
"Kau salah. Kakak sehat, kok," kataku seakan aku baik-baik saja. Berdiri menatap adikku yang bersandar di dinding dan lalu menjatuhkan pandanganku melihat ujung kaki.
"Kakak pasti bohong," balas adikku. Berdiri dan masih bersandar di dinding dengan sebelah telunjuknya seakan mencoret-coretnya.
Aku semakin meremas kepalan tangan kuat yang terkulai tegak lurus di samping kanan. Sorot mata yang mulai melemah menatap nanar tanah yang sedikit bercampur dengan butiran pasir yang membentang luas.
"Kakak benar kok. Kakak gak sakit," kataku mengulanginya kembali mengatakan dengan seenaknya pada adikku.
"Heh!" Adikku seolah menyeringai tidak mempercayainya. "Kalau Kakak benar. Kenapa Kakak melihat ke bawah?" tanya adikku.
Deg !
Napasku seakan berhenti mendengar penuturannya yang mendadak melemahkan syaraf -syarafku.
"Kak, Kakak harus bilang sama Ayah kalau Kakak sakit," harap adikku dengan gurat wajah yang lembut. Memutar badan berdiri menyamping. "Kalau Kakak diam saja. Nanti Ayah akan marah samaku, Kak," lanjutnya. Memutar badan kembali melihatku.
Aku pun semakin dilanda kebingungan antara adik dan rasa takut. Pikiran semakin berkerja keras untuk memilih jalan mana yang pertama harus aku lalui. Aku semakin dilema melihat diri ini semakin lama semakin menyiksa.
Wajah senja dari ayahku yang sudah menua pun semakin menari-nari di hadapanku dengan puas. Aku semakin pucat pasih ketika melihat wajah itu meski dalam bayangan semu.
Adikku memang benar. Apa yang dibilang olehnya tidaklah salah. Semua itu harus aku katakan pada ayahku dengan berterus terang karena semua akan mendapatkan imbasnya. Inilah yang di khawatirkan oleh adikku. Ayahku jika mendengar aku sakit dia pasti akan panik. Di tambah lagi dia telah menyuruh adikku untuk menjagaku.
Itu semakin membuat adikku seakan terlihat depresi secara mental. Dia terus saja menatapku dengan tajam. Seakan sorot mata yang dia layangkan itu mendesakku untuk segera mengatakannya pada ayahku.
"Kakak tau. Ayah gak bisa melihat Kakak sakit. Ayah pasti sedih, Kak," terang adikku menjelaskan keadaan yang akan terjadi. Jika aku menutup mulut ini semakin rapat.
"Ana, Kakak benar. Kakak gak sakit," kataku dengan tetap mempertahankan keras kepalaku.
Huh!
Adikku semakin mendengus kesal menjatuhkan tubuhnya dan berjongkok di atas tanah mengambil daun kuning yang gugur dan terbang terbawa angin yang mendarat di dekat ujung kakinya.
__ADS_1
"Kak, aku gak mau lagi di hukum sama Ayah," tolak adikku langsung. "Kalau Kakak sendiri yang di marahi Ayah. Tidak apa-apa," tandasnya. Sok acuh.
Aku sedikit risau dan berkubang antara rasa takutku dan adikku kembali. Aku semakin diam mematung dan akan terus mengatakan pada semuanya kalau aku sehat dan aku tidak sakit. Itu terus saja menghantuiku dengan sejadinya.
Udara luar yang berembus menembus kulit ini terasa dingin sekali di saat aku mencoba untuk bertahan dari semua yang akan membuat aku kehilangan masa kecil bahagiaku lagi.
Wajah pucatku seakan terlihat dengan jelas ketika aku melihat bayangan wajahku sendiri di atas tanah yang seakan bertemu pandang dengan ku. Aku akan tetap menjaga semuanya dari Ayahku dan adikku, pikirku. Pasti mereka akan yakin kalau aku tidak sakit jika aku tetap mempertahankan ini dengan setipu dayaku. Pikiranku terus bekerja mencari alasan yang akan membuat aku selamat.
"Ana, Kakak gak sakit. Siapa yang bilang Kakak sakit?" kataku terus menerus dan berusaha menutupinya dengan serapat mungkin dari adikku. Melihat pasir yang terbang terbawa angin yang berembus.
"Kak, kalau memang Kakak gak sakit. Kenapa suara Kakak kayak gitu?" tanya adikku dengan terheran. Melihat aku dan di ikuti oleh kedua tangannya yang memainkan daun yang kuning.
