Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Sindiran yang menyedihkan


__ADS_3

Tubuhku semakin hari semakin melemah. Aku juga harus dihadapkan dengan masalah lutut yang tak kunjung sembuh akibat keteledoran dan sifatku yang malas untuk mengobatinya sebab aku tidak bisa menahan rasa perih jika lukaku di teteskan dengan obat penawar luka.


Aku semakin risau dan gundah gulana mendengar tuntutan dari ayahku yang memaksa agar segera mengobati luka biar cepat sembuh dan tidak ada lagi alasan untuk tidak mengaji.


Aku semakin bersedih ketika melihat tirai kamar yang di dalamnya masih terletak obat merah di atas tempat tidur. Perlahan aku berjalan menghampiri dinding di mana tempat anak Bp yang aku jepitkan tadi dan mengambilnya.


Anak Bp yang terputus segera aku bawa masuk ke kamar. Anak Bp itu begitu menyedihkan sekali ketika aku menatapnya. Dia tidak lagi bisa bermain dengan ku. Kini dia harus pergi jauh dariku. Tangan yang setengah melayang di udara ingin membuangnya pun terpaksa aku urungkan karena aku belum bisa melepaskannya karena dia adalah salah satu anak Bp yang paling aku sukai.


"Hahaha !" Adikku tertawa tiba-tiba dari belakang.


Aku langsung tersentak dan diam dengan sebelah tangan kanan yang masih mengayun di udara refleks aku memutar kepala langsung meliriknya. "Ana, kau udah bangun?" tanyaku. Membelakangi adikku dan memutar kepala ke sebelah kiri meliriknya.


"Hahaha ! Kak, kenapa di buang?" tanyanya dengan nada suara bercampur ledekan.


"Ana, nanti Kakak akan beli yang baru," ucapku. Menurunkan perlahan tangan. "Karena dia 'kan sudah putus," kataku dengan lugas. Melihat anak Bp.


"Huh! Adikku mendengus membuang napas dengan panjang. Sambil melihat ke atas langit dan memeluk bantalnya.


Aku lekas memutar kepala dan badan berdiri tegak melihat ke arah adikku. "Kau kenapa, Dik?" tanyaku. Berjalan menghampirinya yang duduk dengan wajah di tekuk.


"Kak, kenapa kita terus di kurung di rumah ?" tanya adikku dengan nada suara yang menyimpan sebuah penyesalan.


"Kenapa? Kau gak bebas bermain lagi, ya?" kataku bertanya pada adikku yang duduk seakan memangku penyesalan.


"Kakak tau sendiri, aku gak betah kalau di kurung terus di rumah. Aku mau seperti dulu yang bisa bermain keluar tanpa meminta izin," cetusnya dengan nada suara datar bercampur kecewa.


Aku kemudian menunduk melihat ujung kaki yang tergantung duduk dia atas tempat tidur. "Ana, Ayah mungkin takut kalau nanti kau akan menjadi Anak yang suka keluyuran," balasku. Melirik adikku, di ikuti oleh kedua tanganku memegang anak Bp yang terputus.


"Iya, tapi Ayah sekarang sudah gak lagi mau mendengarkan aku. Kalau aku merengek minta keluar. Sekarang Ayah selalu bilang kalau aku harus menjaga Kakak," terangnya menjelaskan isi hatinya dengan gurat wajah yang berat.


Aku jadi merasa bersalah atas apa yang menimpa adikku Karena aku yang tidak bisa menjaga diri di luar. Jadi, sekarang dia yang mendapatkan imbasannya akibat dari kecerobohanku. Aku semakin merasa minder di hadapan adikku sendiri yang semakin lama aku merasa semakin tidak berguna. Bahkan untuk menjaga diriku saja aku tidak bisa.


Sekilas wajah Septiani terlintas di pelupuk mata. Bola kasti dan Sepeda yang menjadi penghalang untuk adikku bermain semakin membuat aku terus menerus merasa bersalah sehingga dengan sengaja aku membuatnya ikut merasakan yang aku alami.


"Ana, mungkin Ayah hanya sebentar menyuruhmu untuk bertahan di rumah," kataku dengan nada suara lembut agar adikku meras tenang.

__ADS_1


Adikku langsung menoleh kearahku dengan menarik bibirnya sebelah kiri seakan memberikan sebuah isyarat kalau dia merasa bimbang dengan pendapatku. "Aku gak tau Kak. Tapi Ayah itu sangat tegas," ungkapnya dengan gurat wajah sendu. Melirikku dan masih memeluk bantalnya semakin erat.


