Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kembalinya tawa


__ADS_3

"Kakiku sakit," gumamku lirih. Melirik lutut yang setengah basah.


"Ini," kata adikku melayangkan kotak obat. Berdiri tegak dihadapanku.


Glek!


Aku langsung terkejut dan sedikit menganga melihat adikku yang mendadak simpati terhadapku. Kedua bola mata yang memerah melebar melihat kotak P3K yang terlayang dihadapanku.


"Obati pakek ini Kak. Nanti Kakak makin sakit," katanya sambil meletakkan kotak P3K di atas tanganku. "Kakak jangan nangis lagi," harapnya memohon sambil melayangkan pandangannya melihat ke arah pintu yang tertutup.


Aku jadi melongo melihat perubahan sikap adikku yang berubah secara tiba-tiba. Aku masih bingung bercampur tanda tanya besar melihatnya dengan kedua tangan yang masih mengayun di udara memegang kotak.


"Cepat obati kaki Kakak," desak adikku. Menyeret tubuhnya mundur sedikit ke belakang dan melirik pintu yang masih terkunci.


Kotak P3K itu masih mengayun di udara terletak di atas telapak tangan yang kecil. Dengan terheran bercampur sejuta pertanyaan aku belum bisa menjatuhkan tubuh mungil yang lemah ini untuk duduk di atas lantai sebab aku masih dihantui oleh perubahan sikap adikku yang kadang mendadak baik dan tiba-tiba julit lagi.


"Kak, cepat obati. Biar luka Kakak cepat sembuh," desaknya kembali. Melihat luka yang aku tahankan. "Kakak jangan bengong aja," tegurnya.


"I-iya," jawabku langsung menurunkan tatapan melihat ke arah telapak tangan yang masih memegang kotak P3K.


Tak!


Kotak P3K itu pun aku buka sambil menyeret tubuh mungil ini bersandar ke dinding dan perlahan menjatuhkannya duduk di atas lantai dengan berhati-hati.


Plak!


Kotak P3K itu pun aku letakkan di atas lantai dan membukanya dengan gemetar sebab aku masih menyimpan kecurigaan yang mendalam terhadap adikku. Perlahan aku membuka kotak itu sembari melirik adikku yang berdiri dihadapanku secara diam-diam dengan segala kebingungan yang melanda.


Obat pun aku teteskan ke dalam luka yang nyeri, di ikuti oleh kedua netraku sesekali melihat jenjang kakinya yang kecil itu berdiri dihadapanku.


"Kak, pelan-pelan. Jangan banyak -banyak. Itu perih," tegur adikku.


"Iya," jawabku mengangguk bercampur takut menatap jenjang kakinya.


Perlahan aku pun meneteskan obat sesuai dengan instruksi dan saran dari adikku sambil menutup kedua bola mata membayangkan ibuku datang mengelus kepala dan memelukku. Tetesan obat pun mulai membasahi lukaku yang nyeri. Mata yang tertutup demi merasakan belaian ibuku membuat lukaku tidak terasa perih setelah obat itu kuteteskan.


Luka yang tersentuh oleh obat tidak menimbulkan rasa perih apa pun. Wajah ibu yang aku lihat di dalam photo ternyata mampu menenangkan hati yang kacau akibat menahan luka.


"Kak, gak perih ya?" tanya adikku terheran .

__ADS_1


"Engga," jawabku membuka mata dan melihat lutut yang sudah tertutupi oleh obat merah.


Plak!


Aku pun meletakkan obat merah di atas lantai tepat dihadapanku. Lutut yang nyeri kini terasa sudah mulai mereda. Wajah ibu yang teduh dan penuh kasih sayang itu begitu ampuh mengobati setiap lukaku, pikirku.


Senyuman segaris tersirat di dalam hati sehingga membuat muka sedikit berseri menatap lutut. "Ana lukanya memang gak sakit lagi," kataku dengan senang. Menaikkan kepala melihat wajah adikku yang berdiri.


"Berarti luka Kakak udah sembuh!" ungkap adikku senang dan menatapku lekat.


Aku mengangguk pelan dan mengerucutkan sedikit bibir dengan imut. Melihat lurus ke depan dengan pandangan kosong bercampur bersama pikiran yang masih mengingat ibuku.


"Kak, simpan obatnya," titah adikku memohon sambil berjalan meninggalkan aku.


Baugh!


Tanganku yang memasukkan obat ke dalam kotak P3K refleks berhenti. Aku sontak terkejut melihat tas yang teronggok dihadapanku.