Aku semakin gugup dan pucat. "Ana, Kakak hanya haus saja," jawabku pelan. Menjaga diri ini agar tetap tenang.
"Kakak 'Kan tadi baru minum," katanya dengan terheran seakan dia menajamkan kecurigaannya terhadapku. Memiankan daun kuning dengan kedua tangannya kembali.
Aku rasanya semakin terjepit diantara aku dan adikku. Napasku yang semakin panas kini berhembus dengan keras dan mengayun di udara yang kosong yang memadati dengan segenap yang ada dengan segala riuh gemuruh yang terdengar dan terbawa oleh embusan angin yang membawa semua yang ia inginkan datang dan pergi.
Daun kuning itu semakin di remasnya dengan kuat. "Kak, kalau Kakak sakit. Ayah akan memarahiku, 'karena aku gak tau'. Pasti itu nanti yang akan di katakan Ayah," lanjutnya. Sedikit pun dia tidak mau menyerah untuk melupakan apa yang dia ketahui.
Hatiku semakin gelisah. Kaki yang setengah kokoh ini semakin berat rasanya ingin bertahan di hadapan adikku. Jemariku semakin dingin dan sedikit basah akibat rasa takut yang berusaha aku tahan sekuat mungkin.
"Ayah gak akan marah," cetusku dengan nada suara dan gurat wajah yang penuh keyakinan.
Daun yang tadi diremuk adikku pun telah hancur di dalam kedua telapak tangannya. Aku sangat terkejut dan melebarkan kedua bola mata. Daun itu tidak lagi terlihat seperti berwujud.
"Dari mana Kakak yakin?" tanya adikku. "Setiap kali kita selalu salah menebak Ayah," ungkapnya. Melihat daun yang hancur di telapak tangannya.
Aku menyilangkan kedua tanganku ke depan. "Iya, Kakak yakin," jawabku dengan gurat wajah penuh keyakinan.
Daun itu semakin asyik dimain -mainkan oleh kedua tangan adikku. Dia seolah seperti bermain tangkap batu. Kedua bola mataku terus saja menatapnya seperti orang melongo di tengah penyakit yang menyerang kembali.
__ADS_1
Adikku langsung menanggapi yang kukatakan. "Aku gak percaya," balasnya dengan memonyongkan kedua bibirnya dan menggelengkan kepala sebagai isyarat kalau adikku tidak percaya dengan ucapanku.
"Ana, Kenapa kau gak percaya? Ibu aja percaya," kataku. Melihat kedua jemari yang aku silangkan sambil meremasnya secara diam-diam dari sepengetahuan adikku. Sebagai isyarat menahan rasa takut yang menghantui.
"Itu 'kan Ibu kesayangan Kakak. Kalau Kakak sakit dan dia gak tau. Bukan dia yang dimarahi, tapi aku," sungutnya. Cemberut.
Tanganku semakin kuat kuremas dan kedua bola mata ini pun berputar dengan lincah melihat sekeliling tanah yang membisu yang mendengarkan obrolan kami berdua.
"Kak, aku tau. Kalau Kakak bohong," terang adikku.
Deg!
Selekas mungkin aku menaikkan pandangan. Sorot mataku yang sudah mulai sayu pun mendelik setelah mendengar apa yang dikatakan oleh adikku.
"Kalau Kakak bohong, aku tau. Aku 'kan, Adiknya Kakak," katanya. Menaikkan alis.
"Aku akan bilang pada Ayah. Kalau Kakak sakit lagi. Biar Ayah tau," tandasnya. Menatapku dengan senyuman sinisnya.
Tanganku semakin dingin. Aku semakin lemas. Tubuh mungilku yang menjadi perjuanganku selama ini sekarang telah melemah dan harus berjuang lagi.
Shock dan panik itulah yang bisa aku rasakan. Aku tidak akan bisa lagi melihat sekolahan dengan ceria. Canda, tawa dari teman serta sahabatku pun tidak lagi terdengar dan terlihat olehku. Kini hanya rumah, kamar dan suara teriakkan dari ibu sambungku lah yang akan aku dengar setiap hari begitu juga dengan ayahku hanya suara-suara paniknya dan kecemasannyalah yang akan senantiasa menemaniku.
.
.
.
Bersambung...
Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku ya !🙏🥰
__ADS_1