia pelan. Menatap Solihin sambil melepaskan ketakutan yang menimpanya tadi.


"Heh! Liyan, kau bicara apa? Kenapa tidak membaginya dengan ku," sambung Fikri dari belakang dengan pelan.


Seketika, aku merasa penyakitku kambuh lagi, mendengar sambungan suara dari belakang. Fikri suka menyambung pembicaraan seseorang, terkhusus aku.


Tubuh panas yang di balut oleh kedinginan kini semakin memuncak. Entah, kenapa? Tiba-tiba ia kambuh lagi. Mata yang menatap Solihin dengan sedikit ke terangan, kini redup tanpa cahaya.


Napas yang tadi, aku hembuskan masih baik-baik saja, kini terasa mengusik kenyamananku. Bibir yang pucat begitu berat ingin terbuka, menjawab timpalan dari Fikri di belakang.


Suara gerakan kecil mengusik pendengaranku, terdengar dari arah Fikri. Beberapa kali, Fikri mendorong sedikit bangkuku ke depan sebagai isyarat, kenapa? Aku tidak menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


Tangan usilnya pun, terlihat dari ekor mata menepuk pundakku pelan dengan buku. Rasanya, aku ingin sekali mengeluarkan ombak besar dan melemparkan sekuatnya.


"Iiissch! Fikri, kau kenapa memukulku? Sakit, tahu!" sungutku pelan. Mengelus pelan pundak dengan tangan kananku.


"Makanya jawab, kau tadi bilang apa? Kepada Widia, jangan bilang, kalau kalian memuji Solihin, ya!" lanjutnya dengan ketidak relaan. Fikri, seakan ia sudah mengetahui dari reaksi kami, kalau kami lagi memuji Solihin.


"Heh! Liyan, Solihin itu terlihat bagusnya cuman sesekali! Aku saja bisa lebih baik darinya!" sambungnya dengan acuh, mendengus. Seakan, Fikri tidak ingin kalah saing dari Solihin. Dia tidak bisa menerima dengan ikhlas kalau aku dan Widia memuji Solihin.


"Ia! Fikri, kau lebih bagus dari Solihin," balas Widia pelan dengan sedikit membenarkan Fikri. Menatap lurus ke depan.


"Yang aku tanya, bukan kau!" timpalnya dengan kesal.


Aku hanya menghela napas dalam. Mendengar Fikri dan Widia berdebat. Sepertinya, Widia menggantikan posisi Septiani. Tawa jenaka pun, menggelitik ruang hatiku yang resah.


Wajah pucat sumringah pun, terpancar memenuhi bangku yang aku duduki.


Fikri dan Widia, masih terdengar bertengkar kecil, dalam penjagaan dari lirikan Bu Dona.


Sejenak, aku melupakan pertengkaran kecil yang terjadi di dekatku, yang awal mulanya antara aku dan Fikri.


Aku pun, kembali menatap Solihin yang aku tidak tahu, akan siap segera ataukah masih lama? Namun, aku memasang indera penglihatan untuk fokus terhadapnya.


Solihin semakin terlihat bersama dawai senandung puisi yang indah. Senandung puisinya pun, semakin menghanyutkan kami yang mendengar untuk pertama kali.


Bu Dona pun, begitu menaruh decak kagum yang luar biasa terhadap Solihin. Terlihat beberapa kali, ia menatap Solihin kembali sambil memegang buku yang setengah mengayun di atas meja.


Riuh suara sorakan kecil tanda pujian untuk Solihin pun terdengar dengan semarak. Solihin hari ini bagaikan seorang ternama yang baru keluar di khalayak ramai dan menunjukan wajah eksklusifnya , yang membuat seluruh mata tertuju padanya.


"Solihin, Solihin, Solihin!" Terdengar teriakan yang begitu menggelikan memecah gendang telinga.


"Bu, Solihin hari ini bagus,ya Bu! Penampilannya," sahut dari salah seorang teman kami. "Ia Bu! Dia tidak seperti biasanya," lanjut yang lain. Dengan tepuk tangan seakan menyambut aktor ternama.


"Bagaimana Solihin? Apa kau senang mendengar pujian dari temanmu?" tanya Bu Dona, telah mengetahui bahwa seluruh murid bimbingannya begitu terpukau melihat Solihin. Menarik bibir dengan tipis.


Solihin pun refleks menarik bibir dengan wajah memerah akibat menahan sedikit malu. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun, memberi jawaban yang membuat kami senang. Ia hanya menunjukan ke kebahagiaannya dengan wajah yang rileks.


"Jadi, berapa saya akan memberi kamu nilai?" tanya Bu Dona dengan candaan garing pada Solihin mengenai penampilannya yang membuat semau terpana. Bu Dona terus menatap Solihin untuk mendengar jawaban atas pertanyaannya.


