Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Emosi Ayahku


__ADS_3

Ayahku yang melihat tas adikku teronggok disudut didinding kamar luarnya begitu kesal. Ayahku pun memutarkan kedua bola matanya yang mendelik. Aku yang berdiri melihat ayahku yang wajahnya begitu memerah. Menatap lekat dengan gemetar. Seketika aku merasa badai besar akan mengupas kulit tubuhku yang lemah.


Ayahku yang berdiri kini diam mematung menatap tas adikku yang teronggok dengan nyaman dilantai. Seketika aku yang melihatnya menghembuskan napas dengan kasar. Aku menatap ayahku yang telah lama menahan amarahnya untuk adikku. Kini harus terlihat dengan kedua matanya yang semakin lama semakin mendelik. Tubuhnya yang sudah ringkih mencoba menahan kepalan tangannya.


Aku pun seketika lemas. Tubuh mungilku langsung terkulai seperti ingin terjatuh berurai kelantai. Adikku yang sedang bernyanyi menuju pintu dapur kami dengan santai berjalan perlahan dengan wajah yang seakan tidak merasa bersalah. Aku yang mendengarnya begitu khawatir. Sementara, adikku tidak menyesali semua perbuatannya sama sekali hari ini.


Ayahku pun memutarkan tubuhnya dan menunggu adikku yang sedang berjalan sambil bernyanyi dengan berdiri menghadapkan badannya ke pintu dapur.


Adikku yang melangkahkan kakinya masuk dengan handuk yang ia genggam kini tiba-tiba diam karena melihat kaki yang berdiri disampingnya. Aku yang melihatnya sambil menggeser posisi tubuhku merapat kebalik pintu utama kami. Terdiam sambil menelan ludah. Tubuhku yang lemah dan panas kini keringat dingin. Bersembunyi dibalik pintu melihat Ayah dan adikku.


Adikku yang terlihat diam mematung berdiri tanpa melihat ayahku. Menatap lurus kebawah dengan wajah yang begitu gusar. Adikku tak begitu bisa menatap ayahku yang begitu tajam melihatnya.


"Ana,Ayah mau bertanya." Kata ayahku menatap adikku yang berdiri didepan adikku. "Dari mana saja kamu?" Tanya ayahku yang mendelik dengan wajah yang kesal.


" A-Ayah, maafkan ana!" Kata adikku yang berdiri diam mematung menatap kebawah.


" Jawab pertanyaan Ayah! Dari Mana saja kamu?" Dengan suara yang meninggi. " Kamu tahu tidak Ayah sedari pulang membawa Kakak kamu berobat Sampai saat ini belum ada istirahat." Kata ayahku dengan suara yang begitu tinggi. Sambil mendelik dengan gurat wajah yang seperti mengeluarkan api panas.


Adikku yang berdiri. Terkejut mendengar suara ayahku yang meninggi dengan begitu kuat. Adikku pun seketika mengatupkan kedua bibir kecilnya dengan mematung menatap kebawah. Aku yang melihat ayahku yang memarahi adikku pun, menelan ludah dengan begitu cepat. Sementara, adikku yang aku lihat begitu gemetar. Menghadapi amarah ayahku yang begitu besar dan berapi-api.


" Hm! Berani kamu pulang jam segini?" Kata ayahku dengan penuh penekanan. " Dari pagi sampai sore menjelang malam kamu baru pulang." Ayahku begitu kesal dan menggigit kedua gerahamnya. " Kamu tahu tidak,Ana!" Ayahku menatap adikku begitu lekat. "Ayah,Ibumu juga mencari kamu tadi! Baru ini kamu pulang." Ayahku mengusap keningnya dengan berdecak sambil memutarkan kepalanya ke segala arah.

__ADS_1


Adikku masih juga membisu dan tidak bergerak sedikitpun.


"Ana,mari ikut Ayah!" Ayahku mencoba menarik napas panjang dan membuang emosinya dengan lepas.


" Ba-Baik Ayah!" Dengan suara terbata adikku pun berjalan mengikuti ayahku dengan mengayunkan kakinya perlahan tanpa bersuara dan sedikit pun tidak berani menatap ayahku.


