
Dia pun langsung mengambil makanan itu dari tangan ku. Kemudian, diletakkan di hadapannya . Makanan yang kubawa.Hm! Enaknya, seakan tatapan matanya mengisyaratkan seperti itu.
Aku yang berdiri disampingnya. Kasihan sekali Ibu ini. Dengan wajah sedihku yang mungil. Aku menatapnya dalam.
"Liyan!"Panggil Ayahku.
Ayahku mungkin, sudah bangun dari tidurnya atau jangan-jangan dia mendengar pembicaraan ku dengan Ibu tadi, ya?! Gumamku dalam hati dengan berpikir.
"Ia Ayah."Berdiri dihadapan Ayahku.
"Dimana adikmu?"Tanya Ayahku.
"Bermain Ayah."Jawabku dengan sedikit takut.
Ia, aku takut kalau Ayahku menanyaiku mengenai adikku. Gumamku kecil.
"Apa! Adikmu pergi bermain dan kau mengizinkannya!"Dengan kesal Ayahku berkata.
Aku yang berdiri mematung hanya menatap kelantai dan diam.
"Ayah bukankah tadi dia telah meminta izin kepada Ayah?"Dengan suara pelan dan gemetar.
"Ia, Ayah tahu itu! Tapi, kan Ayah belum mengatakan apapun pada adik mu."Ayahku dengan kesal sambil menatapku.
Tatapan yang mengatakan. Kenapa kau tidak bisa melarang adikmu? Kau kan kakaknya. Seharusnya kendali itu ada di tanganmu. Apakah adikmu boleh bermain? Atau tidak!
Melihat tatapan Ayahku yang tajam aku langsung menundukkan kepalaku melihat lantai kembali.
"Liyan!" Ayahku.
"Ia, A-Ayah!"Sambil terbata aku menjawab Ayahku.
"Apalagi! Kenapa kamu masih berdiri disitu?"Suara yang mengisi ruangan rumah dengan penuh terdengar dari Ayahku. Wajah merahnya yang menatapku seakan mau menelanku.
"Ia, Ayah."Dengan terbata dan gemetar yang mengguncang tubuh mungilku. Aku pun menyeret kakiku keluar rumah dan mencari adikku yang payah diatur.Kesal!
"Liyan!" Langkahku pun terhenti."Kalau kau tidak bisa menemukan adikmu. Jangan harap kamu bisa pulang."Aku masih berdiri membelakangi Ayahku."Cari adikmu sampai ketemu kalau kau mau pulang."Ayahku berbicara dengan tegas tanpa melihat wajahku.
Dan aku pun, tidak menoleh sedikitpun kebelakang hanya melihat dari ekor mataku.
Mendengar ancaman yang mematikan dari ayahku. Aku pun mencari adikku dengan langkah yang berat.
Di depan pintu aku melangkah melirik ke Ibu sambungku. Bahwa, dia saat ini sedang apa?Ternyata, dia masih makan.Gumamku.
Dia pun, melihatku keluar rumah dengan tatapan yang sedih. Seakan mengatakan, aku ingin membantumu tapi aku tidak bisa dengan mengunyah nasi di mulutnya.
Dia pun, melihatku sampai hilang dari pintu, yang terlihat dari ekor mataku.
Sementara Ibu sambungku.Ya,aku memang harus mengakui dia sebagai Ibuku. Bahkan, menganggap dia dengan Ibu kandungku karena bagi dunia ini. Dia adalah Ibuku.
Mereka tidak akan bisa menerima kalau aku mengakuinya sebagai Ibu tiri.Ntah, Kenapa mereka keberatan dengan itu. Bahkan, Ibu sambungku juga. Dia sangat murka kalau aku menyebutnya dengan sebutan Ibu tiri.Ya, mau tidak mau aku harus mau menerima semua itu.
Terkadang kalau ada yang bertanya kepada ku. Apakah itu Ibu kandungmu? Aku harus menjawab "Ya". Yang telah melahirkan mu? Aku juga harus menjawab "Ya" dengan berat hati.
Tapi,Ayahku jika dia mendengar itu dia tidak akan menerimanya kerena sesuai kenyataan dia bukanlah Ibu kandungku. Dia cuman Ibu pengganti itulah kenyataannya. Ayahku lebih suka berbicara tentang fakta dari pada opini. Makanya, ayahku tidak pandai bersandiwara ataupun sekedar basa-basi untuk sekedar mengisi obrolan.
.
__ADS_1
.
.
Siang hari yang panas aku mendatangi rumah teman adikku satu persatu.
Dia engga ada di sini kak! Dari dalam rumah teman adikku.
"Oh! Ia kak,tadi aku melihatnya kesana." Menunjuk dengan jarinya ke arah tepat dibelakangku.
"Kak,kakak dari mana?"Andrini.
"Kakak mau mencari adik kakak!" Kataku dengan lembut.
"Oh! Kak Ana ya, kak. Emang kakak engga tahu dia pergi kemana?"Andrini penasaran.
Aku menggelengkan kepala di depannya. Sebagai jawaban.
"Kak, Kakak sudah cari kemana-mana?"Tanya Andrini kembali dengan memastikan.
