
Setelah aku dan adikku selesai memakai pakaian seragam sekolah. Kami pun keluar dari kamar dengan membawa tas sekolah masing-masing.
Sarapan pagi pun teleh tersaji di meja yang sering di pakai oleh ayahku. Aroma nasi goreng dan telur dadar buatan ayahku begitu menggelitik perut yang kosong. Suara nyanyian yang begitu berisik terdengar dari perutku yang bisa membuyarkan semua konsentrasi.
Kaki lemah yang di selimuti oleh gemetar, membawaku berjalan menghampiri aroma yang menggelitik dan menarik perhatian.
Kesedihan yang menyelimuti diriku yang lemah seketika malu untuk bertahan lama dengan ku. Air mata yang menganak di pelupuk mata, surut termakan kemarau kesenangan hari ini.
Suara parau yang menempati pita suaraku telah hancur. Terkena seretan senyum tipis yang tulus menghiasi wajah pucat polos ini.
Bagaimana tidak? Pagi hari yang membuat semua awal, berjalan lebih baik telah melirikku hari ini. Sehingga aku jauh lebih baik dari sebelumnya.
Walaupun memoriku masih menyimpan peristiwa semalam namun, aku tetap tegar dalam menghadapi semua yang mengisahkan luka yang mendalam bagi diriku yang lemah. Sejarah sembilu menyayat hati tak membuat diri bergelimang dengan air mata yang terlihat di wajah pucat.
Tawa sumringah mengisi penuh ruangan yang aku lalui. Sarapan yang telah tersaji kini kuhampiri dengan senyum. Piring kosong yang tersedia bersama teh manis yang terlihat memasuki gelas kosong yang bening, kuambil seketika.
Harum semerbak adikku yang manja kini mendekat dan berdiri mengambil sarapan. Ayunan tangan pun terlihat mengambil piring bersama teh manis yang telah tersedia.
"Kenapa kau lama sekali Ana?" Tanyaku. Mengambil nasi.
"Aku tadi malam lupa kak menyusun roster." Jawab adikku berbisik. Mengambil sendok. "Ayah ada tidak, kak?" Tanya adikku dengan pelan. Melirik ke kiri dan ke kanan dengan sedikit cemas. "
"Emang kenapa? Kalau ada." Sambungku dengan penuh tanda tanya. Melihat lurus ke depan mengambil teh manis. "Ayah tidak akan marah padamu! Kau kan anak kesayangan! Engga boleh di marahi, gitu!" Sindirku dengan meledek. Melirik adikku.
"Mana pulak! Sekarang engga ada anak kesayangan lagi, kak. Semua telah sama, kakak dan aku!" Lanjut adikku dengan pilu. "Semenjak ada Ibu kesayangan kakak itu." Rintih adikku. Melihat dengan kekecewaan dan sedih.
"Engga, kamu salah! Ayah tetap sayang kok, samamu." Lanjutku . Memegang piring dan berjalan.
Aku sudah susah payah untuk menghilangkan sedih yang menimpaku. Ini malah, aku melihat kesedihan adikku menyeberang menghampiri diriku kembali.
Sebelumnya senyum sudah terukir indah di wajah pucatku.
"Sudah! Jangan bersedih ini masih pagi. Nanti Ayah melihatmu dan marah lagi sama kita. Ayah tidak suka melihat orang menangis pagi hari. Apalagi yang menangis kaun Ana! Yang ada nanti Ayah akan memarahi kita kembali." Ucapku dengan lembut. Melihat adikku dengan sendu dan memutarkan kembali kepalaku melihat nasi. "Sudah kau makan saja! Nanti kita terlambat." Perintahku dengan wajah memohon. Menyuap nasi.
Sepertinya adikku sedih karena belakangan ini ayah selalu marah-marah, baik padaku maupun adikku. Hm! Begitu sesak hari ini kurasa sampai-sampai aku tidak ingat, kapan? Aku tertawa dan bermain. Dan yang paling parahnya aku sudah lupa, berapa setiap hari uang jajanku?
Wajah sedihku dan adikku sekarang hampir setiap hari berteman dengan wajah pias ibu sambung kami dan sorot mata tajam ayahku.
"Kak, Ayah datang!" Bisik adikku di telingaku. Menunduk menyuap nasi sambil melirik ayahku.
"Dari mana kau tahu? Dari tadi Ayah kan pergi, entah kemana?!" Sambungku pelan. Melirik adikku sambil mengaduk nasi.
"Ayah dari mana?" Tanyaku dengan suara datar. Melihat dengan gemetar.
