
Obrolan pagi ini pun telah berakhir bersama bel yang berbunyi . Kami pun berjalan kencang berbaris di lapangan seperti biasa.
Tubuh lemah sekarang terasa lebih membaik sedikit, setelah aku meminum obat sebelum berangkat ke sekolah tadi. Obat yang menjadi penyelamat bagiku dari sakit yang menyelimuti. Aku tidak pernah melupakannya, dia telah menjadi rutinitas yang wajib bagiku. Teruntuk ayahku, ia sering mengingatkan aku untuk meminum obat. Wajah piasnya yang ketat terkadang mengingatkan aku akan obat. Belum lagi kejadian yang baru aku alami, tidak pernah aku lupakan! Sama halnya dengan obat ketika aku melihat wajahnya.
Lapangan yang luas telah dipenuhi oleh murid-murid berbaris dengan rapi dan tawa. Keheningan yang kami rasakan seketika berubah disaat pemimpin menyiapkan barisannya masingmasing.
Fikri temanku yang tidak lain ialah ketua kelas sekaligus pemimpin barisan kami terlihat begitu hikmat menyiapkan barisan dengan rapi, bersama suara yang lantang terdengar. Seketika tak ada suara maupun bisikan yang terdengar.
Bu Dona yang tidak lain adalah guru kami telah berdiri tegak di depan pintu kelas untuk menyambut kami.
Aku, Widia, Septiani dan Nisa berdiri tidak jauh dari depan. Kami berempat terlihat damai dengan menyimpan masalah masing-masing di dalam diri.
Aku begitu kesal dengan sikap Septiani hari ini kepadaku. Akan tetapi aku tetap melengkungkan bibir pucat kepada siapa saja yang menoleh ke arahku, tak terkecuali kepada Septiani.
Meskipun ia begitu ketus melihatku. Aku tetap berada dalam sikap yang tenang menghadapinya tanpa membawa perasaanku yang telah tersakiti.
Sesekali aku melemparkan senyum kepadanya. Sekalipun ia tidak membalas senyumku. Ketua kelas yang kini sedang sibuk dengan tugasnya. Menyiapkan barisan dan membubarkannya begitu membuatku tersentak, ketika ia mengeluarkan suara kerasnya membubarkan barisan melihat ke arahku.
"Liyan, kau jangan melamun kalau lagi apel pagi." Tegur Fikri. "Nanti Bu Dona melihatmu dan menjemurmu di tiang bendera, seperti ikan asin. Hahaha !" Ledek Fikri tertawa sambil menempelkan tangan di bibirnya.
"Kalau begitu aku pasti cepat pulang!" Sambungku. Melihat Fikri. Menunggu barisan kami bubar masuk kelas.
"Cepat pulang? Berarti kau melarikan diri." Sambut Fikri dengan tersentak. Melihat Bu Dona.
"Mana mungkin aku melarikan diri, emang aku penjahat !" Celetukku. Mengkerucutkan bibir dengan kesal.
"Lalu! Kalau engga melarikan diri baga...." Fikri pun menghentikan ucapannya. Melihatku dengan lekat.
"Kalau aku di jemur di bawah tiang bendera, aku pasti pingsan. Kalau aku pingsan, aku pasti di suruh pulang! Jadi, aku bisa bermain. Hahaha!" Lanjutku dengan memotong pembicaraan Fikri. Sambil tertawa kecil.
"Fikri! Apalagi, jalan!" Perintah Bu Dona dengan suara keras. "Kamu bicara disitu, ya? Sama siapa kamu bicara?" Tanya.Bu Dona ingin tahu. Mendelik.
Seketika Fikri diam dan menunduk, rasa malu begitu menyelimuti dirinya. Ia tak menjawab pertanyaan Bu Dona, ia hanya diam dan meremas jemari dengan kuat.
"Siapkan barisan yang bersamamu!" Perintah Bu Dona. "Dan silahkan masuk!" Lanjut Bu Dona . Masuk.
"Baik Bu." Jawab Fikri. Menunduk.
Ia pun segera membubarkan barisan kami dan masuk dengan rapi ke dalam kelas.
Bu Dona tidak lain adalah guru baruku di kelas tiga ini. Orangnya begitu galak dan jutek tidak seperti guruku di kelas satu dan dua. Bu Dona tidak begitu suka untuk bercanda tidak seperti guru kami di kelas satu dan dua yang bisa di jadikan teman bagi kami.
Bu Dona adalah guru yang sangat disiplin, peraturannya begitu ketat tidak ada satu murid pun yang bisa membantah.
