Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kembalinya Aku Kerumah Part 2


__ADS_3

Lelah letih telah aku lalui hanya untuk mencari adikku yang malang. Sekejap mata yang telah terbuka melihat udara lepas dengan begitu rasa ingin tahu. Rahmadani dan Andrini kulihat sedang bercengkrama. Mereka tertawa dengan guyonan yang lucu. Sesekali mereka berjalan saling berpukulan kecil dengan lembut.


Air muka cerianya begitu sumeringah terlihat. Rona wajah ceriaku begitu pun seketika ikut menemani.


"Kak, sebentar lagi kita sudah mau sampai." Sesekali Andrini mengusik lamunanku dengan suaranya.


Aku yang berjalan terseok-seok melihat tingkah mereka dengan tertegun.


"Kak, Rumah kakak sudah mau sampai sebentar lagi. Kakak masih kuat, kan? Kalau kakak tidak kuat beri tahu kami." Andrini dan Rahmadani mengatakan dengan beriringan.


" Ia,dek kakak masih kuat." Aku pun melangkahkan kakiku dengan perlahan.


Tubuhku yang kini terkulai pun dipapah dengan begitu baik oleh mereka. Kaki kecil ku yang begitu tragis kini mulai terlihat pucat bahkan telapak kakiku kini sudah terlihat hampir terkelupas kulitnya. Ingin sekali aku berteriak dengan sekuatnya.Tapi aku tidak mungkin melakukan itu dengan sadar.


"Dekat apa rumah kakak masih jauh lagi?" Aku yang terkulai dengan menutup kedua mataku. Terkadang aku sesekali mengerjapkannya hanya sekedar untuk melihat sekeliling.


" Belum kak, sebentar lagi." Andrini.


" Kenapa lama sekali dek?"


"Ia,kak rumah kakak kan sedikit jauh." Andrini.


Mereka begitu dengan sekuat tenaga menopang tubuhku yang sudah lemah. Berlama-lama di jalan yang aku paksa. Kini membuatku semakin tak berdaya. Perut kosong kini sudah terdengar bernyanyi dengan semaunya. Setiap hembusan napas yang terasa bagiku cuman satu yaitu, aku sudah lelah dan kelaparan. Kini aku hanya bisa menelan ludahku sebagai penawar rasa lapar yang aku alami. Selangkah aku mengayunkan kakiku seketika itu aku menelan ludahku kembali.


"Kak, rumah kakak sudah mulai terlihat." Kata Andrini yang bersikukuh menopang ku dengan tubuh yang sedikit besar dari mereka.


"Ia,dek! Tapi kenap belum sampai juga?"


"Ia,kak.Jalan kita kan terlalu lama kak. Kita terlalu sedikit bersantai kak,berjalan." Rahmadani.


Sesekali aku mendengar helaan napas mereka di telingaku. Aku yang ditopang oleh mereka pun, mulai sedikit merasa tidak enak dengan diriku sendiri.


"Kak, kakak tenang aja. Nanti kalau sudah sampai rumah kakak.Kami beritahu kak." Rahmadani. Mereka pun berjalan dengan begitu antusias. Semakin lama aku semakin gelisah perjalanan yang seharusnya dengan begitu singkat dilalui. Kini terasa lama sekali seolah aku mendaki gunung yang tinggi.

__ADS_1


"Kak, dirumah Kakak ada orang?" Tanya Andrini dengan penasaran.


"Kakak kurang tahu dek! Tadi sewaktu kakak keluar, ada Ibu sambung kakak dirumah." Kataku masih dalam keadaan menutup kedua mataku.


"Kak, kalau kami lihat Sepertinya di rumah kakak tidak ada orang." Rahmadani.


"Sepertinya, sunyi kak!" Andrini.


"Apa?" Aku pun terkejut sambil bertanya dalam diriku sendiri.


Dalam keadaan mata yang masih tertutup. Seketika, aku merasa kan bahwa aku telah tiba di halaman rumahku.


"Dek, Rumah kakak masih jauh lagi." Dengan penasaran aku bertanya kepada mereka.


"Engga kak."


" Tapi, kenapa? Dari tadi kita tidak sampai juga,ya!"


Tanyaku sedikit penasaran dengan hati yang dalam.


"Sampai dihalaman rumah kakak." Andrini dengan penegasan yang begitu kuat.


Aku pun tersenyum lega. " Apa Ayah kakak ada,dek?"