Sepertinya ayahku berjalan tidak memperhatikan aku dan adikku yang sedang sarapan dan duduk tepat di dekat pintu. Setelah ia mendengar suara yang memanggil, ia pun memutar kepala mencari sumber suara. Seakan ia mengenali suara yang memanggilnya dan melihatku.
"Ayah dari luar." Jawab ayahku lugas. Membuka sandal. "Kenapa kalian lama sekali makannya?" Tanya ayahku kembali. Masuk dan melihat kami sambil menghitung uang.
Sebelumya ayahku terlihat begitu kesal melihatku , tapi pagi ini ia begitu datar dan terlihat tenang seakan emosinya telah surut dan pergi.
"Liyan, Ana ini uang jajan kalian berdua." Ucap ayahku. Melihat uang dan memberi kepada kami.
"Kak, tumben kakak berani menanya Ayah. Awas lo kak, nanti Ayah bisa marah!" Ejek adikku dengan suara datar. Melihatku sambil menyuap nasi dengan kasar. "Kalau sampai Ayah marah, aku kabur duluan kak!" Cetus adikku. Menatapku.
"Lalu nasimu bagaimana?" Tanyaku. Menatap adikku tajam.
"Aku bawa aja kesekolah sama piringnya!" Jawab adikku dengan serius. Memasang wajah jenaka.
Hahahaha! Kami berdua pun tertawa garing.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang saja!" Ajakku melihat adikku. Mengunyah nasi dengan tawa jenaka.
Sebelumnya adikku yang terlihat senang meledekku, menatap lirih diriku yang menyampaikan kepadanya, kalau kami harus segera berangkat. Ia pun menatap sendu nasi dan uang yang di beri oleh ayah. Sesekali ia menyuap nasi, sesekali itu pula ia menatap uangnya, bagaikan menatap rembulan yang mendung.
"Ana kamu kenapa? Kenapa wajahmu seperti itu?" Tanyaku. Bangun dan berdiri.
"Aku sedih sama bahagia." Jawab adikku pelan dengan wajah memelas. Duduk dan melihatku.
"Sedih dan bahagia!" Ucapku dengan wajah berpikir. "Kenapa kok bisa sedih dan bahagia, aneh!" Celetukku. Berjalan.
"Kenapa kakak bilang aku aneh? Aku engga terima." Lanjut adikku dengan cemberut. Berdiri spontan.
__ADS_1
"Emang ia, masa kamu bilang sedih tapi bahagia, kan lucu!" Sambungku dengan mengerutkan kening. Meletakkan piring. "Lalu kamu menatap uangmu dengan lekat." Cetusku dengan penuh tanda tanya. Memutar badan melihat adikku yang masih mematung.
"Ia kak!" Balas adikku dengan memelas. "Masa Ayah ngasih jajan segini." Menunjuk uang dengan lebar.
"Jadi, kamu engga mau uang jajan segitu!" Cetusku. Mengambil tas.
"Kakak kan tahu!" Katanya dengan lemas. Bersandar.
Selain uang jajan adikku yang tidak mencukupi uang jajanku pun demikian. Hari ini tidak biasanya uang jajan adikku di kredit oleh ayahku.
"Kakak kan tahu! Aku engga pernah di beri uang jajan sebanyak ini oleh Ayah." Ucap adikku dengan lirih. Mengambil piring.
"Kakak tahu! Mungkin Ayah tidak ada uang, dek." Imbuhku melihat adikku. Berdiri di depan cermin.
Selanjutnya adikku pun berjalan ke dapur menaruh piring ke tempat yang kotor. Aku yang berdiri mematung sambil menyisir rambut melihat adikku dari dalam cermin dengan wajah lesu, ia berjalan mengambil tas yang teronggok bersamanya tadi makan.
Rasa keceriaan hilang, sekarang sedih kembali hadir berselubung! Sepertinya ini akan berlanjut dengan manis.
Tas yang aku gendong di pundak bersama rambut yang rapi dan baju yang rapi telah siap menemani langkah ke sekolah.
Adikku yang terlihat sedih karena uang jajan yang tidak seperti biasa, diam dan melangkah bersama tas yang telah ia gendong di pundak. Menghampiri sepatu dan memakainya. Entah kenapa? Aku yang melihatnya seakan mengatakan, kalau adikku telah berlapang dada menerima uang jajannya sambil aku duduk dan memakai sepatu.
Melihat adikku, aku harus melakukan sesuatu agar adikku terlihat ceria. Spontan aku mengambil uang jajan yang ada di saku.