Solihin yang wajahnya kini seperti kepiting rebus, hanya tersenyum tipis. Sesekali ia menggoyang tubuh kecilnya yang berdiri di depan kelas, sebagai isyarat kalau ia malu dan ingin segera duduk.


Melihat Solihin yang tidak memberi jawaban apa pun. Membuat salah seorang dari teman kami usil dan ia pun segera menjawab pertanyaan Bu Dona. "Seratus aja, Bu," jawabnya dengan candaan penuh.


Sontak, aku memutar kepala menatap Tania dan Ecy yang duduk sebangku.


Mereka begitu rileks melemparkan pandangan ke depan dengan bebas. Terkhusus Tania, ia bagaikan tidak merasa, telah berbuat kejahatan sedikit pun.


Tatapan nanar yang polos begitu terluka. Hati yang bersih kini ternoda karena goresan luka yang menyayat. Wajah pias seketika ingin tersirat, aku netralkan untuk kedamaian hati yang lama.


Setelah itu aku pun, memutar sorot mata kembali menatap Solihin yang segera pergi untuk duduk di bangkunya.


Bu Dona selaku wali kelas kami, menatap Tania dengan jengah. "Solihin silahkan duduk!" perintah Bu Dona sambil menatap buku Solihin yang berisi dengan coretan pensil.


"Baik Bu," jawab Solihin, beranjak meninggalkan tempat yang telah membesarkan namanya hari ini.


Lalu, ia berjalan dengan sedikit kebanggaan yang membungkus dirinya saat ini kemudian ia langkahkan kaki lelah yang tadi berdiri dengan tertib, memasuki meja dan menjatuhkan tubuhnya di atas bangku. Napas ke panikan atas penampilannya yang berharap penilaian bagus dari Bu Dona, kini ia lepaskan dengan seketika.


Setelah itu, Bu Dona pun kembali bersuara, memanggil untuk yang tampil berikutnya. "Siapa lagi? Ada yang masih mau?" tanya Bu Dona. Menulis.


"Widia, Solihin begitu lelah, aku lihat," cetusku pelan. Memutarkan kepala dari Solihin menatap Widia dan menatap ke Bu Dona.


"Kenapa dia bisa lelah!? Solihin itu Anak yang engga pernah lelah. Selama ini dia sering tertawa, engga pernah lelah. Masa baca puisi aja lelah," keluh Widia dengan sindiran yang tepat.


"Kau ini!" Sungutku. Memutar kepala dengan acuh.


"Liyan! Sekarang giliran siapa?" tanya Widia ingin tahu. Menatap buku tulis yang ia bawa tadi, seakan ia menangisi puisi yang ia tulis.


"Itu! Coba lihat!" seruku dengan perintah kecil. Menunjuk dengan sorot mata yang lekat.


Tidak berapa lama, kami berdua pun melihat secara bersamaan. Widia begitu terperangah menatap Ecy yang tampil dengan sukarela. Ia begitu ringan melangkah sambil membawa buku, seperti yang kami lakukan.


Dengan percaya diri yang penuh, ia begitu bersemangat menghampiri Bu Dona yang duduk dan telah menunggu dari tadi. Ia pun, menyerahkan buku kepada Bu Dona dengan wajah polosnya.


Kemudian, Bu Dona pun seketika menerima buku yang di bawa Ecy dari meja. Sorot mata yang menatap Ecy seakan berbicara dengan jelas menyuruhnya untuk langsung berdiri dan membaca seperti yang lain.


Ecy pun, langsung berjalan mengambil posisi di mana tempat kami berdiri. Ia melakukan seperti semua yang telah tampil. Membaca dengan tenang dan tidak terburu-buru. Seperti itulah Ecy saat ini. Penampilannya begitu bagus dari pada Tania. Sehingga membuat Bu Dona sedikit menyenangi penampilannya.


Bu Dona begitu lekat menatap Ecy dan menatap buku Ecy dengan sesekali. Di samping itu, Bu Dona juga terlihat menyimak puisi yang di baca oleh Ecy.


Diam


Diam itu memendam banyak kata

__ADS_1


Menimbun banyak rasa


Yang tak ingin lagi bersuara


Menjumpai sunyi dann hampa


Kau menenggelamkan diri dari dunia


Yang menimbun luka dan duka


Dalam desakan yang menelisik


Haruskah pinta terungkap paksa


Membinasakan jiwa dalam angkara


Yang menjadi nelangsa dalam jiwa


Apakah diam harus ku abaikan


Seperti pertanyaan tak ada jawaban


Ecy begitu bahagia dari nada suara yang ia keluarkan. Ia ingin mengalahkan Tania, sepertinya! Dengan mengeluarkan penampilan yang lebih baik dan berbeda dari Tania. Bahkan, Fikri pun, hampir kalah.


