Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kembalinya Ibu


__ADS_3

"Ayah, emang ada culik Anak?" tanyaku, menyahutnya dari belakang.


"Iya Nak. Di luar sana banyak Anak yang hilang," jawab ayahku dengan muka yang mengerikan ketika menceritakannya.


Wajah manja imut adikku yang berdiri terlihat di tekuknya. Kedua bola mata kami terus mengikuti gerakan kaki ayahku yang melangkah sangat sibuk.


"Kalau kayak gitu aku takut, Yah, untuk bermain," ucapku.


"Itu 'kan jauh Ayah," bantah adikku dengan gamblang. "Kalau di sini mana ada Anak yang hilang," cetusnya.


"Tapi Nak! Ayah tetap takut kalau kalian nanti di bawa orang yang gak di kenal," kata ayahku.


"Ayah, itu gak akan. Kalau aku 'kan, Anaknya cerewet," kata adikku. Sok hebat.


"Hahaha! Jadi, karena Anak Ayah ini cerewet, culik Anaknya takut, gitu?" ledek ayahku tertawa bertanya pada adikku. "Kakakmu aja takut, Nak! Apalagi yang lain," ungkap ayahku.


"Ayah, kalau Kakak 'kan, memang penakut," ejek adikku juga.


Sontak itu membuat ayahku langsung menoleh ke arahku. Melihat ejekan adikku membuatku menunduk malu. Ingin rasanya aku memasukkan wajahku ke dalam baju tidur yang belum kuganti.


"Kalau Kakak gak apa-apa, Yah. Kita kurung aja di dalam rumah. Tapi jangan aku, Ayah," balas adikku.


Ayahku semakin menggeleng melihat permintaan adikku yang menguntungkan dirinya sepihak.


"Jadi, yang di dalam rumah kita buat, cuma Kakakmu aja," balas ayahku.


"Eem," jawab adikku dengan entengnya.


Ayahku langsung menghela napas mendengarnya dan memutar badan melihat ke arahku.


"Kakakmu tidak sehat, Nak. Jadi, mana mungkin kita biarkan Kakakmu sendiri di dalam rumah," terang ayahku.


"Ayah, nanti 'kan lama-lama. Kakak sehat juga," lanjut adikku. "Ayah aku mau bermain keluar," rengek adikku.


Tubuh mungilku masih saja berdiri menyaksikan adikku yang menolak untuk terus bertahan di rumah.


"Tapi itu 'kan, belum lagi, Nak," balas ayahku.


"Makanya Ayah. Ayah kasih saja Kakak banyak-banyak minum obat. Biar cepat sembuh," harap adikku.


Glek!


Aku kembali menelan ludah untuk yang kedua kalinya. Refleks kedua sorot mataku langsung menunduk melihat ujung kakiku yang lemah menginjak lantai.


"Nak, minum obat itu ada aturannya," ucap ayahku mengatakannya dengan pelan dan hati-hati.


"Uuuh! Ayah selalu kayak gitu!" rajuk adikku cemberut bercampur sebal. Coba Kakak yang minta main keluar. Pasti Ayah memberinya izin," lanjutnya sambil melipat kedua tangannya di atas dada dengan cemberut manjanya.


"Nak, jangan kayak gitu ,ya!" pinta ayahku, di ikuti oleh kedua tangannya yang lincah menyiapkan makanan untuk segera di santap.


"Ayah sayang sama kalian berdua. Jadi, jangan ada yang saling cemburu dan iri hati, ya Nak!" harap ayahku memohon dengan lembut pada adikku.

__ADS_1


Bibirku hingga saat ini belum berani untuk berucap menyela pembicaraan antara ayah dan anak itu. Hingga saat ini aku masih saja setia menunggu mereka kapan akan berakhir dari perselisihan kecil itu.


Jeglek !


Tiba-tiba pintu yang setengah terbuka kini mendadak terbuka lebar dan terhempas. Sinar matahari yang masuk pun menyilaukan mata.


"Liyan, siapa itu?" tanya ayahku yang keluar membuang sampah.


Mata yang setengah kututup dengan telapak tangan pun langsung mengerjit. Hal ini membuat adikku langsung berlari menghampiriku. Dia pun langsung terkejut melihat ibu sambung kami masuk.


Deg!


Sontak aku dan adikku terdiam menganga seperti orang bengong. "Ibu," gumamku pelan. Berdiri menatapnya lekat.


"Kak, aku takut," kata adikku, menempel erat terhadapku. "Kak," panggilnya mendongak.