"Dek, ini!" Ucapku melihat adikku. Mengambil uang koin dan menaruh di atas telapak tangan dengan wajah sendu.
"Apa ini kak?!" Sambung adikku. Mengambil uang dan mengayunkan ke udara sambil menarik bibirnya hingga melengkung.
"Untuk mu!" Ucapku dengan lugas. Berjalan.
Seketika wajah polosnya yang sedih tersenyum dengan membuka sedikit bibirnya. Biarpun adikku cukup jutek terhadapku. Aku tidak bisa melihatnya bersedih. Biar bagaimanapun, ia adalah adikku yang terkadang bisa membuat sedihku hilang. Ia bisa juga menolongku dari amarah ayahku walaupun sesekali, hahahaha! Tawa geli menggelitik hatiku yang masih di iris dengan sembilu menghampiri.
"Kak, sebelum aku mengucapkan terimakasih. Aku mau mengingatkan kakak sesuatu!" Ucap adikku dengan penuh penekanan. Memasang wajah jenaka.
Selama beberapa hari, aku tidak pernah melihat wajah adikku yang manja seperti ini. Wajah juteknya telah berubah dengan wajah jenaka sehingga aku melihatnya begitu terhipnotis.
"Apa itu?" Tanyaku ingin tahu. Menatap dengan lekat.
Mendengar adikku melemparkan sindiran tidak hanya membuatku diam tetapi juga mengingatkan kembali pada kejadian semalam. Kejadian yang membuat sekujur tubuh gemetar dan membeku.
Semakin lama aku mengingat peristiwa naas yang menimpa diriku. Semakin membuatku depresi.
"Kak, kita sudah sampai." Kata adikku. Melihat.
Spontan aku tersentak dan membuka kedua bola mata dengan lebar dan membuang jauh-jauh lintasan peristiwa yang seakan menghantui sepanjang waktu.
Aku terlihat dengan gugup. "Apa?" Terperangah. Bengong.
"Cepat kak! Sebentar lagi mungkin bel akan berbunyi." Lanjut adikku. Menarik pelan lenganku.
"Kakak ingat apa?" Tanya adikku ingin tahu. Berjalan kencang.
"Teman kakak!" Jawabku lugas. Melihat pintu kelas berselimutkan kejadian semalam yang mencabik-cabik tubuh lemah ini.
"Kakak masih mengingatnya! Sebaiknya kakak lupakan saja. Teman kakak itu jahat! Berani- beraninya mereka mengajak kakak pergi!" Gerutu adikku dengan wajah kesal. Melihat lurus ke depan dengan tajam.
"Bukan mereka yang salah, tapi kakak! Kakak yang ikut dengan mereka." Keluhku dengan pilu. Berjalan kencang.
"Ia tapi kan, kakak sudah menolak! Kenapa mereka masih terus memaksa?" Timpal adikku kesal dengan wajah sedikit memerah. Mendesis.
Bagaimana aku bisa meredakan kekesalan adikku yang telah terlihat di wajah polosnya. Aku tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut, apalagi ini di area sekolah.
Setelah sekian lama, ini adalah pertama kalinya aku membuat kesalahan yang menyeret beberapa orang.
"Ana tolonglah jangan berbicara dengan kencang, nanti dengar teman kakak." Pintaku dengan wajah memohon. Menutup mulut adikku.
"Biar saja teman kakak dengar, biar mereka tahu! Jangan coba -coba lagi membawa kakak." Cetus adikku. Melihat pintu kelasku dengan mendelik.
Sepertinya amarah adikku begitu mendalam sulit untuk aku redam. Sebelumya ia tidak pernah semarah ini. Saat ini cuman satu yang bisa menyelamatkan amarah adikku yaitu, bel masuk!
Selain aku melihat adikku yang tersulut amarah. Aku juga melihat temanku telah berdiri di depan pintu seakan mereka menyambut kedatanganku.
__ADS_1
"Aku duluan ya, kak!" Ucap adikku. Memutar langkahnya ke arah kanan.
"Baiklah!" Sambutku dengan datar dan panik. Menggenggam tali tasku dengan kuat.
Setelah aku melihat adikku menghilang, aku berjalan kembali dengan kencang. Sepertinya aku harus segera sampai ke kelas di mana temanku telah berdiri.
"Liyan!" Teriak Widia dengan wajah sumringah. Memelukku.
"Kau Kenapa?" Tanyaku dengan heran. Mengerutkan kening.