Kini seluruh murid di ruangan kelas pun, diam dan menunduk, terlihat dari beberapa murid. Aku yang memutar kedua bola mata yang redup menatap mereka, seolah-olah mereka terlihat menghiraukan diri mereka sendiri, apabila tampil nanti ke depan.


Wajah yang menunduk, terlihat dari sebagian murid, seakan bertanya kepada meja yang bisu,


kalau mereka bisa atau tidak?


Hari yang lelah sudah menemani kami dengan tulus, kini akan segera beranjak pergi sehingga keheningan di ruangan kelas terasa mencekam, bahkan rintikan matahari tidak terdengar di atap sekolah.


Suara Ecy terdengar begitu lantang melebihi suara Tania. Keberanian yang tidak di miliki Tania ketika tampil, kini di ambil alih oleh Ecy.


Terlihat dari anggukan Bu Dona pelan, memberi isyarat kalau ia menyukai penampilan Ecy. Sementara aku begitu gelisah dengan kondisi tubuhku yang mulai merasa tidak nyaman.


Entah kenapa? Panas tubuhku kembali meningkat hingga membuat aku terusik. Sementara, Widia, ia terlihat tenang bersama pensil yang ia coretkan di atas kertas dari tadi.


Ke tidak nyamanan yang mengusik. Mengunci suara untuk berteriak memanggil Widia. Hanya mata yang bisa menjadi temanku saat ini. Melihat Bu Dona yang berbicara dengan Ecy .


"Ecy, kamu cukup baik dari pada Tania," ucap Bu Dona. Memutar badan menatap Ecy. "Saya rasa, kamu bisa mendapatkan nilai yang kompeten sama seperti, beberapa yang telah tampil," sambung Bu Dona. Memutar badan dan meletakan tangan di tepi meja sambil memegang buku Ecy yang berdiri tegak di udara sambil menyilangkan sebelah kaki kanan di atas kaki kiri. "Apa kamu semalam belajar membaca puisi?" tanya Bu Dona dengan menyelidik.


"Ia Bu," jawab Ecy. "Saya takut Bu, kalau saya berdiri lagi karena tidak tahu tentang puisi," lanjutnya dengan lirih. Menatap lantai.


"Bagus sekali! Itu yang saya harapkan dari kamu," ucap Bu Dona. "Perubahan kamu semakin hari semakin baik, saya lihat. Saya tidak ingin, ada murid saya yang mengikuti temannya yang tidak baik," lanjutnya. Melemparkan pandangan ke Tania. "Saya tahu kamu itu bagus, Anaknya baik, makanya di saat kamu membuat kesalahan, saya langsung menghukummu karena saya membencinya!" tandasnya. Menatap Ecy. "Orang tuamu itu kenal sama saya, ya!" cetus Bu Dona dengan penuh harapan, kalau Ecy tidak nakal lagi. "Jangan pernah mengulangi kesalahanmu, lagi!" ucap Bu Dona. Mengayunkan kepala dengan acuh.


"Baik, Bu," jawab Ecy dengan lembut. Menunduk dan memutar badan.


"Dengar, ya, Anak-anak ! Jangan pernah kalian membaut pertengkaran di sekolah ini, seperti yang saya ketahui, mengerti!" ucap Bu Dona dengan penuh penekanan. "Karena saya tidak suka melihat Anak-anak seusia kalian bertengkar!" lanjutnya. Menatap kami dengan penuh kasih sayang.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar, dan favoritnya. 🤗🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung....


Sambil nunggu Author update!


Yuk! Baca novel dari teman aku Author yang lain!


Pasti engga nyesel deh, bacanya!



Promo nomor 13


Shopia Martin tidak pernah menyangka akan terjebak cinta satu malam dengan calon suami sahabatnya. Saat Ganesha Oenelon mengadakan pesta lajang bersama dengan para sahabatnya. Sampai akhirnya dia dituduh sebagai perusak pernikahan sahabatnya sendiri.


Pernikahan yang tidak diharapkan oleh Ganesha dengan Shopia, membuat mereka membuat kesepakatan. Hingga akhirnya Dora kembali hadir dalam kehidupan Ganesha dan Shopia pun memilih pergi dari kehidupan Ganesha. Tanpa disadarinya dia sedang mengandung benih Ganesha.


Mungkinkah Ganesha akan menyadari cintanya pada Shopia? Ataukah dia memilih kembali menjalin hubungan dengan gadis yang batal dia nikahi?


Penasaran???


Ikuti terus ceritanya hingga tamat!

__ADS_1


__ADS_2