"Eeem!"Aku menganggukkan kembali kepalaku sebagai jawaban untuknya bahwa, aku sudah mencari kemana-mana.
"Kak,coba kakak cari tempat kak Rahmadani. Siapa tahu dia ada di sana kak! Andrini kasihan melihat kakak. Inikan siang kak, harinya panas." Andrini menatap dengan penuh kasihan.
"Ia dek,akan kakak coba!"Aku langsung pergi meninggalkannya.
Huh! Mendengus kesal.
Ayah aku lelah mencarinya dengan wajah yang sedih aku terus menggerutu di hatiku.
Mengingat Ayahku yang tadi tidak mengizinkanku pulang. Itu sih, bukan ancaman dari Ayahku tapiii****menatap kelangit dengan raut sedih.
Hahahaha!
Terdengar ketawa gemuruh yang keras dari dalam sebuah rumah. Tapi, aku engga tahu itu dari rumah siapa?! Aku memasang pendengaran ku dengan tajam memastikan itu
suara tawa dari rumah yang mana arahnya.
Aku terus berjalan memastikan suara ketawa itu dari rumah siapa?
Langkah ku terhenti!
Apa Suara tawanya dari rumah ini? Gumamku sambil menatap pintu rumah. Aku pun, mengayunkan tanganku untuk mengetuk pintu setelah aku memastikan tawa itu berasal dari sini.
Tok tok tok!
"Ha! Itu siapa?" Terdengar seseorang berbicara dengan yang lain dari dalam rumah dan tawa pun seketika hening.
"Ia,coba,ayo kita buka!"Langkah pun terdengar olehku mendekati pintu.
Aku yang berdiri diluar rumah menatap lurus pintu yang belum terbuka.
Kreeeek!
"Ha,kakak!"Kata adikku sambil terkejut.
"Kakak sedang apa disini?"Tanya dia kembali.
__ADS_1
"Memanggilmu pulang! Kakak di suruh Ayah untuk menjemputmu pulang."
Mendengar itu diapun terkejut dan tidak mau beralih dari kesenangannya.
"Kakak,kita pulang sebentar lagi, ya! Permainan kami belum selesai,coba kakak lihat!" Menunjuk mainan yang berserakan.
Aku yang berdiri di luar menatap kedalam yang sedikit gelap.Tak terlihat jelas mereka ntah, bermain apa?
"Dek,kamu kan tahu kalau kamu tidak pulang. Kakak tidak boleh pulang juga, karena kan kamu tahu sendiri. Tadi ayah tidak ada memberikan mu izin untuk bermain."
"Huh!"Mendengus kesal memalingkan wajah dariku.
"Kak, kakak bilang saja sama Ayah kalau aku belum mau pulang.Kami lagi bermain kak."Protes.
Mendengar perkataan adikku yang kesal aku pun, menatapnya dengan sinis.
"Dek,kamu kan tahu bagaimana Ayah kalau Ayah mengatakan pulang ya harus pulang.Tegas.
Adikku pun. menarik napas panjang.
"Kak,kalau tidak begini saja. Kita nanti pulang sama-sama. Kakak disini dulu. Lihat kami bermain bagaimana? Kakak mau kan?"Adikku yang berusaha memberi tawaran murahan untukku.
Dengan kesal aku pun menerima tawaran adikku. Mau tidak mau aku harus tetap disini. Ikut dengan melihat mereka bermain. Meskipun, hanya sekedar melihat mereka bermain. Kataku dalam hati dengan kesal.
"Ya,sudahlah!"Aku langsung ikut masuk dan melihat meraka bermain boneka.
Adikku!
"Kak Rahmadani ini pangerannya dan ini putri nya."Menunjuk boneka Barbie yang ada sepasang terletak didepan mereka.
"Ia,Ana,betul!" Rahmadani.
Hahahaha! Mereka pun tertawa bahagia.
Aku pun melihat mereka asyik dan bahagia tertawa gembira bersama bermain boneka. Rumah -rumahan yang tersusun rapi dari kardus-kardus bekas yang berbentuk seperti, rumah,kursi dan lemari yang cantik.
"Ia kak,ceritanya begini!"Adikku Ana.
Ratunya lagi tersesat di hutan terus tiba-tiba dia mau dimakan binatang buas. Begitu, dia mau terjatuh dengan tidak sengaja pangeran pun tiba-tiba datang dan menangkapnya.Akhirnya, sang putri pun terjatuh di pelukan pangeran yang tampan dan baik.
Dia pun tersenyum manis sambil mempraktekkan adegan drama boneka mereka.
Hahahaha!
Meraka berdua pun tertawa memenuhi isi ruangan.
"Ia,ia."Rahmadani.
Lalu pangeran pun membawanya ketempat yang aman dengan seekor kuda berwarna emas.Dengan senyum manis.
"Hm! Boleh juga, Emang ada kuda berwarna emas?"Tanya Adikku.
"Ana,anggap saja ada inikan sebuah permainan! Kalau dalam permainan apa saja berlaku dengan benar,bukankah begitu?"Rahmadani.
"Hm!"Dengan wajah manis mengangkat alisnya sebelah keatas.Adikku.
Seperti itulah kalau adikku sudah bermain,dia pasti lupa dengan waktu.
__ADS_1
Bersambung.....