
"Kenapa kamu Liyan?" tanya ibu sambungku tiba -tiba mengusik keseriusanku dan adikku.
Kami pun sontak memutar kepala ke arah sumber suara. Aku dan adikku saling bertemu pandang, seketika adikku bangun dan bergeser sedikit dariku.
Ibu sambungku keluar dari kamar kami dan menghampiriku kemudian. Dia terlihat panik karena melihatku yang terduduk. Dia langsung berjalan kencang menghampiriku dengan rasa khawatirnya yang dalam.
Ibu sambungku yang setengah baya menjatuhkan tubuhnya berjongkok tepat di hadapanku.
"Liyan, kamu sakit lagi, ya?" tanya ibu sambungku sambil meraba wajah pucatku.
"Tidak, Bu! Liyan baik-baik saja," jawabku. Memutar kepala sedikit, melirik adikku yang berdiri tepat di sebelahku.
Adikku begitu datar tanpa reaksi sedikit pun. Dia diam dan mematung dengan bersikukuh. Dia terus memutar kedua bola matanya yang bening, sesekali melihat keluar dan lantai.
"Kalau kamu sakit, bilang saja. Tidak ada yang marah, kok Liyan." Terus menyentuh pipiku dengan panik.
"Aku tidak apa-apa, Bu." Melepaskan tangannya lalu aku sedikit mendongak ke atas melihat adikku. Ketakutanku begitu mengintimidasi perasaanku. Perlahan aku menurunkan pandangan kembali melihat ibu sambung kami yang duduk di depanku.
"Ibu tidak perlu cemas. Liyan tidak apa-apa, kok, Bu, percaya lah, tidak ada yang perlu di khawatirkan, semuanya baik-baik saja." Aku memberi pengertian padanya untuk menghilangkan kekhawatirannya.
"Kamu baik-baik saja. Kamu yakin?! Liyan tidak usah takut, katakan saja," desak ibu sambungku. "Jangan tutupi. Nanti kalau semakin parah, Ayahmu tidak akan memberimu izin untuk sekolah lagi." tandas ibu sambungku dengan lirih.
Deg!
Aku langsung terhenyak, jantungku rasanya ingin berhenti. Jeritan hatiku yang pilu kini telah menelan ludah dan menatap nanar lurus ke bawah dengan pandangan kosong. Kedua bola mataku lalu berkaca-kaca menahan butiran kristal yang ingin jatuh. Bibir pucatku bergetar menahan tangis.
"Ayah mengatakan itu?" Aku seakan tidak percaya.
"Tidak, Kak." Segera adikku memotong ibu sambung kami yang ingin bersuara. "Ayah tidak pernah mengatakan itu!" Menjatuhkan tubuhnya refleks berjongkok. "Kakak jangan takut, ya!" Wajah sendunya begitu lekat menatapku seakan menyembunyikan kebenaran dariku.
Rasanya hatiku sangat pilu. Kutatap kedua bola mata adik dan ibu sambungku yang duduk di hadapanku dengan bersamaan. Wajah mereka seakan terlihat menyembunyikan sesuatu.
Aku yang masih ragu dengan diam mereka memutar sorot mata melihat adikku. "Kau tidak bohong 'kan?" Kedua netraku menatap wajah adikku yang mencurigakan dengan tajam.
"Kenapa Kakak mempertanyakan itu?" Melempar pandangan keluar.
"Kakak harus tahu yang sebenarnya. Ayah mengatakan itu atau tidak?" Aku tetap bersikukuh ingin tahu yang sebenarnya.
"Aku tidak tahu, Kak. Aku sudah lupa!" tandas adikku. "Sekarang Kakak fokus pada kesembuhan Kakak saja." saran adikku.
__ADS_1
"Liyan! Adikmu benar jangan tanyakan lagi. Sebaiknya kamu fokus pada kesembuhanmu saja." Ibu sambungku berusaha untuk merayuku agar aku tidak terlalu memikirkannya.
"Tapi, Liyan masih penasaran. Liyan takut kalau nanti Ayah tahu Liyan sakit... dia pasti akan menyuruh Liyan tidak usah sekolah lagi," kataku dengan nada suara lirih dan menahan air mataku yang ingin jatuh.
"Kita belum tahu pasti Kak. Jadi, tidak usah terlalu di takuti. Kalau Kakak seperti ini! Yang ada Kakak makin sakit dan Ayah akan menyuruh Kakak sepanjang hari di rumah," kata adikku.
Ibu sambungku kemudian bangun dan berdiri. "Liyan, kamu 'kan Anak yang kuat. Kamu pasti bisa melewatinya." Mengayunkan tangannya ke atas kepalaku sambil mengusap kepalaku dengan pelan.
Kedua mataku pun melihatnya sambil tersenyum bahagia di dalam hatiku. Sementara adikku sedikit geli sehingga dia menyunggingkan senyum sedikit meledekku.
Aku melihat adikku yang begitu cuek melihat ibu sambung kami. Dia tidak ada keinginan sedikit pun untuk bersikap hangat. Dia hanya diam membisu seribu bahasa. Tidak banyak yang dia sampaikan kepadaku, mengingat dia juga harus menghargai ibu sambung kami yang telah memberiku motivasi untuk bertahan.
