
"Awas nanti, kalau Ayah kembali akan aku kasih tahu, kalau dia memarahiku," gumam adikku.
Begitu aku mendengar omelan adikku lemah terasa sekujur tubuhku saat kata-kata itu keluar langsung dari mulutnya. Aku langsung tercengang tanpa batas. Dari setiap sikap adikku yang terjadi hari ini sangat cocok untuk ku sebenarnya menjauh. Namun, aku tidak bisa melakukannya sebab aku masih saja teringat kata-kata ayahku yang setiap kali mengatakan kalau aku harus bisa menghandle adikku yang keras kepala dan mau menang sendiri dengan kata lain, aku harus terlebih dahulu mengalah sebelum adikku.
Aku harus juga bisa kerja keras untuk mengeluarkan adikku dari keegoisannya. Bertahap demi bertahap aku mulai memantau adikku yang sering keliru. Seringkali aku juga tidak luput dari kegagalan.
Seperti yang terjadi saat ini, aku menghela napas dengan berat melihat adikku yang mengatakan tentang ibu sambung kami itu padaku.
"Jangan Dek! Nanti rumah kita berisik di dengar tetangga sebelah," tuturku.
"Kenapa yang Kakak pikirkan orang lain? Bukan aku," keluh adikku bertanya.
"Kau salah. Kakak setiap hari memikirkanmu. Saking seringnya Kakak memikirkanmu. Setiap hari Kakak di marahi oleh Ayah," jawabku.
" 'Kan, kalau Kakak di marahi Ayah. Aku juga 'kan kena imbasnya," timpal adikku tidak mau kalah.
Aku yang berdiri di hadapannya dengan cuek dia pun pergi meninggalkanku. Lalu aku berjalan ke sudut dinding dan menjatuhkan tubuhku yang lemah meratapi jeritan hati yang bergejolak memasuki sela -sela darahku yang mengalir.
Mulutku langsung terkunci dengan kuat. Kata-kata tidak lagi tercetus dengan jernih. Adikku yang tadi berjalan di koridor rumah kami, kini berdiri mematung menatap lurus ke depan. Tangan kecilnya dia lipat di atas dada dengan baju baru yang baru dibeli beberapa hari yang lalu oleh ayahku. Senyum bahagianya pun dengan tulus melihat awan yang mendung setelah dia melirik baju yang dipakainya.
Aku kemudian bangun lalu berjalan dari belakang memberanikan diri menghampirinya yang masih bergulat dengan dirinya sendiri. "Dek, kau sudah selesai makan?" tanyaku dengan pelan karena aku begitu berjaga hari ini. "Kalau kau sudah selesai makan, pergi temui Ayah," pintaku melihat adikku yang membelakangiku menyampaikan amanah ayahku.
" Ayah sudah kembali?" Adikku langsung memutar kepala melihatku.
"Iya. Ayah ada di... ." Aku memberi isyarat sambil melirik dan menarik kepalaku dengan pelan ke arah sebelah kanan.
Adikku yang polos melihatku dengan bingung. Perlahan aku menggeser tubuh yang lemah ini ke kiri agar adikku melihat ayahku.
"Ayah!" Adikku langsung berlari dengan senang dan memeluk ayahku. "Ayaaah! Ayah tidak meninggalkan Anak dan Kakak 'kan?!" Adikku semakin erat memeluknya.
"Kau menangis? tanya ayahku dengan lembut.
"Engga Yah. Aku engga menangis. " jawab adikku menyembunyikannya.
"Kalau bohong akan Ayah hukum," kata ayahku mengorek keterangan dari adikku sendiri.