Ketika ia memasuki kelas, semua murid terlihat begitu panik, takut akan kesalahan yang di buat sendiri sehingga menimbulkan suara keras Bu Dona. Akan tetapi di sisi lain, Bu Dona terkadang perhatian terhadap murid yang tidak sanggup dalam biaya sekolah. Kalau ia melihat murid yang tidak memiliki buku bacaan ia pasti akan menanyakan tentang keadaannya dan berusaha menolongnya.
Tak jarang itu! Ia tunjukkan kepada murid yang lain dan juga terhadap diriku. Jika, Bu Dona melihat kami tidak memiliki perlengkapan sekolah seperti yang lain. Ia pasti akan menunjukkan wajah sedihnya yang berusaha ia tutupi dengan ketegasannya.
Aku pun berjalan masuk ke bangku yang aku duduki dan menjatuhkan tubuh lemah. Widia teman sebangkuku terlihat masih berdiri menunggu.
"Liyan, kau kenapa lama di barisan?" Tanya Widia ingin tahu. Melirik Bu Dona. "Apa Bu Dona menghukummu?" Tanya Widia kembali. Duduk. Menyelidik.
"Engga! Tadi Fikri melamun. Dia tidak mendengar perintah Bu Dona." Jawabku sambil mengambil buku.
"Fikri memang begitu! Pasti kau tadi di ajaknya bicarakan?" Tanya Widia penasaran. Membuka tas.
"Ia! Dia menegurku agar aku tidak melamun." Ucapku. Melihat Widia dan melirik Fikri sambil mengambil pensil.
Selanjutnya aku meletakkan pensil, tidak sengaja aku melemparkan pandangan ke arah meja Bu Dona dengan tersentak dan gugup aku melihat Bu Dona begitu tajam melihatku. Sontak jari kecilku yang lemah gemetar, bibir pucat tertutup rapat, rasanya tubuhku di siram oleh air es dan membuatku membeku.
__ADS_1
"Liyan!" Teriak Bu Dona dari depan. "Jangan ribut di situ! Nanti Ibu suruh kau maju ke depan untuk membaca puisi yang saya suruh!" Ucap Bu Dona dengan sedikit keras. "Anak-anak! Hari ini Ibu beri kalian keringanan, siapa? Yang belum selesai puisinya tolong selesaikan sekarang!" Perintah Bu Dona tegas. Melihat seluruh murid sambil memutar kepala. Bersama wajah ketat. "Jangan ada yang tidak siap!" Cetus Bu Dona sambil mengayunkan pena ke udara sebagai isyarat akan mengeluarkan hukuman bagi yang tidak selesai menunjuk kami. "Setengah jam lagi kita kumpul setelah itu maju ke depan membacanya. Liyan kamu nanti yang akan duluan maju!" Perintah Bu Dona. Menatapku lekat.
Seketika jantungku mau berhenti tubuh mungil yang lemah kini semakin gemetar dan tungkai kaki begitu terasa mau lepas.
Kemudian aku refleks menundukkan kepala. Melihat buku dengan tubuh yang membeku. Suara keras Bu Dona seakan menerkam jiwa dan raga. Mencabik -cabik tubuh ini hingga tak bersisa.
Huh! Teriak seluruh murid melihatku.
Sambil menunduk aku melirik mereka ada beberapa orang yang tidak begitu menyukai diriku. Ia begitu sinis melihatku setelah mendengar Bu Dona memanggil dan menyebut namaku.
Mereka begitu menakutkan ketika aku lihat. Sorot mata yang tajam seakan mau menerkam mangsa melihatku dengan memerah dan wajah yang menakutkan.
Sesekali aku memutar kepala melihat buku tulis. Bergeming seakan aku ada melakukan kesalahan sehingga membuat mereka kesal.
"Liyan!" Bisik Widia. Menaikkan alisnya memberi isyarat menunjuk Bu Dona. Widia pun kemudian merobek kertas dan mengambil pensil, setelah itu aku melihat ia menulis di kertas yang ia robek dan memberikannya kepadaku dengan mengangkat kepala dan alis sedikit sebagai isyarat untukku agar aku membuka dan membacanya.
Melihat tingkah Widia yang aneh dan penuh tanda tanya. Aku meraih kertas yang ia berikan dengan gurat wajah penasaran dan tidak mengerti.
Tatapan Widia yang lekat dan bergeming menatap seakan menyuruhku dengan cepat membukanya. Setelah melihat Widia, aku memutar kepala membuka kertas yang ada di genggaman dengan penuh penasaran yang sangat dalam bersama kedua bola mata yang lebar telah menanti.
