Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Menghabiskan es lilin


__ADS_3

"Kalau begitu berarti Ayah sudah punya Anak yang baik," ucap ayahku.


"Iya, Ayah. Kami 'kan memang Anak yang baik," sambung adikku senang, menyeruput es lilin.


Es lilin yang aku pegang kunikmati dengan sepenuh hati. "Ayah, es lilinnya udah mau habis," kataku, memutar es lilin berkali -kali.


"Kalau habis, Nak! Besok kita beli lagi," balas ayahku sambil menyusun cabai.


"Beli di mana, Yah?" tanya adikku ingin tahu.


"Ayah belinya jauh, Nak! Kata ayahku, menunduk mengambil cabai yang jatuh. "Nanti kalau Ayah ke pasar. Baru Ayah belikan, Nak. Kalian mau 'kan?" tanya ayahku, mondar-mandir ke sana ke mari.


Es lilin yang di seruput oleh adikku berhenti di ujung bibirnya. "Kenapa gak beli sekarang aja, Kak?" tanya adikku.


"Di sini harganya pasti mahal, Nak?" sambung ayahku bertanya, membersihkan sampah belanjaan yang ada di dalam plastik.


Es lilin yang menempel di bibir adikku langsung dia telan dengan kasar. "Ayah, ada kok yang murah. Di sana!" kata adikku, menunjuk ke arah luar.


"Hahaha! Anak Ayah ini, kalau sudah maunya harus dituruti," timpal ayahku sambil tertawa.


Es lilin yang dibeli ayahku kami seruput sesuai bagian kami masing-masing. Banyak sekali unek-unek yang ingin aku sampaikan kepada ayahku. Namun, demi kenyamanan keluarga kecil ayahku. Aku mengurungkan niat.


"Ayah, kalau Ayah mau. Kami bisa membelinya," ucapku dengan lembut.


"Iya, Ayah. Kami gak akan lama, kok," kata adikku. Berdiri di tengah pintu tengah melirik sambil menyimpulkan senyum liciknya.


Tungkai kaki kuseret bergeser mendekati adikku. "Ana, kau mau bermain, ya?" tanyaku, Berdiri berbisik di telinganya.


Es lilin yang ada di tanganku sudah mencair sedangkan adikku sangat gelisah karena es lilinnya sudah mau habis.


"Kak, biar kita keluar," rengek adikku mengiba.


Es lilin yang sudah mencair itu pun, kuteguk sampai habis. "Dik, kalau kita keluar. Ayah gak bakalan ngasih," bisikku sambil menelan es lilin yang ada di dalam tenggorokan.


Es lilin seketika di seruput oleh adikku. "Kak, cuma sebentar aja, kok," lanjut adikku bersedih. "Karena kita 'kan gak bisa lagi keluar," ucapnya mengadukan segala masalahnya.


"Liyan, Ana. Es lilinnya besok aja, Ayah belikkan lagi , ya Nak! Ini kalau udah habis, ya sudah!" kata ayahku acuh.


"Ayah, es lilinya cepat kali cairnya," keluhku, membuang plastiknya ke tempat sampah.


"Nak, makanya minumnya, jangan lama-lama," terang ayahku. Berjalan sambil mengambil plastik es.

__ADS_1


"Ayah, esnya dingin sekali," sambung adikku. Sok imut.


Es lilin yang berembun menembus plastik. Menetes membasahi meja. "Ayah, esnya aku habis 'kan, ya?" tanyaku, mengambil es di dalam plastik.


"Kak, tinggalin aku, ya," pinta adikku, melirik plastik es.


"Nak, jangan takut! Itu esnya, Ayah belikan untuk kalian masing-masing. Jadi, tidak usah takut kehabisan, Nak," balas ayahku langsung melihat adikku yang takut.


Es yang ada di tangan adikku pun segera dia telan hingga habis. "Kak, esnya aku udah habis," kata adikku. Berdiri sambil menarik plastik es yang terletak.


Aku menghela napas panjang melihat adikku yang sedang ketakutan. "Ayah, esnya kamu beli lagi, ya!" bujuk adikku.


Ayahku yang sibuk dengan dunia dapurnya hanya mengangguk pelan sambil mengiris bahan makanan. "Kalau kalian suka habiskan saja, Nak!" seru ayahku yang lagi mengejar waktu.