"Ana," kataku dengan heran memanggilnya. Menatap tas dan juga dirinya yang tiba-tiba ingin menjatuhkan tubuhnya duduk di lantai tepat dihadapanku. "Ini untuk apa?" tanyaku. Menatap tas yang terletak.


"Aku mau belajar membaca," jawab adikku.


Aku sontak menjatuhkan tubuh ini lagi duduk di lantai. "Kau belum bisa membaca?" tanyaku melebarkan bola mata penasaran. Melihat adikku lekat.


"Lalu kenapa? Ini 'kan libur. Apa buku bacaanmu masih ada samamu?" tanyaku kembali menyelidiki.


"Engga," jawab adikku langsung.


Adikku lalu menaikkan kepala melihatku yang sedikit terheran dengannya. "Aku ada beli buku, Kak," ungkapnya dengan senang. Mengeluarkan buku dari dalam tas.


"Tadaaaa!" kata adikku menujukkan buku secara suprise padaku.


Aku ikut terperangah melihat buku yang dikeluarkan secara kejutan itu. "Ini bukunya ," kataku menatapnya dengan kedua bola mata berbinar.


Adikku terlihat senang. "Iya Kak. Ini kubeli pas waktu kita mau libur," ucapnya.


Aku semakin terikut oleh adikku dan melupakan kotak P3K. "Bukunya cantik. Ada gambar hewan-hewannya," sambungku dengan hati yang senang.


"Iya Kak. Hewannya banyak makanya kubeli," tandas adikku langsung dengan senang. Membuka buku selembar demi selembar.

__ADS_1


"Ana, uang jajanmu banyak," kataku dengan sendu. Memutar duduk bergeser sedikit dengan gurat wajah manyun.


"Iya. Aku 'kan ngumpul uang jajan," balas adikku. "Karena Kakak 'kan sering juga dulu beli mainan pakek uang jajan Kakak," tandasnya.


Aku langsung terharu mendengarnya. Ternyata di balik adikku yang menyebalkan dan membenciku dia masih ingat sedikit tentang aku, pikirku.


Aku semakin terharu melihat adikku yang duduk dihadapanku ini. Rasanya dia adalah adikku yang dulu yang selalu bermain bersama dengan aku di saat masih kecil.


"Kau masih ingat," kataku. Melihat adikku yang sangat bahagia. "Bukunya cantik juga," lanjutku sambil melihat lembaran buku yang terbuka. "Harganya berapa, Dik?" tanyaku ingin tahu.


"Aku lupa Kak," jawab adikku langsung setelah mendengar pertanyaanku.


"Tapi baru kau beli. Kenapa langsung lupa?" tanyaku sesal.


Adikku sedikit pun tidak meresponnya, dia tetap saja terlena dengan gambar -gambar hewan yang unik dan banyak warna.


"Kak coba lihat gambar ini!" seru adikku menunjuk gambar.


Aku langsung melihatnya sesuai permintaan adikku. "Ana itu 'kan gambar kucing," ungkapku. Melihat telunjuk yang menunjuk gambar.


"Kucingnya cantik 'kan, Kak. Rambutnya panjang, hihihi!" kata adikku tertawa geli. "Kayak anak perempuan," cetusnya seketika.


"Hehehe!" Aku pun nyengir membalas ucapan adikku. Hari ini di rumah yang gelap ini kami berdua kembali bercengkrama dengan riang.


Aku dan adikku spontan melupakan kejadian menimpa kami masing-masing. "Kak, aku suka melihat -lihat gambar hewan," ucapnya. Melirikku."Karena aku suka warnanya banyak," sambungnya.


Aku menaikkan alis sebagai isyarat memberi jawaban atas ucapan adikku. "Kalau Kakak gak," jawabku acuh.


"Kakak 'kan gak pande menggambar, hahaha!" sambung adikku dengan tertawa. "Aku pernah buka tas Kakak diam- diam. Gambaran Kakak jelek semua, hahaha!" sambungnya semakin tertawa. "Ada nilai enam, ada nilai tujuh, hihihi!" lanjutnya dengan tawa meledek.


Sontak aku langsung melebarkan bola mata. "Jadi, kau melihat semuanya?" tanyaku bercampur malu.


"Iya," jawabnya langsung tanpa merasa bersalah.


"Kau Ana me... ." Aku langsung menggantungkan ucapanku dan membuang tatapan ke samping kiri menutupi wajahku yang malu.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2