"Kau tahu tidak! Semalam aku pulang ternyata Ibuku tidak ada di rumah." Lanjutnya dengan senang. Mendekapku erat.
Seketika jiwa begitu lemas. "Kau enak!" Ucapku dengan lirih. Meletakkan tas.
"Kenapa? Kamu di marahi, ya? Tanya Widia dengan lirih. Menatapku. "Liyan berarti Ayahmu semalam di rumah, ya!" Sambungnya dengan lirih. Berdiri.
"Widia sewaktu aku sampai ke rumah." Ucapku dengan datar melihat langit-langit kelas. "Ayahku telah menyambutku di depan pintu!" Menutup wajahku dengan kedua tangan.
"Jadi, kamu engga ngelihat ayahmu berdiri!" Balas Widia. Membuka kedua matanya dengan lebar.
"Aku engga melihat ke sana kemari." Keluhku dengan memelas. "Karena aku panik! Jadi, aku berjalan kencang sambil menunduk." Lanjutku. Meletakkan tas.
"Kenapa kamu engga melihat Liyan?" Kesal Widia dengan penuh penekanan. "Seharusnya kamu memperhatikannya!" Sambung Widia. Kesal.
"Lagi pula aku harus menyembunyikan wajah pucatku ini Widia! Dari orang-orang." Potongku. Menatap Widia dengan sedikit kesal. "Kalau sampai ada yang ngelihat, bisa -bisa mereka akan mengadukan aku pada Ayahku. Seharusnya Ayahku tidak tahu, akan jadi tahu, Widia!" Cetusku dengan kesal. Menjatuhkan tubuh lemahku di bangku. "Belum lagi kalau Ayahku yang ngelihat langsung di jalan." Lanjutku. Melihat lantai. "Bisa-bisa aku pulang nggak akan selamat!" Keluhku dengan lemas. Menatap Widia sendu.
"Liyan, maafkan aku!" Sambut Nisa. "Gara -gara aku, kau di marahi habis-habisan oleh Ayahmu." Lanjut Nisa dengan merasa bersalah. Berdiri.
"Nisa ini bukan salahmu! Tapi ini salahku!" Cetusku. Menatap Nisa sendu. "Kalau aku engga ikut, aku engga akan di marahi." Tandasku. Manyun.
"Tapi Ayahmu tidak sampai memukulmu kan, Liyan?" Tanya Nisa dengan penuh menyelidik. Menatap lekat.
"Engga! Tapi Ayahku tidak memberi izin lagi untukku bermain." Sambungku dengan pelan. Memelas dan menunduk.
"Kasihan sekali kau Liyan, maafkan kami ya!" Seru Widia dan Nisa. Berdiri menatap dengan lirih.
"Kalian ada apa! Kenapa berkumpul di sini? Ada yang sakit, ya? Tanya Septiani. Melihatku dengan ketus.
"Engga! Siapa yang sakit?" Tanya Widia mengembalikan pertanyaan itu kembali pada Septiani seakan membuat Septiani malu. Melirikku dengan smrik.
Sepertinya Septiani terlihat terpukul atas pernyataan yang di sampaikan oleh Widia. Wajahnya terlihat seakan menahan malu melihatku dan melihat Widia. Walaupun demikian aku tetap bersikap baik pada Septiani.
"Septiani aku sudah mendingan, kok!" Jawabku dengan datar. Berdiri melihat Septiani dengan wajah senyum.
Sementara Widia dan Nisa yang berdiri di dekatku begitu terlihat kesal. Mereka berdua menatap Septiani dengan geram.
Akibatnya aku merasa tidak enak hati melihat Septiani. Seolah-olah akulah yang menjadi penyebab keretakan ini. Aku begitu malu dan diam melihat diriku sendiri sehingga aku menjauh dari perbincangan mereka.
.
.
.
Teruntuk semua teman yang sudah mendukung ceritaku dengan memberi like, komentar dan favoritnya, Terimakasih! 🤗🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung......
Sambil menunggu Author update!
Yuk! Baca novel dari teman aku!
Pasti bacanya ngga nyesel! 🥰
Menikah dan membangun rumah tangga harmonis hingga maut memisahkan merupakan impian setiap orang. Begitu pun dengan Tsamara Asyifa Gibran. Namun, bagaimana jadinya bila sang suami tidak pernah sekalipun mencintai wanita itu dan belum bisa move on dari mantan kekasih?
Akankah Tsamara terus mempertahankan rumah tangganya bersama Bimantara atau malah membuka hatinya untuk Yudistira?
__ADS_1