
Puk!
Puk!
Puk !
Baju anak Bp pun mendaratkan dengan puas menyerang adikku yang terlalu banyak keluhan dan protes yang akan menimbulkan hukuman bagiku akhirnya.
"Ini untuk mu! Karena kau telah memaksa Kakak untuk ngikuti kemauanmu," serangku dengan pakaian anak Bp yang banyak dalam genggaman.
"Kakaaak," jerit adikku menepis baju anak Bp yang melayang ke wajahnya. Memalingkan mukanya langsung melihat ke kiri untuk mengelak dari serangan yang mengenainya.
"Jadi, kau mau menjahili Kakak lagi! Sama Ayah," jeritku dengan nada suara marah seperti seorang anak kecil yang bertengkar bercampur canda.
"Kak, aku betul 'kan? Kalau Kakak itu paling besar," kata adikku dengan melayangkan pertanyaan kepadaku. Duduk menjauh dari aku. "Kalau Kakak itu jadi, contoh untuk ku," lanjutnya tidak mau kalah dan menyerah. Dia terus saja melayangkan kata-kata yang membuatku semakin sebal sambil mengayunkan kedua tangannya untuk menepis lemparan dariku.
"Ana, Anak paling kecil juga bisa jadi contoh, untuk Kakaknya," bantahku sedikit menuntut adikku agar tidak merasa bangga dengan posisi dirinya yang menyandang status anak paling kecil. Baju anak Bp terus melayang dengan berentet menyerangnya.
"Siapa bilang, Kak?" tanya adikku langsung bangun dari duduknya dan melompat naik ke tempat tidur demi mengelak dariku. "Sedangkan kata Ayah. Yang jadi contoh itu anak paling besar. Kenapa Kakak bilang begitu?" tolaknya bertanya padaku. Menempelkan tubuh kecilnya di sudut tempat tidur sambil mengacak-acak bantal demi menutupi dirinya dari seranganku.
"Engga ya!" balasku langsung bangun tertatih dari dudukku dan memegang beberapa pakaian anak Bp yang banyak terletak.
Puk!
Puk!
Puk!
Baju anak Bp itu pun dengan senang kembali mendarat di atas tempat tidur menyerang adikku yang menutupi wajahnya dengan bantal dan teronggok di sudut tempat tidur.
"Kau selama ini buat Kakak kena hukuman," kataku dengan sebal melihat adikku yang terus berlindung di balik bantal miliknya.
Tubuh mungil yang lemah pun masih menggantung di tengah tepian tempat tidur sambil terus melempar adikku satu per satu dengan baju anak Bp yang beragam bentuk. Di ikuti tungkai kaki yang nyeri ini menopang tubuh mungil yang lemah.
"Ana, Kakak engga bisa mengikuti semua kemauanmu, huh!" gerutuku kesal melihat adikku yang duduk dengan memasang wajah liciknya bercampur senyum nakal.
"Hihihi, akhirnya Kakak takut juga," ledeknya dengan senang. Mengelakkan kepalanya dari lemparanku. "Makanya Kakak jadi, Adik, Adik. Biar gak di marahi, hihihi!" lanjutnya konyol, menutup mukanya dengan bantal.
"Huuuh!" gerutuku kesal sambil melemparkan baju anak Bp yang terakhir kepada adikku bercampur lelah dan menyerah menghadapi dirinya yang tidak pernah mau dikalahkan.
Perlahan aku menyandarkan setengah tubuh mungil ini di atas tempat tidur sambil melepaskan lelah dan jengah melihat adikku yang semakin hari semakin menyebalkan. Serta menempelkan wajahku kandas ke tempat tidur sambil menghela napas panjang sebagai isyarat untuk melepaskan lelah yang panjang akibat berkelahi kecil sama adikku.
__ADS_1
Aku dan adikku sejenak diam menenangkan diri kami masing-masing. Mengatur napas dan menetralkan kondisi tubuh mungilku yang lemah.
"Kak, kenapa berhenti?" tanya adikku seakan menantang.
"Kakak capek, Dik," keluhku, menyandarkan muka ini di atas tempat tidur.
"Baru kayak gitu kita bermainnya. Kakak udah capek, gak seru!" ledek adikku acuh.
Aku kembali memutar wajah naik sedikit melihat ke arah adikku. "Ana, Kakak 'kan, gak sehat," kataku melihat adikku yang menutup mukanya sedikit dengan bantal.
Adikku langsung melepas bantalnya seketika dan menaruhnya tepat disampingnya lalu menyeret tubuhnya yang kecil maju ke depan tepat mendekat dengan ku.
"Kak, Kakak udah minum obat ?" tanya adikku tiba-tiba.
Deg!