Melihat adikku yang sangat menikmati es lilin pemberian dari ayah kami. Senyumku langsung tersimpul lucu melihat tangannya yang belepotan dengan air es.


"Kak, esnya Kakak masih ada lagi?" tanya adikku, melirik dengan tatapan antusias.


Es yang aku seruput sejenak aku hentikan. "Ada, tapi cuma tinggal segini," kataku. Berjalan dan duduk di luar.


Bangku kecil yang terletak di sudut dinding aku ambil. Lalu aku duduk di atasnya tepat di pinggir pintu dapur.


"Engga," balasku penuh sesal.


Ayah yang dari tadi menjadi teman kami di dalam rumah. Masih mengerjakan semua yang ada di dapur.


"Ayah, kalau aku mau beli es lilin lagi. Boleh ya, Yah?" tanya adikku membujuk.


Kesibukan ayahku membuat dia sampai-sampai tidak menoleh ke arah adikku. Aku yang duduk menikmati es yang tinggal sedikit lagi menatap adikku dengan belas kasihan.


"Ayah, es punyaku tinggal dikit lagi, Yah," rengek adikku mengadu sambil melihat es yang tinggal setengah lagi.


Ayahku masih tetap diam dan berjalan mondar-mandir dengan sibuk. Suara rengekan yang bercampur aduan itu tidak digubris oleh ayahku sama sekali.


"Ayah!" panggil adikku penuh hati-hati.


"Iya, Nak!" sahut ayahku lembut.


Baju yang belum kami ganti dari tadi malam di lihat oleh adikku dengan pilu. "Ayah, marah sama aku ya, Yah?" tanya adikku dengan nada suara manjanya yang lembut, melihat es yang dia gigit.


"Ana, Ayah lagi sibuk. Ayah mau mengejar waktu, Nak. Habis memasak Ayah mau pergi lagi," sambung ayahku, melihat masakan yang sudah teronggok.

__ADS_1


Aku bangun dari duduk sambil menarik lengan adikku menjauh dari sang ayah. "Ana, nanti kita beli lagi esnya," bisikku pelan.


"Kak, tapi aku mau sekarang," rengek adikku, menyeruput es lilin tiada henti.


Kami yang sudah berdiri jauh dari ayah yang sedang memasak. "Ana, kita belinya besok saja. Nanti kalau kita banyak minum es. Kita bisa sakit, Dik," ungkapku.


Diriku semakin bingung mendengar rengekan adikku yang tidak jua berhenti. "Jangan merengek! Nanti Ayah marah dan kita dihukum, Ana," pintaku memohon.


"Kak, tapi Ayah gak akan ngasih kita uang jajan," bisik adikku pelan.


Deg!


Seketika aku terkejut plastik es yang ingin aku buang pun, menggantung setengah di udara. "Uang jajan?" gumamku pelan bertanya. Di ikuti oleh tangan yang melepaskan sampah.


Tidak berapa lama kemudian adikku melirik ke dalam. "Iya, Kak. Ayah gak akan ngasih kita uang jajan," cetus adikku.


Selangkah kakiku kuseret mengikuti tingkah adikku yang mengintip ke dalam. "Jangan dengar Ayah. Nanti Ayah gak belikkan kita es lagi," paparku, menarik adikku menjauh dari pintu.


"Kakak." Adikku menepis tanganku. "Makanya, aku minta uang," ucap adikku bersikeras.


Halaman dapur yang menjadi tempat diskusi kami menarik rambut ini dengan kasar. "Kak, di sini panas kali," rintih adikku, mengipas lehernya dengan jemarinya.


"Alah, baru kayak gitu. Kau udah ke panasan. Payah!" gerutuku, memutar badan membelakangi adikku.


"Kenapa Kakak yang marah?" tanya adikku.


"Siapa yang marah? Kakak gak marah, kok," kataku langsung, menyeringai sebal.


Pintu dapur yang mengeluarkan bau masakan yang membuatku lapar. "Ana, Ayah udah siap masak," kataku, melihat adikku membuang plastik es.


Harum masakan begitu memanjakan hidung yang menciumnya. "Kalau kita makan. Kita gak akan dikasih jajan, Kak," keluh adikku kecewa.


"Ana, tapi Kakak lapar," ungkapku, menatap adikku sendu.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2