Aku yang berada dibalik pintu pun berusaha menggerakkan tubuhku yang mungil dengan mengatur napasku perlahan. Aku berusaha beranjak dari tempat diam ku dengan gemetar sambil meremas jemari kecilku. Aku mengayunkan kakiku menuju ayahku yang berdiri diam melihat kearah jam dinding. Aku yang berjalan melihat adikku juga berjalan menuju ayahku.


Aku pun menahan tubuh mungilku yang ingin terkulai. Air mukaku yang aku tekuk kini terlihat lesu dan pucat. Aku mencoba bertahan meskipun aku sudah tidak kuat.


Adikku yang telah sampai lebih dulu berada di belakang ayahku. Berdiri dengan tertib dan tidak bersuara. Aku yang menatap adikku yang diam sambil menatap lurus kosong kedepan.


" Ana,coba kamu lihat!" Ayahku menunjuk jam dinding dengan kedua matanya yang menatap tajam. " Coba, kamu lihat jam berapa itu!" Ayahku dengan suara penuh penekanan memutar badannya melihat adikku yang berdiri tepat dibelakang adikku.


" Ayah,sudah! Kasihan Ana,Ayah!" Aku berdiri tepat diantara ayah dan adikku.


" Liyan,kamu pergi saja masuk kedalam kamar kamu! Pergi cepat,sana!" Kata ayahku dengan penuh penekanan dan menatapku dengan wajah yang ketat.


Aku pun diam dan memutarkan badanku masuk menuju kamarku. Sementara, adikku yang masih bergeming tetap diam dan mematung.


Aku yang berjalan sambil mendengarkan apa yang dikatakan ayahku terhadap adikku.

__ADS_1


"Ana, ayah minta Kepada kamu mulai besok kamu jangan mengulangi lagi kesalahan yang sama." Kata ayahku dengan suara yang penuh penekanan. " Kamu itu sudah besar Ana, jangan lagi kamu bersikap seperti anak kecil." Kata ayahku kembali menegaskan kepada adikku.


Aku tidak mendengar sepatah katapun yang dikeluarkan oleh adikku sebagai pembelaan dirinya dari amarah ayahku yang memuncak. Sementara, dari suara yang lain aku mendengar ada suara langkah kaki yang melangkah begitu berat.


" Kenapa?" Terdengar suara ibu sambungku yang tiba-tiba mengeluarkan suara emasnya.


"Ana, kamu dari mana? Jam segini baru tiba dirumah!" Kata ibu sambungku yang sedikit kesal. " Apa kamu tahu akibat dari perbuatan kamu itu?" Dengan penuh penekanan ibu sambungku bersuara menegur adikku yang keluyuran. " Kami itu mencari kamu itu satu harian. Begitu lelah kami kami berkeliling. Semua jalan yang kami temui hanya untuk mencari kamu." Suara ibu sambungku terus menerus terdengar sedikit penuh dengan tekanan.


"Ayahmu sudah lelah satu harian memikirkan tentang penyakit kakak kamu. Pergi kerumah sakit membawa kakak kamu berobat." Ibu sambungku terus bersuara sepuasnya.


Sementara, adikku tidak bersuara sepatah kata pun dia tetap diam membisu seribu bahasa.


"Ana, mulai hari ini kedepannya jangan coba -coba kamu melakukan sesuatu tanpa permisi dan meminta izin kepada ayah." Ayahku terus menekan adikku dengan perkataannya yang begitu dipenuhi dengan amarah.


" Ayah, Ana minta maaf!" Terdengar suara adikku yang parau mengatakan kepada ayahku. Adikku yang tadi berbicara kepada ayahku kini terdengar menangis. Suara tangisnya yang pecah kini membuat suasana haru yang mencekam. Ayahku yang tidak bisa melihat adikku menangis. Suaranya pun kini terdengar seperti membujuk adikku yang malang.


Sementara ibu sambungku yang tadi setahu aku berdiri di dekat ayah dan adikku kini sedikit bersuara dengan ketus. Dia begitu tidak suka melihat adikku yang sedikit -sedikit menangis. Adik dan ibu sambungku memang tidak pernah bisa akur. Mereka selalu beradu argument.


Ayahku yang begitu sayang terhadap adikku kini mulai menutup suaranya yang mendengung yang memenuhi seisi ruangan rumah kami. Kini hening seketika tanpa jejak.


Adikku yang tadi terdengar suara tangisannya seketika pun hening.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2