"Hari ini Ayah sama, seperti Kakak. Selalu memaksa orang lain untuk bicara jujur," ungkap adikku
"Lo, emang harus kayak begitu 'kan, Nak. Kita harus mengatakan yang sebenarnya. Emang Anak Ayah tidak takut dosa?" Ayahku menatap adikku. "Kalau kita tidak mengatakan yang sebenarnya, itu namanya bohong. Nah, kalau bohong itu berdosa," lanjut ayahku dengan lembut memegang kedua bahu adikku. "Coba tanya sama Kakakmu! Ayah benar atau salah," kata ayahku dengan penuh kasih sayang.
Adikku semakin terdiam mendengarnya. Dia yang kini telah berangsur mendinginkan hatinya mulai menetralkan wajahnya kembali dengan anggukan sebagai isyarat tidak akan membantah.
__ADS_1
"Kalau orang yang suka berbohong itu, nanti akan di namakan dengan sebutan yang jelek," sambungku langsung. "Kalau kau mau, ya, engga apa-apa, sih," godaku mengejek adikku.
"Iiiihhh! Ayah lihat Kakak! Dia mengejekku," gerutu adikku dengan wajah menggemaskan mengadu pada ayahku.
Hahaha ! Tawaku langsung terdengar.
"Liyan, jangan ganggu Adikmu! Nanti, di belakang Ayahmu, dia pasti akan memarahimu?!" celetuk ibu sambung kami ketika dia mendengarnya.
Emosi adikku langsung tersulut kembali wajahnya yang tadi menggemaskan hingga senyuman pun terlihat kini menjadi rusak dan aku pun tidak lagi ikut tersenyum.
Adikku kembali mengetatkan wajahnya setelah ayahku berputar membelakanginya. Tanpa keantengan terlihat darinya yang menelan senja yang sendu.
Aku yang masih bersama adikku tiba -tiba wajah adikku terlihat kembali datar seakan dia mengingat perkataan ayahku tadi. Aku pun kembali menjadi senang tanpa kecemasan. Akhirnya, aku menebak kalau ayahku telah merubah adikku.
Betapa senang terasa hatiku sehingga
sakit yang masih bersarang tidak lagi kurasakan dengan jelas. Rasanya sekarang aku sudah sembuh. Kebahagiaan ini tidak berlangsung lama karena suara ibu sambung kami yang mengejutkan. Aku masih saja melihatnya yang sengaja mengatakan itu mengusik ketenangan adikku.
Hmm! Aku menghela napas tidak habis pikir ibu sambung yang lebih dewasa dari kami ternyata bersikap, seperti kekanak-kanakan yang suka menimpali ketika adikku sedang berkecamuk.
Sementara, ayahku yang menenangkan adikku sekarang telah duduk di bangku kebesarannya memakai sepatu kerjanya. Ayahku terlalu serius dengan sepatunya sampai -sampai dia tidak mengetahui kalau istrinya meledek adikku dengan sengaja.
"Liyan, jaga adikmu, ya! Jangan bertengkar ! Nanti kalian ada yang menangis." Ayahku bangun dari kursi. "Ayah berangkat dulu," pamit ayahku.
"Oh, iya. Ayah lupa! Kalian berdua selalu ingat tentang uang jajan. Bagaimana kalau sekali saja, Anak-anak Ayah yang dua ini tidak bejajan, bisa?" tanya ayahku.
"Tidak bisa Ayah. Karena uang jajan sekolah kami sedikit," kata adikku memotong perkataan ayahku.
"Iya. Ayah tahu, Nak," sambung ayahku menatap kami sambil mengambil uang. "Ayah belum bisa memberi uang jajan yang banyak," lanjutnya dengan wajah sendu.
"Kalau banyak jajan nanti bisa bodoh, Yah," tuturku. Aku pun dengan senang mengambil uangnya.
"Engga Ayah," sanggah adikku spontan. "Bodoh itu, kalau tidak belajar," lanjutnya kurang senang.
Ayahku yang sudah berdiri di depan pintu. "Dengar, Nak! ''Bodoh itu, tidak mau belajar.'' Ayahku mengulangi perkataan adikku. "Yang Anak Ayah katakan itu tidak salah, itu memang benar, tapi itu di akibatkan terlalu banyak bejajan dan juga banyak bermain," tandas ayahku.