"Ada apa, Dik?" tanyaku, memeluk adikku.


"Kenapa dia pulang, Kak?" tanya adikku tidak rela.


"Liyan, mana Ayahmu?" tanya ibu sambung kami antusias. Berjalan dengan kencang.


"Siapa Liyan?" tanya ayahku dari luar.


Kedua bibirku sangat gugup dan lidahku pun terasa begitu kaku untuk menjawabnya. Suara ayahku terus saja terdengar khawatir memanggil kami dari luar.


"Liyan, Ana kenapa tidak di jawab? Itu suara pintu yang keluar siapa?" tanya ayahku.


"Liyan, apa Ayahmu marah-marah?" tanya ibu sambung kami, mendelik.


"Kau benar Ayahmu tidak marah?" tanya ibu sambung kami sekali lagi memastikan.


"Iya Bu, tidak," jawabku.


"Baguslah," katanya, melihat kertas yang di pegangnya dengan senyum-senyum sendiri.


Tidak berapa lama dia pun masuk ke dalam kamar. Aku dan adikku langsung bertemu pandang dengan rasa cemas akan baju yang tadi kami bongkar.


"Kak, bajunya?" tanya adikku panik.


"Ana, kau diam saja Dik. Jangan takut Ayah 'kan ada," jawabku.


Kedua bola mataku langsung melirik pintu kamar yang terbuka. Suara ibu sambung kami pun tidak terdengar dari dalam kamar.


"Kak, tapi kalau ada Ayah pun kita pasti dihukum juga," keluh adikku, melihat yang terjadi selama ini.


Aku langsung diam dan melirik ke belakang sesekali. Aku ingin melihat, apakah ayahku melihatnya atau tidak?


"Ana, itu gak akan, Dik," ucapku.


"Kenapa tidak, Kak? Selama ini 'kan Ibu kesayangannya Kakak itu selalu di dengarkan Ayah," ucap adikku.

__ADS_1


Sejenak sorot mataku masih melihat ke dalam kamar ayahku. Ibu sambung kami cukup lama berada di dalam dan belum juga keluar. Sebenarnya aku sangat penasaran sekali melihatnya.


"Liyan!" panggil ibu sambung kami.


"Iya Bu," sahutku.


"Kau yakin 'kan, Ayahmu tidak marah-marah?" tanya ibu sambung kami kembali.


"Iya Bu," jawabku pelan.


"Di mana Ayahmu sekarang?" tanya ibu sambung kami. Berdiri di depan pintu kamar.


"Ada diluar Bu," jawabku sambil memeluk adikku yang ketakutan.


"Sudah lama Ayahmu pulang ?" tanya ibu sambung kami lagi.


"Sudah Bu," jawabku singkat.


Suara ayahku yang tadi berteriak memanggil kami dengan panik kini tidak lagi terdengar. Aku sedikit kecarian tentang suara ayahku yang tiba-tiba menghilang.


"Tadi Ayahmu diluar memanggil namamu. Sekarang ke mana?" tanya ibu sambung kami penasaran.


"Aku gak tau, Bu," jawabku.


Adikku tidak bersuara sepatah kata pun sama sekali. Dia tetap membenamkan wajahnya di dalam bajuku.


"Nanti kalau Ayahmu bertanya, bilang Ibu pergi sebentar," harap ibu sambung kami mengiba.


"Iya Bu," jawabku.


"Kak, Ibu kesayangannya Kakak kenapa pulang lagi? Aku takut Kak," rintih adikku cemas.


"Ini 'kan rumah Ibu juga," kataku pelan menjawab pertanyaan adikku.


"Iya, tapi 'kan dia udah pergi," dalih adikku.


"Ssttt! Diam, Dik! Jangan bicara yang aneh-aneh ! Nanti ada yang dengar, kita dihukum oleh Ayah," ujarku, menempel jemari telunjuk di bibirku.


Dengan berat hati adikku pun langsung mengikuti semua perintahku hari ini. Muka yang kesal refleks dia putar melihat ke belakang.


"Kenapa Ayah lama kali datang, Kak?" tanya adikku. Menjauh dariku. "Padahal tadi 'kan Ayah cuma buang sampah," lanjutnya.


"Palingan Ayah mandi," ucapku memberi jawaban.


"Hehehe! Kak, kita belum mandi-mandi," terang adikku, nyengir.


"Hahaha!" Aku dan adikku pun tertawa puas.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2