"Ayah juga tidak bisa di rayu. Belum lagi. Ayah kalau sudah marah dia pasti mendelik," ungkapku. Melirik adikku yang merasa kecewa bercampur sebal.


Mainan anak Bp pun tidak terasa ternyata telah aku remuk di dalam genggaman.


"Udah kusut," jeritku dengan nada suara lirih. Menatapnya dengan bola mata melebar bercampur terkejut.


"Hahaha ! Kakak gak sadar. Kalau Kakak memegang itu?!" kata adikku bertanya sambil menatapnya dengan gurat wajah bercampur tawa.


Aku sedikit kesal melihat kelalaianku yang tidak menyadari kalau anak Bp ini ada di genggamanku. "Engga," jawabku pelan bercampur dengan nada suara sedih. Melirik anak Bp di kedua tangan.


Adikku langsung melebarkan bola matanya dan menaikkan kedua alisnya sambil menggeleng kepala bercampur dengan gurat wajah acuh seakan dia mengurut dada melihatku.


Aku membuang napas kasar melihat kelalaianku. Aku kembali menjatuhkan pandangan ke bawah melihat anak Bp yang berada di dalam genggaman.


"Mau tidak mau ini harus di buang," kataku dengan nada suara lirih bercampur tidak rela.


"Ya jelas," balas adikku langsung. Menatap lurus ke depan dengan gurat wajah yang lepas.


"Pasti ada kak," jawab adikku.


Anak Bp yang telah berhasil membuatku bersedih kini harus kubuang dengan rela.


"Kak, buang aja sekarang! Sebelum Ayah melihatnya." saran adikku.


Aku sontak memutar kepala. "Sekarang ?" tanyaku. Kaget.


"Iya," jawab adikku lepas.


Huh!


Aku mendengus kesal. "Masa sekarang. Besok 'kan bisa," keluhku dengan gerutuan kecil. "Baru semalam di beli. Ini sudah harus di buang!" rintihku dengan berat hati.


"Biar saja. Biar Ayah melihatnya," celetuk adikku. "Palingan Kakak gak di kasih uang jajan dan gak di kasih beli mainan lagi," tandasnya.

__ADS_1


Setelah mendengar celetukkan adikku aku kembali melihatnya. Seketika aku menyikapi yang dikatakan olehnya. "Ayah 'kan memang gak pernah membelikan Kakak mainan," terangku dengan lirih. Melihat lurus ke atas lantai. "Selama ini Kakak cuma selalu beli apa-apa, pakai uang jajan Kakak sendiri," ungkapku.


"Itu karena Kakak ada salah mungkin," sambung adikku.


"Kakak mana pernah salah," balasku dengan polos.


"Lalu, kenapa Kakak gak di belikan mainan?" tanya adikku ingin tahu. Melayangkan tatapan yang tajam padaku.


Aku menggeleng bingung setelah mendengar pertanyaan darinya dan aku pun tidak tau ingin menjawab pertanyaannya itu.


"Mungkin Kakak suka jajan sembarangan," katanya kembali mengulanginya.


Aku diam beberapa menit mencari tahu kenapa ayahku tidak mau membelikan aku mainan. "Naaah, Ana." Aku mengacungkan telunjuk ke udara.


Adikku langsung terkejut dan mengerutkan keningnya melihatku.


"Mungkin Ayah menyuruh Kakak berhemat. Atau mungkin Ayah gak ada uang," kataku perlahan dan merendahkan nada suaraku dengan gurat wajah sendu.


"Hahaha !" Adikku tertawa. "Kak, kalau menurutku karena Kakak gak Anak ke sayangan Ayah," ucap adikku dengan lantang.


Deg!


Aku langsung diam membisu. Kepala yang tadi tegak lurus bercampur dengan kepercayaan diri kini terpukul menunduk perlahan.


"Iya, 'Kan? Anak kesayangan Ayah 'kan aku," katanya dengan bangga. "Kalau Anak kesayangan baru di belikan, apaaa pun maunya," lanjut adikku dengan bangga dan senang sambil mengayunkan kedua tangannya ke udara sebagai isyarat menggambarkan kesenangannya dengan penuh penekanan.


Aku langsung menunduk dengan wajah ditekuk. Rasanya sekarang aku seperti anak kecil yang tidak berarti apa-apa. Melihat mainan yang masih kupegang.


"Jadi, Kakak gak usah sedih," sarannya dengan sedikit angkuh.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2