"Kami tidak melihat siapa-siapa kak."


"Biasanya, bagaimana kak? Apakah ada orang dirumah kakak?" Tanya Andrini dengan wajah yang penuh tanda tanya.


" Biasanya ada! Terkadang pun tidak ada juga."


"Maksudnya bagaimana,kak? Kami tidak mengerti." Rahmadani.


"Ia,dek! Rumah kakak seringan terlihat kosong."

__ADS_1


Kami yang terus berjalan pun kini sudah tiba di pintu rumahku saat ini. Mereka pun menghela napas. Untuk menghilangkan semua kelelahan yang telah dijalani.


"Kak, akhirnya kita sampai juga, kak." Andrini.


Mereka pun merebahkan tubuhku di atas kursi makan ayahku.


Huh! Menghembuskan napas ke udara untuk merilekskan tubuh mereka yang begitu lelah. Tubuh kecil meraka yang menopang tubuh mungilku tadi.


Aku pun, merebahkan tubuhku dengan posisi duduk di kursi. Sambil merenggangkan otot kakiku yang terasa begitu tegang.


Andrini dan Rahmadani pun kini sudah beranjak pulang. Aku yang sendiri menatap lirih ruangan yang kosong. Tak satupun terlihat ada seseorang didalam. Kini mata kecilku hanya menatap nanar keluar pintu.


Perutku yang telah terisi penuh oleh angin kini mulai begah. Sementara, Ibu sambungku yang tadi membantu ayahku untuk tugas dapur kini tak terlihat.


Dengan perut kosong aku menyeret kakiku berjalan ke dapur dengan tertatih-tatih tanpa sehelai tangan menolongku. Dengan kekuatan yang aku tempa. Aku pun menopang tubuhku sendiri.


Aku mengambil piring,nasi beserta keperluan ku yang lain dengan tangan kecilku yang gemetar. Aku yang mengambil pun kini mulai terengah. Rasanya aku ingin terjatuh kelantai karena keadaan tubuhku yang tidak lagi bersahabat dengan aku.


Berdiri sambil melirik ke pintu dapur melihat seseorang yang aku cari. Dalam kesendirianku yang sedang menunggu ayah dan adikku. Dengan nasi di piring yang aku genggam. Aku pun menyeret kembali kakiku menuju bangku yang sering digunakan ayahku untuk makan.


Aku pun duduk sambil meletakkan piring ku diatas meja. Dengan melemparkan pandangan ku keluar jendela yang bersebalahan dengan kursi makan ayahku. Dengan hati yang begitu cemas aku berusaha menetralkan semua kekhawatiran ku.


Siang yang setengah berlalu. Aku baru akan memulai untuk mengisi perutku yang kosong. Dan meminum air minum yang tepat di sampingku begitu menggiurkan. Haus yang menganak di tenggorokanku kini aku basuh dengan air minum yang sejuk.


Wajahku yang begitu terlihat lesu mencoba untuk menahan rasa sakit yang semakin membuatku jengah. Aku pun menyantap makanan seorang diri. Sesekali angin luar berhembus dari arah jendela menusuk wajahku yang ringkih. Jemari kecilku pun yang tak berdaya memegang sendok dengan kuat.


Rasanya aku ingin sekali berlari jauh dari semua yang aku hadapi. Demam tinggi ku pun tak kunjung sembuh. Tubuh mungilku sudah aku paksa untuk melakukan kegiatan yang tak semestinya aku lakukan disaat keadaanku seperti ini.


Panas terik matahari telah aku tempuh mecari adikku hanya untuk menambah daya imun tubuhku. Tapi lagi-lagi aku rasanya gagal menepati janji tubuhku untuk tidak sakit kembali.


Nasi yang berada didalam mulut kecilku masih terus berlanjut mengunyah. Sesuap demi sesuap aku coba untuk menghabiskannya tanpa sisa. Tangan mungilku yang gemetar kini berusaha menggenggam erat sendok dan gelas.


Dentingan jam pun kini telah berputar jauh. Kedua mataku melirik jam yang tergantung tepat diatas kursi yang aku duduki. Raut wajahku pun berubah seketika melihat jam yang menunjukkan pukul yang hampir memasuki senja. Adikku dan ayahku tak terlihat juga hingga kini. Bahkan, ibu sambungku pun belum juga menunjukkan wujudnya hingga kini.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2