Seketika aku menarik bibir pucatku melengkung lebar. *Hati-hati Ibu itu galak!* Sontak aku memutar kepala melihat Widia yang memonyongkan bibirnya sehingga terlihat seperti orang yang cemberut, di selimuti tawa geli. Kemudian aku memutar kepala melihat kembali buku dan menulis sambil melirik Bu Dona yang duduk di depan kelas dengan sesekali.
"Anak-anak bel telah berbunyi. Siapa yang sudah siap? Silahkan di kumpul!" Seru Bu Dona dengan suara keras. Memukul meja dengan pelan sebagai isyarat menyuruh murid untuk segera maju. "Setelah istirahat, satu-satu maju kedepan untuk membacakan puisinya. "Puisi seperti biasa! Saya harap kalian sudah paham, tema puisi kita hari ini harus sesuai dengan hari Ibu!" Ucap Bu Dona. Menatap seluruh murid terkhusus kepadaku.
"Baik Bu!" Sambut seluruh murid.
Sesuai dengan permintaan Bu Dona aku pun maju ke depan sambil membawa puisi yang telah aku tulis. Dari bangku, terlihat teman-temanku sudah berlomba untuk maju bersama buku yang mereka genggam. Mereka terlihat begitu antusias sampai berdempetan satu sama lain sehingga memenuhi meja guru.
"Widia kamu sudah selesai?" Tanyaku ingin tahu. Berdiri.
"Sudah! Tapi Liyan kau saja yang mengumpulkan punyaku, ya!" Perintah Widia dengan lembut. "Aku malas! Mau, ya!" Pinta Widia kembali. Memohon. "Liyan jangan lupa taruh bukuku di bawah bukumu!" Pinta Widia. Manyun sambil mengerjapkan mata. Memohon.
Bersama buku yang kubawa aku berjalan perlahan sambil menahan tungkai kaki yang ingin terhempas. Tubuh mungil yang mulai lagi kambuh membuatku begitu gelisah dan resah sambil meletakkan buku di atas meja Bu Dona.
"Liyan kamu sudah Selesai?" Tanya Bu Dona. Melihatku dengan menurunkan sedikit kaca matanya yang tergantung di telinga.
"Ia Bu sudah." Jawabku melihat Bu Dona. Meletakkan buku.
"Kalau begitu, kamu nanti yang akan lebih dulu maju." Ucap Bu Dona. Mengambil bukuku dan mengayunkan ke udara sambil melihat dengan tajam. "Kamu sudah lama kan tidak masuk sekolah?" Tanya Bu Dona. Menatapku.
"Ia Bu." Jawabku pelan. Menyilangkan tangan di bawah.
"Hm! Mengangguk pelan sambil memperhatikan bukuku. "Ya, sudah pergilah!" Pinta Bu Dona. Meletakan buku.
Huh! Begitu sesak rasanya napasku menghadapi seorang guru seperti Bu Dona. Tubuh mungil lemahku bagaikan tertimpa bongkahan es yang begitu besar sehingga membuatku membeku. Membuat kedua mata bagaikan terkena lem sehingga tidak bisa berbutar. Tidak hanya itu kaki lemah yang aku paksa menyeret pun begitu terlihat tertahan menopang tubuh mungil ini.
Setelah itu aku memutar badan menghampiri mejaku dengan membawa apa yang di sampaikan oleh Bu Dona.
"Widia, kita kan sudah istirahat. Kenapa kita belum keluar?" Tanyaku ingin tahu. Berdiri
"Itulah aku tidak tahu." Jawab Widia. Bergeser.
"Padahal sudah lama bel berbunyi." Celetuk Widia. Kesal.
"Liyan, Widia silahkan istirahat!" Perintah Bu Dona. Melihat seluruh murid. "Dan juga untuk yang lain silahkan keluar!" Lanjut Bu Dona. Memainkan ponsel.
"Ayo kita istirahat!" Teriak seluruh murid. Berlari dengan semangat keluar.
Sementara Aku dan Widia terlihat begitu berat dan malu untuk beranjak dari bangku.
__ADS_1
"Ayo, cepat Widia!" Ajakku antusias. Berdiri. "Tapi Ibu itu! Kenapa masih duduk di situ?" Tanyaku ingin tahu. Melirik dan sedikit takut.
"Liyan, Ibu itu memang seperti itu! Terkadang dia suka duduk di situ berlama-lama! Cetus Widia. "Apalagi kalau sudah memegang ponsel." Keluh Widia. Cemberut. Berjalan.
"Ibu itu lama sekali Liyan!" Gerutu Widia. Cemberut dan melirik Bu Dona.
Kami berdua pun melangkah keluar dari balik pintu. Aku yang berdiri, tiba -tiba terhenti dan memutar badan ke arah sumber suara.