Aku refleks menaikkan tubuhku setelah mendengarnya. "Belum," jawabku langsung pelan bercampur gurat wajah panik. Menyandarkan setengah tubuh di atas tempat tidur sambil melirik ke samping kiri melihat tirai kamar. "Ayah, udah bangun atau belum, Dik?" tanyaku dengan khawatir, menatap adikku yang masih termangu dihadapanku.
"Gak tau Kak," balas adikku refleks, menatapku yang cemas. "Kak, kenapa Kakak lupa?" tanyanya tercengang. Menekuk wajahnya dengan sebelah tangan kanan.
Aku langsung menghela napas. "Tapi tadi kau 'kan menangis," selaku sebal, melihat adikku bertanya dan berpura-pura lupa.
Adikku seketika. "Oh, iya. Aku lupa," balasnya menunduk lesu. "Sebelum Ayah bangun. Kakak keluar dulu minum obat," saran adikku mendesak. Duduk di hadapanku tanpa jera kembali menjahiliku yang sudah setengah jenuh.
Puk !
"Ana!" jeritku sebal dengan gangguannya tiada henti membuatku sebal. "Kau selalu buat masalah. Nanti kalau di hukum, kau pura-pura nangis!" sindirku kesal.
"Alah Kak. Itu palingan cuma pura-pura Kakak. Biar Ayah gak bangun, 'kan? Supaya Kakak gak minum obat," cetus adikku terhadapku.
Dengan setengah tubuh yang masih menggantung. "Gak, Dik," balasku langsung. Menaikkan kepala melihatnya yang tersenyum jahil menatap ke arahku.
"Makanya, Kakak pergi keluar, cepat minum obat !" seru adikku dengan kencang segera mendorong tubuh mungil yang lemah ini dengan pelan. Agar aku tidak berlama berdiri diam di dalam kamar. "Sebelum Ayah bangun Kak," desaknya, menaikkan setengah tubuhnya memaksaku untuk bangun dan berdiri.
Push!
"Iya, Dik. Kakak akan bangun," kataku menepis tangan adikku. Berdiri perlahan meluruskan tungkai kaki yang masih sedikit luka. "Tapi, Ayah belum bangun, 'kan?" tanyaku pada adikku yang duduk berjaga di atas tempat tidur.
"Belum Kak. Makanya cepat !" desak adikku yang ingin mendorong tubuh mungil yang lemah ini lagi.
Pluk!
__ADS_1
Aku pun menjentik lengannya. "Hahaha!" tawa kecilku meledek adikku. Berdiri jauh melangkah darinya.
"Eem!" Dia pun langsung cemberut kesal bercampur manja melihatku yang pandai mengelak.
Push!
Adikku pun melayangkan baju anak Bp milikku tepat ke arahku yang salah sasaran.
"Liyan!" panggil ayahku berteriak dari balik dinding kamar kami.
Glek !
Sontak aku langsung melebarkan kedua bola mata menatap ke arah adikku setelah mendengar panggilan menyebut namaku dari balik dinding.
"Ayah," kataku panik dengan tatapan lurus melihat adikku, di ikuti oleh sebelah tanganku menunjuk ke arah pintu kamar tepat di belakangku sebagai isyarat kalau aku sedang menunjuk ayahku.
"Liyan! Kau tidur atau bangun?" tanya ayahku semakin antusias.
"Kak, jawab," pinta adikku dengan panik.
Aku langsung memutar kepala mendekatkan kedua bibir ke arah tirai yang tergerai. "Iya Ayah," sahutku langsung dengan nada suara sedikit gusar.
"Keluar sebentar!" pinta ayahku memohon.
"Baik Ayah," jawabku langsung, menatap adikku dengan gurat wajah penuh tanda tanya. Aku langsung keluar menghampiri ayahku. "Ada apa, Yah?" tanyaku cemas. Berdiri tegak lurus dengan kedua tangan lurus kesamping.
"Apa Ibumu sudah pulang?" tanya ayahku khawatir. Merapikan lengan bajunya.
"Belum Ayah," jawabku menunduk lesu, melihat ujung kaki ayahku yang berdiri tegak lurus dihadapanku.
"Kau tidak tau? Ibumu kemana?" tanya ayahku.
"Gak, Yah," jawabku pelan menggeleng.
"Ya udah, Nak! Kalau begitu Ayah berangkat kerja dulu, ya!" kata ayahku dengan nada suara kecewa bercampur cemas. Berjalan mengambil sepatu. "Kalian berdua jangan berkelahi, ya! Jangan ada lagi yang menangis dengar Ayah!" katanya tegas. Duduk dan memakai sepatunya.
"Iya Ayah," jawabku.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...