"Makanya, jajanmu di kurangi," timpal ibu sambung kami dengan gamblang. "Kalau ada uang jajannya, jangan dihabiskan semua."
Aku dan adikku, juga ibu sambung kami yang sama berdiri di depan pintu serta ayahku yang berdiri juga. "Jajan itu harus di kurangi, ya!" Lirik ayahku ke belakang berjalan setelah selesai berdo'a tepat ke adikku.
"Liyan! Jajannya ' kan tidak banyak," ungkapku melihat uangku.
__ADS_1
"Jadi, Ayah tidak ikhlas ya, kalau Ana jajannya lebih banyak dari pada Kakak," potong adikku menunduk sedih dengan cemberut.
Sementara, ibu sambung kami yang bersama kami langsung menyambung. "Engga ada yang marah! Tapi itu tidak baik. Jajanmu lebih banyak dari Kakakmu." Menatap adikku dengan sindiran yang pedas.
Iiisss!
Adikku semakin geram mendengarnya." Kalau Ayah tidak suka melihat Ana bejajan. Mulai besok Ana tidak mau jajan lagi," rajuk adikku melemparkan uangnya.
Plak!
Aku sontak terkejut. "Ana kenapa kau membuang uangmu?" teriakku bertanya mengambil uang yang berserakan di lantai.
"Liyan!" teriak ayahku sambil menahan emosi. "Letakkan kembali uangnya," pinta ayahku menyuruh.
Sontak aku pun menghentikannya. Keheningan pun terjadi. Aku dan ibu sambung kami yang menyaksikannya langsung terdiam. Pandangan kami pun bertemu seakan tidak menyangka kalau hal ini akan terjadi.
Adikku yang sudah keterlaluan dengan sengaja telah menghambat jalan ayahku untuk berangkat kerja. "Ana!" teriak ayahku. "Itu uang, Nak! Tidak boleh di buang. Sekarang cepat ambil uangnya. Ayah tidak mau tahu. Ayo , cepat !" perintah ayahku menahan suaranya yang keluar meninggi. "Tidak boleh Kakakmu yang mengambilnya karena kau yang membuang uangnya. Ayah tidak pernah mengajari, seperti itu! Jadi, Ayah tidak suka dengan sikapmu ini. Kau sungguh keterlaluan, Nak! Kau tidak tahu, betapa beratnya Ayah menarik becak itu, hanya untuk mendapatkan uang ini!" sesal ayahku melihat sikap adikku.
Aku semakin gusar dengan sejadinya mendengar ayah dan adikku yang bersiteru. Wajah polosku yang pucat kini seakan membiru lebam menunduk melihat ke bawah.
"Jangan sekali-kali kau melakukan itu. Ayahmu sudah lelah di luar sana, kena hujan, kena panas hanya untuk mencari uang untuk jajanmu," pekik ibu sambung kami yang tetap berdiri.
Sebaliknya, adikku yang tidak kuasa menahan tangisannya pun pecah bagaikan air hujan tercurah dari langit. Selain itu, aku pun ikutan meneteskan air mata untuk adikku yang terlalu berani. Di samping itu, ayahku sendiri pun terlihat sedih dan menyesal karena telah memarahi adikku. Oleh karena itu, aku yang tidak bisa mendengar teriakan yang keras menjauh dari mereka.
"Lihat Kakakmu itu! Gara-gara ulahmu. Dia sampai ketakutan mendengar teriakan Ayah," sergah ayahku.
Huhuhu! Tangis adikku pun pecah.
"Sudah, sudah, sudah! Jangan teruskan lagi! Aku kasihan melihat Anakmu yang satu itu. Selalu ketakutan dengan teriakanmu," kata ibu sambungku.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung...
__ADS_1
Yuk! Teman -teman mampir ke novel teman aku ya ! 🙏