"Liyan, kau sudah siap?" Tanya Ecy dengan sinis. "Ternyata kau tahu juga." Lanjutnya. Menyeringai. "Padahal kamu kan sudah lama tidak masuk?!" Ucap Ecy penuh tanda tanya. Sinis. "Biasanya Liyan kalau orang yang engga pernah masuk sekolah itu, bodohla!" Lanjut Ecy dengan ketus. Berdiri dengan senyum smrik. "Ia, kan?" Cetus Ecy dengan sinis. Melihat temannya.
"Ia Liyan, kau kok sering sakit, ya! Kasihan sekali kau! Masih kecil sudah sakit-sakitan, macam orang yang sudah tua! Hahaha" Sindir mereka. Tertawa dengan menampakan gerahamnya.
"Liyan, bilang sama Ayahmu cari uang yang banyak, biar kau bisa makan enak dan engga sakit." Ejek Tania. Menyeringai.
"Ia Liyan! Kalau kau makan yang enak-enakan, engga bakalan sakit." Cetus Ecy. "Ini engga! Uang jajanmu aja dikit! Mana bisa beli apa-apa, permen aja engga dapat." Lanjut Ecy dengan wajah mengejek sambil menaikan bibirnya sedikit.
"Makanya kalau susah Liyan! Seharusnya engga usah sekolah." Sindir Tania. Menatap dengan sebelah mata. "Itu kata Ibuku, 'kalau orang susah itu engga usah sekolah dulu.' Sekolahnya nanti tunggu ada uang yang banyak, ia kan ecy!" Ejek Tania dengan wajah tertawa licik.
"Ia benar! Buktinya, teman aku semua, orang itu sekolah uangnya banyak-banyak. Bahkan banyak sekali, seperti lautan yang luas." Lanjut Ecy sambil mengayunkan kedua tangan ke udara.
Sepertinya aku ingin sekali menangis dan bersembunyi dari semua yang mereka sampaikan. Setidaknya aku tidak mendengar walau hanya sedetik. Tapi lagi-lagi semua hanya khayalan kelabu yang menghampiri tanpa arti.
Air mata yang menganak di pelupuk mata membuatku ingin sekali menghempaskan tubuh mungil lemah ke tempat yang membuatku begitu tenang. Sekalipun itu harus di tempat yang asing. Itu mungkin akan jauh lebih baik. Mata yang berkaca-kaca mulai menunduk melihat lantai yang bisa meredakan sedikit pilu yang singgah. Meskipun aku tidak tahu kapan akan berakhir? Sekalipun aku berusaha menutupi semau sekalipun terlihat sia-sia. Terkadang aku berpikir, mungkin Tuhan tahu kalau aku di butuhkan untuk menghadapi ini semua. Di mana ke beradaanku penuh dengan segala kesesakan yang mengguncang bertubi-tubi. Napas seakan terhembus dan terhenti secara mendadak.
"Ecy, Tania sudah!" Ucap Widia sedikit meninggi. "Kasihan Liyan, nanti dia nangis." Lanjut Widia.
"Widia, kau itu selalu membela Liyan. Si anak yang sering sakit ini!" Ejek Ecy dengan ketus sambil menahan sedikit nada suara. Tersenyum dengan licik.
"Ecy kata Ibuku tidak boleh mengejek orang lain." Cibir Widia. Melihat Ecy dan Tania. "Tania kau tidak boleh kayak gitu. Kata Ibuku, itu dosa nanti Allah marah." Lanjut Widia pelan. Berdiri menghadap Ecy dan Tania.
.
.
.
Teman-teman terimakasih telah memberi like, komentarnya, favorit. 🤗🙏
❤️❤️❤️
Bersambung....
Sambil nunggu Author update!
Yuk! Baca novel dari teman aku, Author yang lain!
Pasti ngga nyesel deh, bacaannya! 🥰
Blurb:
Adelia, menerima perjodohan dengan Andra. Seseorang yang tidak dikenalnya sama sekali. Dia mau menerima perjodohan itu setelah putus dari Bram yang kedapatan tidur dengan Bella.
Andra, ingin balas dendam kepada Citra yang sudah mengkhianati dirinya hanya untuk menikah dengan pengusaha kaya, yang bernama Candra. Kakeknya berjanji akan memberikan semua harta kekayaannya, jika dia menikahi Adelia.
Siapa sangka saat mereka memulai kehidupan rumah tangga, malah bertetangga dengan para mantan.
Apakah mereka akan kembali ke mantan masing-masing?
__ADS_1
Atau malah jatuh cinta pada pasangannya saat ini?