Sebesar apa pun rasa tidak sukanya, namun dia tidak pernah sedikit pun bertindak yang tidak pantas. Sikap menghargainya yang cukup besar membuat hatiku berdecak mengaguminya.
Suara adikku pun langsung terdengar. "Kakak jangan pernah menyerah," kata adikku. Sengaja ingin membangkitkan semangatku. Adikku tidak bisa melihat keadaanku semakin terpuruk. Sebisa mungkin dia akan berusaha menjadi bayang-bayang kekuatanku.
"Adikmu benar Liyan. Kau jangan menyerah, ya. Jangan menganggap penyakitmu sebagai penderitaan yang berat. Di luar sana masih banyak orang yang lebih menderita dari dirimu," kata ibu sambung kami.
Mendengarnya rasa sakitku seketika hilang. Aku masih terperangah melihat adik dan ibu sambungku tidak seperti biasanya sehingga aku melihat mereka berdua hari ini, seperti orang yang aneh. Kedua netraku memandangi mereka sambil tertawa geli di dalam hatiku.
Mereka berdua terlihat rebutan ingin memberikan perhatian penuh padaku.
"Menjauh dari Ayah, tapi kenapa?" tanyaku dengan penuh keheranan.
"Emang Kakak mau, kalau Ayah tahu Kakak itu sakit lagi," tandas adikku.
Ibu sambung kami yang sedikit berjalan membenahi seisi rumah. "Kalau sampai Ayahmu mengetahui keadaanmu, apa kau sudah siap dengan keputusan Ayahmu nanti."
Aku diam memutar pikiranku bertanya di dalam hati. Wajah pucatku langsung cemas tak bertuan. Angin yang berhembus kembali masuk menusuk tubuh mungilku yang sudah lemah.
"Tidak. Aku masih takut, kalau Ayah akan menyuruhku untuk tidak sekolah besok," kataku dengan wajah yang lirih. Hati piluku semakin terhenyak.
"Nah! Kalau kau takut, sekarang istirahatlah di kamarmu, agar kau merasa lebih baikan." Ibu sambung kami begitu baik dan mencurahkan perhatiannya hari ini kepadaku sehingga membuat adikku bingung.
"Aku heran. Kenapa Ibu tersayang Kakak berubah, bak peri?" Adikku menjatuhkan setengah tubuhnya ke udara sambil mendekatkan bibirnya di telingaku.
"Ana! Kakak tidak suka kalau kau berkata seperti itu. Seharusnya kita berterimakasih karena dia telah mau mengurus kita."
"Kakak terlalu polos. Aku yakin itu tidak sepenuhnya. Siapa juga yang tidak berterimakasih," cetus adikku.
__ADS_1
"Kenapa kau bilang seperti itu. Seakan kau jauh lebih tahu dari pada dirinya sendiri. Aku melihat ibu sambung kami.
"Bukan Kak. Hanya sekedar tebakan saja." Adikku kembali berdiri dengan tegak sambil mengulurkan tangannya padaku sebagai isyarat dia ingin menolongku berdiri.
"Ana! Jangan pernah untuk menebak sesuatu. Itu tidak baik!" Berjalan masuk ke kamar. "Bu kami permisi mau ke kamar,"
"Iya, istirahatlah! Jangan bermain lagi!" kata ibu sambung kami, menyusun bedak dengan rapi.
"Baik, Bu," jawabku. Adikku sama sekali tidak mau melihat kami, hanya sikap acuhnya yang terlihat menemani.
Pandanganku pun, segera aku putar setelah ibu sambung kami mengalihkan pandangannya dariku. Aku lalu melihat kakiku melangkah masuk.
"Rasa tidak sukamu begitu dalam," Melihat adikku sepintas.
"Tidak juga," sahut adikku yang telah mengetahuinya. "Aku tidak sejahat itu Kak, sampai menyimpan rasa tidak suka yang mendalam. Lagi pula dia sudah membuatku sedikit terharu, Kak. Ibu tersayang Kakak tadi telah melakukan sedikit kebaikan...". Diam menatap lurus ke depan. "Dengan ringan hati mengusap kepala Kakak. Aku jadi senang. Mana mungkin aku bisa sejahat itu, sementara dia telah menyanyangi Kakak yang aku sayangi." Tersenyum manis dengan wajah menggodaku.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung...
Belum ada dalam pikiran Dira untuk segera mengakhiri masa sendirinya, ia masih trauma pasca ditinggalkan oleh suami yang teramat ia cintai pergi untuk selamanya dan disusul satu-satunya superhero yang selalu berada disisinya, yaitu Ibu.
Disisi lain, putra sulung dari pemilik Raymond Group mengalami kegagalannya dalam berumahtangga.
Setelah berhasil dari masa keterpurukannya dan memilih tinggal diluar negeri, akhirnya ia kembali ke tanah air dan menggantikan posisi ayahnya, Erick Raymond.
Awal pertemuan yang tidak sengaja antara Edgar Raymond dan Dira. Dira ternyata bekerja di salah satu cabang milik Raymond group.
Sebuah problema mengharuskan Dira berurusan langsung dengan tuan Edgar Raymond.
__ADS_1
Urusan apakah itu?